
Tap.. . Tap.. Tap..
Suara langkah kaki menuruni tangga, mengalihkan atensi daniel dan abi sepenuhnya pada sosok yang berjalan dengan wajah bantal itu.
Reynard yang baru bangun tidur, mencari keberadaan kekasihnya, melihat tiga saudara itu duduk diruang tamu dengan harmonis, reynard tanpa sungkan menghampiri mereka.
Daniel dan abi menatap reynard dengan tatapan permusuhan. Laki-laki yang masih belum sepenuhnya sadar itu, tersenyum dengan wajah polos kearah daniel dan abi.
"Kak... Bro.! " Sapa reynard.
Daniel dan abi serempak membuang muka tak suka. Melihat itu reynard semakin bingung, dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
Zee berdiri dari duduknya, menyuruh reynard mencuci muka.
"Apa yang salah? " Tanya reynard saat sudah diatas motornya.
"Tidak ada yang salah, sekarang kamu pulang dulu, bukan nya nanti mommy sama daddy mau kesini? "Ucap zee tersenyum manis.
Reynard mengangguk kemudian mencium dahi zee singkat.
" Aku pulang dulu bee. "Reynard menghidupkan motornya dan melajukan keluar gerbang rumah zee.
***
Dipintu kamar zee daniel dan abi berdiri dengan bersidekap dada. Zee menatap kedua pria itu dengan tatapan penuh tanda tanya.
" Adek mau tidur siang? "Tanya daniel.
" Hemm. "
Abi membuka pintu. "Silahkan masuk. " Zee hanya diam melihat apa yang dilakukan kedua laki-laki itu.
Daniel dan abi mengandeng zee ke atas ranjang. Zee menatap abi dan daniel bergantian.
"Apa yang kalian lakukan? " Tanya zee saat melihat mereka berbaring dikasurnya.
"Lihat, belum menikah saja kamu sudah tidak adil pada kami. " Celetuk daniel.
"Katakan jangan bertele-tele. " zee memijit pelipisnya, merasa pusing dengan tingkah dua orang ini.
"Hmm itu... Kami ingin tidur disini sama kamu. " Ungkap abi pelan namun masih bisa didengar oleh gadis itu.
"Kenapa?? "
"Kenapa...? " Ucap mereka serempak. "Bocah itu kenapa bisa tidur disini, dan kami tidak? " Lanjut daniel dengan mata memerah. Zee dapat melihat sudut mata kedua orang itu berair.
Tanpa suara zee berbaring dengan kedua tangan direntangkan. "Kemarilah.! " Ucap zee menatap kedua saudara laki-lakinya itu.
Dengan cepat abi dan daniel ikut berbaring dengan lengan zee sebagai bantal mereka, keduanya menyembunyikan wajahnya dileher gadis itu. Merasa sedikit tidak nyaman dengan posisi ini, zee ingin menegur nya, namun gerakan nya terhenti ketika mendengar isakan kecil dari kedua pria itu. Zee memejamkan mata, kepalanya terasa pening, rasanya tidak sanggup jika harus menangis lagi.
Zee diam dan membiarkan daniel dan abi meluapkan isi hati mereka, gadis itu mengelus punggung mereka dengan lembut.
Beberapa menit tidak terdengar lagi suara isakan hanya dengkuran halus pertanda mereka sudah tertidur.
dengan susah payah zee menggeser tubuh besar daniel dan abi agar sedikit menjauh darinya, setelah itu zee ikut memejamkan mata menyusul dua saudaranya ke alam mimpi.
***
Sore hari saat risa dan daren sudah pulang dari kantor, daniel dan abi yang sudah bangun tidur langsung memberitahu kedua orang tuanya, tentang orang tua reynard yang akan berkunjung kerumah mereka.
Risa dengan antusias membantu ririn menyiapkan makan malam, karena mereka akan membuat menu masakan lebih banyak dari biasanya.
Dirumah mewah yang lain, tampak seorang wanita yang tidak lagi muda, namun tetap cantik di usianya yang sudah kepala empat itu. Wanita itu tampak sibuk berdandan sejak tadi, erik sang suami memperhatikan istrinya yang terus mondar mandir.
Erik menarik tangan sesil sehingga wanita itu jatuh dalam pelukannya.
"Argh.... " Teriak sesil kaget karena tiba-tiba erik menariknya.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih mas? " Sesil memukul bahu erik pelan.
