
Di sebuah hotel terlihat seorang gadis terus meronta untuk melepaskan diri dari cengkraman pria tua yang memasang wajah lapar saat melihat tubuh putih mulus milik sang gadis.
"Diamlah, aku sudah membayar mahal untukmu. Nikmati saja permamainan ku sayang!" bantak sang pria tua sambil menyeringai ngeri, ia menarik paksa baju yang gadis itu pakai.
"Lepaskan! Jangan sentuh aku!" teriak gadis itu terus meronta, tubuhnya bergetar ketakutan. Pikirannya sudah sangat kacau, ia berpikir jika sekarang hidupnya akan hancur.
"Mama... Papa tolong Elsha," teriak gadis itu yang tak lain adalah Elsha. Pria itu sama sekali tidak menghiraukan teriakan Elsha, yang ia tahu adalah hasrat yang harus segera ia tuntaskan.
SRAAAKKK
Dengan kasar pria tua itu merobek baju Elsha, Elsha semakin ketakutan dan berusaha untuk menutup tubuhnya dengan selimut.
"Kak Zu tolong Elsha, kak Zaaa tolonggg...." teriak Elsha yang mulai melemah, tenaganya sudah habis untuk melawan pria tua yang masih gencar menjamah tubuhnya.
BRAAKK
Pria tua itu terperanjat kaget saat mendengar pintu didobrak kasar oleh seseorang, disana sudah berdiri seorang pria tampan dengan wajah yang begitu datar.
"Jadi kau berulah lagi tua bangka?" ujar sang pria dengan santai, ia berjalan mendekati pria tua itu yang mulai ketakutan. Lelaki tua itu sangat mengenal siapa pria yang saat ini ada dihadapannya.
"Tu-tuan, saya minta maaf," ucap pria itu langsung berlutut dikaki sang pria.
"Katakan siapa yang menyuruhmu?" tanya pria itu begitu dingin.
"Aku tidak tahu, aku hanya membeli wanita ini dari beberapa preman," sahut pria itu ketakutan.
"Cari tahu secepatnya, jika tidak kau akan aku habisi." Pria tampan itu menendang sang pria tua, dengan cepat pria tua itu mengangguk dan langsung beranjak pergi.
__ADS_1
Pria itu mengalihkan pandangannya pada Elsha yang menutupi tubuhnya dengan selimut, ia membuka jas miliknya menghampiri Elsha.
"Jangan mendekat!!" seru Elsha merapatkan tubuhnya di kepala ranjang.
"Jangan takut, aku hanya ingin menolongmu. Pakai ini untuk menutupi tubuhmu." Ujar pria itu memberikan jas miliknya pada Elsha, Elsha menatap pria itu tajam karena ia masih tidak percaya dengan pria yang saat ini sedang menatapnya.
"Mama...." bisik Elsha mulai menangis, ia menenggelamkan wajahnya diantara kedua kakinya. Pria itu berdecak kesal saat melihat tingkah Elsha, ia menghampiri Elsha untuk menutup tubuh Elsha dan langsung menggendongnya.
"Jangan takut, aku hanya ingin menolongmu." Kata pria itu begitu lembut, Elsha yang merasa mendapat perlindungan pun langsung mengalungkan kedua tanganya di leher sang pria, dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang pria tampan itu. Pria itu membawa Elsha masuk kedalam mobil mewah miliknya.
"Jangan sentuh aku!...lepas! Aku mohon." Elsha terus merancau dengan mata tertutup, tubuhnya bergetar hebat.
"Hey tenang, kau sudah aman disini. " Pria itu menepuk pipi Elsha pelan, namun ia sangat terkejut saat merasakan suhu panas dari tubuh Elsha.
"Kau demam?" Pria itu langsung bergegas menuju rumah sakit, ia terlihat panik saat melihat keadaan Elsha yang terus merancau tak jelas. Ini adalah kali pertama bagi sang pria begitu khawatir pada seorang gadis yang baru ia kenal.
Seorang wanita cantik menggeliat dan merasakan seluruh tulangnya terasa patah, ia melihat mentari mulai mengintip manja di celah jendela. Wanita itu tersenyum saat melihat wajah tampan yang masih terlelap, ia mengecup bibir seksi milik suaminya begitu gemas.
