ARZU

ARZU
Chapter 16


__ADS_3

Pagi hari Monik dan Arzu sudah bersiap untuk pulang, keduanya beranjak ke dapur untuk berpamitan pada Yeni.


"Ibu Monik dan kak Arzu pulang dulu ya?" ucap Monik menghampiri Yeni yang sedang sibuk memasak.


"Kenapa tidak tunggu ibu selesai masak dulu dan sarapan bersama." ucap Yeni.


"Tidak apa apa buk, kami bisa makan diluar. Monik juga harus kekampus pagi ini." ucap Arzu.


"Ya sudah kalau begitu." ucap Yeni tersenyum. Monik mencium kedua pipi Yeni dan memeluk Yeni sebentar.


"Monika pamit buk." ucap Monik mencium punggung tangan Yeni. Arzu pun melakukan hal yang sama seperti yang Monik lakukan.


"Hati-hati dijalan." ucap Yeni yang dijawab anggukan oleh Monik dan Arzu. Lalu keduanya langsung beranjak untuk pulang.


Sesampainya di apartemen, Monik sangat terkejut saat melihat Ariana sudah berdiri didepan pintu dengan bayi mungil digendongannya. Monik menghentikan langkahnya dan menatap Arzu yang ternyata sedang menatap Ariana.


"Hai kak, maaf pagi-pagi aku datang kesini. Aku cuma mau titip Tiara sebentar, boleh kan? Aku ada urusan sebentar." ujar Ariana yang langsung memberikan Tiara si bayi mungil ke tangan Monik. Monik sangat terkejut, ia menggendong Tiara sedikit canggung karena ini kali pertama ia menggendong seorang bayi.


"Aku pamit dulu, dah kak." ucap Ariana mencium pipi Arzu dan langsung beranjak pergi. Monik yang melihat itu hanya diam mematung. Monik memalingkan wajahnya saat Arzu menatapnya, ia membuka kode pintu dan langsung masuk kekamar. Monik menidurkan Tiara diatas kasur dengan sangat hati-hati, namun Tiara langsung menangis kencang membuat Monik terkejut.


"Cup cup jangan nangis." ucap Monik kembali menggendong Tiara. Monik memperhatikan wajah Tiara sangat mirip dengan Ariana. Tiara menjulurkan tangannya dan menyentuh pipi Monik. Monik tersenyum karena begitu gemas dengan Tiara. Monik mencubit pipi Tiara pelan dan sesekali mencium pipi cabby Tiara. Tanpa Monik sadari sedari tadi Arzu terus memperhatikan dirinya sambil tersenyum.


"Ya ampun aku kan ada kelas? Bagaimana ini?" seru Monik yang baru mengingat jika dirinya hari ini ada jadwal kuliah.


"Pagi ini aku sudah meminta Izin, jadi kamu tidak perlu kuliah." ucap Arzu masuk kedalam kamar menghampiri Monik.


"Monik sudah banyak sekali izin kak, bagaimana dengan beasiswanya?" ucap Monik menidurkan Tiara diatas kasur. Namun tiba-tiba Arzu memeluk Monik dari belakang hingga Monik terlonjak kaget.


"Apa kamu lupa sudah punya suami hem? Aku sudah berjanji bukan jika aku akan menanggung semua kehidupan kamu." ucap Arzu memutar tubuh Monik hingga menghadap dirinya. Monik menengadahkan kepalanya menatap mata biru Arzu. Monik memeluk Arzu dan menyadarkan kepalanya didada bidang Arzu.


"Terimakasih, aku mohon jangan pernah pergi. Aku takut kehilangan kamu, aku mencintaimu." ucap Monik mengeratkan pelukannya. Arzu yang mendengar ungkapan Monik begitu bahagia, Monik benar-benar membalas cintanya.


"Aku tidak akan meninggalkanmu, aku berjanji." ucap Arzu mengelus rambut Monik dengan lembut.


"Lalu bagaimana dengan Ariana?" tanya Monik yang berhasil membuat Arzu menegang. Monik yang merasakan tubuh Arzu menegang langsung melerai pelukannya. Ia menatap Arzu dan sedikit mundur untuk menjauh dari Arzu.

__ADS_1


"Aku tidak bisa membagi cintaku kak, aku tidak bisa." ucap Monik yang mulai meneteskan air matanya. Arzu yang melihat itu merasa hatinya sangat teriris. Arzu hendak mendekati Monik, namun Monik langsung menjauh agar Arzu tak mendekati dirinya.


