
"Yey... Akhirnya sampai juga...," seru Syila berlari menuju pantai. Hamparan pasir putih dan warna biru air laut berhasil menyihir setiap mata yang memandang. Arzu mengajak keluarga kecilnya ke sebuah pulau di daerah Jakarta, yaitu Kepulauan Seribu.
"Bagaimana, suka?" tanya Arzu pada anak-anak. Mereka pun mengangguk antusias. Berlari ke sana kemari karena sangat senang. Cella tersenyum senang, ia ikut bahagia saat melihat anak-anaknya terlihat bahagia.
Arzu menatap Cella yang sedang bergelayut manja di lenganya.
"Tidak ikut bermain dengan mereka?" tanya Arzu menyentuh hidung Cella. Cella mengangkat kepalanya. Menatap Arzu sambil tersenyum.
"Tidak, aku mau dekat kamu terus, Mas." Cella begitu manja. Arzu menaikkan sebelah alisnya.
"Aku tidak akan pergi jauh," ucap Arzu mengusap kepala Cella. Lalu mereka pun berjalan perlahan mengikuti anak-anak yang sedang menyusuri tepi pantai.
"Disini banyak perempuan cantik," ucap Cella yang berhasil membuat Arzu merasa heran.
"Terus?" tanya Arzu bingung.
"Tidak ada," ucap Cella pelan. Arzu tersenyum. Ia mulai mengerti dengan maksud Cella.
"Kamu cemburu dengan mereka? Bukankah saat ini tanganku kamu genggam erat?" ujar Arzu menatap lurus ke depan. Cella menatap Arzu lekat.
"Jadi kamu tidak mau aku pegang?" tanya Cella menghentikan langkahnya. Ia melepaskan tangannya dari Arzu. Arzu berbalik untuk menatap istrinya. Ia tersenyum senang saat melihat wajah Cella yang memerah. Ibu hamil yang satu ini cukup sensitif. Batin Arzu.
Arzu mendekatkan wajahnya dengan wajah Cella. Senyumannya semakin lebar saat melihat wajah Cella yang begitu lucu jika dilihat lebih dekat.
"Tidak perlu cemburu, aku ada disini. Kamu bisa mengikatku jika mau," ucap Arzu menarik dagu Cella. Ia mengecup lembut bibir Cella. Pipi Cella semakin merona.
"Jangan tersenyum, aku tidak rela orang lain melihatnya," ujar Cella memanyunkan bibirnya. Hal itu membuat Arzu semakin gemas.
"Baiklah, aku tidak akan tersenyum. Ayo, anak-anak sudah menunggu kita," ucap Arzu menggenggam tangan Cella. Cella tersenyum senang. Ia mengikuti langkah suaminya pelan.
Terima kasih tuhan, kau benar-benar memberikan seluruh hatinya padaku. Aku harap ini bukan akhir dari kebahagiaan kami.
***
"Ada apa?" tanya Arzu saat melihat Cella berbaring sambil menyentuh perutnya.
"Sakit, sepertinya aku terlalu banyak bergerak tadi," jawab Cella membenarkan posisi duduknya. Arzu mengusap perut Cella dengan lembut.
"Maaf, seharusnya aku tidak membawa kamu pergi terlalu jauh." Arzu mengecup kening Cella begitu mesra.
__ADS_1
"Tidak apa mas, anak-anak sangat bahagia hari ini. Apa mereka sudah tertidur?"
"Ya, mereka juga kelelahan, sekarang kamu juga harus istirahat." Arzu menarik selimut dan menutupi sebagian tubuh Cella.
"Aku mau di peluk," ucap Cella sedikit memanyunkan bibirnya. Arzu menggelengkan kepalanya. Raut wajah Cella langsung berubah. Ia berbalik membelakangi Arzu. Arzu yang melihat itu tersenyum. Ia berbaring dan memeluk Cella dari belakang.
Cella tersenyum senang, ia tahu Arzu tidak akan mengabaikan keinginannya.
"Tidurlah," ucap Arzu mencium pucuk kepala Cella. Cella memejamkan matanya. Menggenggam erat tangan Arzu.
"Selamat malam," ucap Arzu ikut memejamkan matanya. Ia pun ikut terhanyut dalam mimpi.
Pagi hari, Arzu sudah terlihat rapi dengan setelan kemeja putih. Cella mengerjapkan matanya beberapa kali. Arzu yang melihat itu langsung menghampiri istrinya yang kembali menarik selimut.
"Bangun, ini sudah hampir siang." Arzu menoel hidung Cella dengan gemas. Cella menatap Arzu begitu dalam.
"Hmmm...," Cella hanya bergumam. Ia kembali menutup matanya.
"Sayang, anak-anak sudah menunggu di ruang makan. Mereka akan terlambat sekolah," ucap Arzu menepuk pipi Cella pelan.
"Gendong," rengek Cella mengangkat kedua tangannya.
"Yakin? Di luar ada anak-anak, kamu tidak malu?"
