
Hening. Kondisi rumah yang begitu besar milik keluarga Wilson. Semua orang memilih diam dan hanya saling menatap.
"Bagaimana kamu akan menjelaskan Moli?" Arzu membuka pembicaraan. Moli yang merasa namanya di sebut semakin kikuk. Ia meremas tangannya dengan erat.
"Jangan terlalu keras Arzu, Moli ketakutan," ujar Inna merangkul Moli. Arzu tersenyum getir.
"Arzu bicara pelan ma, dia merasa bersalah. Maka dari itu dia takut," ujar Arzu. Moli menunduk lesu. Ia benar-benar menyesal dengan apa yang ia lakukan.
"Kamu sudah menjadi bagian keluarga ini, seharusnya kamu tahu aturan. Apa karena mama terlalu memanjakan kamu? Sehingga kamu sesuka hati berbuat salah?" ujar Arzu terbawa emosi.
"Arzu," ucap Inna memberikan peringatan pada Arzu.
"Mama tidak perlu membelanya, Cella jatuh sakit karena wanita ini. Hubungan ibu dan anak hampir hancur karena ulahnya, dia sudah dewasa. Sudah seharusnya ia tahu mana yang salah dan mana yang benar. Memengaruhi anak kecil untuk membenci ibunya, apa itu pelajaran yang kau dapatkan selama kuliah?"
Inna sangat terkejut mendengar perkataan Arzu. Ia tak pernah melihat Arzu semarah itu.
"Arzu, biarkan Moli menjelaskan semuanya." Inna sedikit memohon pada Arzu.
"Apa dia memberikan kesempatan untuk Arzu menjelaskan semuanya ma? Bahkan dia tidak perduli dengan itu, jika tidak tahu masalahnya. Tidak perlu ikut campur," tegas Arzu. Moli terbawa emosi, ia bangun dari duduknya dan menatap Arzu sengit.
"Saya melakukan itu karena kak Monik. Kak monik sangat mencintai kakak, tapi setelah kakak pergi. Dengan begitu cepat kakak menikahi orang lain. Mana bukti cinta kakak untuk kak Monik? Semuanya cuma bualan." ujar Moli. Air mata yang tadi ia tahan kini tumpah dengan begitu deras.
"Kamu tidak tahu apapun," ucap Arzu menunjuk Moli dengan mata memerah.
"Aku tahu kak, kalian saling mencintai satu sama lain. Jika wanita itu tidak hadir diantara kalian, mungkin kakak masih mencintai kak Monik sampai sekarang. Tapi apa? Kakak melupakannya. Bahkan kakak menyembunyikan semua kebenaran tentang kak Monik pada Qila dan Syila. Mereka berhak tahu siapa ibu kandungnya. Kakak dan wanita itu sangat jahat!"
Plak!
Sebuah tamparan mendarat dengan mulus di pipi Moli. Moli terdiam seribu bahasa sambil mengeluh pipinya yang terasa panas.
"Lancang! Apa yang kamu tahu huh? Berani sekali kamu bicara seperti itu. Setiap detik, setiap saat, ibu selalu bersama mereka. Ibu lebih tahu sebesar apa cinta menantu ibu untuk Monik. Bahkan wanita yang kau bilang jahat, dia selalu menghargai ibu, menyayangi ibu sebagaimana kakak kamu menyayangi ibu. Jadi jaga ucapan kamu, ibu sangat kecewa padamu Moli." Ibu Yeni terduduk lesu. Ia benar-bebar kecewa dengan putri bungsunya yang sudah membuat kesalahan fatal. Ya, Bu Yeni lah yang menampar Moli. Ia tidak tahan mendengar perkataan Moli.
Moli menyentuh pipinya yang terasa begitu panas dan perih. Ia menunduk, ini adalah kali pertama ia melihat kemarahan sang ibu.
"Ibu sangat kecewa, kamu menghancurkan kepercayaan ibu Moli." lanjut Buk Yeni bangun dari duduknya yang di bantu oleh Inna. Moli mengangkat kepalanya dan menatap Yeni begitu dalam. Ia menjatuhkan dirinya dan bersimpuh di kaki sang ibu.
"Moli minta maaf buk, Moli cuma sayang kak Monik. Moli cuma tidak mau apa yang dimiliki kak Monik jatuh pada orang lain. Moli cuma...