"Aku minta maaf. Aku tidak bisa memilih." ucap Arzu menatap Monik dengan penuh penyesalan. Monik menatap Tiara yang sedang memainkan kakinya, lalu ia kembali menatap Arzu.


"Kenapa kakak menikahi aku kak jika kakak punya kekasih?" ucap Monik dengan tatapan terluka.


"Aku... Aku tidak... "


"Tidak perlu dilanjutkan kak, aku tahu dari awal aku memang tidak pantas buat kakak. Aku hanya duri diantara hubungan kakak dengan Ariana. Menikah lah dengannya dan tolong lepaskan aku kak, kau harus memilih Ariana karena kalian sudah memiliki Tiara. Tiara masih sangat kecil, dia membutuhkan orang tua yang lengkap." ujar Monik memotong ucapan Arzu. Sebenarnya begitu berat Monik mengatakan hal itu. Tapi Monik harus menelan semua itu. Monik menutup mulutnya karena tidak bisa menahan isakannya.


"Monik." ucap Arzu mendekati Monik. Namun dengan cepat Monik menahan Arzu agar tidak mendekati dirinya.


"Baik lah jika itu yang kau mau." ucap Arzu menatap Monik tajam dan langsung beranjak pergi. Arzu membanting pintu dengan sangat kuat, Tiara menangis karena terkejut mendengar suara pintu yang sangat keras. Monik langsung menghampiri Tiara dan menggendongnya.


"Ssssttt... Jangan nangis ya, maafin papa kamu sayang." ucap Monik memeluk Tiara dengan sangat lembut. Tangisan Tiara pun mulai mereda, Monik sedikit lega karena Tiara tidak serewel anak seusianya. Monik menepuk-nepuk punggung Tiara hingga tertidur digendongannya. Setelah Tiara benar-benar terlelap Monik kembali menidurkan Tiara diatas kasur.


Monik melangkahkan kakinya menuju dapur karena perutnya mulai keroncongan. Monik membuka kulkas dan ia sangat terkejut karena mencium bau yang begitu busuk. Monik berlari kearah washtafle dan memuntahakan semua isi perutnya. Monik mencuci mulutnya dengan air dan langsung duduk dikursi, ia memijit kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Ya ampun, asam lambungku pasti naik lagi." ucap Monik menyentuh perutnya yang masih sedikit mual. Monik memang memiliki penyakit asam lambung. Sudah beberapa hari ini Monik kurang nafsu makan jadi ia berfikir jika asam lambungnya mulai kambuh.


Sepanjang hari ini Monik terus menangis karena hari ini Arzu melangsungkan pernikahannya dengan Ariana. Semenjak pertengkaran hari itu Arzu tidak pernah pulang untuk menemui Monik. Karena tidak tahan, Monik pulang kerumah orangtuanya.


"Hemmm...sudahlah kak, kakak harus ikhlas. Bukanya kakak sendiri yang memberi izin pada Kak Arzu. Jadi kakak harus terima dong semuanya. Jangan lupa kak, nanti malam adalah acara resepsi kak Arzu. Kakak harus datang untuk melihat hasil keputusan kakak sendiri." ujar Moli berdiri diambang pintu kamar Monik. Monik yang mendengar ucapan Moli semakin terisak, namun ia menutup mulutnya sabar isakanya tak terdengar oleh Moli.


"Kakak harus makan, dari pagi kakak belum makan. Bangunlah kak makan, Moli tidak mau asam lambung kakak kambuh lagi." sambung Moli duduk disebelah Monik dan mengusap punggung Monik dengan lembut.


"Kakak tidak lapar." ucap Monik dengan suara serak nya khas orang sehabis menangis.


"Makanlah kak, jangan menyiksa diri sendiri." ucap Moli membujuk Monik.


"Kakak bilang tidak lapar Moli, pergilah." seru Monik yang tersulut emosi.


"Ya sudah, terserah kakak. Jika kakak sakit jangan menyusahkan orang lain." ucap Moli ketus dan langsung meninggalkan Monik. Monik kembali menangis, hatinya sangat sakit dan ia tidak pernah meraskan hal ini sebelumnya. Lalu Monik meraskan perutnya bergejolak, ia bangkit dari tempat tidur dan langsung berlari kekamar mandi.