"Kak bangun, udah siang," wanita itu menyentuh rahang tegas sang suami.
"Sebentar lagi sayang," gumam si tampan sambil memeluk erat sang wanita seakan tak ingin melepasnya.
"Ck, Monik lapar kak. Ayok bangun," rengek Monik begitu manja. Arzu semakit erat memeluknya. Namun dengan susah payah Monik melepaskan pelukan Arzu, lalu ia bangun dari tempat tidur dan memakai piama miliknya yang tergeletak di lantai, melangkah pasti keluar kamar.
"Ya ampun, kenapa sakit sekali? Ck ini pasti ulah kak Arzu tadi malam." Monik mengomel sendiri karena ia meraskan seluruh tubuhnya nyeri. Ia berjalan menuju kolam renang yang langsung memperlihatkan hamparan laut yang indah, Monik masuk kedalam kolam renang dengan pelan. Ia memejamkan matanya untuk menikmati air yang meresap hingga tulangnya dan menghilangkan rasa penat yang ia rasakan.
Monik membuka matanya saat merasakan sebuah tangan menyentuh pipinya, Monik tersenyum saat melihat wajah tampan Arzu sedang tersenyum padanya.
__ADS_1
"Jangan lagi kak, Monik masih sangat lelah." Protes Monik saat Arzu kembali menyentuh bagian tubuh sensitif Monik. Kini Arzu sudah masuk ke kolam dan memeluk Monik dengan mesra.
"One more," bisik Arzu sambil mengigit telinga Monik, Monik merinding karena mendapat perlakuan dari Arzu. Tubuh Monik kembali memanas saat Arzu mengecup pudaknya.
"Stop kak," pinta Monik seraya membalikkan tubuhnya. Mata coklatnya bergerak hingga bertemu dengan mata biru Arzu.
"Ada apa?" tanya Arzu mengusap lembut pipi istrinya. "Monik capek, Kak."
"Aku tidak bisa menahannya saat melihatmu, Sayang," balas Arzu mengecup bibir Monik beberapa kali.
"Monik tahu, boleh ya Monik istirahat sebentar," Monik memohon dengan tatapan sendu. Saat ini ia benar-benar lelah dan butuh istirahat. Monik tahu, Arzu begitu agresif dalam hal ranjang. Bahkan Monik selalu kewalahan saat melayani suaminya.
"Aku hanya tidak sabar sosok malaikat tumbuh di sini, aku menantikan itu," ucap Arzu mengusap lembut perut rata Monik. Arzu memang menaruh harapan besar agar Monik kembali hamil, kehadiran malaikat kecil akan melengkapi kebahagiannya saat ini. Bukan berarti saat ini Arzu tidak bahagia, bahkan ia begitu bahagai. Hanya saja ia juga menginginkan seorang anak, seorang anak yang akan melengkapi kehidupannya bersama Monik. Arzu terus berdoa agar sang pecinta mengabulkan keinginannya.
"Hiks... hiks...."
Arzu sangat terkejut saat mendengar Monik menagis, ia mengangkat wajah Monik yang tertunduk. Hati Arzu begitu teriris saat melihat air mata Monik mengalir begitu deras.
"Ada apa Huh?" tanya Arzu menangkup wajah Monik, lagi-lagi hati Arzu tersayat saat melihat mata Monik yang memancarkan sebuah ketakutan.
"Monik takut... takut jika Monik tidak bisa memberikan kakak seorang anak lagi...." Monik menangis pilu dan berhasil membuat Arzu begitu merasa bersalah kerena memiliki pikiran untuk menuntut Monik memberikan dirinya keturunan.
"Jangan menangis, ada atau tanpa kehadiran seorang anak, aku akan tetap mencintai kamu honey, aku akan tetap mencintaimu," ucap Arzu menghapus air mata Monik dan menyatukan dahi mereka.
"Shhhhttt... Jangan bicara lagi." ucap Arzu menahan mulut Monik yang hendak bicara dengan jarinya. Monik menatap Arzu begitu pilu, ia langsung memeluknya dan kembali menumpahkan beban yang saat ini ia rasakan.
"Menangis lah jika itu membuatmu lebih tenang," titah Arzu mengelus kepala Monik dan mengecup pucuk kepala Monik berkali-kali.
__ADS_1