
Setelah reynard membawa zee keluar, leo memanggil dua orang bawahannya yang berjaga diluar. Dibantu abi dan seno, leo membuka rantai yang ada dileher bi jum, ada bekas merah tertinggal di leher dan kaki tangannya setelah rantai dibuka. Abi yang biasanya tenang tidak bisa menahan diri untuk mengumpat, meski dia baru kenal dengan wanita ini, tapi abi tau kalau bi jum sangat menyayangi zee dengan tulus.
Karena pergerakan yang dibuat leo, bibi jum yang tadi memejamkan mata perlahan mulai membuka mata, dan mengerjap beberapa kali.
Bibi jum terkejut melihat siapa yang ada didepannya, matanya terpaku menatap kearah abi.
"Tu-tuan muda. "Panggil bi jum lemah, tanpa sadar air matanya mengalir, ia merasa lega saat melihat abi.
" Bibi diam lah, sekarang sudah aman, jangan menangis, zee akan memarahi ku kalau bibi seperti ini. "Ucap abi berusaha menenangkan wanita itu.
" Non-nona muda ada disini? "Tanya bi jum terisak.
Abi mengangguk. " Emm, jadi berhenti menangis. "
Setelah beberapa saat dua pengawal datang membawa tandu dan mengangkat tubuh bi jum dan membawanya keluar.
* * *
Diranjang kamar nya zee terbaring lemah dengan wajah pucat. Reynard duduk memandangi wajah kekasihnya.
Dalam satu bulan ini zee mendapat kejutan bertubi-tubi, reynard tau zee tidak akan mampu lagi menerima kenyataan pahit ini.
Risa dan karen juga siska, duduk ditepi ranjang seraya memijit tangan dan kaki zee dengan minyak kayu putih. Sudah hampir satu jam gadis itu tak sadarkan diri, mereka menanti dengan perasaan gelisah.
"Belum sadar? " Tanya daren yang baru datang. Ia berjalan mendekati ranjang zee.
"Belum mas, kenapa nggak dibawa kerumah sakit aja sih mas, aku benar-benar khawatir. "Jawab risa, beberapa kali wanita itu mengusap air mata yang mengalir dipipinya.
Helaan nafas berat keluar dari mulut daren. " Bunda kan tau sendiri, adek tidak mau lagi masuk rumah sakit, dia mungkin akan marah kalau kita bawa dia kesana lagi. "
Bunyi pintu diketuk dari luar kamar zee menarik perhatian mereka. Leo melangkah masuk dan menunduk.
"Bagaimana? " Tanya daren
"Bibi jum sudah dirawat di rumah sakit dan keadaannya sudah mulai stabil, semua luka-luka ditubuhnya sudah di obati tuan. "Jawab leo, matanya sesekali melirik kearah nona mudanya.
Dalam hati leo memarahi dirinya sendiri, sejak dia menjadi pengawal zee, ini sudah kedua kalinya zee terbaring lemah seperti ini. Leo merasa gagal menjaga nona mudanya.
" Ini bukan salah mu leo, berhentilah memasang wajah seperti itu. "Ucap daren yang tau kalau leo menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
Leo menghela nafas. Meski tuan daren berkata seperti itu, tetap saja dia merasa bersalah.
Biar saja orang menganggapnya berlebihan, namun leo adalah orang yang tidak suka melakukan kesalahan, apa lagi orang yang dijaganya sampai seperti ini rasanya leo ingin melenyapkan diana sekarang juga.
"Urus lah urusan mu sampai zee terbangun. " Ucap daren lagi.
"Baik tuan. "Leo menunduk sekali lagi kemudian keluar.
Daren melirik kearah dua gadis yang dikenali sebagai sahabat putrinya itu. " Kalian tidak pulang? "
Dengan ragu siska menjawab. "Tidak om, kami ingin menjaga zee, dan kami berdua sudah minta izin pada orang tua kami. "
Daren mengangguk. "Baik lah. "Tatapan daren kemudian beralih ke arah reynard, lelaki itu tidak bergeming sedikit pun, matanya fokus menatap zee.
"Kalian berdua ganti baju dulu, setelah itu bersiap untuk makan malam. "Tambah risa. Kemudian melangkah keluar bersama daren.
Siska dan karen saling adu pandang, mereka ingin mandi tapi reynard masih duduk disini, bahakan sejak tadi mata laki-laki itu tidak berkedip sedikitpun menatap kearah zee.
Merasakan ada mata yang menatapnya, tanpa menoleh reynard berkata. " Ada banyak kamar tamu disini. "Ujar reynard singkat dan padat.
Tidak mengatakan apa pun lagi, siska dan karen keluar membawa baju ganti meninggalkan reynard dan zee.
Diluar kamar, tepatnya gudang belakang rumah daren, suasananya sangat mencekam. Daren dan daniel berada disana mengintrogasi diana.
