
Pada akhirnya kalimat. 'Tidak perlu balas dendam, duduk saja dan menunggu, siapa pun yang menyakitimu, suatu saat akan mendapatkan karmanya sendiri. ' itu benar-benar kalimat yang menenangkan. Namun jika zee hanya duduk dan diam, bukan kah itu artinya dia membiarkan orang lain menginjak-injaknya.
"Ini benda yang anda ingin kan nona muda. " Suara leo terdengar saat memasuki kamar zee.
Zee menerima kotak yang diberikan leo, ia membukanya dan mengeluarkan sepasang earpiece.
"Pakai ini leo, benda ini akan memudah kan kita untuk berkomunikasi. " Zee memberikan earpiece pada leo, ia juga menggunakan satu di telingga kanannya.
"Apa kakak dan abang ada dirumah? "Tanya zee tanpa melihat leo. Matanya fokus menatap kebun belakang milik bunda risa.
" Mereka sedang bermain game diruang tamu nona. "Jawab leo sopan.
"Minta supaya mereka berdua datang kesini, ada hal penting yang ingin aku bicarakan. "
"Baik nona. "Leo membungkuk dengan hormat dan mengambil langkah mundur kemudian berbalik keluar kamar.
Zee menghembuskan nafas pelan, kemudian memasuki kamar mandi.
Setelah membersihkan dirinya, gadis itu memasuki walk in closet, dan memilih gaun selutut tanpa lengan berwarna biru muda. Rambutnya ia kuncir kuda, tidak lupa memoles wajahnya dengan bedak dan lip tint.
Tok. . .
Tok. . .
Tok. . .
Kenop pintu diputar dan dibuka, daniel dan abi menyembulkan kepala. Zee menatapnya dengan wajah datar.
"Ekhem... Selamat malam dek. " Daniel menyapa zee dengan senyum canggung.
"Kemari dan duduk lah. " Titah zee dengan datar.
Daniel dan abi duduk disofa panjang dengan jantung berdebar.
"Kalian sudah siap? "Tanya zee dengan tangan berlipat di dada.
Ruangan tiba-tiba hening atas pertanyaan zee.
Mengerti dengan kebingungan dua lelaki itu zee melanjutkan ucapannya. "Hal yang kalian lakukan, tentu sudah kalian pikirkan konsekuensinya kan? "Kata zee dengan senyum miring.
"Perut kamu gimana dek masih sakit? " Tanya abi dengan senyum lebar. Dia berusaha semampunya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sepertinya kalian cukup bersenang-senang hari ini. " Pertanyaan zee menyindir dengan senyum mengejek. Dia tidak memedulikan pertanyaan pengalihan dari abi.
"Kami minta maaf dek. "Dengan kepala tertunduk daniel dan abi menjawab.
"Bagaimana aku menghukum kalian berdua? "Zee menaik kan sebelah alisnya.
Daniel dan abi saling adu pandang, kemudian menghela nafas berat.
" Tidak bertegur sapa selama satu bulan!"seru zee menatap kedua orang itu secara bergantian.
"Jangan. "Jawab mereka serempak.
"Kami memilih hukuman lain. " Ujar daniel, mana sanggup mereka tidak menjahili zee selama sebulan, eh. Maksudnya mana sanggup mereka tidak bermanja dengan adik kesayangan mereka.
Nah ini dia, zee sudah menduga nya, mengingat kebucinan mereka terhadap zee, tentu saja mereka lebih memilih hukuman lain dari pada tidak bertegur sapa dengan adiknya, makanya zee sudah menyiapkan hukuman yang sedikit ekstrim untuk dua orang ini.
"Kalian yakin? "Zee mengangkat alisnya secara bergantian. "Kalian tidak boleh menyesal menyesal. "
"Sangat yakin dan tidak akan menyesal. " Jawab mereka serempak lagi, namun detik berikutnya, mereka berdua saling tatap, entah kenapa perasaan nya tidak enak. Dan keyakinan nya tadi mulai melemah.
__ADS_1
Zee menyentuh telinganya dengan jari telunjuk. "Leo, bawa masuk yang tadi aku minta. "
Daniel dan abi menatap zee dengan lekat, abi berkata dengan suara lembut. " jangan aneh-aneh kamu dek. "
Zee menyeringai dan berkata. "Sudah aku katakan, kalian tidak boleh menyesal. "
Pintu diketuk, leo masuk bersama ririn, kedua orang itu membawa sesuatu ditangannya.
"Letak kan dimeja. " Perintah zee. Leo dan ririn meletakan apa yang mereka bawa diatas meja.
Wajah daniel dan abi seketika memucat, ketika angin berhembus, meski samar mereka mencium aroma yang familiar dari hidangan yang tertutup itu.
