
Reynard keluar rumah dengan perasaan berbunga-bunga, namun sedetik kemudian dia mendengus kesal melihat sosok pria berbaju hitam berdiri disamping mobil sport yang dibawa zee semalam.
"Ada apa? " Tanya reynard dingin. Ia menatap tak suka pada pria yang merupakan bodyguard kekasihnya itu.
Leo tidak menjawab, tapi dia mengangkat satu tangannya memperlihatkan dua paper bag yang dia bawa. Isinya nasi goreng seafood kesukaan zee dan juga sekotak jus jambu biji minuman rutin zee setiap pagi.
"Titip maid saja, dia masih tidur. " Ucap reynard ketus, entah kenapa dia selalu kesal melihat perhatian leo pada kekasihnya. Padahal itu hal yang biasa, namun reynard malah cemburu tidak jelas.
Tanpa menunggu jawaban leo reynard menaiki motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.
Leo menatap datar kepergian reynard. Huh, dia pikir leo berminat bicara dengannya, sesungguhnya dibanding reynard, leo merupakan pria yang lebih dingin dan kaku.
Ting.
Sebuah pesan masuk ke ponsel leo. Leo mengeluarkan ponselnya dari saku jaketnya.
[ 'om, gimana keadaan zee sekarang, tolong sampai kan pada zee, kalau kita mau jenguk dia.' ]
Leo menghela nafas pelan, ia ingin menyimpan poselnya, namun benda itu kembali berbunyi.
Ting.
[ 'om mau aku bawain makanan nggak? ']
Leo berdecak kesal, kemudian menyimpan benda pipih itu disaku jaketnya.
Leo merasa heran dengan sahabat nona mudanya itu, sejak ia memberikan nomer ponselnya gadis itu terus saja menghubungi leo setiap hari, pagi, siang dan malam, entah itu telepon biasa, video call dan chat, meski leo tidak pernah menanggapinya namun gadis itu tetap gencar menanyainya, udah makan belum? Selamat pagi om ganteng? Om ganteng mau makan siang apa biar aku masakin? Om kangen aku nggak?.
Begitulah isi dari beberapa chat yang dikirim siska, gadis itu memang pantang menyerah, bahkan tanpa diminta pun dia selalu menceritakan kesehariannya pada leo. Yah, meski hanya lewat chat, karena tiap kali siska calling leo , pria itu tidak pernah mengangkatnya, chat saja tidak pernah dibalas apa lagi panggilan telepon.
Leo berjalan memasuki mansion reynard, ia masuk setelah mengetuk pintu beberapa kali.
Seorang maid yang sedang bersih-bersih menghampiri leo dengan takut-takut.
"Cari siapa tuan. ? " Tanya maid dengan kepala menunduk karena takut melihat wajah dingin leo.
"Nona muda azeeyra. " Ucap leo menyodorkan paper bag ditangannya.
Maid itu mendongak dan melihat kearah tangan leo, ia meneguk ludahnya saat leo mengerutkan keningnya.
Dengan tangan gemetar maid mengambil alih paperbag itu. Setelah menyerah kan sarapan nona mudanya leo kembali keluar menuju mobilnya.
Sementara dikamar.
Zee sedang berguling-guling di atas kasur, sebenarnya dia sudah merasa lapar, tapi malah ngak enak meminta makan pada maid disini, ia juga segan karena masih belum terbiasa. Zee menelan ludahnya berkali-kali, hingga suara ketukan pintu menghentikan kegiatannya.
Tok. . .
Tok. . .
tok. . .
Ceklek.
Zee membuka pintu, dan menyembulkan kepalanya keluar melihat siapa yang datang.
"Nona muda. " Ucap maid dengan kepala menunduk memberi salam.
"Emm, ada apa? " Tanya zee datar. Dia memperbaiki posisi tubuhnya jadi lebih tegak.
Maid itu mengangkat kepalanya melirik sekilas kearah zee kemudian menyodorkan paperbag yang diberikan leo. Saat ini zee masih memakai pakaian semalam karena memang dia belum mandi.
"Seorang pria berbaju hitam tadi memberikan ini non. " Ucap maid seraya meyerahkan paper bag ketangan zee.
"Oh, terimakasih mbak. "Kata zee. Setelahnya ia menutup pintu dan kembali masuk kamar.
Paperbag itu ia letak kan di atas kasur, zee melihatnya dengan rasa penasaran, kira-kira apa isinya.
Tanpa menunggu lagi zee mengambil satu paperbag dan mengeluarkan isinya, yang ternyata adalah pakaian zee lengkap dengan pakaian dalamnya. Kemudian paperbag kedua, senyum zee langsung mengembang saat melihat kotak makanan dan jus jambu biji.
Dengan semangat zee masuk kamar mandi membawa pakaian nya.
__ADS_1
Sepuluh menit zee keluar dari kamar mandi dengan wajah segar, ditangannya masih menenteng paperbag berisi pakaian tadi yang ternyata ada ponsel beserta earpiece miliknya.
