
Daniel berjalan kekamar privat khusus miliknya, ia membuka pintu dan menarik tangan aira dengan kasar.
"Hei kau, jangan menarik tangan ku, kau mau bawa aku kemana?"Teriak aira yang merasakan sedikit sakit dipergelangan tangannya. Namun pria itu tidak mengacuhkannya.
Setelah pintu terbuka, daniel langsung menarik aira masuk, mendorong dan menindih nya di dinding. Aira membelalak kaget, degup jantung nya seakan berhenti berdetak, saat berada sedekat ini dengan daniel.
Beberapa menit mereka hanya diam dan saling tatap dengan posisi begitu intim. Nafas hangat daniel yang mengenai pipi aira membuat gadis itu membeku.
Wajah keduanya memerah dengan jantung sama-sama berdebar.
"Jangan menantang ku ai. "Ucap daniel berbisik tepat ditelinga aira.
Aira merinding merasakan nafas daniel menyapu daun telinganya, sekujur tubuhnya terasa panas, ia pun tidak mengerti dengan perasaan yang dia rasakan saat ini.
'Beraninya kau mengikuti ku masuk kekamar ini lagi aira, jangan harap kau bisa keluar dengan mudah kali ini. ' gumam daniel dalam hatinya.
Daniel semakin mengikis jarak diantara mereka, sampai kedua hidung mereka saling menempel.
Kamar itu menjadi hening, hanya suara hembusan nafas mereka yang terdengar, entah hilang kemana tenaga aira, dia bahkan tidak sanggup mendorong daniel agar menjauh darinya.
"Beraninya kau membuat ku melanggar aturan yang aku buat sendiri, kau sudah melampaui batas mu aira. "Lanjut daniel dengan suara rendah yang terdengar dingin dan datar.
Jarak mereka yang begitu dekat, membuat aira tak berkutik, bahkan ia tidak berani hanya sekedar untuk bernafas.
Daniel tidak mengatakan apa pun lagi, ia terus menatap aira dalam posisi aira yang berada dalam kungkungan nya. Daniel memiringkan kepalanya dan mengecup pelan bibir aira.
Tubuh aira menegang merasakan aliran listrik bertegangan tinggi menjalar keseluruh tubuhnya. Awalnya hanya kecupan lama-lama jadi lumaaatan yang lembut dan semakin menuntut.
Aira tidak membalas ciuman daniel, ia membiarkan daniel dan merasapi permainan lidaah itu.
Daniel pun tidak peduli, ia sangat tau kalau aira tidak pernah berciuman, dan daniel cukup senang karena dialah pria yang mendapat ciuman pertama aira.
Daniel menggigit pelan bibir aira agar terbuka, begitu aira membuka bibirnya daniel menelusupkan lidahnya kedalam mulutnya, kedua kaki aira terasa lemas mendapat serangan maut dari daniel. Tangan kekar daniel menahan pinggang aira agar gadis itu tidak terjatuh.
Daniel yang tidak merasakan hembusan nafas aira melepaskan pagutannya. Di angkat nya dagu aira sehingga mata mereka bertemu.
"Bernafas bodoh. "Kata daniel, membuat aira semakin tersedak dengan air liur nya sendiri. Daniel menepuk punggung aira pelan. Gadis itu menghembuskan dan menarik nafas dengan kasar.
Melihat nafas aira yang sudah mulai tenang. Daniel mendekati leher aira dan mengecup nya dengan pelan. Bibir basah daniel perlahan naik dan menggigit daun telinga aira sambil berbisik. "Apa kau suka ciuman pembuka ini sayang? "
Bisikan setan dari daniel membuat nafas aira kembali kembang kempis, terlebih dengan panggilan sayang dari mulutnya yang terdengar sangat manis ditelinga aira.
Entah sejak kapan aira tidak menyadarinya, tiba-tiba saja tubuhnya sudah berada dalam gendongan daniel, pria itu membaringkan tubuh aira diranjang.
Bibir dan tangan daniel mulai menjelajahi setiap lekuk tubuhnya, aira pun menerima setiap sentuhan daniel dan membiarkan pria itu mengenali setiap jengkal tubuhnya.
Jujur saja ini pertama kalinya aira merasakan sensasi menyenang kan seperti ini, meski aira sudah sering berpacaran mereka tidak pernah berhubungan seintens ini, paling jauh hanya pegangan tangan dan berpelukan. Alasan nya, aira hanya ingin pacaran sehat dengan tidak berhubungan terlalu jauh.
Dan lucunya, saat ini aira malah berada satu kamar dengan pria dewasa, bukan hanya pegangan tangan tapi tidur satu ranjang dengan bibir saling bertaut. Sepertinya aira mulai kehilangan akal sehatnya.
"Kamu suka? " Tanya daniel yang posisinya kini berada diatas tubuh aira.