Abi melirik daniel yang juga melihat ke arahnya dengan tatapan penuh arti.
Abi meneguk ludahnya bersusah payah. 'Semoga tebakan ku salah. '
"Tuan muda kenapa muka nya tegang begitu? " Tanya ririn dengan suara genit, ia berdiri dengan dada dibusungkan, sehingga isinya sedikit menyembul.
Zee melirik ririn sebentar kemudian tersenyum licik. "Kulit mu terlihat sangat bagus mbak ririn. "
Mata ririn berbinar mendengar pujian dari zee, ia mengerakan badannya dengan gerakan sensual menggoda iman.
"Ririn kenapa baju mu terbuka seperti itu, sempit dan juga sangat pendek. Kau sengaja untuk mengoda kami ya? " Ucap Daniel bicara to the point.
Ririn terkesiap. "Astaga tuan muda, saya tidak bermaksud begitu tapi kalau tuan muda sampai tergoda, itu berarti kan rezeki saya. " Ucap ririn dengan malu-malu.
"Pergilah." Zee mengibaskan tangan nya, mengusir ririn dengan tatapan jijik. Keberanian dari mana dia secara terang-terangan mengoda majikannya.
Ririn sedikit terkejut mendengar suara dingin zee, kemudian berbalik dan pergi.
"Buka tutupnya. " Titah zee sembari duduk disofa sebelah daniel.
"Hoek... Hoek... " Abi dan daniel serempak merasa mual. Dengan cepat daniel menutupnya kembali.
Mata daniel memerah menatap zee, perutnya bergejolak mencium aroma menyengat yang keluar dari hidangan di atas meja.
"Durian! Yang benar saja dek? " Abi bicara dengan suara bergetar.
Durian adalah buah yang paling dan sangat dibenci abi, dan kebetulan daniel juga sama, hanya dengan mencium aromanya saja, mereka sudah merasa mual apa lagi memakan nya, kemungkinan besar mereka bisa pingsan.
"Hoek... Hoek... " Keduanya kembali merasa mual saat zee membuka penutup durian itu.
Mendengar suara erotis abi dan daniel, zee pun ikut terbawa-bawa seperti ikutan akan munt*h.
Zee menguk ludahnya. "Hoeek... Hoek... " Kali ini mereka bertiga mengeluarkan suara mual serempak seakan sedang paduan suara, mereka saling pandang kemudian tertawa diselingi suara mual. Ralat, hanya daniel dan abi yang tertawa karena zee sudah menatap nyalang ke arah mereka.
Leo menepuk keningnya pelan, kalau seperti ini namanya senjata makan tuan. Tujuan zee menghukum kakaknya eh malah dia ikut menikmati hukuman tersebut.
"Dek, hoeek... Teg.. Hoek... Tega kamu dek, hoek... " Daniel bicara dengan suara putus-putus.
Setiap daniel dan abi merasa mual, zee juga ikut-ikutan merasa mual, hal itu berlanjut selama 15 menit.
Zee bersandar di sofa dengan kepala menengadah ke atas langit-langit kamarnya.
"Leo... " Panggil zee dengan suara lemah. Zee menutup mulutnya dengan telapak tangan, matanya terpejam meski tidak sampai munt*h, tapi rasa mual itu cukup menguras energi.
Paham dengan apa yang di inginkan nona mudanya leo segera menutup kembali biang kerok yang mengakibatkan sesi hukuman abi dan daniel menjadi kacau.
Leo mengambil segelas air minum, kemudian mendekati zee. "Nona muda. "
Zee mengangkat tangan dengan mata masih terpejam, leo menyodorkan gelas berisi air itu langsung ketangan zee. Segera zee meminum air hingga gelas kosong.
__ADS_1
Tiga orang itu sekarang duduk lemas dengan kepala bersandar diatas sofa.
Seulas senyum terbit di bibir dua lelaki disebelah zee, dalam hati mereka bersorak ingin mengejek adiknya itu, niat hati ingin mengerjai kakak nya, malah dia ikutan masuk dalam permainan nya sendiri, hal lucu ini akan menjadi aib bagi zee, dan senjata yang cukup berbahaya untuk mengancam nya nanti.
"Kamu sudah puas menghukum kami dek. " Tanya daniel memiringkan kepala ke kiri melihat zee.
Zee menatap sengit ke arah daniel, rasanya ingin sekali zee berteriak, namun ia juga merasa malu saat mengingat apa yang baru saja terjadi.
Pertarungan adu pandang itu terputus saat mendengar suara pintu kamar di ketuk. "Masuk."
