
Cahaya mentari memancarkan sinarnya setelah semalaman bersembunyi dalam kegelapan. Kini sang surya mengantar kan pagi dengan penuh semangat.
Seorang gadis cantik menggeliat dari tidur nyenyaknya.
Dengan mata yang masih terpejam, tangannya meraba-raba mencari sesuatu. detik berikut nya hanya helaan nafas yang terdengar.
Zee sedang mencari keberadaan ponselnya, namun ia baru ingat, kalau ponselnya masih di pegang oleh papanya.
Dengan malas zee turun dari ranjang, menuju kamar mandi, sepuluh menit ia keluar dengan wajah yang lebih segar.
Setelah berpakaian zee keluar kamar dan menemukan leo sedang duduk disofa kecil depan kamarnya.
"nona muda. " leo langsung berdiri tegap dengan kepala menunduk ketika zee berada didepannya.
"hmm, leo bisa tolong minta maid membawakan aku segelas coffe late . " tanya zee.
"bisa nona. " jawab leo kemudian berjalan dengan kepala menunduk hingga dia tiba di depan tangga.
***
Seorang pria paruh baya berdiri bersedekap dada menghadap jendela balkon.
"Pastikan rencana kali ini berhasil, ini kesempatan terakhirmu, akan lebih baik kalau sampai hamil, dengan begitu dia tidak bisa mengelak lagi. " Ucap seorang paruh baya sambil mengisap sebatang rokok disela jarinya.
Diana yang sejak tadi diam mendengar ocehan ayahnya, di kejutkan oleh getaran ponselnya.
Wanita berusia kepala empat itu, mengeluarkan ponsel dari tas yang ditaruh nya dimeja. Sudut bibir diana terangkat, saat membaca pesan singkat yang dikirim kan orang suruhannya.
Diana bangkit dari duduknya. Lalu bicara dengan penuh percaya diri. "Ayah, aku akan menjalan kan misi terakhir kita. Semuanya sudah siap, aku akan bergerak sekarang. "
Setelah mengatakan itu diana berjalan dengan anggun keluar rumahnya, ayah diana menatap punggung putrinya yang mulai menghilang, tatapan matanya berubah dingin.
Dirumah zee.
Gadis itu sedang asyik berkutat didepan laptop diatas meja seraya menyesap secangkir cofee late.
Seringai miring terbit dibibirnya saat menyaksikan sebuah tayangan live di laptopnya. "Sudah bergerak. "
Leo yang selalu setia disamping nona mudanya, menegakkan tubuhnya, seolah sudah siap menerima perintah.
"Leo, bersiaplah, pertunjukan akan segera dimulai. " Ujar zee tersenyum smirk.
***
Risa sudah terlihat rapi dengan dress selutut berwarna maroon. Ia hari ini akan pergi arisan bersama teman-teman nya.
"Beneran nggak mau mas anter? " Daren bertanya lagi pada risa, entah sudah pertanyaan keberapa.
"Nggak usah mas, jangan cemberut gitu dong, aku cuma sebentar, stor muka terus pulang. " Risa mencubit gemes bibir daren yang di monyong-monyongkan.
Cup
"Aku pergi ya. " Risa mengecup bibir daren sekilas, kemudian keluar kamar, daren mengekor dibelakang risa dengan wajah sumrigah.
"Janji habis stor muka langsung pulang ya, mas pengen kita sekeluarga menghabiskan waktu bersama hari ini, mumpung lagi libur. " Daren mengantar risa ke depan dan membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Oke! " Risa memberikan dua jempol, kemudian melajukan mobil dengan pelan keluar gerbang.
"Tuan, mau ririn buat kan teh atau kopi? " Ririn bertanya dengan suara mendayu-mendayu.
Daren yang sedang membaca koran di ruang tamu mendongak kan wajahnya melihat ririn sekilas, dia memang merasa tidak nyaman dengan tingkah genit ririn ini, tapi karena dia masih belum melanggar batas, daren membiarkan nya saja.
"Kopi saja. " Jawab daren singkat kemudian kembali fokus membaca koran.
"Baik, ditunggu ya tuan ku. " Ujar ririn, kemudian berlalu kedapur.
Daren menghembuskan nafas pelan kemudian geleng-geleng kepala melihat kelakuan maidnya itu.
Tak lama ririn datang dengan sebuah nampan ditangannya.
__ADS_1
"Ini kopinya tuan. " Ririn meletak kan kopi beserta sepiring pancake di atas meja.
"Hmm."
Setelah ririn menghilang, daren mengambil gelas kopi, meniup nya sebentar sebelum menyesap kopi yang masih terasa panas.
