Azeeyra

Azeeyra
KABUR TENGAH MALAM


__ADS_3

Tanpa membersihkan diri dan berganti pakaian, zee langsung saja merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Tidak ada raut kesedihan apalagi rasa sesak ingin menangis, saat ini zee benar-benar merasa lelah.


Saking lelahnya baru saja zee memejamkan mata, ia sudah terlelap dan tenggelam dalam mimpi.


Sementara di markas dragon.


Abi baru saja sampai dengan wajah dingin dan datarnya, bahkan anggota dragon yang berada diluar markas tak berani hanya untuk sekedar menyapa.


Saka dan denis yang juga baru datang langsung menghampiri abi yang sudah duduk di sofa.


"Kenapa bro? Masih belum selesai masalahnya? " Saka menepuk bahu abi pelan.


Abi hanya diam tidak menjawab. Saka dan denis saling pandang kemudian mengendik kan bahu.


Tidak mendapat respon dari abi, kedua laki-laki itu juga tidak memaksa, saka juga paham abi bukan tipe orang yang bisa curhat dengan mudah, meski mereka sudah berteman lama. Saka dan denis memilih bermain game dan membiarkan abi .


Reynard saat ini sedang sibuk membantu perusahaan daddynya, dia juga baru saja merintis usaha kuliner, dibantu oleh sahabatnya seno, reynard membangun showroom motor sport mewah. Astra nard motor, showroom yang melayani semua sepeda motor sampai big bike.


Tujuan reynard memulai bisnis lebih awal tentu saja ingin membuktikan pada keluarga kekasihnya bahwa tanpa nama jordhan dia juga bisa sukses dan pantas menjadi pendamping gadis itu.


Saat ini reynard sedang dalam perjalanan pulang, namun karena ia melewati markas, akhirnya reynard memutuskan untuk mampir sebentar.


Reynard membuka helm, ia melihat tiga motor sahabatnya juga terparkir disana. Dengan langkah pasti reynard masuk kedalam markas.


"Ekhem." Deheman reynard mengalihkan atensi tiga laki-laki yang sedang bersantai diatas sofa.


"Bos, gimana usahanya, sukses? " Tanya saka basa-basi , namun mata dan tangan nya masih sibuk bermain game.


"Ya pasti sukses lah, kalau itu kau, lain lagi ceritanya. " Sahut denis yang mendapat satu tendangan kaki dari saka.


Reynard tidak memedulikan dua curut itu, matanya beralih pada abi yang saat ini bersandar di sofa dengan mata terpejam.


"Kenapa? " Reynard duduk disebelah abi sembari mengeluarkan ponselnya dari saku celana.


Abi membuka mata dan melirik reynard sekilas, kemudian menghela nafas panjang. "Dia pasti sangat terpukul sekarang. "


Ucapan abi membuat reynard mengerinyit. "Siapa ? "


Abi menoleh menatap sang sahabat. "Zee, baru saja ada kejadian tak terduga dirumah. Tentang kematian mama riana. "


"Lalu? " Reynard kembali bertanya, saka dan denis memasang telinga mencuri-curi dengar meski mata mereka menatap ponsel, namun titik fokus mereka ada pada telingannya sekarang.


Suara helaan nafas kembali terdengar. "Diana, adik sepupu mama riana, wanita itu lah yang membunuh mama zee, dengan obat penggugur kandungan, dan dia juga yang menabrak zee waktu itu. " Jelas abi dengan seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Emosi diwajah reynard tercetak dengan jelas, rahangnya mengeras, tangannya terkepal dengan kuat.


Terbayang saat kekasihnya terbaring dirumah sakit, kecelakaan yang hampir merenggut nyawa gadisnya. Lalu sekarang dia juga mengetahui fakta menyakitkan ini.


Saka dan denis, menyimpan ponsel mereka kedalam saku, mendengar berita yang dikatakan abi tampak serius, mereka juga ikut geram mendengarnya.


"Dimana dia sekarang? Dia baik-baik saja? "Tanya reynard datar.


" Tidak bisa dibilang baik juga, tapi dia cukup tenang, namun itu yang aku khawatirkan, akan lebih baik dia menangis atau marah-marah, setidaknya dia melampiaskan isi hatinya dari pada diam, aku malah sedikit takut. Sekarang dia mengurung diri dikamar tidak mengizinkan siapapun untuk masuk. "Penjelasan abi yang panjang lebar, menyakinkan reynard bahwa kondisi zee saat ini pasti sangat buruk.


