
"Seperti saudara kembar? Oh tidak Jangan katakan itu aku tidak sudi. Terpuruk? Aku tidak terpuruk tapi aku senang dengan kematiannya. Hahah... Hahaha. "Diana kembali tertawa.
Raut wajah daren dan yang lainnya berubah, mereka menatap diana tetapi wanita itu masih saja tertawa.
Daren kembali menatap diana. " Bukan kah dulu kalian begitu akrab? "
Diana malah tertawa semakin kencang, tawa merendahkan dan mengejek, sungguh orang-orang bodoh, dalam hati diana dia ingin sekali memaki mereka semua.
Diana menghentikan tawanya kemudian menatap nyalang kearah daren. "Itu karena aku yang memaksa, dia itu wanita jahat, setiap kali kalian pergi kencan dia tidak pernah mau mengajak ku, setelah aku mengancam dengan sedikit ancaman bunuh diri barulah dia mengikuti keinginan ku. Hahah... Dia gadis yang naif, aku sangat membencinya, kenapa hidupnya selalu beruntung, dan kau mas, aku bahkan mengubah penampilan ku seperti riana tapi masih saja kau tidak melihat kearah ku. "diana sedikit menekan kalimatnya diakhir.
Daren menggeleng tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Tidak, tidak mungkin, kau bahkan menangis histeris sampai pingsan saat riana meninggal. " Daren tidak percaya dengan ucapan diana.
Meski dia tidak begitu akrab dengan diana, dia tau kalau riana sangat menyayangi adik sepupunya itu, bahkan riana tidak pernah mengeluh atau pun protes jika diana
Menginginkan barang -barang riana yang diberi kan daren. Diana juga begitu, dia selalu menemani riana kemanapun riana pergi, riana tipe wanita pendiam, tidak pandai bergaul juga tidak punya teman, jadi diana adalah satu-satunya teman riana.
Diana menatap zee. "Kau, anak siaalan, aku benci wajah mu yang mirip wanita jalaang itu. "
Zee menarik nafas berat, jadi itu alasan kenapa diana selama ini begitu membencinya, bukan karena zee penyebab meninggal nya riana, tapi karena wajah nya yang mirip dengan wanita yang disebut kakaknya itu.
Diana melotot kan matanya. "Aku sangat, sangat membenci mu. "
Zee tersenyum sinis. "Benci karena iri, tidak ada satu pun yang menarik dari mu, apa yang kau banggakan, kau akan tetap sendiri sampai kau tua. Bahkan aku yang masih kecil ini saja, sudah kau anggap saingan. "
Wajah diana memerah. Kedua tangannya terkepal kuat.
"Kau.... "Diana tampak sangat geram.
Ingin sekali diana menampar dan menjambak rambutnya itu, namun karena kondisinya yang sudah lemah ia tidak mampu bahkan sekedar untuk berdiri.
Dengan nafas memburu diana menatap zee kemudian berkata dengan lantang. "Ck, ck, harusnya kau juga ikut mati saat aku memberikan obat penggugur kandungan dulu, kau terlalu beruntung hingga hanya riana yang meninggal. "
"Diana apa yang kau katakan? "Daren terkejut sampai melangkah mundur beberapa kali.
Diana tidak peduli dengan daren, ia tampak senang melihat wajah pucat zee, dia benci sekali melihat senyum gadis itu, senyuman yang membuat nya teringat sosok riana wanita yang selalu merebut kebahagiannya.
" Kau tidak tau kan, hahaha, sebelum mama mu meninggal, aku sedang bersama dengannya, dan seenaknya dia meminta membuatkannya jus, huh, emang aku ini babunya, tapi tidak apa-apa dengan senang hati aku membuatnya, ditambah kan dengan bubuk obat penggugur kandungan dengan dosis tinggi, sehingga dia langsung pingsan dan pendarahan. Hahaha.... "Diana tertawa keras, tanpa menyadari apa yang dia katakan.
