Azeeyra

Azeeyra
Rencana liburan


__ADS_3

Daniel saat ini berada dirumah sakit, kakek haris yang mendapat berita kalau smith masuk penjara langsung menyusulnya. "Berikan semua bukti pada pengacara, dan pastikan dia berada disini selama sisa hidupnya. "


Haris mengerinyit. "Daniel, tidak kah perbuatan mu keterlaluan hanya karena smith menculik pengasuh kalian. "


Daniel yang suasana hatinya sedang buruk menatap haris. "Hanya kakek bilang? Dia hampir membunuhnya, dan juga menjebak papa dengan obat perangsang agar tidur dengan putrinya. "


"Itu karena dia terlalu menyukai daren, sebenarnya kakek juga sudah tau dari lama kalau diana itu memyukai daren, tapi karena daren sudah menikah akhirnya kakek diam saja. " Ucap haris sambil menepuk bahu daniel.


"Gerald, dengar kan rekaman suara itu pada kakek, kita lihat, apa kakek masih akan membela wanita jaalang itu. " Daniel menghempaskan pantatnya dikursi dengan kasar.


Sesuai perintah daniel, gerald memutar rekaman suara diana saat wanita itu mengakui bahwa dirinya lah yang membunuh riana, dan rencana nya yang juga ingin melenyapkan haris. Pria tua itu tertegun sejenak, mencoba mencerna apa yang baru saja dia dengar, detik berikutnya kakek haris langsung tak sadarkan diri.


Daniel berdecak kesal. Ia meminta gerald memanggil pengawal kakek haris dan menyuruhnya membawa pria tua itu pergi.


"Kau uruslah semuanya disini, aku akan kembali. "


"Baik tuan. "Gerald segera pergi meninggalkan daniel dan melakukan tugasnya.


* * *


Hari berlalu begitu cepat. Bi jum juga sudah pulang kemansion karena keadaannya sudah membaik. Zee pun sudah mulai masuk sekolah kembali.


Tidak ada yang membahas kejadian yang sudah bi jum alami, mereka membiarkan semua berlalu seolah tidak pernah terjadi apapun,tujuannya agar tidak mengingatkan bi jum dengan masa kelam yang mungkin saja akan membuatnya trauma.


"Ini bekal anda nona. "Ucap bi jum pada zee seraya menyerahkan kotak makan berwarna biru laut.


Saat ini zee sedang bersiap berangkat sekolah. Leo juga sudah menunggu zee dari tadi.


Zee menatap pengasuhnya itu, kemudian berkata. " Terimakasih bibi. Aku akan menghabiskan nya nanti. "


Bibi jum mengangguk. "Nona harus makan lebih banyak, lihat tubuh nona sangat kurus, katakan pada bibi kalau nona ingin memakan sesuatu. "Ujar bibi jum.


"Memangnya aku kurus ya, kok nggak berasa. " Tanya zee penasaran sekaligus kaget dengan ucapan bi jum.


"Sangat kurus, sampai bisa terbang kalau seandainya datang angin topan. "Kelakar bi jum. Yang disambut gelak tawa oleh zee.


Zee memeluk dan mencium pipi wanita itu kemudian berpamitan kesekolah.


"Ya udah becandanya nanti lagi, aku berangkat ya. "


"Hati-hati non. "

__ADS_1


"Emm."


Wajah zee yang tersenyum tadi langsung berubah dingin begitu sampai diluar rumah. Dia masuk kedalam mobil setelah leo membuka kan pintu.


Zee menoleh ke arah leo yang sedang menyetir. "Bagaimana keadaan wanita itu leo. "


Leo menatap nona mudanya sekilas, sembari fokus menyetir dia menjawab. "Semua berjalan sesuai rencana nona, saya juga sudah menempatkan dua pengawal disana agar dia tidak bisa kabur. "


Zee mengangguk, senyum puas terbit dari bibirnya. Dia membayangkan bagaimana wajah ketakutan diana saat ini.


Ditempat lain, disebuah rumah sakit. Seorang wanita terus menjerit, dan menangis histeris, tangan dan kakinya di ikat diatas ranjang, rambut panjangnya acak-acakan.


"Aaaargh, lepas, lepaskan saya, saya tidak gila, hahahaha. Saya akan menikah dengan mas daren, saya akn pecat kalian semua nanti. " Ucap wnita itu yang tak lain adalah diana. Zee memang tidak memenjarakan diana, menurut zee penjara tempat itu terlalu bagus untuknya, jadi ia memutuskan diana dimasuk kan kerumah sakit jiwa.


Diana tertawa dengan keras , sesekali dia menggumam kan nama riana. Kadang menangis juga berteriak mengatakan dia akan membunuh zee dan haris. Awal masuk kesana memang kondisi diana tampak mulai stress. Namun baru dua hari bergabung disana diana semakin cocok dan pintar beradaptasi disana.


Berbeda dengan diana, ririn dan pak tua smith saat ini berada dalam penjara, jangan harap mereka bisa bernafas lega didalam sana. Karena daniel sudah membayar orang didalam sel itu agar memukul dan menyiksa mereka setiap hari. Ya benar, jangan harap daniel dan daren akan membiarkan mereka begitu saja.


Leo menghela nafas lega. Dia berharap setelah ini nona mudanya, bisa hidup dengan tenang.


Tett. . . Tett. . . Tett. . .


Bel pulang sekolah berbunyi. Zee dan siska juga karen berjalan beriringan menuju parkiran. Dibelakang mereka lima orang lelaki tampan berjalan seperti pengawal.