"Cepat bangun, aku harus ke kampus terlebih dahulu, setelah itu aku jemput kamu. Bersiaplah, anak-anak akan terlambat jika kamu malas seperti ini."
"Iya, kamu kok jadi bawel sih mas? Biasanya juga cuek," kata Cella, ia mengecup bibir Arzu sekilas. Lalu bergegas menuju kamar mandi.
"Masih saja agresif, tidak pernah berubah. Bagaimana bisa aku sangat mencintaimu, Cella?" gumam Arzu. Ia tersenyum sambil menatap punggung Cella yang mulai menghilang di balik pintu. Arzu langsung beranjak keluar.
"Bunda, besok di sekolah ada acara lomba bakat, apa Qila boleh ikut?" tanya Qila saat mereka sedang menikmati sarapan pagi. Arzu sudah pergi beberapa menit yang lalu, ia harus menghadiri meeting di kampus.
"Boleh dong, bunda akan selalu mendukung anak-anak bunda," balas Cella. Qila terlihat senang mendengarnya.
"Syila bagaimana?" tanya Cella sambil mengolesi selai.
"Syila tidak ikut," jawab Syila sambil menopang dagu. Cella menatap Syila bingung. Tidak biasanya Syila terlihat tidak semangat.
"Ada apa, sayang?" tanya Cella menatap Syila dalam. Syila menggeleng pelan. Cella tersenyum, ia bangun dari duduknya, menghampiri Syila yang sedang cemberut.
__ADS_1
"Kenapa hmm? Katakan sayang," tanya Cella memeluk Syila dari belakang.
"Syila tidak mau ikut, pasti bunda dengan papa tidak datang besok. Untuk apa Syila ikut jika orang tua tidak hadir." Syila menjawab dengan ketus. Cella yang mendengar itu langsung terdiam. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Syila. Ia mencium pipi Syila dengan lembut
"Maaf, sayang. Tapi, kali ini bunda janji. Bunda dan papa akan hadir, jangan marah ya? Anak bunda harus menunjukkan bakatnya pada semua orang. Bunda tahu, Syila dan Qila anak pintar." Cella mengecup pucuk kepala Syila.
"Janji?"
"Iya, bunda janji. Bunda akan bicara dengan papa," balas Cella. Syila terlihat senang. Ia mengangguk dan mencium pipi Cella.
"Qila juga mau di cium, Bunda."
"Al juga," si kecil pun ikut merengek. Cella tersenyum bahagia. Ia menghampiri keduanya dan mencium pipi mereka dengan lembut.
"Ayo cepat selesaikan sarapannya, nanti terlambat," titah Cella pada ketiga anaknya. Mereka pun menyantap sarapannya dengan lahap.
"Belajar dengan sungguh-sungguh, Ok? Jangan nakal," ucap Cella mencium pipi Syila, Qila dan Al bergantian.
"Iya bunda," balas mereka bersamaan.
"I love you, Bunda," ucap Al mengecup pipi Cella dan langsung berlari menuju kelas. Cella yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Dah bunda," ucap Qila dan Syila bersamaan. Keduanya bergantian mencium pipi Cella. Mereka pun langsung bergegas menuju kelas.
Cella masuk ke dalam ruangan kerjanya. Ia duduk di kursi empuk, menyandarkan pinggangnya yang sedikit nyeri. Kehamilan membuatnya cepat merasa lelah. Ia memijat pelepisnya, kepalanya berdenyut. Perutnya terasa sangat mual.
Cella sedikit berlari menuju kamar kecil. Ia memuntahkan makanan yang ia makan tadi. Hingga tersisa cairan bening yang keluar dari mulutnya. Cella menatap wajahnya sendiri di cermin. Terlihat sangat pucat. Ia membasuh wajahnya dengan air. Lalu beranjak keluar.
Cella kembali duduk di kursi kerjanya, ia memejamkan mata agar rasa pusingnya sedikit berkurang.
"Sayang," panggil seseorang yang berhasil membuat Cella terkejut. Cella menghela napas berat saat melihat Arzu sudah berdiri di ambang pintu. Ia membenarkan posisi duduknya.
"Kenapa tidak memberi tahu jika kamu sudah berangkat? Lalu siapa yang mengizinkan kamu mengemudi sendiri?" protes Arzu. Cella menatap Arzu lekat. Ia enggan untuk menjawab pertanyaan suaminya. Mulutnya terasa kering dan pahit, membuatnya malas untuk bicara
"Kamu sangat pucat, kamu sakit?" tanya Arzu cemas, ia menghampiri Cella. Cella menggeleng pelan.
"Morning sickness?" tanya Arzu lagi. Cella mengangguk.
Arzu mengusap wajah istrinya dengan lembut, ia mengecup kening Cella begitu mesra.
__ADS_1
"Aku akan meminta izin agar kamu bisa istirahat beberapa hari," ucap Arzu mengusap pipi Cella yang pucat. Ia menatap Cella begitu dalam.
Apa mereka harus mengalami semua ini saat hamil? Aku tidak tega melihatnya.