"Oh, dan yang paling lucu adalah, orang-orang bodoh ini. " diana menunjuk daren dan daniel. "malah menyalahkan kau yang baru lahir membunuh riana hahaha.... Ya ampun ini sangat lucu sekali. "Diana kembali tertawa. "Dan aku cukup senang karena obat itu membuat wanita jahat itu meninggal. "
"Kau tau aku adalah orang yang paling bahagia hari itu, sampai aku menangis histeris saking bahagianya, dan yang paling membahagiakan adalah, melihat anak perempuan riana dibenci oleh papa dan kakak kandung nya sendiri. "Diana bertepuk tangan melihat wajah pucat zee. "Dia terlalu lama hidup beruntung dan selalu disayang orang-orang, aku benci wajah sok polosnya itu. Kenapa harus dia, padahal ada aku yang selalu disampingnya, tapi tidak ada yang menyadari, aku lelah terus-terusan menjadi bayangannya. "
Suara diana semakin keras bersamaan dengan isak tangisnya, sementara daniel dan daren terduduk kaku dilantai dengan wajah tegang dan pucat pasi sekarang.
Zee menggelengkan kepalanya tak percaya. "Tidak, tidak, tidak mungkin, mama, dia meninggal murni karena melahirkan aku, jadi , jadi aku pantas dibenci, aku,..aku."
"Oh tunggu dulu sayang, kau tau, aku yang terus menghasut paman haris untuk terus membenci mu, tua bangka itu benar-benar bodoh, dan sebentar lagi, aku juga akan menghabisi nyawa pria tua itu. "Diana kembali tertawa, namun kali ini terdengar lebih menakutkan.
"Selanjutnya, aku akan membunuh pengasuh kesayangan mu itu, lalu kau dan kakak mu yang bodoh itu. Setelahnya aku dan mas daren bisa menikah dengan tenang kami akan hidup bahagia selamanya. "
__ADS_1
Plak. . .
Plak. . .
Plak. . .
"Keterlaluan kau diana! Manusia iblis tak tau diri. Selama ini riana sudah sangat baik padamu, ini balasan yang kau berikan. "Daren yang baru mendapatkan kesadarannya, langsung berdiri dan menampar diana.
Diana terpaku. Seolah tersadar dari apa yang baru saja terjadi, ia mengedarkan pandangan pada semua orang. Semua mata menatap tajam kearahnya, bahkan azeeyra mata gadis itu memancarkan aura membunuh yang cukup kuat dari matanya.
Zee terus menggeleng, dan berjalan mundur. "Tidak, tidak, tidak mungkin, jadi aku kehilangan mama karena kau? Aku dibenci selama bertahun-tahun juga karena kau? Kau penyebab dari penderitaan ku selama ini? " Zee hampir terjatuh dan dengan cepat abi menangkap tubuh zee dan membawanya dalam pelukan.
Tubuh zee terus bergetar, dia tidak menangis tatapan matanya yang yang ingin membunuh, membuat suasana dalam gudang terasa mencekam.
"Kau sangat kejam, membunuh orang yang kau panggil kakak? Kau manusia paling jahat yang aku temui. "Zee menggertak kan giginya.
Daniel berdiri dan mendekati adiknya. " Ssst. .., tenang, adek tenang saja, kakak akan memberikan pelajaran yang akan membuatnya memilih mati dari pada hidup. "
Zee tidak peduli, ia menepis tangan daniel yang merangkul pinggangnya.
Daniel terkesiap dengan sikap zee, ia terus memandangi tangan nya yang baru saja ditepis oleh adiknya itu.
Sementara ririn terpaku dengan wajah terkejut, dia tidak menyangka kalau diana adalah orang yang kejam, bahkan dengan keluarganya sendiri. Lain dengan ririn diana saat ini sudah sangat pucat, ia bahkan sudah melihat pintu neraka terbuka didepan nya.
Daren pria tua itu membeku ditempatnya, berita yang dia dengar terlalu mengejutkan, pikirannya kosong tidak tau harus bagaimana.
***
Saat ini hanya tinggal zee dan leo, daren, risa dan abi juga daniel sudah pergi atas perintah dari zee. Ia ingin membalas diana dengan tangannya sendiri, bagaimana pun juga, dia adalah orang yang paling dirugikan dalam hal ini.
Plak. . .
Plak. . .
"Aw, ishh... "Diana meringis mendapat dua tamparan dari zee.
Sreeet.
" Aww, sakit brengseek, anak siaalaan lepas kan. "Diana terpekik ketika zee menarik rambutnya dengan kuat, ia yakin saat ini rambutnya pasti banyak yang rontok.
" Katakan dimana kau sembunyikan bibi jum? Jawab atau kau akan mati! "Tanya zee seraya menendang perut diana dengan keras.