Aira menggelengkan kepalanya. "Enggak."
Aira langsung memutuskan pandangan nya dari mata daniel. Pipinya terasa panas, mana mungkin aira tidak suka, itu adalah perasaan ternikmat yang pernah dia rasakan.
Daniel terkekeh pelan. "Hmm, nggak suka ya, kalau begitu kita tidur saja. "
Setelah mengatakan itu daniel membaringkan tubuhnya disamping aira, matanya terus menatap wajah cantik gadis itu.
Mendengar helaan nafas aira daniel tertawa kecil. "Kenapa hmm...?wajah mu terlihat kecewa. "
__ADS_1
Aira mendelik kan matanya. "Siapa yang kecewa, sana tidur, aku ngantuk. "
Dengan kasar aira berbalik dan memunggungi daniel, dalam hati ia mengumpat, memang benar ada sedikit rasa kecewa dihatinya, dia pikir daniel akan melakukan sesuatu yang lebih, ah maksudnya, aduh entah lah kenapa pikiran aira jadi mesum begini.
Greep. . .
Daniel menarik pinggang aira sehingga punggung gadis itu menempel didadanya.
Aira seketika menahan nafas, ia menggigit bibir bawahnya saat daniel berbisik dibelakang telinganya. "Jangan lupa bernafas honey. "
Bener-bener deh, tadi sayang, sekarang honey, daniel ini mau membuat aira terkena serangan jantung rupanya.
Satu tangan daniel menelusup masuk dibalik baju kaos aira, pria itu membelai lembut perut ratanya, sementara bibirnya mencium tengkuk gadis itu hingga membuatnya meremang karena geli.
"Hadap sini sayang. " Ucap daniel dengan suara serak.
Seperti terhipnotis aira menurut dengan patuh. Ia membalik kan badan menghadap ke arah daniel.
Mata mereka bertemu, jantung keduanya berdebar dengan keras, ibu jari daniel menyapu bibir aira dengan lembut dan berkata. "Mau lagi? "
Tanpa sadar aira mengangguk namun sedetik kemudian dia menggeleng. Aira mengutuk dirinya sendiri, kenapa dia jadi murahan begini, hei. . .kalian tidak ada hubungan apa pun oke, rasanya malu sekali, ingin rasanya aira menghilang saat ini juga.
Daniel tersenyum dengan sangat manis. Aira, aira, gadis ini jinak-jinak burung merpati rupanya, mulut dan tubuh nya tidak sejalan. Dia berkata tidak namun tubuhnya merespon sentuhan daniel. Terbukti saat ini daniel yang sudah memangut kembali bibir aira, gadis itu malah menyambutnya dengan memberikan akses pada daniel agar menyesap mulutnya lebih dalam.
Terdengar suara lengguhan dari mulut aira yang masih dibungkam bibir daniel, tangannya meremas punggung daniel menyalurkan perasaan nikmat yang dia rasakan.
Beberapa menit berciuman, daniel melepaskan tautan mereka saat oksigen mulai menipis dirongga paru-parunya, ditatapnya wajah sayu aira seolah meminta daniel melakukan lebih.
"Harus ku apakan kamu ai, kau membuat gila. " Ucap daniel frustasi, wajah merah aira tampak begitu menggemaskan dimatanya.
Aira meneguk ludahnya susah payah, ia memaling kan muka menatap kearah lain, tak sanggup rasanya menatap wajah tampan daniel sedekat ini.
"Lihat aku. " Kata daniel, ia menarik wajah aira agar menatap nya.
Blush. . .
bukannya takut atau marah, justru wajah aira memerah karena malu, malam-malam berikutnya? Jadi maksudnya bukan hanya malam ini saja tapi mereka akan bermalam lagi lain kali. Entah kenapa aira seolah menantikan malam-malam berikutnya itu.
"Jangan pikirkan lagi, sekarang tidurlah. " Ucap daniel membuyarkan fantasi liar aira.
"Hmm." Aira mengangguk dan membiarkan tangan daniel memeluknya.
Aira memandangi wajah tampan didepannya, dia menyentuh bibirnya dan tersenyum. "Jadi gini rasanya, manis dan bikin ketagihan. "
Aira bicara pelan, dia fikir daniel sudah tertidur karena mata nya sudah terpejam, namun aira salah, pria itu belum tidur, dalam hati daniel sedang bersorak gembira, dia bahkan sudah memikirkan rencana bermalam selanjutnya dengan aira.
Kembali ke kamar reynard.
Pukul 06, pagi hari.
Zee menggeliat dalam tidurnya, ia memegangi kepalanya yang masih terasa sakit.
Zee membuka mata. Didepan nya wajah reynard tersenyum dengan sangat menawan.
Cup.
"Pagi baby!!! "Ucap reynard seraya memberikan morning kiss di bibir zee.
