ARZU

ARZU
Chapter 51


__ADS_3

DOOORRR


BRUUKK


Monik membuka matanya dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang pria terbaring dengan dada yang berlumuran darah.


"Kak Rangga" ucap Monik begitu lemah, ia hendak bangun namun ia tidak bisa karena perutnya benar-benar sangat sakit. Monik terus meringis kesakitan sambil menatap Rangga yang mulai menutup matanya.


"Kalian kami kepung, angkat tangan" teriak polisi, para pejahat itu mulai kalang kabut dan kembali menodongkan pistol pada Monik. Monik sudah sangat pasrah dan penglihatannya mulai kabur.


"Kak Arzu" ucap Monik saat melihat kedatangan Arzu, ia juga menatap Rangga yang sudah tak sadarkan diri.


"Monik" teriak Arzu hendak menghampiri Monik, namun pria yang memegang pistol itu langsung menodongkan pistol tepat di kepala Monik. Monik sudah tidak tahan lagi, ia memejamkan matanya karena sudah tidak kuat menahan rasa sakit.


"Jangan mendekat, jika tidak aku akan menembak wanita ini. Biarkan kami kabur, selangkah saja kau mendekat jangan salahkan aku jika wanita ini mati" ujar para pejahat itu yang mulai berjalan mundur.


"Pergi lah dan jangan sakiti dia" ucap Arzu, lalu para pejahat itu langsung berlari meninggalkan tempat itu dengan tergesa.


DOOORRR

__ADS_1


Arzu sangat terkejut saat mendengar suara baku tembakan dari arah luar, namun ia kembali melihat Monik yang sudah pingsan.


"Monik, bangun sayang" ucap Arzu mengelus wajah Monik, Arzu hendak mengangkat tubuh Monik. Namun ia sangat terkejut saat merasakan cairan kental di lengannya. Arzu kembali marik tanganya dan melihat darah segar yang berasal dari kaki Monik.


"Ya tuhan, apa ini? Monik bertahan sayang. Pak tolong bantu pria ini, dia terkena tembakan" seru Arzu yang langsung membawa Monik keluar.


2 jam kemudian...


CEKLEK


Arzu bangun dari duduknya saat melihat dokter yang menangani Monik keluar.


"Jadi istri saya hamil dok?" tanya Arzu yang di jawab anggukkan oleh dokter. Arzu menengadahkan kepalanya, ia merasa bersalah karena sama sekali tak menyadari jika perubahan sikap Monik belakang ini kerana ia sedang hamil.


"Apa saya bisa menemuinya dok?" tanya Arzu.


"Silahkan, tapi keadaannya masih kritis. Darah yang di keluarkan terlalu banyak. Tapi kami sudah melakukan transfusi darah, hanya saja istri anda tidak akan sadarkan diri dalam beberapa hari" ucap Dokter, Arzu mengangguk tanda mengerti, ia langsung membuka pintu dan melihat keadaan Monik yang begitu memilukan. Monik terbaring lemah diatas brankar, Arzu berjalan menghampiri Monik dan duduk di sebelahnya.


"Maaf kan aku sayang, kamu harus menanggung semua ini karena aku" ucap Arzu mencium kening Monik, air mata Arzu menetes begitu saja. Hatinya sangat terluka melihat belahan hatinya terbaring lemah.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku. Kau harus bertahan" ucap Arzu menyatukan keningnya dengan kening Monik.


***


Sudah hampir satu minggu Monik belum juga membuka matanya, Arzu sudah sangat frustasi dan penampilannya saat ini sudah sangat berantakan.


"Arzu, pulang lah dulu. Lihat keadaanmu, kamu juga harus merawat diri. Ibu lihat kamu juga belum makan. Jangan seperti ini nak, Monik akan sangat sedih jika lihat kamu seperti ini" ujar Yeni mengelus pundak Arzu, Yeni juga menatap Monik yang masih tertidur begetu lelap.


"Dia tidak ingin bangun buk, Arzu selalu menunggunya setiap hari" ucap Arzu begitu lemah, Yeni yang mendengar itu merasa sangat sedih.


"Ibu tahu kamu sangat mencintai anak ibu, tapi kamu juga harus memperhatikan diri kamu nak. Apa kamu akan berpenampilan seperti ini saat Monik membuka mata?" ucap Yeni menatap Arzu lekat.


"Baik lah, tolong jaga Monik sebentar buk. Arzu akan pulang sebentar, jika ada apa-apa segera hubungi Arzu" ucap Arzu yang di jawab anggukkan oleh Yeni. Arzu bangkit dari duduknya dan berjalan keluar dari kamar rawat Monik, Arzu menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat Monik.


Aku pergi sebentar, cepat lah bangun. Batin Arzu.


"Bangun lah sayang, kami sangat merindukanmu. Jangan buat semua orang khawatir, lihat lah suami kamu. Dia begitu tersiksa. Ibu yakin kamu mendengar suara ibu nak" ucap Yeni mencium kening Monik. Sebulir air bening mengalir dari ujung mata Monik. Yeni yang melihat itu langsung menghapus air mata Monik dengan lembut.


"Berjuang lah nak, kamu harus melawannya. Ingat disini masih banyak orang yang menunggu kamu. Kamu harus cepat membuka mata, anak yang ada di dalam sini juga sangat memerlukan kekuatan kamu" ujar Yeni sambil mengelus perut Monik, Yeni mengelus kelapa Monik. Ia juga tidak tega melihat putrinya terus terbaring lemah seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2