Daren menatap diana yang sedang berlutut dilantai, tidak ada rasa simpati atau kasihan dimatanya. "Kenapa kau sampai melakukan hal jahat sejauh ini? " Tanya daren setelah lama diam.
"A-aku lapar mas. Bisa berikan aku makan dulu, aku, aku tidak punya tenaga lagi. " Pinta diana dengan wajah memelas. Disebelah diana ririn tergeletak dilantai dalam keadaan tak sadarkan diri, karena semalam anak buah leo terus menyiksa mereka berdua sampai pagi.
Helaan nafas berat terdengar dari mulut daren. "Lapar? Lalu bagaimana dengan bi jum, apa kau tau saat dia lapar dan haus? Apa kau memberikan dia makanan? " Tanya daren kesal.
"Mas, jangan samakan aku dengan pelayan itu, apa kau tidak ada rasa kasihan sedikit pun pada ku? " Tanya diana dengan air mata berlinang.
Daniel yang kesabarannya sudah habis langsung saja menampar diana. "Rasa kasihan, kau tidak pantas mendapatkannya, waktu kau membunuh mama ku yang adalah kakak mu sendiri, apa kau pernah merasa kasihan? Tidak kan? Lalu kenapa kami harus kasihan pada manusia seperti mu. " Daniel mencengkram kuat rahang diana.
"Antara kau dan bibi jum, aku akan lebih memilih bi jum, alasannya? tentu saja karena dia manusia. " Ujar daniel dengan senyum mengejek.
Daniel mendorong kepala diana hingga wanita itu jatuh membentur dinding, tidak ada perlawanan apapun, karena memang dia sudah tidak bertenaga lagi.
"Sudah, jangan sampai dia mati, adik mu pasti akan marah kalau kau melenyapkan mangsanya. " Ujar daren pada putranya.
__ADS_1
"Aku akan ke kantor polisi, mengecek tua bangka itu, akan ku pastikan dia membusuk di penjara. "
"Emm, pergilah, kalau ada apa-apa, hubungi papa. " Ucap daren kemudian berlalu pergi.
***
Secara perlahan kelopak mata zee terbuka. Ia mengusap matanya dan menggeliat.
Zee menoleh dan mendapati reynard tidur terduduk disebelahnya. "Kenapa aku disini? Bukan nya tadi aku dirumah diana, lalu bibi jum. . .
Benar bi jum, kemana perginya wanita itu? Bagaimana keadaannya sekarang? Zee merasa ingin menangis histeris saat ini.
Suara nafas zee mulai memburu dada nya merasa sesak. Reynard terusik dari tidurnya, matanya terbuka. "Kamu sudah sadar? " Tanya reynard. Ia menarik tubuh zee kedalam pelukan nya.
"Bagaimana dengan bibi jum? " Tanya zee dengan suara serak.
Reynard tidak menjawab, ia mengambil segelas air diatas nakas dan memberikan pada zee.
"Buka mulut mu! " Reynard membantu zee meminum air. Zee meminum air itu sampai habis. "Apa yang terjadi padanya? "Tanya nya lagi. Setelah meneguk habis air itu.
Reynard masih saja mengabaikan pertanyaan zee. Ia meletak kan gelas kosong dan beralih ke makanan yang sudah disiap kan siska tadi. " Makan dulu, setelah itu, apa pun yang ingin kamu tau, akan aku jawab. "Ucap reynard, seraya meniup makanan yang masih panas.
" Aa, ayo buka mulutnya. "Zee dengan patuh membuka mulut dan menerima suapan dari reynard. Nasi dalam piring hampir habis, zee menggelengkan kepala saat reynard akan menyuapinya lagi.
" Kenyang. "Ucap zee menutup mulutnya.
Reynard mengangguk dan meletak kan piring itu dinakas. Jarinya terangkat menghapus jejak basah dibibir zee. Kemudian menggenggam jemari zee menatap lekat mata coklat itu.
" Kenapa baby, hm? "Tanya reynard lembut.
Zee menggeleng kan kepala. " Tidak, terimakasih sudah menjagaku! "Gadis itu kemudian bersandar di bahu reynard. Kemudian memejamkan matanya.
Tangan reynard mengelus lembut kepala zee. "Mau tidur lagi? "
Lagi-lagi zee menggeleng. "Apa dia baik-baik saja? "
"ya, kak daniel dan abi, mengurusnya dengan baik, jadi kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. "
Zee bernafas lega. Ia memeluk tubuh reynard dengan erat. "Jangan pergi ya, temani aku disini. " Ucap zee pelan.
__ADS_1
"Emm, tidurlah, jangan takut, aku disini. " Ucap reynard. Ia membawa tubuh zee kembali berbaring. Di usapnya kepala zee dengan lembut.
****