
Haris melangkahkan kakinya mendekat kearah zee. "Kenapa nak? Apa yang membuat cucu kakek yang cantik ini menangis" Tanya haris lembut.
Tangis zee semakin pecah. Dia merasa senang dengan apa yang dia dengar. Itu adalah hal yang sangat dia inginkan selama ini. Haris memeluk cucunya bahunya bergetar karena ikut menangis. Sama seperti zee haris juga merasa senang akhirnya zee memaafkannya, akhirnya dia bisa memeluk cucu perempuannya.
Dari kejauhan daren dan daniel melihat kakek dan cucu itu menangis berpelukan. Mereka berdua ikut menangis. Rasanya lega sekali. Daren berharap setelah ini hidup mereka bisa lebih bahagia dan lebih akrab lagi. Daren menghela nafas kemudian menepuk bahu daniel beberapa kali kemudian berlalu pergi.
Hatis mengusap air mata zee. "Jangan menangus lagi, kasihan cicit kakek, dia pasti ikutan sedih. "
Reynard meninggalkan dua orang itu memberikan ruang agar bisa lebih leluasa dalam berbicara.
"Kakek sehat? "
Haris mengangguk. "Sehat, hari ini lebih sehat lagi. " Jawab haris sumringah.
Zee ikut tertawa. "Kakek sudah makan? Sepertinya cicit kakek mau disuapin kakek uyut nya. " Ucap zee manja.
Haris terkekeh dia menyeka sudut matanya dan mengusap perut zee. "Kalau begitu kakek uyut dengn senang hati menyuapi kakian sampai kenyang.
Tidak ada pembicaraan serius diantara mereka. Mereka sama-sama tau tidak mudah melupakan masa lalu, hati mereka sendiri tau apa yang mereka inginkan. Jadi biarkan saja seperti itu sampai luka itu mengering dan sembuh sendiri.
***
Zee pergi berkuliah seperti biasa, hari ini dia berangkat bersama suaminya. Reynard langsung mengantarnya sampai ke kelas.
Satu jam lebih mendengrkan materi pantat zee terasa panas karena terlalu lama duduk, perutnya juga sedikit kram.
Siska datang menghampiri zee karena mereka janjian kerumah sakit melihat denis yang masih dirawat disana.
"Apa leo sudah datang? "Tany siska.
Zee menatap siska sebentar kemudian mengangguk. Ketika leo datang dan membuka kan pintu zee dan siska langsung masuk dan duduk tenang.
Siska membawa kotak makanan, sengaja dia bawa dari rumah, rencana akan dia berikan pada leo. Hampir dua tahun siska masih belum menyerah meski belum mendapat respon berarti dari leo.
__ADS_1
Tubuh siska membeku, jantungnya berdebar tak karuan ketika leo menerima kotak makanan itu. Dia menelan ludah gugup saat leo mengucapkan terimakasih.
Ditengah perjalanan siska tak hentinya tersenyum ditambah zee yang terus mengodanya. Perasaan siska tampak sangat baik. Terlihat sepele. Namun reaksi leo sudah mampu membakar semangat siska semakin membara.
Tiba-tiba siska sudah membyangkan dia berpacaran dengn leo lalu menikah tinggal berdua kemudian dia hamil selalu dimanjakan leo. Menikmati hari dengan romantis dan bahagia.
Lamunan siska buyar ketika zee menepuk bahunya. Zee tertawa terbahak melihat wajah cengo siska. "Baru juga nerima kotak makanan, jangan lo pikir dia langsung luluh, perjalanan lo masih panjang. Jangan terlaluh berharap. "
Perkataan zee membuat siska cemberut, padahal dia sudah optimis tadi. Sekarang jadi patah lagi.
"Udah, ayo keluar. " Ajak zee karena mereka sudah sampai dirumah sakit.
Zee dan siska berjalan masuk lift leo mengikuti mereka dari belakang. Ditangan siska ada beberapa bungkus makanan yang mereka beli tadi diperjalanan.
Mereka masuk kedalam kamar vip. Disana ada saka, seno dan abi. Perasaan zee langsung tak enak, hatinya merasa bersalah. Wajah denis masih pucat.
Zee menunduk dengan wajah murung. "Maaf ya denis. Gue nggak tau bakal separah ini. "
"Kok nyalahin gue. Sory gue masih polos nggak ngerti apa-apa. " Ucap saka kemudian pindah keatas sofa panjang lalu berbaring disana dengan mata terpejam.
