
Keyla gadis itu terlahir dari rahim seorang pelayan yang bekerja dirumah dimas, ibu keyla menggoda dimas yang baru bercerai dengan istrinya, dia memberikan obat perangsang pada kopi dimas.
Ibu keyla naik keatas ranjang dimas dan melewati malam panas bersama pria itu. Namun harapan ibu keyla yang ingin menjadi nyonya alaxander hanya ada dalam angan nya, dimas tidak mau bertanggung jawab atas apa yang terjadi hingga ibu keyla hamil. Keluarga besar dimas menghina dan mencaci maki ibu keyla, berhubung dimas tidak memiliki anak akhirnya mereka menerima anak yang dikandung pelayan itu.
Meskipun anaknya diterima bukan berarti ibu keyla mendapat hidup yang lebih layak, dia dijadikan budak nafsu oleh dimas sampai anak itu lahir.
Ketika keyla lahir, wanita itu langsung dibuang keluar kota, tidak peduli akan hidup atau mati, wanita yang baru saja melahirkan itu dengan kejamnya diyinggal ditemoat yang jauh dari rumah penduduk.
Meski menjadi putri satu-satunya dimas, bukan berarti keyla menjalani hidupnya dengan mudah. Dia harus mengikuti semua peraturan yang dibuat oleh dimas. Bahkanterkadang keyla di minta dimas untuk merayu beberapa investor agar mau bekerja sama dengannya.
Demi mendapatkan pengakuan dari sang papa keyla tentu saja akan melakukan segala cara agar tetap disayang oleh dimas.
Namun sekarang gadis itu menjadi cacat, dia lumpuh, dia sudah tidak berguna lagi. Kasih sayang dimas telah hilang, bukan, atau mungkin kasih sayang itu memang tidak pernah ada untuknya.
Keyla menarik nafas berat, dia mendengar suara keributan diluar. Dimas sudah ditangkap polisi, sekarang siapa yang akan bertanggung jawab demgan pengobatannya. Keyla kembali menangis terisak.
****
"Gimana udah baikan? " Tanya karen yang sedang duduk ditepi ranjang zee memperhatikan gadis itu.
"Emm, seperti yang lo lihat. "Jawab zee lesu, ia bersandar dikepala ranjang rumah sakit.
Tiba-tiba karen terlonjak kaget. " Astaga. . . "Gadis itu terpekik sampai ponsel ditangan zee terlepas ditangan gadis itu.
Zee menampar lengan karen. " Lo gila ya, bikin gue jantungan aja. "
Karen melompat dari tempat tidur. "Hei, kemana tu anak? Katanya beli minum, tapi ini udah hampir satu jam loh. "
Zee mengerinyitkan dahinya. "Lo ngomongin siapa sih? "
"Siska. "
"Oh iya kemana tu anak? Katanya cuma beli minum. "
Karen mengedikan bahunya. "Kayaknya nyasar di kamar om-om tampan deh, tu anak kan kalau soal om-om dia paling gercep. "Kata karen terkekeh.
Zee tersenyum lelah. " Len, mau temanin gue ke kamar rey nggak? "
Karen mengangguk. "Ya udah ayo, bukan nya tadi udah dari sana? "
Zee turun dari ranjang. "Iya, tapi tadi kan reyn nya belum sadar, siapa tau sekarang dia udah sadarkan. "
Karen berdehem . "Ya udah aku anter, hati-hati turun nya. "
Zee dan karen berjalan kekamar sebelah dimana tempat reynard dirawat. Sebelum masuk zee menghela nafas berkali-kali. Lalu melihat zee telah siap karen langsung menekan gagang pintu.
Ceklek. . .
__ADS_1
Begitu pintu terbuka tampak seorang pasien tengah duduk diatas ranjang. Zee tersenyum melihat reynard yang juga tersenyum kearahnya.
