
BRAAKK
Semua orang sangat terkejut dan langsung melihat kearah pintu, ternyata disana sudah berdiri pria tampan yang begitu mirip dengan Arzu. Siapa lagi kalau bukan Arza, Arza memang sangat suka mengejutkan Arzu, bahkan ia pernah membuat pintu apartemen Arzu rusak.
"Apa kamu sangat suka merusak pintu apartemenku?" tanya Arzu dingin, Arza yang mendengar itu hanya tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Arza membawa sebuah benda segi empat yang lumayan besar yang dibalut dengan kertas kado, ia menghampiri Monik dan langsung memeluknya. Arzu sangat terkejut dan langsung menarik Arza.
"Ya elah pelit banget sih, cuma kangen sama kakak Ipar kok." ucap Arza duduk disebelah Dira. Dira tertawa sambil memukul punggung Arza.
"Jahil banget sih." ucap Dira tertawa ringan.
"Biar gak kaku." ucap Arzu sedikit berbisik pada Dira, lalu ia kembali memandang Monik yang masih asik memakan rujaknya. Arza mengerutkan keningnya karena ia heran melihat Monik pagi-pagi sudah makan rujak. Menang belum ada yang memberitahu Arza tentang kehamilan Monik karena ia baru pulang dari luar negeri.
"Kakak Ipar ngidam?" tanya Arza menaikkan sebelah alisnya.
"Heem, ketinggalan jaman kamu mah. Terus kapan kamu ngidam?" ujar Dira yang berhasil membuat semua orang tertawa, tapi tidak dengan Arzu. Ia hanya tersenyum kecil menatap adik kembarnya, memang sangat jarang seorang Arzu tertawa layaknya kebanyakan orang. Bahkan seumur hidupnya mungkin bisa dihitung beberapa kali ia tertawa.
"Mau?" tanya Monik menawarkan rujak pada Arza.
"No, aku tak suka rujak." ucap Arza menggelengkan kepalanya, Arza memang paling tidak suka dengan namanya buah yang memiliki rasa asam, katanya sih dia gak mau hidupnya sama seperti rasa buah yang ia makan. Entah dari mana ia mendapatkan teori seperti itu, Arza memang rada-rada aneh.
"Harus mau, ya ya... Dikit aja." ucap Monik memohon pada Arza, entah kenapa Monik sangat ingin mengerjai Arza. Monik memasang wajah sedihnya saat Arza menggelengakan kepalanya.
"Ok baik lah, tapi hanya sendikit." ucap Arza menyerah, ia memang paling tidak bisa jika melihat wanita bersedih. Arza menerima suapan dari Monik dengan sangat malas, ia memejamkan matanya saat mengunyah rujak yang lumayan asam. Arza langsung bangkit dari duduknya menuju dapur, ia mengambil air minum dan langsung meneguk habis air hingga tandas.
"Gila asam banget." teriak Arza, Monik yang mendengar itu langsung tertawa karena begitu senang bisa mengerjai adik iparnya yang super jahil.
"Mau lagi?" tanya Monik saat Arza kembali duduk.
__ADS_1
"No, jangan lagi cukup sudah sekali saja hidupku asam." ucap Arza sedikit lebay, ia menutup mulutnya saat membayangkan rasa asam yang masih melekat di lidahnya.
"Ya sudah, jangan minta lagi ya kalau habis." ucap Monik kembali menyantap rujak, ia begitu menikmati tanpa merasa asam sedikit pun. Arza yang melihat itu menggelengkan kepalanya.
"Dasar ibu hamil aneh. Nih kado ulang tahun kakak, sorry telat." ucap Arza memberikan sebuah benda persegi empat yang ia bawa pada Monik. Monik mengernyitkan keningnya sambil menatap benda yang ia pegang.
