Azeeyra

Azeeyra
PERASAAN RINDU


__ADS_3

"Hai om, aku siska teman zee, boleh tau nama om siapa? "Siska mengulurkan tangan kearah leo.


Leo memperhatikan siska sejenak dari atas sampai bawah. Keningnya tampak berkerut, apa dia setua itu hingga gadis seusia siska memanggilnya om.


Leo tetap diam tanpa ekspresi, dia tidak menyambut uluran tangan siska.


"Namanya leo."zee yang menjawab, dia dari tadi memperhatikan siska yang terus curi-curi pandang pada leo.


Siska terkekeh kecil, ia menurun kan tangannya yang mulai terasa pegal. " Om tau nggak? "


"Nggak." Bukan leo yang menjawab, tapi zee dan karen.


Siska terkekeh kecil, kemudian melanjutkan ucapannya. "aku suka tipe cowok dingin kayak om. "


Zee dan karen sudah cekikikan mendengar godaan siska pada leo. Sementara laki-laki itu berdiri tegap layaknya patung hidup tanpa ekspresi.


Siska terus saja melihat leo dengan senyum yang tak pudar dibibirnya. Dipikiran nya, dia harus bisa menakluk kan pria didepannya ini.


"Om sudah makan, mau makan sama aku nggak? "Tawar siska lagi. Jelas banget basa basinya padahal mereka baru aja selesai makan siang.


Saat ini mereka sedang berada ditaman belakang rumah zee. Setelah selesai makan siang tadi mereka memilih duduk digazebo taman sembari menunggu makan siang tadi dicerna para cacing.


Siska menaikan satu alisnya. " Oh, belum laper ya, nanti kalau laper bilang sama aku ya om. "Tanya sendiri malah jawab sendiri.


Zee tertawa terbahak. "Kamu kenapa sih, panggil leo om-om terus, dia seusia kak daniel tau. "


"Oh ya... Emang kak daniel umurnya berapa? "Tanya siska, sebenarnya dia juga penasaran dengan umur leo, ingin bertanya sudah pasti orangnya tidak akan menjawab.


" 27 tahun, ya beda 9 tahun lah sama kita. "Kata zee sambil menyeruput jus jambu biji favorite nya.


"Om, aku udah 18 tahun, udah cukup umur buat jadi istri. "Kata siska dengan senyum menawan.


" eh, Lo nggak lagi demam kan. "Karen menyentuh kening siska dengan telapak tangannya.


Siska menepis pelan tangan karen. " Apa sih, gue nggak demam, dan sangat, sangat sadar. "


"Ya gimana ya, habisnya gue nggak pernah lihat Lo seagresif ini, Lo kan nggak pernah tertarik sama cowok selama ini. "


"Ish...jangan asal kalau ngomong, siapa bilang gue nggak tertarik sama cowok, gue juga pilih-pilih kali. "ujar siska kesal.


"Ya dan pilihan lo jatuh sama leo? " Zee melirik leo yang masih setia berdiri disamping mereka. Lelaki itu benar-benar datar lebih parah dari reynard kayaknya.


"Betul... Sangat menarik. " Siska mengangguk kan kepala, ia menatap leo dengan senyum menggoda. Siska cukup penasaran dengan leo, gimana sih rasanya pacaran dengan pria dewasa.


Siska bangun dari duduknya kemudian mendekat ke arah leo. "Boleh minta no ponsel om nggak? "Siska menyodorkan ponselnya pada leo, laki-laki itu menatap mata siska dalam, dingin dan datar.

__ADS_1


Siska menghela nafas pelan. " Zee gue boleh minta nomor ponsel leo nggak. ? "


"gue nggak punya hak buat menjawab, mending Lo tanya orang nya langsung. " Zee menjawab siska tanpa menoleh, ia sibuk melihat video lucu di ponsel karen.


