Azeeyra

Azeeyra
ZEE YANG MENDOMINASI


__ADS_3

Di pagi yang cerah kicauan burung bersenandung di ponsel nya. Zee menggeliat dan membuka mata. Senyum manis terbit dibibir zee, dia merasa senang karena semalam tidur dengan nyenyak sehingga bisa bangun lebih pagi.


Zee bangkit dari tidur dan masuk kamar mandi, ia membersihkan diri sambil bernyanyi kecil.


Sepuluh menit zee keluar dengan handuk melilit tubuhnya. Segera zee memakai seragam sekolah. Tidak lupa memakai skincare rutinnya. Setelah selesai zee keluar kamar.


"Selamat pagi nona muda. "Leo membungkuk dengan hormat.


" Pagi leo. " Balas Zee tersenyum manis. Zee berjalan melewati meja makan yang sepi.


"Nona tidak sarapan. "


"Nanti aja di sekolah, yang lain sudah bangun? "


"Tuan dan nyonya sudah pergi kekantor, tuan muda daniel juga sudah pergi, kalau tuan muda abi sepertinya belum bangun nona. "


Zee mengangguk kan kepala. Risa memang sering menemani suaminya kekantor, sejak diana datang mengoda daren terakhir kali, daren acap kali mengajak risa untuk menemani nya.


Zee berangkat sekolah bersama leo, dalam perjalanan zee terus memperhatikan leo, ada yang berbeda dari laki-laki itu.


"Ada apa, kamu ada masalah? " zee yang sudah tidak tahan untuk bertanya sejak tadi.


Leo menggeleng kan kepala. "Saya baik nona, tidak usah khawatir. "


Zee mengerinyit. "Aku nggak khawatir, cuma terganggu dengan muka mu yang kusut itu. "


"Maaf nona. " Jawab leo dengan datar.


Ah, sudah lah apa yang zee harapkan dari manusia datar ini, dia menjawab saja sudah untung.


***


Zee keluar dari mobil dan berjalan santai menuju kelasnya.


Perjalanan zee terhenti ketika seseorang menyenggolnya dengan kuat hingga zee oleng dan terjatuh. Leo yang masih memperhatikan nona mudanya berlari menghampiri zee.


Leo membantu zee berdiri. "Tolong jaga sopan santun anda nona. "Tegur leo dengan tatapan dingin. Leo mengeluarkan sapu tangan dari sakunya, kemudian membersihkan lutut zee yang sedikit memar.


Mendengar nona mudanya meringgis, leo menggertak kan giginya lalu menatap kearah gadis yang sudah menabrak zee.


"Ma.. Maaf, a-ak aku tidak sengaja zee. "


"Tidak sengaja? Tapi kau mendorong ku cukup kuat sampai aku terjatuh. "Potong zee cepat menatap nyalang keyla.


"Leo, lutut keyla terlalu mulus, aku tidak suka. " Setelah mengatakan itu zee meninggalkn leo dan keyla lalu berjalan menuju kelas.


Keyla melemparkan tatapan penuh kebencian pada zee yang sudah berjalan menjauh. Keyla bersiap melanjutkan perjalanannya hingga tiba-tiba.


Bruk...


"Akkhh... " Keyla menjerit dan meringgis kesakitan, gadis itu terjatuh dengan kedua lutut nya menyambut lantai terlebih dulu.


"Anda tidak apa-apa nona? " Tanya leo dengan wajah datar.


"Brengs**. Sia**n.. " Keyla mengumpati leo yang dengan sengaja mendorongnya.


Leo berdiri tegap dengan wajah datarnya.


"Kau itu cuma seorang pengawal, berani sekali kau membuatku terluka. " Teriak keyla yang berdiri menahan sakit dikakinya.


"Sudah tugasku menyingkirkan hama dari hadapan nona muda ku. " Ucap leo datar kemudian berlalu meninggalkan keyla yang cengo mendengar kalimat leo.


"Ha.. Hama?? " Keyla tersadar dari bengongnya. "Dia bilang aku hama? " Keyla menatap leo yang sudah pergi dengan wajah tak percaya. "Kau yang hama, kau parasit, seluruh keluargamu itu parasit. " Teriak keyla dengan kesal.


***


Zee tiba dikelasnya. Kelas sudah ramai bahkan inti dragon sudah ada disana kecuali abi. Zee berjalan santai menuju bangkunya.


"Selamat pagi bee. " Sapa reynard dengan senyum yang sangat menawan.

__ADS_1


"Pagi." Balas zee dengan senyum tipis.


"Udah sarapan? " Tanya reynard sembari merapikan rambut zee yang sedikit berantakan karena insiden kecil tadi.


"Belum, rumah sepi nggak enak makan sendiri. " Jawab zee dengan malas-malasan.


Reynard berdiri dari duduknya dan menatap zee. "Aku belikan sarapan. "


Zee hanya mengangguk. "Mmm, belikan roti dan jus saja. "Reynard memberikan jempol pada zee dan berlalu pergi.


