ARZU

ARZU
Chapter 63


__ADS_3

'Beruntung sekali kamu Arzu, begitu banyak cinta disekelilingmu'


Seorang pria bertubuh kekar itu berjalan menghampiri pusaran terakhir sang sahabat kecil yang sudah ia anggap seperti adik sendiri. Baginya ini seperti sebuah mimpi. Sahabat yang pernah bertahta dihatinya itu kini benar-benar sudah pergi dan tak akan pernah kembali.


"Kenapa sangat cepat kamu pergi? Kita baru saja menemukan kebahagiaan. Kamu mendapat suami yang baik dan begitu mencintai kamu. Dan aku juga sudah mendapatkan istri yang sangat cantik dan sangat mencintai ku."


"Aku selalu berfikir kita akan selalu bersama dan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa Monik. Tapi apa daya, Allah lebih menyayangi dirimu." pria itu menatap ukiran nama Monik begitu lekat.


"Kau tahu, saat ini Anggi sedang hamil. Aku kira akan menyampaikan hal ini dengan keadaan bahagia. Tapi sayang, ini sangat menyakitkan Monik." ujarnya mencengkram batu nisan dengan kuat.


"Aku berharap kau selalu bahagia disisi-NYA. Selamat jalan adikku." pria itu langsung beranjak pergi. Tak ada air mata. Ia tahu semua itu tak berguna. Air mata tak akan mengubah segalanya.


***


Di rumah sakit. Tepatnya di ruang NICU, sang dokter cantik berjalan perlahan menghampiri dua incubator yang berisi dua bayi mungil yang tengah terlelap. Senyuman dibibirnya mengembang. Ia mengecek semua alat dengan begitu teliti.


"Mereka sangat mirip sekali, lucu." gumamnya sambil membenarkan posisi kedua bayi itu.


Ceklek! Dokter cantik itu sangat terkejut saat seseorang masuk dengan tiba-tiba. Namun keterkejutannya hilang saat mengetahui siapa yang masuk.


"Dokter Arzu, ingin menjenguk kedua putri anda?" tanya wanita itu dengan lembut. Namun bukan jawaban yang ia dapatkan, melainkan tatapan sengit dari Arzu. Senyuman di bibirnya seketika sirna.


"Bagaimana keadaannya?" suara datar itu berhasil membuat sang dokter cantik itu kembali terkejut.


"Mereka tumbuh dengan baik, jika beberapa minggu kedepan keadaanya semakin membaik. Mereka bisa langsung pulang." jawab dokter cantik itu dengan lembut. Lalu keduanya kembali terdiam. Tak ada lagi pembicaraan. Hanya suara alat rumah sakit yang memecahkan keheningan.


"Cella!" Dokter cantik yang tengah memeriksa beberapa alat pun sangat terkejut saat namanya dipanggil.


"Ya." ucapnya bingung.

__ADS_1


"Kenapa harus kau yang menjaga mereka? Apa tidak ada dokter lain?" pertanyaan itu bagaikan belati yang menghujam dada Cella. Cella cukup lama terdiam. Bukan karena ia tak bisa menjawab, hanya saja pertanyaan itu berhasil melukai hatinya.


"Maaf dok, saya seorang dokter kandungan dan anak. Sudah kewajiban saya untuk menangani pasien. Untuk dokter lain memang ada, tapi kepala rumah sakit melempar tanggung jawab ini pada saya. Jika anda merasa keberatan, silahkan anda komplain pada pak Firman. Permisi." ujar Cella. Ia menatap Arzu sekilas, lalu beranjak pergi meninggalkan Arzu yang masih mematung menatap kedua putrinya.


Cella menyetuh dadanya yang terasa sesak. Ia bersandar dibalik pintu. Seperti ini kah rasanya jika tidak dibutuhkan oleh orang yang kita cintai? Sungguh menyakitkan. Air matanya yang sudah lama kering, entah mengapa kini mulai mengalir kembali.


"Aku hanya melakukan tugasku." ucapnya. Ia mengusap air matanya dengan kasar. Tanpa pikir panjang, ia langsung meninggalkan ruangan itu. Tugasnya juga sudah selesai.


Arzu masih setia menatap dua putri kecilnya dengan teliti. Wajah itu, begitu mirip dengan mendiang Monik. Mereka benar-benar mewarisi wajah ibunya. Hanya mata mereka yang mirip dengan Arzu.


"Kau mengingkari janjimu Monik, kau mengatakan jika anak kita akan mirip denganku. Tapi nyatanya, mereka sangat persis denganmu." ucap Arzu.


"Aku tidak yakin bisa merawat mereka dengan baik, aku masih membutuhkan kamu Monik." imbuh Arzu. Butiran bening kini berhasil lolos. Arzu menghapus air matanya. Lalu ia pun langsung beranjak pergi dari ruangan itu.


Sore hari keadaan rumah sakit sudah mulai sepi. Hanya beberapa dokter yang masih ada disana.


"Dokter Cella, Pak Firman memanggil anda keruangannya." ucap suster. Cella tersenyum dan mengangguk.


