Azeeyra

Azeeyra
Hai uncle


__ADS_3

"Aku berumur panjang karena aku memang jodoh aira. "daniel dan reynard berjalan beriringan menuju kamar rawat abi. Pria itu tersenyum licik berharap reynard terpancing emosi.


Reynard mempercepat langkahnya mengabaikan daniel yang melotot tajam, keduanya memang tidak pernah akur, daniel situkang jahil meski umur nya sudah tua, maklum saja masa kecilnya sangat jauh dari kata bahagia. Sedangkan reynard sedingin es dan irit bicara, kalau bersama daniel sering naik juga emosinya.


"sering-sering gerak kan kaki dan tangan nya ya mas, biar tidak terlalu kaku. " pesan dokter.


Abi mengangguk ia belum leluasa berbicara. Daren bantu menaikan posisi ranjang agar lebih tegak, abi mengeluh punggung nya terasa sakit. Abi melihat kebelakang reynard dan daniel seolah mencari sesuatu. Reynard yang peka langsung mengerti.


"dia tidak ikut, jaga keponakan. " reynard berkata dengan wajah datar, sedangkan yang lain malah kaget, tidak menyangka kalimat menyenangkan itu keluar dari mulutnya.


Abi tersenyum dan mengangguk senang.


Reynard menarik nafas ia hendak menanyakan keadaan abi, tiba-tiba ponselnya berbunyi, melihat nama yang memanggil lekas reynard angkat.


"aku dirumah sakit. "


"tidak, semua baik-baik aja. aku tidak bohong sayang, alihkan video. " ucap reynard. Tak lama wajah bulat zee memenuhi layar ponselnya.


"kamu jangan bohong, abang nggak kenapa-kenapa kan, ngapain kamu kerumah sakit, pergi juga nggak bilang, mau buat aku jantungan. " suara zee terdengar mengomel. Abi tersenyum mendengar suara adiknya. Reynard menghadapkan arah ponsel didepan abi, zee menutup mulut, air matanya langsung turun tanpa aba-aba.


Bibir zee bergetar, abi juga ikut meneteskan air mata. "hai, uncle, selamat datang kembali! "ucap zee tersenyum senang.


abi terkekeh kecil. " ha-i juga keponakan uncle, se-moga kita segera bertemu ya. "ucap abi tercekat.


" aku boleh kesana nggak?mau peluk. "ucap zee berurai air mata.


Abi menggeleng pelan ia menyentuh layar ponsel seakan tangan nya menghapus air mata zee. " yang jagain ponakan abang siapa, kalau adek kesini? "zee malah semakin terisak.


" ssttt, jangan nangis dong, besok matanya bengkak, nggak cantik lagi ketemu abang. "


Zee memanyunkan bibirnya manja. "besok aku kesalon dulu sebelum kerumah sakit. " meski sedih, zee masih sempatnya bercanda, semua orang jadi tertawa mendengarnya.


Suara xavi menangis melengking dilayar ponsel, abi terlihat panik ponsel sampai terlempar untung reynard sigap jadi bisa diselamatkan.


"kenapa di buang? " suara reynard terdengar dingin.


"kaget, suara bayi menangis. "risa tertawa keras mendengar perkataan putranya.


" gimana sih uncle, denger suara nangis ponakan aja udah kaget, gimana gendongnya, berani nggak? "karen terkekeh kecil, ia menutup mulutnya agar tetap terlihat anggun depan mertua.

__ADS_1


" nggak berani, takut patah. "jawab abi dengan polos.


" lo cuma gendong, bukan dikarate kenapa sampai patah? "reynard tambah kesal dibuatnya.


" anak itu sangat kecil seperti gumpalan daging, dan lucunya dia bergerak. "daniel malah menambahi.


Tak tahan lagi, risa dan karen tertawa terbahak, lain dengan reynard wajah laki-laki itu sudah tidak enak dilihat.


" sudah, sudah, biarkan abi istirahat. Kalian berdua pulang saja, sekalian bawa karen . "perintah daren.


" maaf om, aku boleh menginap disini nggak? Besok aku kuliahnya siang kok. "ucap karen sedikit memohon.


Daren melirik istrinya, risa mengangguk dan tersenyum. " ya sudah kalau gitu, biar aku sama karen aja disini, mas sama anak-anak aja yang pulang. "ucap risa mengelus lembut lengan suaminya.


Karen tersenyum lega, ia menatap abi dengan mata penuh kerinduan mata nya terlihat bersinar karena berair.


" terimakasih. "ucap abi pelan


Karen menggeleng kan kepala pelan. "sudah seharusnya kan aku disini. "


Abi meremas pelan tangan karen yang terletak diranjang.


***


Ketika bulan turun, matahari merangkak naik, pagi ceria terlihat dikamar zee dan reynard. Baby xavi menangis saat bi jum memandikan nya dengan air dingin. Suara tangis itu membuat zee meringis, tetapi bi jum selalu mengatakan tidak apa-apa. Zee sudah mencoba untuk memandikan xavi, tetapi begitu ia pegang dalam keadaan polos tanpa bedong ia merasa ngeri takut terlepas dari tangannya.