"Boleh buka?" tanya Monik yang langsung dijawab anggukan oleh Arza, Monik begitu semangat membuka bungkusan kado yang menutupi benda itu. Namun seketika Monik membulatkan matanya saat melihat isinya adalah sebuah lukisan dirinya bersama Arzu, Monik langsung mendekap lukisan itu sambil menatap Arza dengan mata berkaca-kaca. Dira yang penasaran langsung mengambil lukisan dari tangan Monik, ia tersenyum saat melihat adegan mesra Arzu dan Monik yang berada dipangkuan Arzu, kenduanya saling bertatapan begitu dalam. Ya, itu adalah lukisan dulu saat Elsha dan Arza sengaja mempertemukan kenduanya dengan alasan mereka menjadi model lukisannya.
"Sweet." ucap Dira menatap Monik dan Arzu bergantian.
"Sebenarnya masih ada yang lebih romantis, hanya saja sudah laku." ujar Arza yang berhasil membuat Arzu menatapnya tajam.
"Tenang, wajah kalian tidak terlalu jelas karena kalian lagi ekheem..." ucap Arza sambil menyatuakan kedua tanganya menirukan orang yang sedang berciuman. Arzu yang kesal langsung melempar bantal kearah Arza.
"Habis orang berani beli mahal, jadi aku jual deh kan lumayan." ucap Arza begitu santai, Monik yang mendengar itu malah tertawa.
"Apa kamu menyukai jika orang lain melihat lukisanmu?" tanya Arzu begitu dingin karena tidak suka dengan jawaban Monik.
"Heem." ucap Monik menganggukkan kepalanya.
"Bagus." ucap Arzu marah dan langsung pergi, Monik sangat terkejut dengan sikap Arzu yang menurutnya sangat aneh.
"Kak, mau kemana?" teriak Monik saat melihat Arzu membawa kunci mobilnya. Arzu sama sekali tidak menanggapi ucapan Monik, ia terus berjalan seakan tak mendengar teriakan Monik.
"Haduh, mulai drama deh." ucap Arza menggelengkan kepalanya. Monik yang mendengar itu langsung menatap Arza tajam.
"Ini semua gara-gara kamu, awas ya kalau kak Arzu beneran marah." ucap Monik mengancam Arza dan langsung mengejar Arzu.
__ADS_1
"Haiiis, kenapa sih kakak suka banget ngerjain kak Arzu. Tanggung jawab tuh." ucap Dira mencubit perut Arza.
"Aduh, sakit Dira cantik." ucap Arza merangkul Dira dan berhasil mendapatkan tatapan mengerikan dari Arnold.
"Cuma bencanda, susah banget sih becanda ama emak-emak n bapak-bapak." ucap Arza menyadarkan tubuhnya disofa.
"Becanda kakak berlebihan. Kalau kak Arzu marah gimana?" ucap Dira.
"Tinggal dibujuk aja sih, kak Monik kan ada. Tinggal dikasih ciuman pasti langsung baikan." ucap Arza yang mendapatkan lemparan bantal dari Dira.
"Dasar jomblo ngenes, udah ngenes ditambah stress lagi." ucap Dira begitu kesal melihat sifat Arza yang terlalu berlebihan, entah sifat siapa yang diturunkan pada Arza.
"Kak, jangan marah dong. Monik kan cuma becanda." rengek Monik saat Arzu masuk kedalam mobil dan menghidupkan mesin.
"Kak." ucap Monik saat tak ada respon dari Arzu.
"Akhhh... " pekik Monik berpura-pura menahan sakit, ia menyentuh perutnya untuk mendapatkan perhatian dari Arzu. Arzu benar-benar terpancing, ia langsung turun dari mobilnya menghampiri Monik.
"Kamu tidak apa-apa? Kita kerumah sakit." ucap Arzu yang langsung menggendong Monik, Monik tersenyum bahagia karena rencananya berhasil.
"Gak mau kerumah sakit, mau kekamar aja ya?" ucap Monik begitu manja, ia menenggelamkan wajahnya dieleher Arzu.
"Jadi kamu ngerjain suami kamu Hah?" tanya Arzu menatap Monik yang masih menenggelamkan wajahnya dieleher Arzu.
"Maaf." ucap Monik mencium pipi Arzu, rasa kesal Arzu pun menguap begitu saja.
"Jangan diulangi." ucap Arzu yang dijawab anggukan oleh Monik, lalu Arzu membawa Monik kembali ke apartemen.
__ADS_1