Dia ingin datang dan menghibur nya tapi, rey merasa ini bukan waktu yang tepat dia datang kerumah itu, ditambah papa daren dan daniel masih marah padanya, reynard tidak mau menambah kekacauan.


***


Makan malam kali ini risa memasak dibantu oleh maid yang biasanya bertugas bersih-bersih, daren dan risa juga daniel sudah duduk dimeja makan.


Suasana hening membuat makan malam mereka tidak berselera, biasanya akan ada drama tiga saudara itu dulu, namun sekarang sunyi, dan sepi.


"Maaf tuan besar, nona muda sepertinya masih tidur, pintunya juga dikunci, saya tidak berani, untuk membangunkannya. "Ucap leo dengan kepala menunduk.


" Mmm, baiklah, kau pergilah makan malam dan istirahat. "Titah daren kemudian bersandar dikursi dengan helaan nafas panjang.


" Baik tuan. "Leo membungkuk kemudian mundur dan beranjak pergi.


Genggaman dari tangan risa, yang menyalurkan kekuatan membuat daren memejamkan mata sejenak, ia berusaha menyiapkan diri kalau ternyata zee kembali bersikap dingin padanya.


Wajar.


" Dia pasti sangat marah sekarang, dia mungkin sangat membenci pria bodoh seperti ku. "Ucap daren dengan suara serak.


Daniel mengepalkan tangan nya dibawah meja, kalau tidak mengingat ancaman zee tadi, mungkin sekarang dia sudah menyiksa diana. Ingin sekali daniel memukul dan menghabisi wanita iblis itu.


Makan malam yang terasa hambar itu mereka akhiri dengan beristirahat dalam kamar, sementara daniel memilih menginap di salah satu hotel miliknya guna menenang kan pikiran.




Pukul 02 dini hari, zee terbangun dari tidurnya, mata nya terbuka lebar bahkan tidak terlihat sisa-sisa kantuk sedikitpun.


__ADS_1


Dengan kaki telanjang zee masuk kedalam kamar mandi. Ia membuka pakaian dan mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Sepuluh menit zee keluar dengan wajah yang lebih segar.



Sebuah piyama berwarna baby pink melekat ditubuh mungil nya, ia berjalan menuju balkon menikmati angin malam.



Ah, siaaal, zee masih belum meminta ponselnya dari sang papa, padahal saat ini ia ingin sekali mendengar suara kekasihnya. Sejak hari ia kerumah reynard, sampai hari ini mereka belum berkomunikasi lagi.



Dengan mengumpulkan sedikit keberanian zee melangkahkan kaki keluar kamar, ia membuka pintu dengan pelan dan berjalan hati-hati agar tidak menimbulkan bunyi.



Sepertinya keberuntungan memang ada dipihaknya, kunci mobil tergeletak diatas meja tempat leo biasa menunggu zee di depan kamarnya.



Secepat kilat zee menyambar kunci mobil itu dan berjalan menuruni tangga, dengan jantung bertalu-talu zee mengendap-endap keluar rumah.



Sesampai di depan mobil, zee langsung membuka pintu dan masuk kedalam mobil. Sekarang yang jadi masalahnya adalah melewati penjaga gerbang, alasan apa yang harus diberikan nya?



Zee menghela nafas panjang, dan memantapkan hati. Dilajukan mobil dengan pelan, sesampai digerbang, dua penjaga yang sedang bermain catur langsung menghampiri mobilnya.



"Nona muda!!!! " Salah satu penjaga terkejut mendapati bahwa zee yang ada didalam mobil setelah kaca mobil diturunkan. Tadinya mereka pikir leo lah yang mengendarai mobil itu.



"Iya, buka gerbangnya paman! " Ucap zee berusaha tenang. Dia sangat takut saat ini, jangan sampai mereka melapor pada papa nya.



"maaf nona muda, nona mau kemana tengah malam begini? Apa saya panggilkan leo dulu non. " Tanya pengawal yang satunya lagi.



"Buka." Suara zee naik satu oktaf, dalam hati ia meminta maaf pada kedua penjaga itu, ia benar-benar terpaksa melakukan ini, jika zee bersikap lunak sudah pasti akan semakin lama dan berbelit-belit.




Melihat wajah nona mudanya tak lagi bersahabat, kedua penjaga itu, dengan terpaksa membuka pintu gerbang.



Tatapan mata zee yang tajam membuat mereka seolah sedang berhadapan dengan tuan besar daren.



\*\*\*



Zee bernafas lega karena ia sudah berhasil keluar dari mansionnya. Ia melajukan mobilnya membelah jalanan yang sepi dan gelap.