"Ck, belum juga ujian Lo udah mikirin liburan aja, gimana kalau kebali atau lombok? "Celetuk saka yang disambut antusias oleh denis dan dan seno.


"Setuju banget, hitung-hitung kita nggak pernah liburan barengkan, sebentar lagi ujian dan kita lulus, entah kita masih bisa berkumpul lagi nanti, kita nggak tau. " Ucap seno. Suasana yang tadi semangat sekarang malah jadi hening. Memikirkan kelulusan mereka , tiba-tiba ada perasaan sedih dan tidak rela.


"Ya udah, karena semua setuju, jadi kita mau kemana? Seperti kata saka tadi, bali atau lombok? "Tanya karen. Saat ini mereka sudah berada di parkiran.


" Bali. "Jawab tiga curut serempak. Karen dan siska pun setuju juga kalau harus kebali.


" Ya udah kebali aja gimana? "Tanya karen lagi. Zee yang ditatap karen mengangguk setuju.


" Yeay. . . "Siska dan karen bersorak senang. Mereka bertos ria kemudian berpelukan.


" Kalau gitu, kita harus shoping hari ini, gue mau beli bikini dan beberapa keperluan buat nanti disana. "Ajak siska pada karen dan zee.


"Nggak boleh pakai bikini! "Protes reynard dan abi kompak.


" Loh kenapa sih, kita kan mau kebali, jadi pengen kayak bule gitu, pakai bikini dipantai. "Ucap siska yang tidak terima ucapan dua laki-laki remaja itu.

__ADS_1


" Yee, bule itu body nya seksi dan bahenol, nah Lo yang datar dan kecil ini apa yang mau di tonjolin. "Ejek saka menatap siska dari atas sampai bawah seolah menilai penampilannya.


" Jaga mulut Lo brengseek, kayak pernah liat gue pakai bikini aja. Lagian tau dari mana Lo kalau gue kecil dan datar? "Ujar siska kesal. Suara siska yang keras menarik perhatian siswa siswi yang berada diparkiran termasuk leo yang berdiri disamping mobil zee.


" Nggak usah dilihat dan dipegang pun gue udah tau kok. "Saka melirik siska dengan senyum mengoda.


Wajah siska memerah menahan kesal. Di bukanya sepatu sebelah kiri, dilemparkan tepat diwajah saka. " Nggak nyangka ya selain tukang gombal Lo juga punya otak mesum. Jangan pernah Lo bayangin hal mesum itu ke gue. "Teriak siska dengan nafas memburu.


" Siaalan kau sak, seneng banget kayaknya tiap kali Lo berhasil membuat kesal nona siska. "Ucap seno yang merasa kasihan melihat wajah cemberut siska.


" Bercanda doang gue mah, jangan serius gitu dong. "Ucap saka kemudian mencoba merangkul bahu siska, namun ditepis oleh gadis itu.


" Bercanda Lo nggak lucu dan nggak pantes. "Balas siska makin kesal.


"Lo kalau masih berisik nggak usah ikut kita, yuk cabut. " Ajak zee menarik tangan siska dan karen kedalam mobilnya, meninggalkan lima laki-laki remaja itu, tanpa menoleh kearah mereka.


"Parah, parah, kau emang gila kali ini, cewek tu paling benci kalau sudah pembahasan nya kesana, dan dengan entengnya Lo katakan hal tabu macam itu. Parah kau sak. "Ucap denis. Mereka memandangi mobil zee yang mulai meninggalkan area parkiran.


" Ya maaf tadinya kan gue cuma bercanda anjiir. "Ceplos saka yang mulai menyadari kesalahannya.


" Kebiasaan mulut kau yang angker itu, kalau ngomong nggak pernah di filter. "Ucap denis kemudian menaiki motornya mengikuti reynard dan abi.


****


" Udah sih nggak usah cemberut gitu. "Karen mencubit bibir siska yang sedikit monyong sambil tertawa.


"Ck, sumpah ya gue kesal banget sama tu anak, bisa-bisanya dia bilang punya gue kecil dan datar. " Siska berdecak kesal. "Dia nggak tau aja gue pake baju kedodoran gini buat nutulin dada gue yang gede gini. " Tambah siska seraya menyentuh dadanya dengan kedua tangan.


"Uhuk. . . uhuk. . . " Leo yang tadi sedang fokus menyetir tersedak air liurnya mendengar ucapan siska.


Zee, siska dan karen saling tatap. Kemudian membuang muka kearah lain. "Anjiiir malu banget gue bangkee. " Gumam karen pelan tapi masih didengar siska dan zee.


Jangan tanya bagaimana jantung siska saat ini, wajahnya benar-benar sangat merah karena malu, apalagi tadi dia sempat memegang dadanya, siska yakin leo pasti melihatnya.


"Asem Lo sis, bikin gue iri aja Lo, gede ya ternyata? " Kelakar zee sambil tertawa keras.


Hilang sudah rasa malu siska tadi, yang ada sekarang cuma rasa bangga dan percaya diri, setelah dia pikir, nggak masalah juga kalau leo mendengarnya, sekedar promosi aja agar leo tau ukuran dadanya.


"Olah raga makanya, biar body kalian tu padat dan berisi, bentuk tubuh kalian bagian mana yang mau ditonjolin, kayak gue, bokong sama dada. " saran siska tanpa tau malu.


"Ya, ya, kau atur ajalah dunia ini sesuka hati. " timpal karen yang semakin malu dengan pembahasan siska.

__ADS_1


****


__ADS_2