"Mmm, pagi rey. "Balas zee dengan suara serak khas bangun tidur.
Reynard menarik pinggang zee dan membawanya kedalam pelukan.
__ADS_1
" Kamu nggak sekolah? "Tanya zee, ia menutup mata reynard yang terus memandanginya.
Reynard tidak menjawab, malah laki-laki itu terus saja tersenyum seperti orang giila.
Dibukanya tangan zee yang menutup matanya, lalu mengecupnya dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
" Kenapa senyum-senyum? "
"Kamu tau, aku seneeeeng banget, bisa tidur dibawah satu selimut sama kamu, pas buka mata di pagi hari, disuguhi wajah cantik yang menggemaskan. Sungguh, kebahagian yang selama ini hanya dalam bayangan ku, tapi hari ini bisa terwujud. Terimakasih sayang. "Ucap reynard, kembali ia layang kan sebuah kecupan manis dibibir zee.
Zee terkekeh kecil melihat wajah memerah reynard. " Semakin pintar kamu ya, belajar dari mana menggombalnya. "
"Aku nggak gombal, baby! " Jawab rey, ia menelusupkan kepalanya di ceruk leher zee dan menghirup aroma manis parfum gadisnya.
Zee menepuk bahu reynard beberapa kali. "Udah bagun sekolah gih, ntar telat loh. "
"Hem, sebentar lagi baby, aku masih mau bermanja dulu sama kamu. " Ucap reynard pelan dengan suara manja.
Zee tersenyum senang mendengar suara manja reynard, tangan zee naik dan mengusap kepala reynard dengan lembut.
"Matahari udah tinggi loh. " Zee kembali mengingatkan reynard.
"Baby. . . ! " Panggil reynard sedikit merengek. Zee terkekeh mendengarnya.
"Dasar bayik, 10 menit, habis itu bangun dan sekolah. "
Reynard tak menjawab, dia mendengarnya, namun pelukan hangat zee membuatnya malas untuk sekolah.
Zee akhirnya pasrah saat mendengar dengkuran halus reynard, dikecupnya dahi laki-laki itu beberapa kali.
"Terimakasih sayang! " Bisik zee pelan ditelinga reynard. Sayang sekali laki-laki itu tak mendengar karena sudah tertidur. Kalau tidak sudah terbayang bagaimana senangnya dia.
Tepat seperti ucapannya zee, setelah,sepuluh menit, ia kembali membangun kan reynard.
Reynard mulai bergerak-gerak karena zee menggelitik hidungnya.
"Sudah bangun. "
"Kamu nakal bee. " Ucap reynard seraya mengusap hidungnya yang terasa gatal.
Zee terkikik geli, melihat reynard menggilosok hidungnya hingga merah. "Ya udah bangun, ini udah pasti telat kamu. "
Tanpa bicara lagi reynard bagun dari tidurnya, kemudian berjalan masuk kamar mandi, pergerakan reynard tidak luput dari mata coklat zee, ia tersenyum melihat penampilan reynard yang berantakan namun malah terlihat semakin tampan.
Reynard keluar kamar mndi sudah rapi dengan seragam sekolahnya. Ia menghampiri zee dan duduk ditepi ranjang.
"Kamu mau pulang atau nunggu aku disini, " Tanya reynard sembari merapikan rambut zee.
Zee menundukkan kepalanya, ia masih ingin bersama reynard, tapi kalau tidak pulang mungkin papanya akan marah, karena dia sudah kabur diam-diam, sekarang pun entah bagaimana keadaan masion dan juga leo, pria itu pasti kalang kabut mencarinya.
"Kamu masih mau disini?. " Tanya reynard lagi, melihat raut wajah zee reynard paham dengan apa yang dia pikirkan.
"Kalau kamu khawatir dengan orang di rumah mu, maka itu tidak perlu sayang, aku semalam udah ngabarin papa kamu. " Reynard menjelaskan sambil mengecup punggung tangan zee.
Zee menghela nafas lega, ternyata reynard pria yang sangat pengertian dan bertanggung jawab, zee tersenyum dan mendorong wajah reynard agar sedikit menjauh darinya.
"Sana berangkat, aku tunggu kamu disini. "
"Emm, ya udah aku berangkat ya! " Ucap reynard. Ia mengecup bibir zee, entah sudah berapa kali sejak bagun tidur, bibir itu tidak berhenti menyosor. Zee hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah reynard yang terkadang bucin parah padanya.
Setelah berpamitan dengan zee, reynard keluar kamar bersiap berangkat kesekolah. Ia berjalan dengan senyum mengembang dibirnya. reynard teringat adegan pamitan dengan zee tadi, dia membayangkan jika mereka telah menikah, zee akan bangun pagi dan melayani keperluannya kekantor, lalu mencium istri dan sarapan bersama, senyum reynard semakin mekar.
__ADS_1
* * *