ARZU

ARZU
Chapter 62


__ADS_3

Bip bip bip


Suara semakin melemah, Arzu menatap wajah istrinya dengan lekat. Tidak, bukan ini yang dia inginkan. Dia tidak akan pernah rela jika Monik harus pergi secepat ini.


"Sayang, dengar kan aku. Kamu pasti bisa, kamu wanita hebat. Bertahan sayang, demi anak-anak kita. Demi aku, aku mohon" ucap Arzu menggenggam tangan Monik dengan erat. Namun hal itu tidak merubah segalanya. Detak jantung Monik semakin melemah. Arzu bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri dokter.


"Maaf tuan, tapi... "


"Aku seorang dokter" ucap Arzu mengambil alih tugas dokter. Susah payah ia mempertahankan kondisi Monik agar tetap stabil.


"Tidak sayang, kamu harus bertahan." ucap Arzu mulai menekan dada Monik agar jantung sang istri kembali normal. Arzu mulai meneteskan air matanya saat Monik sama sekali tak merespon.


"Biar aku yang bantu" ucap seseorang yang baru saja masuk. Arzu menatap orang itu lekat.


"Cella, bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Arzu menatap pergerakan Cella.


"Ini bukan waktunya untuk bertanya" ucap Cella datar. Arzu pun kembali membantu Cella menangani Monik. Keringat bercucuran dan ketegangan pun semakin menjadi saat suara generator semakin panjang. Arzu menggenggam tangan Monik dengan erat. Ia menatap Cella. Lalu ia kembali menatap Monik.


"Dengarkan aku, kamu harus hidup sayang. Jangan tinggalkan aku, aku mohon. Buka mata kamu sayang.. Buka" ucap Arzu menepuk pipi Monik yang kini terasa sangat dingin. Arzu beralih menatap Cella dan berjalan menghampiri dokter cantik itu dengan gontai.


"Selamatkan dia, aku mohon" ucap Arzu begitu frustrasi. Ia menatap nanar tubuh lemah Monik. Kakinya mendadak lemas.


"Tenang kan dirimu Arzu, Monik pasti akan selamat. Jangan putus asa, ini bukan dirimu Arzu" ujar Cella menatap Arzu iba. Dalam hatinya ia juga sedikit takut. Takut jika Monik tidak dapat bertahan. Cella kembali mencoba untuk menolong Monik. Cella mengecek denyut nadi, detak jantung Monik beberapa kali. Wajah cantik nya kini langsung berubah pucat, ia menatap Arzu lekat.


"Maaf Arzu, istrimu... "


"Apa yang kau bicarakan Hah? Dia akan sembuh, kau yang mengatakannya tadi bukan? Katakan Cella, dia masih hidup!!" Arzu mencekal pundak Cella.


"Maaf Arzu, kita sudah berusaha tadi bukan? Jadi aku mohon mengerti lah, Monik sudah tidak ada" ucap Cella hendak menyetuh tangan Arzu, namun dengan cepat di tepis oleh sang pemilik. Cella hanya bisa menghela nafas berat.


"Kau bohong Cella, dia masih hidup. Dia masih hidup" ucap Arzu menghampiri Monik. Arzu menepuk pipi Monik.

__ADS_1


"Bangun sayang, kenapa kau lakukan ini? Kenapa Monik?" Arzu memeluk Monik begitu erat. Cella menghela nafas berat. Ia menyentuh pundak Arzu.


"Kamu harus kuat Arzu. Kita tidak bisa melawan kehendak Allah." ucap Cella begitu lembut. Arzu pun menatap Cella dengan mata yang sudah memerah. Cella menelan air ludahnya karena merasa takut dengan tatapan Arzu.


"Maaf." ucap Cella sedikit mundur. Ia berjalan menghampiri beberapa dokter yang menangani Monik.


"Tolong beritahu keluarga yang lain, jika pasien sudah meninggal." ucap Cella pelan.


"Baik dok." ucap salah seorang dari mereka. Cella menatap Arzu lekat. Ia sangat tahu bagaimana sakitnya ditinggal oleh orang yang dicintai.


"Arzu, kita harus segera... " belum selesai Cella bicara. Arzu sudah terlebih dahulu bicara.


"Aku tahu!!" Cella tersentak kaget mendengar nada suara Arzu yang meninggi.


Tak ada yang tahu kapan maut akan tiba. Tidak ada yang bisa lari dari takdir yang sudah tertulis. Sejauh apapun kita lari dan menolak. Waktu kematian akan tetap menghampiri.