Semua tercengang melihat tingkah saka, tidak seperti biasanya. Laki-laki itu lebih banyak diam hari ini.
"Lo kenapa? " Tanya seno.
Saka tak menjawab, dia masih diam dengan mata tetutup.
Zee meletak kan bungkusan makanan ke atas meja. Abi membantu zee duduk dikursi dan membuka kan sebuah jeruk untuknya.
"Itu makanan siska yang beli. " Ujar zee sambil membuka mulut menerima suapan jeruk dari abi.
"Thanks, terus kemana tu anak? " Tanya denis yang tidak melihat batang hidung gadis itu sejak zee masuk tadi.
"Biasa lagi berjuang menakhluk kan masa depan nya. " Ucap zee terkekeh. Seno dan denis ikut tertawa, bukan rahasia lagi kalau siska menyukai leo. Saka langsung duduk kemudian menyambar tas dan ponselnya.
__ADS_1
"Mau kemana? " Tanya seno. Semua mata menatap kearah saka.
"Balik, nanti malam gue kesini lagi. " Jawab saka. Tanpa menunggu jawaban dari mereka saka langsung melangkah keluar dari ruangan itu.
"Dia kenapa sih? " Tanya zee bingung. Tidak biasanya saka seperti itu. Yang mereka tau saka laki-laki julid dan tak tau malu, selalu ceria setiap hari.
Diluar ruangan siska sedang duduk dikursi tunggu disana juga ada leo, pria itu sedang memegang kotak makanan. Bagian tutup makanan itu ada label nama siska disana. Saka menatap sinis kearah siska pipi gadis itu tampak merah.
Siska mengangkat kepalanya saat merasakan tatapan tajam yang melihatnya. "Ngapain lo liatin gue kayak gitu? "
"Cih, gue punya mata, terserah gue mau lihat kemana. " Jawab saka ketus. "Jadi cewek harus punya harga diri, kalau sudah ditolak jangan maksa dan terus dikejar. Kayak cewek muraahan aja. " Tambah saka lagi dengan tatapan merendahkan.
Mata siska membulat, tak menyangka saka akan mengatakan kata-kata menyakitkan seperti itu. Matanya memerah menahan amarah. Siska berdiri hendak membalas perkataan saka. Tapi tangannya dicekal oleh leo.
Leo berdiri dan menatap tajam kearah saka. "Kau ada masalah? " Tanya leo dengan suara basnya.
Siska terkejut tak menyangka leo akan berbicara untuknya. Matanya berkabut senyum tipis terbit dibibirnya.
"Nggak ada masalah, gue sangat aman. " Jawab saka santai.
Siska menoleh senyum tipis telah pudar yang ada sorot matanya berubah dingin. "Lo gila ya? Ha, apa urusan lo, gue mau murahaan kek cewek jalaang kek, nggak hubungannya sama lo. Jangan ikut campur. Lo bukan siapa-siapa. "
Perkataan siska membuat saka mengepalkan tinjunya. Dia melihat mata siska ada kemarahan disana. Dia sadar ucapannya tadi pasti sudah menyakiti gadis itu, namun dia tidak menyesal sudah mengatakan nya. Dia benci melihat gadis itu terus mendekati leo sementara leo tidak pernah menanggapinya.
Saka tidak menanggapi ucapan siska dia berbalik dan pergi meninggalkan rumah sakit.
"Dia gila ya, kenapa dia marah seperti itu. " Gumam siska bingung.
Leo menatap datar kearah saka yang sudah tidak terlihat. Tidak ada yang bisa dilihat ekspresi leo tidak terbaca. Laki-laki itu masih saja memasang wajah datar.
Siska kembali duduk dikursi tunggu, mood nya sudah hancur. Dia juga merasa malu, pertengkarannya dengan saka malah disaksikan oleh leo, laki-laki itu pasti merasa ilfil sekarang melihat sikap kasar nya tadi. Siska semakin menunduk ketika melihat leo pergi menjauh entah kemana. Siska menghela nafas, matanya memanas padahal dia sudah berjuang selama ini baru saja ada respon dari leo image nya malah hancur lagi gara-gara cowok gila itu.
***
__ADS_1