Disudut tersembunyi seseorang tersenyum puas melihat ke arah daren.
***
Dalam kamar, zee masih setia memandangi layar laptopnya yang masih menyala.
"Leo arahkan mereka ke kamar tamu. Dan beritahu satpam agar tidak menghalangi wanita itu masuk. " Zee meraih ponselnya di atas nakas, kemudian mengarahkan ketelingannya.
"Kenapa sayang, bunda lagi nyetir. " Terdengar suara risa di ujung telpon.
"Sebaiknya bunda putar balik sekarang, atau bunda akan mendapat seorang adik madu. "Zee bicara dengan mata masih fokus menatap layar.
" Adik madu?Ini sebenarnya kenapa dek? "Risa menepikan mobilnya di pinggir jalan. Perasaan tidak nyaman mulai terasa tatkala mendegar ucapan putrinya.
" Papa butuh pertolongan bunda sekarang, kalau bunda telat selangkah saja, mungkin akan ada wanita lain yang siap membantunya. "Tanpa menunggu jawaban risa zee mematikan sambungan telepon.
Risa memandangi ponsel dalam genggaman nya. Ada apa sebenarnya, kenapa juga anak ini bermain teka-teki dengannya. Kalaupun papanya butuh bantuan kan ada banyak orang dirumah, dan tadi zee juga bilang, akan ada wanita yang membantu?juga adik madu?
Ini tidak benar.
Secepat kilat risa memutat arah mobilnya kembali kerumah. Pikiran nya mulai kalut, ia takut apa yang ada difikiran nya saat ini.
"Nona, wanita itu sudah datang, sekarang ia sedang menuju kekamar tempat tuan besar. "Ucap leo yang baru saja datang dari luar.
" Bagus, pastikan semua terekam dengan baik, leo aku tidak ingin ada kesalahan sedikitpun. "Tanpa bicara lagi zee berjalan menuju kamar tamu yang ada dilantai dua. Leo mengikuti langkah zee dengan tak kalah cepat.
Dikamar tamu.
Daren terkapar di atas ranjang, nafasnya terengah-engah, matanya terlihat sayu menahan hasrat.
" Nona sudah datang. "Kata ririn yang langsung turun dari ranjang. nafas wanita itu terlihat tidak beraturan.
Diana menatap sengit ke arah ririn. " Kau jaalang, beraninya naik ke atas ranjang calon suamiku. "Diana menghardik ririn, karena wanita itu tampak bernafsu melihat kearah daren.
Ririn terkekeh kecil. " Maaf nona, tapi hanya dengan melihat wajah tuan besar saja sudah membuat aku basah, tubuhnya benar-benar sangat mengoda. "Ririn membayangkan bagaimana hangatnya dekapan tangan daren yang besar itu.
Diana tersenyum sinis. " Semua yang ada dalam pikiran mu itu, hanya ada dalam mimpi, sekarang keluar lah, aku dan mas daren akan melakukan sesuatu yang penting. "
Ririn tersenyum penuh arti. "Baik nona, jangan lupa bayaran saya ditambah bonusnya. "
Ririn keluar kamar meninggalkan diana dan daren.
Zee yang hampir sampai di kamar yang dituju, berpapasan dengan ririn, ia menunduk kan wajahnya.
Zee melirik leo dengan ujung matanya, tanpa banyak tanya leo memukul tengkuk ririn hingga wanita itu pingsan dan menyeretnya kegudang belakang rumah.
Saat zee tiba didepan pintu kamar terdengar suara diana dan daren sedikit berdebat.
"Apa yang kau lakukan diana? " Daren ingin memberontak namun tenaganya sudah tidak ada lagi, tubuhnya semakin panas saat diana mulai mengelus dan membelai tubuhnya.
"Mas, aku menginginkan tangan mu disini. " Diana mengambil tangan daren dan meletakkan didadanya. Terdengar suara desaaaahan dari mulut diana saat tangan kekar daren diremaskan nya kedadanya.
Dada zee kembang kempis mendengar suara lucknut itu, dalam hati ia terus mengucapkan kata maaf pada papanya.
Tidak lama leo sudah kembali, ia melihat nona mudanya masih berdiri didepan pintu.
"Ada apa nona. " Tanya leo heran, kenapa nona mudanya masih berdiri disini.
Zee menarik nafas dalam, kemudian menoleh ke arah leo.
"Buka pintunya leo. " Suara zee terdengar serak. Leo sekarang paham, bagaimanapun juga yang ada didalam sana adalah papanya, tentu saja zee tidak sanggup membayang kan apa yang terjadi.
Dengan kasar leo menendang pintu, agar orang yang didalam terperanjat kaget.