" Akh,, kau... Kau jahat, dasar kejam. "Diana menghardik zee dengan suara putus-putus.
"Kekejaman ku tidak sebanding dengan mu, aku belum pernah membunuh sampai detik ini. Tapi mungkin setelah ini adalah pembuunuhaan pertama ku. "Cibir zee dengan seringai jahatnya.
"Katakan dimana bibi jum? " Zee kembali menarik rambut diana, kepala diana rasanya sudah kebas, dia tidak bisa mendeskripsikan betapa sakit kepalanya saat ini.
"Aku jawab, tapi lepas dulu tangan mu dari rambut ku. " Diana ingin bernegosiasi dengan zee.
__ADS_1
"Ouh... Aku bukan orang yang berbelas kasih, dan lagi pula, bukan tempat mu untuk tawar menawar dengan ku. "
"Aaakh, iya, iya, iya akan aku katakan, dia, wanita itu ada digudang rumah ku. "Diana meringis kesakitan saat zee menguatkan cengkraman di rambutnya.
"Leo.!!! " Zee menegadahkan tangannya. Leo mengeluar pisau lipat dibalik lengan bajunya. Kemudian mengambil sebuah masker penutup mulut dan memasangkan nya pada zee.
"Kau, ingin mati seperti apa? Katakan aku akan mengabulkannya. "Tanya zee dengan seringai iblis.
" Tidak, tidak, tidak, kau, kau bukan manusia kau monster. "Diana kembali berteriak.
Dukh...
Zee membenturkan kepala diana kedinding.
Darah segar mengalir dipelipisnya, diana meringis dan mengumpat dalam hati, dia akan membalas perbuatan ini.
Rambut diana kembali ditarik, kali ini tidak ada penolakan atau suara meringis kesakitan, hanya rintihan yang terdengar itupun sangat kecil.
"Aku akan menghabisimu, jadi jangan berfikir kau ada kesempatan untuk membalasku. " Sindir zee dengan senyum mengejek. Seolah tau isi pikiran diana ia mengatakan nya secara langsung.
Zee memukul tengkuk diana hingga wanita itu tersungkur, tangan diana yang menapak dilantai langsung di injak dengan keras.
"Aakh, sakit, sakit, kau iblis, kejam, gadis jahat, lepaskan aku. " Teriak diana kesakitan, tidak berhenti zee menarik rambut diana dan membenturkan ke lantai hingga wanita itu tidak sadarkan diri.
"Huft... " Zee merasa lelah, tenaga dan pikiran nya saat ini sangat-sangat kacau. Tubuhnya mulai bergetar, saatdarah kepala diana mengalir membasahi lantai.
Leo mendekati nona mudanya. "Nona, sebaiknya nona istirahat dulu. "
Zee hanya membalas dengan deheman karena tidak sanggup lagi untuk bicara.
Saat zee akan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar gudang, ia menoleh kebelakang menatap tajam kearah ririn. "Kau. . . Hukuman mu akan menyusul. "
Setelah mengatakan itu zee benar-benar keluar dari ruangan itu. Ririn tampak bengong seolah nyawanya baru saja melayang. Tadinya dia cukup senang karena semua orang melupakannya nya, namun dia salah, mereka bukannya lupa, tapi belum giliran nya saja.
Diluar pintu gudang daren dan daniel berdiri menunggu kedatangan zee.
Mereka langsung mendekat begitu pintu terbuka, tampak wajah zee yang pucat dan lelah. Hati daren dan daniel terasa sakit melihat kondisi zee.
Daren merangkul tubuh zee dan membawanya kedalam pelukan.
Namun hanya beberapa detik karena zee langsung mengurai pelukkan mereka.
Tanpa menoleh kearah daniel dan daren zee berkata dengan pelan. "Leo aku ingin istirahat, dan tidak ingin diganggu oleh siapa pun. "
Wajah kedua laki-laki itu berubah sendu, daren tau pasti bahwa saat ini zee tengah marah, dia pasti sedih dan kecewa atas apa yang baru saja terjadi.
'Istirahat lah nak, kamu pasti lelah, papa bangga karena kamu bisa melewati ini dengan kuat. Maaf kan kebodohan papa. "Gumam daren dalam hati, setitik embun jatuh dari kelopak matanya, segera daren menghapus dan beranjak pergi.
***
__ADS_1