"Cuma apa? Kamu tidak tahu apa-apa, seharusnya kamu berpikir terlebih dahulu sebelum berkata dan berbuat sesuatu. Ibu benar-benar kecewa Moli, ibu kecewa."
Moli terduduk lemas. Air matanya tidak berhenti mengalir. Dadanya terasa sesak, mendengar perkataan ibunya.
"Maaf," ucapnya dengan tubuh bergetar. Inna yang duduk di sebelah Moli mengusap punggung gadis itu dengan lembut.
"Sudahlah, ini hanya salah faham. Arzu, pulanglah. Kasian istri kamu," ujar Inna menatap Arzu lekat.
"Iya ma, Arzu pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Arzu mencium tangan Inna. Lalu ia langsung bergegas pergi tanpa menoleh sedikit pun. Bu Yeni ikut beranjak dari sana. Kini hanya Moli dan Inna.
__ADS_1
"Sudah jangan menangis," ucap Inna memeluk Moli dengan penuh kasih sayang. Moli terus menangis di Pelukkan Inna.
Sesampainya di rumah, Arzu langsung bergegas menuju kamarnya. Tepat di depan pintu kamar, kakinya langsung terhenti. Ia mendengar suara orang mengobrol. Perlahan Arzu membuka pintu kamar.
"Bunda, apa Qila mirip dengan mama?"
"Ya, kalian berdua itu sangat mirip dengan mama. Bahkan hampir semuanya, makanya papa itu sayang banget sama Qila dan Syila."
Arzu tersenyum senang. Hatinya benar-benar lega saat melihat Cella sudah sadar. Kini Cella terlihat lebih segar sambil memeluk kedua putrinya. Sedangkan Althan tertidur di kaki Cella. Hati Arzu kembali menghangat saat melihat keluar kecilnya sedang berkumpul.
"Apa papa boleh ikutan?" Arzu berjalan menghampiri mereka yang sedikit terkejut melihat kehadirannya.
"Papa, sejak tadi bunda terus tanya papa. Bunda sudah bangun sejak tadi," ujar Qila menatap Arzu sambil tersenyum.
"Papa ada sedikit urusan sayang," ucap Arzu duduk di sampingnya.
"Dari mana mas?" tanya Cella menatap Arzu lekat.
"Ada sedikit urusan, sudah makan?" tanya Arzu mengusap kepala Cella dengan lembut.
"Sudah pa, tadi Qila dan Syila yang masak bubur untuk bunda. Terus bunda bilang buburnya enak," ujar Qila dengan begitu semangat.
"Benarkah? Jadi anak papa sudah pandai masak sekarang huh?" Arzu mengusap kepala Qila dan Syila dengan lembut.
"Papa, setelah bunda sembuh. Boleh kan kita pergi ketemu mama? Qila mau ngomong sama mama, boleh kan pa?"
"Iya sayang, boleh kok. Kita akan ketemu mama nanti," ujar Cella menatap Arzu penuh arti. Lalu ia memeluk kedua putrinya dengan erat.
"Mereka akan mengerti," bisik Cella. Arzu menghela napas panjang. Ia mengangguk pelan.
***
"Papa, kenapa mama pergi meninggalkan kita? Apa mama tidak mau ketemu Qila ya?" ujar Qila. Saat ini mereka sudah berada di pemakaman umum. Dimana Monik di kebumikan.
"Mama sayang kalian, maka dari itu mama pergi. Disini, masih ada mama. Yang selalu menemani kalian, kapan pun dan di mana pun." Arzu menunjuk lubuk hati kedua putrinya.
"Syila sayang mama, papa, juga bunda." Syila meneteskan air matanya dan langsung memeluk Arzu dengan erat. Cella tersenyum sambil memeluk Qila.
"Bunda juga sayang, kalian. Jika Qila dengan Syila sayang mama. Doakan selalu mama ya? Supaya mama selalu bahagia di syurga," ujar Cella mengecup kening kedua putrinya.
"Apa mama bisa mendengar suara Syila?" tanya Syila menatap Cella lekat. Cella tersenyum sambil mengangguk. Syila terlihat senang, ia mengambil posisi jongkok. Qila yang melihat itu langsung ikut berjongkok.