__ADS_1
Dengan ragu zee masuk kedalam, ia melihat keadaan papanya, tubuh pria itu hampir terekspos seluruhnya, hanya menyisahkan celana bokser nya saja.
Kemudian zee melirik ke arah diana yang duduk disamping daren dengan tubuh yang sudah polos sepenuhnya. Ia menutup dadanya dengan kedua tangannya.
"Kau... Apa yang kau lakukan disini? " Wajah diana sudah pucat, ia tidak menyangka zee akan memergokinya disaat seperti ini,
Zee mendekat ke arah diana, ditarik nya tubuh polos wanita itu hingga terjatuh dari ranjang.
"Pertanyaan bodoh macam apa itu, harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan disini jalaang? " Zee menarik kasar rambut diana hingga wanita itu menjerit kesakitan.
Zee melirik sekilas papanya yang terlihat mengenaskan, detik kemudian ia memalingkan wajah kearah leo.
Leo yang peka dengan tatapan nona mudanya langsung menarik selimut menutupi tubuh daren.
"Apa kau begitu gatal, sampai harus naik keranjang pria beristri? "Tanya zee dingin.
Atmosfer diruangan itu berubah dingin, diana yang sudah telanjang bulat merapatkan tubuhnya.
" Kau butuh sentuhan? Perlu aku carikan pria hidung belang untuk memuaskan mu? "Ucap zee dengan geram.
Zee mencengkram rahang diana dengan erat.
Plak. . . Plak. . .
Kedua pipi diana memerah mendapat tamparan keras dari tangan zee.
" Anak pembawa sial, beraninya kau menampar ku. "Teriak diana histeris, ia menyentuh pipinya yang terasa sakit.
Zee mendorong tubuh diana hingga terjengkang dengan kedua kaki naik ke atas, leo yang ada dibelakang zee secepat kilat memalingkan wajahnya. Zee menatap jijik kearah diana.
" Aakkhh... Sakit, siaalan, brengseeek. "Diana kembali berteriak, ia bahkan tidak sadar lagi dengan kondisinya saat ini.
Tak berselang lama, risa masuk dengan nafas tersengal-sengal. Matanya melotot melihat pemandangan yang ada didepannya.
" Bunda sudah datang? Masuklah, kalau tidak papa mungkin akan lumpuh karena obat perangsang yang diberikan wanita jalaang ini. "
Risa yang masih terbengong dari keterkejutannya tersadar mendengr suara teriakan dari pintu kamar.
"Papa?? " Daniel dan abi berdiri di ambang pintu dengan wajah bengong. Sepertinya mereka bersdua terkejut dari tidurnya mendengar teriakan diana.
"Bunda... " Zee kembali memanggil risa yang masih mematung. "Bunda atau si jalaang ini yang membantu papa, kenapa bunda diam saja. " Ucap zee dengan suara yang mulai kesal.
Risa menoleh kearah zee, tatapan tajam dari zee menyadarkan risa kembali pada kenyataan. Ia dengan cepat menghampiri daren.
Begitu risa berada didekatnya secepat kilat daren menarik tangan risa dan langsung menindih tubuh istrinya.
"Aakh, pelan-pelan mas. " Ucap risa, ia tidak tau harus bagaimana, saat ini anak-anaknya masih berada didalam kamar.
Zee memejamkan mata sejenak kemudian berjalan pelan kearah leo.
"Seret wanita itu ke gudang. Tidak perlu berbelas kasih padanya. " Ucap zee pada leo.
"Baik nona. " Dengan kasar leo melemparkan baju diana ketubuhnya. Lalu setelah berpakaian leo menarik rambut diana dan menyeretnya keluar kamar.
Baru saja menutup pintu, terdengar suara desaahaan risa dan daren. Daniel menutupi kedua telinga zee, sementara abi menarik pelan tangan zee menjauh dari sana.
Zee tersenyum dan melirik kedua laki-laki disebelahnya. "Melihat adegan tidak senonoh itu, kalian berdua langsung sadar, tapi saat wanita itu datang kalian malah tidur seperti orang mati. "
Daniel melepaskan tangannya dari telinga zee.
"Ya ampun dek, ini juga masih pagi, semalam tidur juga sudah larut. Mana tau kakak ada film live kayak gini. " Ucap daniel terkekeh. Ia menepuk bahu abi hingga laki-laki itu terhuyung kesamping.
Abi mendelik kan matanya kearah daniel yang masih terkekeh.
Ini gila.
Zee tak habis pikir, pria yang ada didalam sana adalah papanya, tapi daniel masih saja tertawa, apa dia sudah tidak waraas.
***
__ADS_1