"Kamu yang ngapain, dari tadi mondar mandir aku sampai pusing lihatnya. " Protes erik mecubit hidung istrinya.
"Lagian kenapa cuma dilihat sih mas, mending bantuin aku pilih baju yang cocok buat ketemu besan kita, aku nggak punya baju lagi ini mas, seharusnya tadi aku belanja dulu. " Sunggut sesil.
Erik melonggok mendengar ucapan sesil, dia melirik kearah pintu walk in closet yang terbuka, bahkan ruangan itu sudah seperti toko baju. Namun istrinya masih mengatakan nggak punya, ini akan membuat harga diri erik terluka jika ada orang lain yang mendengarnya.
"Mau pilih yang mana lagi sih mom, ini juga sudah cantik, lagian kita ini mau berkenalan saja bukan mau melamar. " Kata erik sembri memperhatikan penampilan istrinya dengan baju terusan berwarna emerald.
Sesil duduk ditepi ranjang disamping suaminya. "Ini pertama kalinya kita berkunjung kerumah besan mas, aku takut kita... " Sesil tidak melanjutkan ucapannya ketika seseorang mengetuk pintu kamar.
Tok.. . Tok.. . Tok..
Sesil berdiri dari duduknya dan berjalan membuka pintu.
Ceklek.. . .
Wanita itu terpaku melihat putra nya berdiri dengan gagah, kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku, celana panjang warna senada, satu kancing atas yang dilepas menambah kesan hot penampilannya, tidak lupa jam tangan mewah terpasang ditangan kirinya. Sesil menatap reynard dengan mata berbinar.
"Siapa sayang... " Tanya erik saat istrinya masih terdiam dipintu kamar. Tidak mendapat jawaban dari sesil, erik yang penasaran langsung berdiri dari duduknya dan memghampiri sang istri.
Erik mengerutkan keningnya saat melihat putra nya berdiri dengan kedua tangan dimasuk kan dalam saku, terlihat sangat tampan dan mempesona, namun bukan erik namanya jika mengakui itu semua.
Erik menyeringai dan menarik mundur istrinya. "Kau beruntung terlahir dari benih ku boy. " Sombong erik yang disambut dengan pukulan dilengannya oleh sesil. Sementara reynard masih berdiri diam dengan wajah datarnya.
"Daddy... " Sesil sangat malu mendengar ucapan erik.
"Benarkan, lihat ketampanan dia kan keturunan dari aku mom. " Kata erik keceplosan.
Reynard tersenyum miring. "Akhirnya daddy mengakui kalau aku lebih tampan dari daddy. " Kata reynard seraya memainkan kedua alisnya.
Erik mendegus kesal. "Bukan lebih, kamu itu hanya mewarisi sisa ketampanan daddy. Jangan sombong kamu. "
"Sudah-sudah, kalau ribut terus kapan perginya ini. " Sesil mengambil tas tangannya dan sekali lagi memeriksa penampilannya.
***
Dikamar zee, gadis itu menatap pantulannya di cermin, gaun putih sepanjang betis, dengan lengan pendek sedikit menerawang, belahan dada sedikit panjang, namun tidak sampai memperlihatkan asetnya. Riasan tipis diwajah zee menambah kesan natural, manis sekali.
Zee tersenyum puas dengan penampilannya, kemudian dia melangkah keluar kamar menuju ruang tamu, disana tampak bunda risa juga sudah tampil anggun dengan gaun biru muda sepanjang lutut, wanita itu tampak bersinar diusianya yang tak lagi muda.
Risa tersenyum melihat putrinya yang berjalan mendekat ke arahnya.
"Cantik sekali sayang. " Puji risa melihat penampilan zee.
"Bunda juga cantik, gaun itu sangat cocok untuk bunda. " Balas zee memuji risa.
Risa tersenyum malu mendapat kan pujian dari putri cantiknya itu. "Kamu bisa aja, bunda udah tua begini, mana ada cantik lagi. "
"Siapa yang bilang bunda tua, biar aku suruh abang memukulinya. " Kata zee serius yang disambut gelak tawa oleh risa.
"Bun... Tiga bapak-bapak itu belum selesai ya dandannya? " Celetuk zee.