"Arzu, kamu harus sabar." ucap Inna mengelus pundak Arzu yang masih terdiam menatap pusaran terakhir sang istri. Tidak ada tangisan, tak ada suara yang keluar dari mulutnya. Diam. Hanya itu yang bisa ia lakukan. Kesedihan pun benar-benar merasuki semua orang yang ada disana. Semua keluarga masih tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Kita pulang sayang." imbuh Inna. Namun tetap sama. Arzu masih terdiam menatap pusaran Monik.


"Biarkan aku disini sebentar." akhirnya pemilik wajah datar itu bicara. Inna sangat lega mendengar Arzu bicara.


"Elsha disini dengan kak Zu." ucap Elsha menatap Arzu lekat. Arzu mengangguk.


"Ayo pulang sayang." ajak Inna pada Cella yang juga tengah terdiam menatap Arzu dan sesekali melihat gundukan tanah yang masih basah.


'Betapa beruntungnya kamu Monik. Dia sangat mencintai kamu. Jika saat ini aku ada di posisi mu, aku akan merasa menjadi wanita yang terbahagia. Walaupun aku harus mati. Aku akan ikhlas.'


"Cella!!" panggil Inna sambil mengoyangkan tubuh Cella. Cella mengerjapkan matanya beberapa kali hingga ia benar-benar tersadar.


"Ah iya tante." ucap Cella bingung.

__ADS_1


"Pulang?"


"Sebentar lagi tan, Cella akan menyusul." ucap Cella tersenyum. Inna mengangguk. Lalu ia langsung beranjak pergi.


"Nak Arzu harus ikhlas. Ibu juga sudah ikhlas. Jaga kesehatan, masih ada dua malaikat kecil yang membutuhkan kamu nak. Ibu pulang dulu. Assalamualaikum." ucap Yeni yang langsung pergi bersama putri bungsunya. Kini hanya mereka bertiga yang ada disana.


"Wa'alaikumusalam" ucap ketiganya. Lalu semuanya kembali sepi. Cella menatap Elsha yang juga sedang menatap dirinya. Elsha berjalan menghampiri Cella dan langsung memeluk wanita itu begitu erat.


"Jangan menangis." ucap Cella mengelus kepala Elsha dengan lembut.


"Ini sangat mendadak kak." ucap Elsha disela isakkannya. Cella mengangguk sambil mengelus pundak Elsha.


"Kakak mengerti." ucap Cella kembali menatap Arzu yang kini tengah mengelus nisan Monik.


"Kita pulang." ucap Arzu datar menarik tangan Elsha. Namun tatapannya tertuju pada Cella.


'Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa salahkku?'


"Kak Cella... "


"Aku akan disini sebentar." ucap Cella menyetuh pipi Elsha. Ia menatap Arzu sekilas, lalu beranjak mendekati makam Monik.


"Monik, kenapa kau pergi begitu cepat? Apa kau tahu suamimu? Dia sangat terluka." ucap Cella menatap tulisan nama Monik disana. Cella menghapus air mata di pipinya. Ia berusaha untuk tersenyum.


"Kamu tenang aja, aku akan merawat anak-anak kamu di rumah sakit. Tapi hanya sebatas di rumah sakit ya, untuk kedepannya aku tidak bisa merawatnya lagi."


"Maaf dulu aku pernah iri sama kamu. Kamu tahu? Aku iri karena kamu begitu mudah mendapatkan cinta dari Arzu. Sedangakan aku yang terus berusaha untuk mendapatkan cintanya dari dulu, hanya bisa tersenyum getir. Tapi aku sadar, mengharapkan cinta dari seseorang itu hanya akan mendapatkan rasa sakit."


"Maaf, aku jadi curhat." ucap Cella kembali mengusap pipinya. Ia menatap langit dan memejamkan matanya.


"Maafkan aku, aku masih mencintai suami kamu. Tapi kamu tenang aja, aku tidak akan merebut dia dari kamu. Dia sangat mencintai kamu."

__ADS_1


"Sudah cukup aku curhat sama kamu. Aku harus kembali ke rumah sakit. Semoga kamu bahagia disana." ucap Cella yang langsung beranjak pergi. Ia sudah tidak sanggup terus berada disana. Namun, tanpa ia sadari. Sedari tadi seseorang mendengar dan memperhatikan dirinya.


'Beruntung sekali kamu Arzu. Begitu banyak cinta disekeliling mu.'


__ADS_2