Zee menangkupkan wajahnya di meja. Siska dan karen sedari tadi terus memperhatikan pergerakan zee, karen berdiri dari duduknya beralih ke meja zee.


Ting..


Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal masuk ke ponsel zee. Dengan malas zee mengambil dari rok nya. Kemudian membuka pesan itu.


['Temui saya di niel's resto pukul 1 siang nanti, jangan beritahu siapapun terutama reynard. ']


Zee memgerinyit membaca pesan asing itu, dia menerka-nerka siapa kiranya yang ingin menemui nya.


Karen mencoba mengintip isi ponsel zee, menyadari apa yang dilakukan karen, dengan cepat zee menyimpannya kembali kedalam saku roknya.


"Dari siapa? Kayaknya rahasia! " Tanya karen sembari duduk di meja zee.


"Nggak usah kepo. " Jawab zee sedikit ketus.


Karen memasang wajah cemberut. "Eh, weekend ini main ke gunung mau nggak? " Ajak karen tiba-tiba.


Siska yang masih duduk dibangkunya langsung berdiri dan menghampiri dua sahabatnya itu.


"Ayuk! Kayaknya seru. " Celetuknya dengan semangat.


"Liat nanti deh, kalau nggak ada kegiatan lain, tapi aku usahakan. " Jawab zee, wajah semangat siska dan karen langsung hilang.


"Kalau kamu udah bilang gitu, udah ketauan hasil akhirnya. " Ujar siska lesu. Karen mengangguk mengiyakan ucapan siska.


"Sory, aku benar-benar ada urusan penting. Lain kali kita bisa pergi sepuasnya. " Zee mencoba menghibur dua gadis itu.


Reynard menghampiri zee dibelakang laki-laki itu ada abi yang berjalan dengan wajah datar. Dia melempar senyum pada zee kemudian duduk dibangkunya.


"Ayo makan. " Reynard menyodorkan sebungkus roti yang sudah dibukanya terlebih dahulu. Zee menerima nya dan langsung memakan roti itu.


"Makasih."


***


Sepulang sekolah zee meminta leo mengantar nya ke tempat orang yang membuat janji dengannya. Sebenarnya zee agak ragu mau datang apa enggak, hanya saja karena zee penasaran jadi dia memutuskan untuk menemui orang itu.


"Ayo jalan leo. " Pinta zee setelah lepas dari tingkah manja reynard, laki-laki itu memaksa untuk mengantar zee pulang, dengan banyak drama yang berujung sedikit ancaman, akhirnya reynard pasrah dan mengalah.


"Bagaimana doni? "Suara seorang pria tua sembari menyesap teh hangat.


"Sebentar lagi anak itu akan datang tuan. "Jawab sekretaris nya dengan kepala menunduk.


Pria tua itu mengangkat kepalanya dan menyeringai puas.


"Ayah bisa nilai sendiri nanti, anak itu benar-benar... "


Suara wanita itu terpotong ketika pria tua yang duduk didepannya bicara. "Kau diam saja nanti, biar ayah yang bicara. "


"Ba-ba baik ayah... " Jawabnya takut.


Tidak berapa lama mobil zee berhenti didepan pintu resto, leo keluar lebih dulu lalu membuka pintu mobil untuk nona mudanya. Seorang pria yang lebih tua dari leo mengambil alih mobil zee dan memarkirnya.


"Kamu tunggu agak jauh dari ku ya, jangan terlalu dekat. " Kata zee sembari berjalan masuk resto.


"Baik nona. " Leo berjalan dibelakang zee dengan jarak yang cukup jauh.


Zee celingak celinguk, ia bingung harus duduk dimana, entah orang itu sudah datang atau belum. Ditengah kebingungannya seorang pria sedikit lebih muda dari papanya muncul menghampiri zee.

__ADS_1


"Ikuti saya nona. " Pinta laki-laki itu. Kemudian berjalan tanpa menunggu jawaban dari zee.


Zee mendengus kesal melihat ketidak sopanan pria itu, tapi karena dia penasaran akhirnya dengan rasa jengkel zee mengikuti kemana lelaki itu pergi.


Saat sampai disebuah ruangan privat, zee mengerutkan kening mendapati orang asing yang tidak ia kenali. Oh tidak, hanya pria tua itu yang tidak ia kenali, wanita yang duduk disebelahnya zee pernah bertemu sekali.


"Dia anak itu ayah. " Bisik ambar.


Pria tua itu mengangguk. Jadi dia? Gadis yang menjadi kekasih cucunya. Anak yang sudah membuat putra laki-lakinya berani membangkang.


Pria tua itu memperhatikan zee dari atas sampai bawah. Zee merasa tidak nyaman dengan tatapan pria itu, yang seperti menilai penampilannya.