Siska menaikkan satu sudut bibirnya. "Om mau bagi nomer ponselnya? Ah maksud ku aku mau mengenali om lebih dekat. Kalau om diam aku anggap boleh ya! "


Beberapa detik leo masih tak bergeming. Seringai nakal terbit dibibir seksi siska. "Berhubung om nggak jawab, aku anggap om mau kasih. " Siska kembali menyodorkan ponselnya, lagi-lagi leo tidak menghiraukan siska.


Zee yang melihat wajah sedih sahabatnya menghela nafas pelan. "Leo.. Mending kamu kasih aja, kalau nggak siska bakal ganggu kamu terus. "


Dengan terpaksa leo mengambil ponsel siska dan mengetik kan sesuatu disana, kemudian mengembalikan lagi pada gadis pemaksa itu.


"Terimakasih ya om. " Siska mengedipkan sebelah matanya mengoda leo, refleks leo langsung memalingkan muka.


"Jangan spam chat Lo " Celetuk zee melihat wajah senang siska yang sudah duduk kembali ditempatnya.


Siska mengedik kan bahu. "gue usahakan, kalau nggak dibalas, ya teror terus. "


Zee tertawa keras disamping siska. "Kayaknya Lo serius tertarik sama leo, jujur aja gue agak geli lihat Lo kayak cewek penggoda gitu. "


"Gue pengen rasain gimana pacaran sama cowok dewasa. " Bisik siska pelan ditelinga zee.


****


saat cahaya mulai memudar, seketika itu kegelapan menyongsong. Meski malam membuat orang terlelap, namun ada saja mata yang masih hidup.


Tentu saja ada satu nama yang menjadi pusat perhatian zee, siapa lagi kalau bukan reynard kekasih hatinya.


Ada perasaan rindu, saking rindunya sampai ingin menjemputnya di alam mimpi dan memeluknya di dunia nyata.


Setetes bulir bening membasahi pipi mulus zee. "Kangen...aku kangen kamu rey. "gumamnya dengan suara lirih.


Zee bangkit dari tidurnya, berjalan membuka jendela balkon kamar, seketika angin malam berhembus, hawa dingin mulai merambat masuk kedalam tulang.


Suara pintu dibuka dari luar kamar, daren masuk dengan pelan, zee tidak menoleh, matanya sibuk menatap langit yang gelap, tidak ada satu pun bintang disana.


Daren melihat ranjang zee yang kosong, matanya bergerak dan menangkap sosok putrinya berdiri dibalkon kamar. Ia menghampiri putri cantiknya dengan langkah kasar memberi tanda bahwa ada seseorang yang mendekati nya agar nanti zee tidak merasa kaget.


"Kenapa? Kamu rindu dia? " Tanya daren ketika sudah berdiri disamping putrinya. Ia menatap zee sekilas, kemudian fokus melihat langit yang gelap.


Petanyaan itu membuat zee berdebar, zee terdiam reflek ia meremas tangannya pertanda saat ini dirinya sedang gugup.


Zee menoleh menatap daniel dengan mata sendu. "Pa... Ak━."


"Kamu mau ketemu dengan nya? "Sangat paham pikiran putrinya, daren memotong ucapan zee dengan cepat. "Papa bisa kasih izin buat ketemu sebentar. "

__ADS_1


Zee menatap daren dengan berlinangan air mata. "Benarkah? "


Melihat sorot mata zee yang kesepian dan penuh luka, membuat emosi daren kembali muncul.


Daren mengusap kepala zee dengan lembut. "Besok pergi diantar leo, jadi sekarang adek tidur dengan nyenyak, karena besok harus bangun pagi. "


Zee memeluk daren dengan erat. "Makasih papa. "


Daren tersenyum tipis, sambil mengusap punggung zee pelan. "Maaf kan papa nak, papa merasa sangat tidak berguna, papa benar-benar sangat gagal menjadi orang tua kamu, bahkan disaat kamu memberi papa kesempatan, papa tidak memanfaatkan nya dengan baik. Seandai nya kemaren papa mengumumkan identitas kamu pada publik, pasti kejadian ini tidak akan terjadi. "


"Pa... Kalau papa bilang begitu, aku merasa sangat buruk, artinya tanpa nama aksara, aku bukan apa-apa. "Zee mengusap air mata di pipi daren dengan ibu jarinya.