Zee bernafas lega hampir dua minggu lamanya dia tidak memegang benda pintar itu. Setelahnya zee beralih pada kotak makanan berwarna biru laut, langsung saja zee membukanya setelah tadi meminum seteguk jus jambu biji.
"Wah, emm, wangi ini pasti bunda yang masak. " Ucap zee sembari mencium aroma nasi goreng seafood itu, tanpa basa basi lagi zee langsung makan dengan lahap, karena memang ia sudah lapar dari tadi.
Tidak sampai lima menit sarapan zee sudah selesai. Ia kembali memasuk kan kotak makan kosong itu kedalam paperbag.
Zee meraih earpiece yang tergeletak di atas kasur kemudian memasang ditelinga kanan nya. Kemudian mengotak atik ponselnya sebentar.
Tak berselang lama terdengar suara pria di telinga kanan zee.
["Nona muda. "]
[" Kamu dimana? "]
[" Saya ada diluar mansion tempat nona menginap. "]
[" Oh, baiklah tunggu aku disana. "]
["Siap nona . "]
Zee memutuskan sambungan teleponnya. Ia bersiap keluar mansion dengan membawa kotak makanan kosong tadi.
Ketika sampai diruang tamu zee berpapasan dengan mommy sesil.
" Loh, sayang kamu sudah bangun? "Tanya sesil. Ia berjalan mendekati zee.
" Dengan perasaan kikuk zee menjawab. "Sudah mom, maaf aku udah bikin keributan malam-malam kerumah mommy. " Ucap zee. Ia merasa malu dan segan pada mommy reynard.
"Kenapa minta maaf sayang, memang sudah seharusnya kamu kesini, kalau kamu ada masalah apa pun jangan pergi ketempat lain, kamu datang kesini, mommy siap mendengar semua cerita kamu, mengerti? " Ucap sesil dengan senyum hangat.
Zee merasa terharu, tiba-tiba matanya terasa panas. Dilihatnya mata sesil yang berbinar, zee tersenyum tipis. "Makasih ya mom, mommy sangat baik dan perhatian sama aku. "
"Hust, jangan ngomong gitu, kamu itu sudah mommy anggap anak mommy sendiri, apalagi kamu kesayangannya putra mommy, jadi tidak ada ya yang namanya terimakasih segala. " Tegur sesil tidak suka saat mendengar zee berterimakasih.
"Emm, terima. . . " Zee tidak melanjutkan ucapannya karena sesil sudah melotot padanya. Kemudian kedua wanita berbeda usia itu tertawa bersama.
"Ya udah mom, aku keluar sebentar. "
" Udah mom, tadi leo bawain sarapan dari rumah. "Zee memperlihatkan paperbag ditangannya. " Ini aku mau keluar menemui leo ada sedikit urusan mom. "
"Ya ampun sayang, pake dibawain sarapan segala, emangnya disini nggak ada makanan apa? " Ucap sesil dengan wajah dibuat sedih.
"Maaf ya mom, bukan gitu maksudnya, ini pasti bunda yang kirim makanan kesukaan aku, dan juga aku sudah terbiasa minum jus jambu biji setiap pagi. Mungkin bunda. . . " ucpan zee terpotong, karena melihat sesil tertawa.
"Kamu kok serius gitu sih, nggak usah dijelasin, mommy ngerti kok, tadi mommy cuma bercanda aja. Ya udah sana, temuin bodyguard kamu sebelum rey pulang, bisa-bisa dia cemburu nanti kalau liat kamu sama leo. " Ucap sesil terkekeh pelan.
Zee membalas sesil dengan senyuman. "Aku keluar dulu ya mom. "
Sesil hanya mengangguk kan kepala, ia menatap punggung zee dengan tatapan sendu.
"Semoga kamu selalu kuat nak. " Ucapnya dengan lirih.
Leo yang sedang duduk didalam mobil langsung keluar begitu melihat kedatangan nona mudanya.
"Nona muda. " Ucap leo menunduk.
"Emm." Zee melihat raut wajah leo yang tampak kusut.
"Maaf atas sikap ku semalam leo. " Ucap zee merasa bersalah pada bodyguard nya itu.
Leo semakin menunduk kan kepalanya. Sebenarnya dia agak kesal, tapi disini posisi gadis muda didepannya inilah majikannya.
"Apa kau kesal? " Tanya zee lagi saat tidak mendapati jawaban dari leo.
"Maafkan saya nona muda. " Ucap leo. Sebenarnya jika zee ingin kabur dari rumah pun leo akan menemani nya pergi, setidaknya leo bisa memastikan keamanan nona mudanya ini. Bagaimana pun juga leo sudah bersumpah bahwa dia akan melindungi zee dengan nyawanya sendiri.
"Tidak apa-apa, aku pasti sudah membuat mu dimarahi papa dan kak daniel. "
Leo mengajak zee duduk di gazebo samping mansion reynard. Zee sudah duduk sementara leo tetap berdiri dengan posisi tegap.
__ADS_1
"Bagaimana dengan dua orang itu? " Tanya zee.
"Mereka masih dikurung digudang nona. " Jawab leo.