"Duduklah." Titah pria tua itu dengan tatapan penuh penghinaan, kemudian membuang muka. Dari cara pria tua itu memaling kan muka menunjuk kan dengan jelas bahwa dia tidak puas, seolah berkata jangan harap kau bisa bersama cucuku.


Zee duduk dikursinya dengan perasaan tidak menentu. Banyak pertanyaan yang muncul di otaknya namun dia tahan karena masih menunggu pria tua itu bicara terlebih dulu.


"Ekhem....kau tau siapa saya? " Tanya pria tua itu dengan nada angkuh.


"Tidak." Jawab zee, ia menatap laki-laki itu tak kalah angkuh.


Pria tua itu terkekeh kemudian raut wajahnya berubah dingin. "Saya Agam jordhan. " Dia menatap zee dengan dingin. "Kemudian tersenyum mengejek. " Sangat disayangkan kau tidak mengenali ku. "


"Oh, halo tuan agam. " Sapa zee dengan sikap acuh tak acuh.


Raut wajah agam berubah tatkala melihat sikap acuh gadis itu. Ia menoleh ke arah menantunya. Ambar yang ditatap sang mertua hanya tersenyum miring.


"Sangat menarik. " Ucapnya kemudian menepuk tangan dua kali. Entah dari mana datangnya tiga orang pelayan muncul dan menghidangkan makanan diatas meja.


Zee memandangi meja yang sudah dipenuhi makanan. Dari semua hidangan hanya salad lah yang bisa zee makan, gadis itu tidak menyukai daging, sementara menu yang terhidang steik daging.


Agam dan ambar terkekeh lagi melihat zee mengambil salad. Tatapan mengejek terlihat jelas diwajah kedua orang itu.


"Cobalah daging ini, rasanya sangat enak, walaupun mungkin lidah mu tidak cocok. " Terdengar ramah tapi zee bisa menangkap ejekan dari kalimat agam.


Zee memaksakan senyumnya. "Terimakasih, perut ku tidak bisa menerima daging. " Jawab zee masih berusaha bersikap sopan.


Agam dan ambar kembali tertawa, kali ini keduanya terbahak sampai mengeluarkan air mata.


Zee mengerutkan kening bingung, apa yang mereka tertawa kan? Apa tadi zee bicara sesuatu yang lucu.? Aah... Zee baru menyadari sesuatu. Jadi begitu. Zee menyeringai dengan tatapan yang sulit diartikan.


Zee mengubah posisi duduk nya menyandar dikursi, kaki kanan disilangkan di atas kaki kirinya, kedua tangan diletak kan disisi kedua kursi. Zee menatap tajam kedua orang didepannya dengan dagu diangkat tinggi.


Senyum miring zee membuat tawa kedua orang itu menghilang, tiba-tiba suasana terasa mencekam. Tekanan mendominasi ini terasa familiar bagi agam, dan tatapan tajam itu, agam yakin pernah melihatnya. Entah siapa dan dimana, agam tidak bisa berfikir saat ini.


Zee menoleh ke arah ambar, wanita itu tersedak air ludahnya saat pandangan nya beradu dengan zee.


"Uhuuk.. Uhuuk.. Aa-a ayah. " Ambar memyentuh pergelangan tangan agam dengan gemetar.


"Bodoh."ucap zee dingin.


Agam dan ambar tercengang mendengar kata yang keluar dari mulut zee. Matanya melotot sempurna seakan mau keluar.


Seringai kepuasan muncul di wajah tampan leo, tidak salah ia menerima zee sebagai nona mudanya. Pembawaan nya santai saat bersama keluarga dan teman-teman. Menjadi dominan ketika berhadapan dengan orang-orang bodoh seperti ini.


"Ka-k kau.. Lancang. " Agam menunjuk zee dengan tangan bergetar.


"Anda sudah puas pak tua.? "


"Apa maksud mu bersikap seperti ini? " Tanya agam dengan dada naik turun karena marah.


"JORDHAN. Jordhan.. Nama keluarga anda sangat dihormati di dunia bisnis, tapi siapa sangka ternyata minim etika. "Kali ini giliran zee yang mengejek.


"Gadis sia**n, kau harus tau posisimu disini. Doni. " Teriak Agam. Ia merasa sangat geram melihat zee bersikap angkuh didepannya.


Doni datang dan memberikan secarik kertas pada agam. Dengan kasar agam melemparkan kertas itu tepat diwajah zee.


Kening zee mengerinyit dan tatapan nya menjadi dingin setelah melihat isi kertas itu.


"Itu harga yang pantas, jauhi cucuku kalau tidak... " Belum selesai agam dengan ucapannya, seseorang menyelanya dengan suara keras.

__ADS_1


"Kalau tidak apa, tuan jordhan? " Seorang pria masuk dengan wajah dingin.


"Anda...??? " Agam terpaku melihat tatapan tajam yang diberikan laki-laki itu.


__ADS_2