Kemudian ia menatap lekat mata daren. "Semua yang terjadi bukan salah papa. Meski papa tidak mengungkap identitas aku, masih ada orang yang tulus diluar sana yang mau berteman dengan ku, mommy sesil dan daddy erik, mereka tulus menerima aku meski belum mengenal papa. Benar? Siska dan karen juga begitu. "


Daren menggenggam tangan zee dan mengecupnya beberapa kali.


"Apa kamu sebegitu mencintai bocah itu? " Daren menatap manik coklat zee. "Papa hanya ingin tau sebesar apa perasaan kamu terhadap bocah tengik itu. "


Zee terkekeh mendengar ucapan papanya. "Rey... Dia pemaksa dan egois, tapi itu hanya di awal pertemuan kami, dia juga mendominasi, tatapannya yang tajam membuat aku sedikit takut. "Zee tersenyum tipis saat pikirannya menerawang ke masa lalu. "Tapi begitu kami semakin dekat, dia jadi lebih lembut dan tatapannya berubah teduh, papa tau? Dia hanya bersikap lembut saat bersama ku saja dan menjadi sangat dingin dengan orang lain. "


Daren ikut tersenyum melihat tawa mengembang dibibir zee, ada kebahagian tersirat diwajah cantik putrinya saat menceritakan laki-laki itu.


Zee menoleh ke arah daren tatapan nya berubah sendu. "Yang paling membuat aku jatuh hati adalah perasaan nya yang tulus, dia selalu menekan ke egoisannya ketika kami berdebat, selalu mementingkan aku dalam segala hal, dan yang paling lucu papa tau, dia sampai mendobrak pintu kamar ku saat tau kak daniel dan abang tidur diranjang ku. Dia benar-benar pria pencemburu. "


Zee terkekeh namun pipinya basah karena air matanya terus mengalir. Daren mengusap punggung zee dengan lembut.


Hening...


Angin berhembus seolah meredakan rasa sakit di hati kedua manusia itu.


"Papa minta maaf, karena membuat kamu menderita seperti ini, tapi nak! Sebagai orang tua, papa sangat marah atas apa yang menimpamu, jadi papa sekali lagi dengan egoisnya meminta pengertian kamu, tolong mengerti posisi papa. Juga posisi daniel sebagai kakak kamu. "


"Pa... "


"Tidak sayang, tidak, kami tidak melarang hubungan kalian tapi tolong beri kami waktu. " Pinta daren dengan lembut namun sarat akan ketegasan dan tidak ingin dibantah.


Sebuah senyum melengkung dengan sempurna dibibir mungil zee. "Terimakasih pa. "


Daren mengangkat tubuh zee ala bridal dan membawanya masuk kedalam kamar.


"Sekarang tidur karena sudah larut, jadi bisa bangun pagi-pagi. " Daren mengecup kening zee, kemudian menarik selimut sampai dadanya.


Setelah menutup jendela balkon dan mematikan lampu daren keluar kamar dan menutup pintu dengan pelan.


Zee menatap langit-langit kamarnya. "Pa terimakasih, sekarang aku sangat bahagia, kebahagian yang selama ini hanya dalam bayangan, ternyata benar-benar bisa aku rasakan. "Zee berkata dengan suara bergetar.

__ADS_1


Secara perlahan rasa kantuk mulai datang zee memejamkan matanya, hingga beberapa detik dengkuran halus terdengar, zee menjelajah dialam mimpi mencoba mencari sosok yang ia rindukan.


***


__ADS_2