"Mama, mama sedang apa di dalam sana? Mama, Syila kangen banget sama mama. Mama sangat cantik di foto, pasti aslinya lebih cantik kan? Kata papa dan bunda, Syila dan Qila sangat merip dengan mama. Oh iya, bulan depan Syila dan Qila naik kelas lagi loh. Qila selalu mendapat juara satu,"
"Tapi Qila pintar karena kak Syila, jika tidak ada kakak. Mana mungkin Qila bisa belajar dengan giat. Mama, Qila bawakan bunga untuk mama. Semoga mama suka,"
Arzu dan Cella hanya bisa tersenyum, melihat ocehan Syila dan Qila yang begitu menggenggamaskan.
__ADS_1
"Mereka putri kita mas, sangat pintar." Cella menyandarkan kepalanya di pundak Arzu.
"Ya, pintar seperti bundanya."
Cella memukul lengan Arzu pelan. Lalu keduanya terdiam. Menyaksikan kedua putrinya yang terus mengoceh tanpa henti. Seakan pusaran itu dapat mendengar dan berbicara.
Satu jam telah berlalu, kini mereka sudah kembali ke rumah. Arzu mendadak dapat panggilan, jadi ia kembali ke rumah sakit.
"Bunda, Qila lapar." Qila mengelus perutnya sambil menatap Cella.
"Lapar ya? Mau makan apa? Biar bunda masak," ucap Cella mengusap kepala Qila.
"Syila juga lapar bunda, mau makan spaghetti plus toping udang." Syila angkat bicara.
"Ya, Al juga lapar bunda. Sama seperti kakak, spaghetti udang," seru Althan sambil melompat-lompat.
"Ok ok, bunda buatkan. Tunggu di sini putri cantik dan pangeran tampan, bunda akan menyiapkan hidangan untuk kalian."
Cella langsung bergegas menuju dapur.
Syila yang tadinya duduk, kini ikut beranjak menuju dapur. Sedangkan Qila sedang asik bermain bersama Althan.
"Bunda, Syila mau bantu," ucap Syila saat melihat Cella tengah mengupas udang.
"Tidak perlu sayang, lebih baik kamu main dengan mereka. Bunda bisa sendiri," balas Cella sembari mencuci udang yang sudah terkupas.
"Syila bukakan meinya ya bun," ucap Syila kekeh ingin membantu Cella. Cella yang melihat itu menggeleng pelan, ia tersenyum melihat putri keras kepalanya itu.
"Wah... harum, bun. Syila semakin lapar," celoteh Syila. Cella tersenyum, menuangkan saus spageti diatas mie.
"Bantu bunda bawakan kedepan ya? Bunda buatkan minuman untuk kalian dulu."
Syila mengangguk, dengan penuh hati-hati ia membawa makanan kedepan.
"Yey, makanan sudah siap. Al mau...
"Eit... Tunggu dulu, pelan-pelan dong Al. Nanti jatuh semua," ujar Syila saat Althan hendak mengambil satu piring spaghetti. Althan mengerucutkan bibirnya dan kembali duduk.
"Ini, jangan ngambek dong," ucap Syila memberikan sepiring spaghetti pada Althan. Wajah Althan langsung berbuah sumringah.
"Al, cuci tangan dulu. Tadi habis pegang mainan, Qila juga."
"Iya bunda," ucap Althan meletakkan piring di meja dan langsung berlari untuk cuci tangan. Qila pun bangun dari duduknya mengikuti jejak si adik.
"Bunda, terima kasih. Bunda selalu menyayangi kami, bunda tidak pernah sekalipun marah. Walaupun kami nakal, selalu membuat bunda capek. Syila sayang bunda. I love you, bunda."
Syila langsung berhambur ke pelukkan Cella.
__ADS_1
"I love you to sayang, bunda sangat menyayangi anak bunda. Apa pun akan bunda lakukan, agar kalian tetap bahagia," balas Cella mencium mesra pucuk kepala Syila. Cella memejamkan matanya, ia benar-benar lega. Kedua putrinya kecilnya masih menganggap dirinya. Rasa sayang, perhatian yang Cella berikan pada mereka benar-benar tulus. Ia sangat mencintai anak-anaknya, walaupun bukan darah dagingnya sendiri. Tetapi baginya, mereka tetaplah anaknya.