Zee mempercepat langkahnya, karen yang memeganggi infus zee mau tak mau ikut berjalan dengan cepat menyamakan langkahnya dengn zee.
"Kamu sudah bangun? "Tanya zee dengan wajah riang. Membuat reynard tidak bisa menahan senyum nya.
"Hmm, kesini. " Reynard menepuk tepi ranjang agar zee duduk didekatnya.
Karen yang merasa jadi orang ketika langsung sadar diri. "Zee gue cari siska dulu ya, ntar gue balik kesini lagi. " Ucap siska sembari meletakkan infus zee disamping ranjang.
"Oke."
"Titip zee rey. " Ucap karen basa-basi.
Reynard mengangguk pelan. "Kamu baik-baik aja? Ada yang terluka nggak? " Reynard memeriksa wajah zee, ada beberapa goresan kecil di pipi kiri, leher dan lengannya.
"Aku nggak apa-apa, justru kamu yang luka, gara-gara aku kamu harus dirawat disini. Gara-gara aku kamu. . . "
Reynard menutup mulut zee dengan jari telunjuk nya. "Ssstt. . . Jangan salahkan diri mu sendiri, aku nggak suka. Luka ini bukan apa-apa dibanding keselamatan kamu. "
Setitik air mata lolos dipipi mulus zee. "Tapi rey. . . "
"Nggak ada tapi-tapian baby. Kamu itu hidup aku, kalau kamu baik-baik aja aku juga akan baik. Mengerti! "
Tangan zee terangkat, ia mengusap lembut pipi reynard. Laki-laki itu tersenyum manis, meski wajahnya tampak pucat namun tidak mengurangi ketampanan nya.
Senyum di bibir reynard langsung luntur, dia menatap tak suka pada zee. "Kan aku udah bilang, ini bukan salah kamu, ini pilihan aku sendiri buat nyelamatin kamu. Dan juga nggak ada itu yang namanya sial. "Ujar reynard dengan tegas.
Zee menunduk kan kepalanya, terbayang bagaimana khawatir dan takutnya mommy sesil. Membuat rasa bersalah zee semakin besar.
Kembali mengangkat pandangan kearah kekasihnya. " Harusnya kamu nggak usah nolongin aku rey. Biarin aja aku mati, hidup aku selalu saja nyusahin orang. Aku ini pembawa si. . . "Ucapan zee terpotong oleh suara keras reynard.
"AZEEYRA. . . " suara reynard meninggi, wajahnya menggelap. Ini pertama kalinya dia membentak zee, dan juga pertama kalinya dia memanggil nama zee. Artinya kali ini rey benar-benar marah padanya.
Zee menelan ludahnya, dia terkejut mendengar teriakan keras reynard. Zee menatap mata gelap nan dingin itu, terpancar kemarahan dan juga kecewa disorot mata dingin reynard.
Reynard menutup matanya saat melihat wajah ketakutan zee. Ia menarik nafas dalam-dalam guna meredakan amarahnya. Mata zee menatap dada reynard yang naik turun. Melihat itu zee tau reynard sedang marah padanya.
Jujur reynard merasa kecewa dan sakit hati dengan ucapan zee, bagaimana bisa gadis itu memintanya untuk membiarkan dia mati. Zee adalah kekasih yang dia cintai, gadis yang ingin dia nikahi, gadis yang dia pilih sebagai teman hidup, lalu bagaimana bisa dia membiarkan hal itu terjadi apalagi didepan matanya.
Luka yang dia dapat tentu tidak sebanding dengan nyawa yang dia selamatkan. Zee sangat berarti baginya, reynard menjadi ragu saat ini, apa zee masih belum mencintai nya? Apa ini hanya perasaan sepihak saja? Makanya gadis itu merasa nyawanya tidak lebih berharga dibanding sebuah luka, dia tidak memikirkan perasaan reynard, keluarganya, teman-temannya. Kenapa dia begitu kejam.
