ARZU

ARZU
Chapter 50


__ADS_3

PLAAKK


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Vivian, ia langsung menoleh dan mendapatkan Elya yang sedang menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Kau tidak tahu di untung Vivian, aku sebagai kakakmu sangat malu karena perbuatan bejatmu. APA KAU TAHU HAH, GARA-GARA ULAHMU HUBUNGANKU DAN MAMA RENGGANG. AKU MALU MEMILIKI ADIK SEPERTIMU, KAU SANGAT MEMALUKAN" teriak Elya yang sudah berlinang air mata.


"Haha... Kau yang bodoh percaya begitu saja padaku, semua keluarga Willson memang sangat bodoh.. Kalian semua ba... "


PLAAKK


Kini tamparan kedua berhasil didapatkan oleh Vivian, namun kali ini tamparan itu bukan dari tangan Elya melainkan tangan seorang wanita paruh baya yang sudah melahirkannya.


"Hentikan mulut lancang mu, aku tidak pernah menyangka jika aku melahirkan anak sepertimu. Apa kau tahu hah? Kalau keluarga Willson tidak ada maka kau tidak akan lahir, mereka yang membantu kita untuk tetap hidup" bentak Mayya menatap putrinya dengan begitu kecewa.


"Hahaha... Lihat, bahkan sampai sekarang mama lebih menyayangi kak Elya dibandingkan aku. Aku benci kalian semua, aku benci. Haha" teriak Vivian sambil tertwa nyaring. Elsha yang melihat itu mending geli, ia tak menyangka jika Vivian memang benar-benar gila.


"Pak bawa dia ke kantor polisi" ucap Mayya membalikan tubuhnya, bagaimana pun Vivian tetap lah anaknya.


"Monik tidak ada"ucap Arzu dengan napas tersenggal, semua orang yang mendengar itu terkejut bukan main. Lalu tak lama seorang pria berlari kearah mereka dengan napas tersenggal juga.


"Pak, saya melihat buk Monik di bekap oleh seseorang. Saya sudah berusaha mengejar tapi mereka sangat cepat" ucap mahasiswa itu.


"Kemana mereka membawanya?" seru Arzu menarik pria itu.


"Saya tidak tahu, mereka membawa buk Monik dengan mobil" seru pria itu sambil menjatuhkan dirinya di lantai karena merasa sangat lelah.

__ADS_1


"Kalian tidak akan pernah bisa menemukannya lagi. Aku sudah membuangnya ke jurang Hahaha..." seru Vivian yang berhasil membuat semua orang terkejut.


"Aku tidak akan mengampunimu Vivian jika sesuatu terjadi pada istriku" ucap Arzu yang langsung beranjak pergi untuk mencari keberadaan Monik.


"Ya allah, apa lagi yang terjadi?" seru Inna panik dan tiba tiba tubuhnya sangat lemas.


"Sayang, sebaiknya kita pulang dulu" ucap Samuel menahan tubuh Inna agar tak jatuh.


"Pak bawa wanita ini ke penjara" seru Samuel dengan nada marah.


"Kemana kau bawa Monik Vivian? Kenapa kau lakukan ini Hah? Kenapa kau permalukan mama dan papa? Kenapa kau harus menambah dosa mama pada keluarga ini Vivian" ucap Mayya meluruhkan tubuhnya ke lantai, Elya yang melihat itu langsung membantu Mayya untuk bangun.


"Sudah lah Ma, semuanya sudah terjadi" ucap Elya memeluk Mayya.


"Bawa dia pak, saya tidak sudi melihat wajahnya lagi" ucap Mayya dengan nada dingin, Elya dan Vivian pun sangat terkejut mendengar hal itu.


"Ma, mereka yang jahat bukan aku. Aku hanya ingin bahagia dengan pilihanku" teriak Vivian saat polisi membawanya keluar dari aula. Mayya menatap Inna dan kembali bersimpuh di hadapan Inna, Inna sangat terkejut dan langsung menarik Mayya untuk bangun. Inna memeluk Mayya dengan sangat lembut.


"Aku minta maaf, keluarga ku selalu mengacaukan segalanya. Aku tahu Vivian itu adalah buah dari dosa yang dulu aku perbuat. Aku minta maaf El, Inna, aku tidak pernah menyangka jika anakku akan melakukan hal ini" ujar Mayya menangis di pelukan Inna.


"Sudah lah, semuanya sudah terjadi" ucap Inna mengelus punggung Mayya.


"Pa, Ma, kami harus pergi untuk mencari Monik. Mari paman" ucap Arza yang di jawab anggukkan oleh Rehan. Mona menghampiri Inna dan menggenggam tangan Inna dengan lembut.


"Tante, saya juga minta maaf sudah mengganggu kehidupan anak tante. Saya juga sudah berniat untuk menghancurkan hubungan mereka. Tapi saya tidak pernah benar-benar berniat untuk mencelakai siapa pun, apa lagi mencelakai Elsha yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan saya. Saya harap tante percaya jika saya bukan lah yang melakukan itu pada Elsha" ucap Mona yang mulai menangis. Elsha yang mendengar itu berjalan menghampiri Mona.

__ADS_1


"Aku tahu kak, kami sudah tahu bukan kamu yang melakukan hal itu. Maafkan kami sudah menuduhmu" ucap Elsha mengelus punggung Mona.


"Terimakasih sudah mau percaya padaku, aku tidak tahu harus berbuat apa lagi agar semua orang percaya kepadaku" ucap Mona dengan nada pelan, Elsha tersenyum dan menarik Mona ke dalam pelukannya.


"Kami akan selalu percaya padamu, asalkan kakak selalu jujur" ucap Elsha yang di jawab anggukkan oleh Mona.


***


Arzu sudah terlihat prustasi karena belum mendapatkan kabar dari Monik.


"Kamu di mana sayang, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku" ucap Arzu dengan mata terus melihat kiri dan kanan. Arzu tidak bisa melacak keberadaan Monik karena Monik tidak membawa ponselnya.


Di sebuah tempat yang bergitu gelap, terlihat seorang wanita terus meronta saat beberapa pria mencoba untuk menyentuhnya. Wanita itu tak lain adalah Monik, Ia terus berusaha untuk meraih benda yang bisa di gunakan untuk melindungi dirinya. Lalu tangannya tak sengaja menemukan sebuah besi bulat dan dengan cepat Monik memukulkan itu pada salah seorang pria hingga pria itu mengerang kesakitan.


Tidak ingin membuang waktu, Monik berlari untuk kabur, namun kakinya tergelincir dan ia terjatuh.


"Akhhh, sakit sekali" ringis Monik memegang perutnya, ia merasakan sesuatu mengalir deras di selangkangannya.


"Haha... Kau tidak bisa kabur, aku sudah memberimu kesempatan untuk bersenang-senang tapi kau memilih untuk langsung mati. Baiklah aku akan langsung membunuhmu" seru pria yang tadi Monik pukul dengan besi sambil mengeluarkan sebuah pistol, Monik sangat terkejut dan membualatkan matanya.


"Saya mohon, jangan bunuh saya Aaakhhhhh... Ini sakit sekali" ucap Monik semakin meringis karena perutnya benar-benar sangat sakit.


"Aku hanya menerima perintah, jadi jangan kau salahkan aku. Bersiap lah untuk mati" ucap pria itu, Monik memejamkan matanya.


Aku hanya pasrah padamu ya Allah, jika aku harus mati saat ini. Tolong titip suamiku, biarkan dia terus bahagia. Batin Monik

__ADS_1


DOOORRR


__ADS_2