"Duduk dok." ucap Firman tanpa mengalihkan pandangan dari laptop. Cella pun duduk di hadapan pemilik rumah sakit itu. Ia sudah tahu apa yang akan disampaikan. Oleh karena itu ia terlihat tenang.


"Dokter Cella, sudah tahu kenapa saya memanggil anda bukan?" tanya Firman sambil menutup laptop. Ia menautkan kedua tanganya sambil menatap Cella lekat.


"Saya tahu pak. Lalu bagaimana tanggapan bapak?"


"Apa alasan kamu mundur? Tidak seperti biasanya. Apa kerena masalah pribadi?" pertanyaan itu berhasil membuat Cella terkejut.


"Tidak pak, itu memang keputusan saya. Saya rasa masih banyak dokter lain yang lebih baik. Saya hanya tidak sanggup mengani banyak pasien." alibi Cella. Ia mengigit bibirnya karena bingung harus bicara apa lagi nantinya.


Firman menghela nafas. Ia menatap dokter kepercayaan itu lekat.

__ADS_1


"Kamu harus profesional Cella, pekerjaan tidak ada sangkut pautnya dengan masalah pribadi. Jadi saya menolak permintaan kamu. Lakukan pekerjaan seperti biasanya." ujar Firman tegas. Cella terdiam. Ia bingung harus mengatakan apa lagi. Ingin sekali ia berteriak. Namun itu tidak mungkin ia lakukan.


"Baik pak, Terimakasih. Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumusalam."


'Apa yang harus aku lakukan? Arzu tidak akan pernah menyukai aku. Dia juga pasti sangat keberatan jika aku merawat kedua anaknya. Aku harus apa tuhan?'


Cella menghela nafas gusar. Ia berjalan dengan gontai menuju ruangannya. Kepalanya tertunduk lesu. Benar-benar melelahkan.


Arzu melepaskan snelli dan meletakkannya diatas sofa. Ia menjatuhkan tubuhnya dengan kasar. Matanya terpejam. Hari ini semuanya tidak berjalan dengan baik. Ia harus mengubah jadwal beberapa pasien karena keadaan tubuhnya yang kurang baik.


"Arzu." panggil seseorang diambang pintu. Arzu membuka matanya. Ia melihat sang kakak berdiri disana. Elya berjalan menghampiri sang adik.


"Kamu kenapa? Kurang sehat?" tanya Elya menyentuh kening Arzu. Arzu menggeleng dan membenarkan posisi duduknya.


"Aku baik-baik saja." ucapnya datar. Elya menatap wajah Arzu dengan lekat. Lingkar hitam dimata Arzu terlihat begitu jelas. Pipinya juga terlihat lebih tirus. Bulu-bulu halus sudah hampir memenuhi sebagian wajahnya.


"Kakak tahu perasaan kamu. Tapi jangan berlarut sampai seperti ini. Lihat, kamu seperti orang tak terurus. Kamu masih punya dua putri yang harus kamu rawat. Jika kamu seperti ini, lalu bagaimana dengan mereka?"


"Jangan buat Monik kecewa, dia sudah berjuang melahirkan dua putri cantik untuk kamu. Kamu harus merawatnya dengan baik Arzu. Seorang ayah itu harus kuat. Jadilah sandaran untuk mereka."


"Kakak selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu. Jangan terus seperti ini. Kamu berhak melanjutkan hidup kamu. Kamu mengerti?"


Arzu menatap netra sang kakak begitu lekat. Sebuah kehangatan mengalir deras dalam nadinya. Arzu memeluk sang kakak cukup erat. Elya mengelus pundak Arzu begitu lembut.


"Terimakasih kak. Bantu aku untuk melewati semuanya." ucap Arzu begitu pilu. Elya sangat paham bagaimana perasaan adiknya saat ini. Hari ini tepat satu minggu kepergian Monik. Bahkan Arzu masih belum bisa menerima keadaan.


"Malam ini mama mau kamu pulang kerumah. Mama merindukan kita semua. Kita juga harus memikirkan dan membahas pernikahan Arza dan Elsha yang tertunda." ujar Elya melepas pelukan Arzu. Elya menghapus air mata Arzu dengan lembut.

__ADS_1


"Kamu sangat jelek. Ini bukan adik kakak." ucap Elya merapikan rambut Arzu yang berantakan. Sejak kecil, Elya memang sudah menjadi sandaran untuk Arzu. Walaupun sikap Arzu begitu dingin. Namun jika ada masalah, Elya lah orang pertama yang akan ia beri tahu. Bagi Arzu, Elya memiliki sifat lembut sang mama. Walaupun Elya bukan anak kandung mama, tapi Elya memiliki didikan baik dari Inna.


'Kau bagaikan mama bagiku kak. Bukan berarti aku tidak mempercayai mama. Tapi mama memiliki banyak anak yang membutuhkan sandaran. Tapi kau, hanya aku yang boleh menjadikan mu sandaran.'


__ADS_2