Zee mengangguk kemudian kembali berkata. "Lalu bagaimana dengan gudang rumah diana tempat menyekap bibi jum? "
"Saya sudah mengirim anak buah saya kesana nona. "
"Emm baik lah, kalau gitu kamu juga pergi kesana, pastikan bi jum kamu bawa kembali ke mansion. " Ucap zee dengan suara pelan, namun penuh dengan ketegasan.
"Siap nona. " Leo kemudian membungkuk memberi hormat kemudian berbalik pergi.
Zee menghela nafas panjang. "Semoga bibi baik-baik saja! " Ucap zee lirih penuh kerinduan pada pengasuhnya itu.
Setelah leo pergi zee kembali masuk kedalam mansion, ia berjalan ke arah dapur, karena merasa sedikit haus.
Sementara didapur sesil tampak serius menimbang tepung, dan coklat bubuk.
"Mommy." Panggil zee pelan. Ia mendekati sesil.
"Sayang, sini bantuin mommy bikin kue. " Ajak sesil saat zee sudah berdiri disampingnya.
Zee mengangguk sembari mengambil segelas air dan meminumnya sampai habis.
"Bikin kue apa mom? " Tanya zee. Jujur saja zee merasa malu saat ini mengingat dirinya yang tidak pandai memasak, apa lagi bikin kue.
"Brownis panggang sama cheesecake. Kamu suka nggak sma kue itu. ? " Tanya sesil tanpa melihat zee. Karena tangan nya sibuk memecahkan telur ke dalam wadah pengocok telur.
"Suka, aku emang suka semua jenis kue manis mom. " Ucap zee dengan semangat, sesil tersenyum senang mendengarnya.
Pada akhirnya zee hanya membantu mengaduk-aduk adonan saja, sementara untuk bahan berapa banyak dan semua takaran nya sesil yang melakukan.
"Emm. . . Wangi banget mom.! " Seru zee ketika sesil mengeluarkan brownis yang sudah matang dari open. Seketika aroma manis menyeruak keseluruh ruangan dapur membuat zee tidak sabar mencicipinya.
"Wangi banget aroma apa ini. " Suara bariton seorang pria mengalih kan perhatian sesil dan zee.
Sesil tersenyum manis menatap pria yang berjalan mendekatinya.
Cup.
Sebuah kecupan mendarat dipipi sesil dengan mulus. Zee langsung memalingkan wajah kesembarang arah. Pipi nya terasa panas melihat adegan romantis didepannya.
"Daddy." Sesil mencubit pelan perut erik. Ia melirik sekilas ke arah zee, wajahnya memerah karena malu.
"Kenapa sayang? " Tanya erik santai tanpa beban. Ah, zee mengerti sekarang dari mana asal sifat tak tau malu reynard. Pria tua yang masih tampan inilah sumbernya. Dia bahkan tidak menganggap keberadaan zee disana. Zee menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ada menantu daddy disini, nggak malu nya ya. " Sesil mengomeli suaminya.
" yang pacaran aja nggak malu, kenapa kita yang sudah sah harus malu. "Ucap erik enteng.
Skakmat. Zee meremas ujung dress nya, sumpah zee tidak berani mengangkat kepalanya saat ini. Dia ingin mencari lubang tikus dan bersembunyi disana saking malunya. Itu bener-bener sindiran pedas untuknya.
Sesil memukul lengan erik. " Mikir dulu kalau ngomong, kamu lebih parah saat pacaran. Lengket kayak perangko, nggak ada urat malunya. "
"Aduh. . . aduh, sakit mom. " Erik menahan kedua tangan sesil kebelakang, posisi dua orang itu, membuat zee menggigit bibirnya. Ingin pergi tapi dia tidak berani bergerak sedikitpun. Bertahan disini ia tidak sanggup melihat adegan panas ini.
'Siiaal, aku harus bagaimana sekarang. ' Umpat zee dalam hati.
"Umur yang sudah sepuh itu, nggak usah pamer kemesraan pada yang muda. "Suara dingin seseorang menghentikan aksi romantis pasangan paruh baya itu.
" Bocah bajiiingan, hati-hati dengan ucapanmu, adik kecil ku masih mampu untuk bekerja sampai tiga ronde. "Ucapnya dengan datar dan dingin.
" Tiga ronde? Satu ronde saja sudah terkapar, saat memulai ronde kedua para pengawal sudah memanggil ambulance. Apalagi dironde ketiga, tuan erik, anda mungkin akan menginap dirumah sakit selama satu minggu! "Ucap reynard dengan senyum mengejek kearah erik.
Wajah erik sudah merah padam, entah karena marah atau malu. sesil yang melihat suaminya akan meledak langsung menarik tangan erik keluar dari dapur.
Erik terus mengumpati reynard sepanjang sesil membawanya keluar.
Diruang tamu ternyata ada teman-teman reynard termasuk abi.
"siang om. " saka memberi salam dengan sopan.
__ADS_1
"baajiiingan tengik. " ucap erik kesal kemudian pergi meninggalkan saka yang terkejut dengan wajah bodohnya.
* * *