"Hoek... hoek... hoek... " Monik terus mengeluarkan cairan kekuningan yang membuat tubuhnya sangat lemas. Setelah perutnya merasa baikan, Monik beranjak keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju dapur. Ia mengambil segelas air putih dan meneguknya hingga tandas. Monik duduk dikursi sambil memijit kepalanya yang berdenyut karena Monik terlalu lama menangis.

__ADS_1


Malam hari Monik sudah berdiri didepan cermin dan melihat pantulan dirinya yang terlihat sedikit kurusan. Wajah sembabnya sudah ia tutup dengan sedikit polesan make up. Saat ini Monik sudah berpakaian rapi, Ia memakai gaun panjang berwarna Pink salem yang sudah disediakan oleh keluarga Wilson untuk acara pesta malam ini.


"Kakak sudah siap?" tanya Elsha masuk kekamar Monik. Elsha memang sengaja menjemput Monik karena tidak ingin terjadi apa-apa pada kakak iparnya karena ibu dan adik Monik sudah pergi ketempat acara sejak sore tadi. Elsha sangat tahu jika Monik begitu terluka. Monik membalikan tubuhnya dan menganggukkan kepalanya.


"Ya sudah kita berangkat, acara akan dimulai sebentar lagi." ujar Elsha menggandeng tangan Monik, lalu keduanya langsung berangkat menuju hotel tempat acara dilangsungkan. Sepanjang perjalanan Monik terus menggenggam tangannya sendiri karena merasa sangat tegang.


"Elsha bisa kita berhenti sebentar?" ucap Monik meraskan perutnya kembali mual. Elsha menghentikan mobilnya ditepi jalan, Monik yang sudah tidak tahan langsung keluar dari mobil dan memuntahkan kembali isi perutnya. Monik merasakan tenggorokannya sangat sakit dan mulutnya terasa pahit. Elsha yang panik langsung menghampiri Monik dan memijit tengkuk Monik.


"Kakak kenapa sih?" tanya Elsha khawatir.


"Asam lambung." ucap Monik dengan nada yang begitu lemah.


"Kakak belum makan?" tanya Elsha membantu Monik berjalan. Monik hanya menggelengkan kepalanya karena tidak sanggup lagi bicara.


"Kakak masih sanggup?" tanya Elsha yang semakin khawatir saat melihat wajah Monik yang memucat.


"Aku baik-baik saja, kita lanjutkan pejalanan." ucap Monik tersenyum pada Elsha.


"Jika kakak tidak sanggup, kita pulang aja ya?" ucap Elsha saat keduanya sudah berada di dalam mobil.


"Aku tidak apa-apa Elsha, kita harus datang kesana. Aku tidak mau kak Arzu kecewa." ujar Monik mencoba untuk tersenyum.


"Kamu terlalu bodoh Monik, kenapa kamu membiarkan kak Zu menikah lagi. Aku tidak bisa mengerti dengan pikiranmu." seru Elsha menatap Monik tajam. Monik menyandarkan tubuhnya dan memejamkan matanya.


"Tidak perlu dipikirkan, kita lanjutkan perjalanan." ucap Monik masih memejamkan matanya.


"Baik lah. Tidur saja dulu, jika sudah sampai akan aku bangunkan." ucap Elsha melajukan mobilnya.


Monik mengerjapkan matanya saat tersadar mobilnya sudah tidak bergerak, ia melihat kesamping dan ternyata Elsha sudah tidak ada disana. Monik yang terkejut langsung keluar dari mobil dan melihat parkiran sudah dipenuhi oleh mobil para tamu. Monik menelan air ludahnya kerena tenggorokannya terasa sangat kering.


"Kamu bisa Monik." ucap Monik memejamkan matanya untuk memberanikan diri masuk kedalam. Monik melangkahkan kakinya perlahan memasuki hotel, namun ia menghentikan langkahnya saat tiba didepan Aula tempat acara dilangsungkan.


Dengan sedikit bergetar Monik melangkahkan kakinya masuk ke aula yang sudah dipenuhi oleh para tamu undangan. Monik terus berjalan hingga ia bisa melihat pelaminan yang begitu megah dan disana sudah berdiri seorang wanita cantik dengan balutan gaun pengantin yang begitu indah, ia adalah Ariana. Monik bingung karena tidak melihat keberadaan Arzu disana. Saat Monik hendak mendekati pelaminan, tiba-tiba lampu padam dan membuat Monik terkejut. Monik memejamkan matanya karena ia sangat takut dengan kegelapan.


"Elsha.... "

__ADS_1


__ADS_2