"nah, udah wangi dan ganteng nih, anak mommy. "ucap zee ketika bi jum memberikan xavi ketangan nona mudanya.


Zee bersiap-siap memberikan asi, tetapi sebelum itu, bi jum memberikan segelas susu hangat padanya.


" makasih ya bi. "ucap zee tulus.


" sama-sama non, bibi kebawah dulu. "pamit bi jum seraya membawa pakaian kotor sikecil.


Reynard datang membawa nampan berisi sarapan dan potongan buah. Ia lihat zee sedang menyusuui baby xavi. " sarapan dulu sayang, baru kasih asi nya. "ujar reynard.


" padahal aku laparnya abis kasih asi, kalau makan duluan nanti lapar lagi. "rupanya pemahaman reynard dan zee terbalik.


" aku taruh disini, nanti habiskan, aku langsung kekantor, siang pergi kekampus, nanti kerumah sakit diantar leo. Tunggu bunda pulang dulu buat jagain xavi, dia belum boleh dibawa keluar."reynard bicara sambil memakai jam tangan.

__ADS_1


Reynard pamit pergi, sebelum itu ia kecup bibir manis zee. "masih lama sayang, aku udah kangen. "


Zee menggigit bibir, dia malah nggak kepikiran soal itu, untung reynard ingatkan. Nanti dia akan membicarakan hal ini dengan mom sesil dan bunda risa.


Mobil yang dikendarai leo baru berhenti diparkiran rumah sakit, ia bertemu siska dan tiga curut disana.


"hai mom, sorry banget ya, belum sempat jenguk baby xavi, tugas banyak banget. " keluh siska ia mengandeng tangan zee, mereka berjalan bersama keruang rawat abi.


"nope, gue ngerti kok, yang penting kalian semua sehat jangan terlalu memforsir waktu kalian but belajar terus lupa kesehatan sendiri. " bijak zee menasehati sahabatnya.


"aduh, aduh, kalau udah jadi mom, pemikirannya beda ya, ngomong nya juga udah lancar nih. " sahut saka


"bener, padahal dulu sama kakunya kayak rey, boro-boro menasehati, jawab omongan kita aja udah untung. " denis bernostalgia, masalalu yang tak terasa sudah dua tahun mereka lewati.


"semua orang pasti berubah, waktu dan keadaan membuat kita jadi lebih dewasa, begitupun dengan kalian, pencicilan dan sesuka hati, sekarang kalian sudah menjadi orang yang bertanggung jawab. " perkataan zee malah membuat mereka terdiam, sebagai seorang remaja yang baru beranjak dewasa dan masih mencari jati diri. Mereka akui, beberapa bulan belakangan ini, mindset mereka yang tadinya cuma kuliah memenuhi keinginan orang tua saja, sekarang malah berubah menjadi tanggung jawab dan kewajiban, mereka harus melakukan ini jika mau mendapatkan hal yang mereka inginkan.


"hai, bro, ingat bangun juga lo, enak ya santai-santai, sementara kita harus ngerjain tugas kuliah. " sindir saka mulutnya melayangkan protes sementara matanya berair.


"hu'um, hampir aja gue nikahin karen, untung lo cepat sadar, habisnya nggak tega gue lihat dia nangis terus. " denis ikut menimpali malah mendapat tatapan tajam dari abi.


Semua terkekeh mendengarnya. Zee mengambil posisi duduk disamping abi, ia memegang tangan abi mencium nya beberapa kali.


"makasih ya udah mau bangun. " airmata zee sudah jatuh duluan.


Abi mengusap pelan air mata adiknya, rasanya bahagia sekali bisa bertemu orang-orang yang dia sayangi,berkumpul dan saling bercanda seperti ini lah yang dia inginkan.


"ponakan abang mana? "


"rey nggak bolehin bawa keluar karena baby nya masih kecil, kalau abang mau ketemu, harussembuh dulu. " ucap zee pelan.


Abi mengangguk seraya mencubit hidunh merah zee. "tambah cantik setelah jadi mommy. " puji abi, wajah zee memerah karena malu.


"bang, makasih ya, udah datang dan nyelamati aku waktu itu, kalau abang nggak datang mungkin sekarang aku usah nggak ad... "


"ssttt, jangan ngomong gitu, aku abang kamu bukan? " tanya abi dan zee langsung mengangguk, "jadi sudah seharusnya abang melindungi kamu, jangan berfikiran macam-macam, apalagi merasa bersalah, justru kalau abang nggak nolongin kamu, abang udah nggak pantes lagi jadi kakak kamu. "


Zee dan yang lain nya terdiam, larut dalam pikiran mereka masing-masing.


***

__ADS_1


__ADS_2