Zee menggigit bibirnya menahan tangis, rasa sesak menghantam dadanya dia terisak dalam diam. Entah kenapa dia merasa sangat sedih dan sakit ketika reynard membentak nya.
Ruangan itu sunyi dan senyap.
Beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Kembali lah kekamar dan beristirahat. " Ucap reynard tampa membuka matanya. Suara nya terdengar dingin, membuat hati zee semakin sakit.
Tanpa bersuara zee turun dari ranjang, diraihnya tiang infus lalu menyeretnya keluar kamar. Dia bahkan tidak berani menoleh kebelakang.
Mata reynard terbuka begitu mendengar pintu tertutup. Reynard memandangi ruangan yang kemabai sepi itu. Setetes air mata lolos dipipinya. "Iam sorry baby, aku sudah membentak mu tadi. " Ucap reynard lirih.
*****
"Kami sudah membersihkan luka-luka nya nona, tidak ada yang serius. Hanya sedikit luka robek disudut bibirnya, tapi itu tidak apa-apa, tidak perlu dijahit. "Seorang dokter keluar dari ruangan dan memberitahukan seorang gadis yang dari tadi duduk menunggu kabar pasien yang ada didalam.
Siska gadis yang sedang duduk dengan air mata berlinang itu segera berdiri. " Terimakasih dokter, apa aku boleh masuk? "
"Silahkan, sebentar lagi pasien nya akan segera sadar. "
Tanpa banyak tanya lagi siska langsung masuk kedalam ruangan dimana seorang pasien terbaring dengan wajah lebam penuh luka.
Siska mendudukan dirinya dikursi dekat ranjang. Ia menatap wajah tampan yang kini tampak pucat.
Selang beberapa menit pasien itu sadar. Saat membuka mata wajah yang pertama kali dia lihat adalah siska sahabat nona mudanya. Keningnya berkerut banyak pertanyaan terlintas dipikiran nya. Laki-laki itu berusaha mendudukan diri dan menatap kesekitar.
"Pelan-pelan om. " Siska membantu leo agar bisa duduk dengan nyaman, tapi sayang leo yang dingin langsung menepis tangan siska.
"Saya bisa sendiri. "
"Oh iya, ini minum dulu. "Siska dengan telaten menyodorkan segelas air minum kepada leo. Dengan ragu laki-laki itu menerimanya lalu meminumnya hingga habis.
" Kenapa anda disini nona? "
"Ya jagain om lah. " Jawab siska dengan tenang. "Om istirahat aja lagi, kata dokter om kelelahan. "
Leo mendongak melihat siska dengan tatapan dingin. "Terimakasih, tapi saya akan pergi. Tugas saya menjaga nona muda azeeyra. "
Siska menahan tangan leo saat pria itu mencoba untuk turun dari ranjang. "Dengan tubuh lemah dan penuh luka ini, bagaimana cara om melindungi zee? "
Lagi-lagi leo menepis tangan siska. Ia menggertak kan giginya ketika teringat kegagalannya dalam menjaga dan melindungi zee.
"Terimakasih."
Laki-laki itu menyipitkan mata menatap siska. "Terimakasih, anda bisa pergi sekarang nona. "Ucap leo lagi, kemudian membuang muka arah samping.
Siska tersenyum getir memandangi tangan yang sudah dua kai ditepis leo. Meski sikap itu sudah diduganya, namun tetap saja sakit ketika benar-benar dirasakan.
Siska menghela nafas berat, setetes air mata jatuh dipipinya. Namun cepat-cepat ia hapus. " Om tidurlah aku akan menunggu diluar, panggil aku jika butuh sesuatu. "
Leo menoleh kearah pintu dimana siska akan keluar. "Tidak perlu menunggu saya, nona pulang saja, sekali lagi saya berterimakasih. " Seru leo.
Siska tidak menjawab, ia menunduk kan kepalanya dengan senyum tipis kemudian keluar dan menutup pintu.
__ADS_1
*****