Beberapa saat kemudian pintu terbuka secara perlahan. "Nona juga tuan muda, makan malam sudah siap, nyonya dan tuan besar sudah menunggu dimeja makan. "
Suara ririn menyelamatkan mereka dari suasana memalukan itu. Daniel dan abi berdiri melewati zee tanpa suara kemudian hilang dibalik pintu.
Zee tidak mengatakan apa-apa lagi selain berdiri dan berjalan keluar. Leo mengikutinya dibelakang seraya membawa si biang kerok jauh-jauh dari kamar nona mudanya.
****
Saat sampai diruang makan zee mengerutkan keningnya mendapati diana duduk manis di sana.
"Kenapa dia ada disini. " Bisik zee yang sudah duduk disamping abi.
Abi mengedik kan bahunya pertanda tidak tau dan tidak peduli.
Tanpa memedulikan keberadaan diana zee mengambil makan malam dan menyantap nya secara perlahan.
"Mbak risa, kamu tidak apa-apa kan kalau aku ikut makan malam disini. Aku dan mas daren kan sudah berteman sejak lama, jadi aku rasa mbak tidak akan keberatan. "Ucap diana dengan senyum yang membuat orang merasa jengkel melihatnya.
Risa tersenyum menatap diana. " Tidak masalah. "Dengan senyum yang tidak pudar di bibirnya risa melanjutkan. "Kamu datang untuk makan malam bukan untuk memakan yang lain, jadi aku tidak keberatan. "
Senyum lebar di bibir diana seketika lenyap begitu mendengar ucapan risa.
"Pfttt... Haha... Bunda sudah pintar bercanda ya sekarang, lihat.. Tante diana jadi terkejut bun. " Ujar zee tertawa geli.
"Ah, maaf silahkan lanjutkan makan malamnya, seperti yang zee bilang saya hanya bercanda, jangan dimasuk kan kehati. "Dengan bibir yang masih tersenyum bunda risa kembali menikmati makan malamnya.
"Jangan terlalu sering keluar malam, kamu ini seorang perempuan. "Ucap daren dengan wajah datar. Maksud hati daren dia tidak ingin diana terlalu sering datang kerumahnya, namun wanita itu menangkapnya lain, dia pikir itu sebuah bentuk perhatian yang diberikan daren padanya.
"Aku kan keluar cuma kerumah paman haris, dan kerumah kamu mas, jadi nggak usah khawatir. "Jawab diana sembari meletak kan tumis toge telur di piring daren.
Tindakan diana itu tidak luput dari pandangn risa juga zee, daren menoleh ke arah risa yang duduk disebelah kirinya sementara diana duduk disisi sebelah kanan, daren tentu ia duduk dikursi kepala keluarga.
Risa membalas tatapan daren dengan senyum manis andalannya. Ia menyentuh tangan daren yang berada di atas meja, lalu meremas pelan memberitahu suaminya bahawa dia baik-baik saja.
"Mas mau tambah nasinya? " Pertanyaan diana membuyarkan lamunan daren.
"Tidak."bukan daren tapi diana.
Diana menutup mulutnya pura-pura terkejut. " Eh.. Maaf mbak, karena kami sudah berteman lama jadi aku tau semua kebiasaan mas daren, dia tidak bisa makan banyak karena punya masalah lambung. "Diana kembali mengambil atensi semua orang dan memamerkan bahwa dirinya lebih mengetahui siapa daren.
Daren menggeram menahan marah, namun risa meremas kuat tangan nya agar daren tidak meledak.
Zee mengangguk dan tersenyum miring. "Bukannya papa dan bunda akan pergi keluar kota besok, sebaiknya cepat berkemas dan istirahat, agar tidak kelelahan nanti. "
Risa menatap suaminya, daren membalasnya dengan senyum. "Oh iya bunda lupa, kalau begitu ayo mas, maaf ya diana kit.. "
Risa belum selesai dengan kalimatnya, suara diana kembali terdengar. "Habiskan dulu makan malam nya mas. " Celetuk diana sedikit cemberut.
"Saya sudah kenyang. " Daren menarik tangan risa menaiki tangga menuju kamarnya, dan membereskan pakaian mereka, tidak, tidak-tidak bukan membereskan tapi membuka pakaian, mungkin akan ada adegan nina ninu setelah makan malam, maybe! Karena dinas keluar kota kata zee tadi hanya alibi, agar daren bisa terbebas dari niat buruk diana.
Diana mengepalkan tangannya, ia sangat marah dan kesal niatnya ingin makan malam dengan daren, malah jadi ajang pamer kemesaran sepasang suami istri itu. Diana meninggalkan rumah zee dengan menghentak-hentakkan kakinya.
__ADS_1