Tiba-tiba zee terkekeh kecil mengingat kejadian tadi pagi. Dari kekehan menjadi tawa yang menyedihkan,



Dari sekian banyaknya anak didunia ini kenapa harus dia?



'Kenapa harus aku yang mendapat ujian seperti ini, tidak cukup kah, rasa bersalah yang aku tanggung selama bertahun-tahun, dan sekarang aku dikejutkan oleh sebuah fakta yang membuat hati ku semakin patah dan sakit. Aku harus menanggung dosa dari apa yang tidak pernah aku buat. Setelah ini apa lagi?, harus seberapa banyak lagi penderitaan ku? "Zee meraung dalam hati, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.



Zee tau betul kalau ini adalah takdirnya, namun sebagai manusia biasa yang berada diambang putus asa dia hanya ingin sedikit mengeluh, meski terdengar sedikit lancang tapi boleh kah? Bolehkah dia hidup tenang dan bahagia?.



Saat zee mendengar bahwa kematian mamanya adalah ulah diana, jiwa zee seolah direnggut paksa dari tubuhnya. 18 tahun ia hidup menderita dalam kebencian keluarganya, bahkan sampai saat ini rasa sakit itu masih terasa. Dan tiba-tiba diana mengungkapkan fakta nyata yang tak terbantahkan.


Bukan dia, bukan zee yang mengakibatkan kematian mamanya, bukan dia yang membuat papanya kehilangan istri. Juga bukan dia penyebab haris kehilangan putrinya. Tapi orang lain, dan dia lah yang menanggung dosa itu. Semesta tidak mungkin setidak adil itu kan?.

__ADS_1



Nafas zee semakin tersendat, karena tangis yang dia tahan sedari tadi, andai, andai sekali saja ia dipertemukan dengan mamanya, ingin sekali zee memeluk dan menangis dipelukan wanita itu. Ingin mengadu juga bermanja, namun semua itu hanya ada di angan-angannya saja.



Zee mengacak-acak rambutnya, sakit, kepala zee luar biasa sakit sekarang.



Bodoh sekali.



Kenapa juga dia yang harus menangis dan bersedih seperti ini, harusnya mereka yang sudah berbuat salah itu yang menangis dan menyesal.



Zee menghentikan mobilnya, ia menghela nafas panjang, air mata yang membasahi pipi dihapus nya dengan pelan, mata nya memerah dan sedikit sembab.



Tiiitt. . . Tiitt. . .



Bunyi klakson mobil, mengejutkan satpam dimansion mewah itu, seorang pria bertubuh besar membuka gerbang dan melihat siapa yang datang.



Karena satpam mengenali pemilik mobil sport mewah itu, langsung saja ia membuka lebar pintu gerbang dan mempersilahkan mobil untuk masuk.



Meski dalam hati bertanya-tanya, kenapa kekasih tuan mudanya datang tengah malam seperti ini, namun pertanyaan itu hanya disimpan dalam hati saja.



Zee keluar dari mobil, kakinya terasa dingin begitu menginjak lantai sebab saat ini memang zee tidak memakai alas kaki.



Seorang laki-laki berpakaian hitam menghampiri zee yang berdiri mematung di teras rumah.



"Nona muda, "laki-laki itu membuka pintu dan mempersilahkan zee untuk masuk, namun zee tak bergeming, ia berdiri dengan diam.



Laki-laki itu tampak kikuk, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Kebetulan sekali erik yang baru saja turun kedapur mengambil minuman, ia melihat seseorang berdiri diteras karena pintu yang masih terbuka lebar.



Erik berjalan perlahan menghampiri pintu. " Loh, azeeyra!!! Ada apa nak, kenapa tidak masuk? "



Panggilan erik tak dipedulikan zee, ia tetap berdiri diam dengan sorot mata dingin.



Melihat penampilan zee yang kacau erik menyadari bahwa saat ini sesuatu yang buruk telah terjadi pada calon menantunya itu.



"Om hubungi rey dulu ya, sebaiknya kamu tunggu didalam saja. " Tambah erik lagi, namun zee tetap sama, tidak menanggapi omongan erik.



Erik yang bingung harus bagaimana, akhirnya meninggalkan zee kembali kekamar. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi putranya.



Tuuut. . . .tuuut...



\["Hallo dad! "\] Terdengar suara reynard sedikit parau sepertinya laki-laki itu sudah tidur.



\[ " Boy. . . . . "\]


__ADS_1


\*\*\*


__ADS_2