Lagi-lagi risa tertawa mendengar ucapan gadis itu. "Kalau mereka dengar kamu panggil bapak-bapak udah pasti heboh mereka dek. "
Zee terkekeh kecil. "Lebih ribet dari kita ya bun, sibapak-bapak. "Zee dan risa sama-sama tertawa dengan guyonan kecil itu.
***
Erik dan sesil tertegun begitu mobil mereka sampai disebuah rumah mewah, sungguh ini diluar dugaan mereka.
" Sayang... Ini rumah siapa? " Tanya risa saat reynard memasukan mobil kehalaman rumah mewah itu.
"Kok mommy masih nanya! Kita tujuan nya kan kerumah mantu mommy. " Ujar reynard santai. Sesil dan erik kembali saling tatap.
Mereka bertiga turun dari mobil, reynard merasa sedikit gugup, padahal ini bukan pertama kalinya dia kesini, entah kenapa malam ini dia merasa ada yang berbeda, mungkin karena kali ini dia datang bersama orang tuanya. Maybe.
__ADS_1
Leo dengan cepat masuk kedalam rumah memberitahu nona mudanya kalau tamu mereka sudah datang.
"Nona muda, tamunya sudah datang. "
Zee dan risa berdiri dari duduknya. "Sudah datang ya, baiklah, terimakasih leo. " Zee dan risa pergi keluar menyambut tamu mereka, leo mengikutinya dari belakang.
Zee tersenyum menatap sesil yang juga tersenyum ke arahnya.
"Selamat datang dirumah kami mommy rey. " Sambut risa mencium pipi kira kanan sesil.
"Maaf ya bunda nya zee, kami datang mengganggu malam-malam begini. " Ucap sesil sambil menyodorkan sebuah kotak pada risa.
"Eh... Apa ini mommy rey. "
"Hanya sebuah cake sederhana, kata rey orang dirumah ini suka makan cake, jadi kami cuma bawa ini saja. "
"Ya ampun padahal tidak perlu repot-repot begini. "
Reynard yang berdiri disamping sesil terus menatap kekasihnya tanpa berkedip, jika biasanya zee tampak cantik tapi malam ini kecantikan gadis itu bertambah berkali-kali lipat.
" mari masuk mommy dan daddy nya rey. " Ucap risa dengan sopan.
Mereka semua berjalan masuk kedalam rumah, reynard mengaitkan kelingkingnya di jari kelingking zee ketika mereka berjalan dibelakang para orang tua mereka.
Zee menatap datar reynard yang tersenyum menggoda ke arahnya. Padahal jantung gadis itu sudah tak karuan sejak melihat reynard tadi, mempesona dan tampan. Itulah penilaian zee melihat penampilan reynard.
Semuanya sudah sampai diruang tamu, ririn menyiapkan minuman dan camilan dimeja.
"Silahkan duduk semuanya. " Ucap risa.
"Maaf apa ayah nya azeeyra belum pulang kerja. " Tanya erik yang sedari tadi tidak melihat ayah kekasih putranya itu.
"Oh itu.. . Aduh mereka ini kenapa belum keluar juga sih, maaf ya mommy dan daddy rey, saya akan panggil mereka dulu. " Risa merasa sedikit malu, karena merasa kurang sopan dalam menyambut tamu, awas saja mereka bakal risa omeli nanti.
Tap.. . Tap.. . Tap..
Langkah risa terhenti ketika mendengar langkah kaki serempak dari arah tangga. Tiga laki-laki tampan berjalan beriringan bak model profesional, semua orang diruang tamu terpana menatap para pria yang berjalan mendekat kearah mereka. Elegan dan menggoda.
Erik dan sesil menatap tanpa berkedip melihat dua sosok yang ada didepan mereka.
"Ekhem..." Daren berdehem begitu sampai diruang tamu, tenang dan berkharisma. Begitulah aura ketiga pria itu.
"Tu-tuan daren? "sapa erik yang baru tersadar dari rasa terkejutnya.
"Silahkan duduk tuan erik. " Kata daren tenang. Daren tentu sudah tau bahwa erik adalah orang tua reynard, karena dia sudah menyelidiki identitas remaja itu.
"Aduh kenapa tegang begini sih, ayo duduk dan minum tehnya. " Risa mencoba mencairkan suasana yang sedikit canggung.
Abi duduk disamping zee, daniel tanpa permisi memaksa duduk ditengah antara zee dan reynard.
"Ini benar-benar kejutan tuan erik, saya tidak menyangka bahwa anda adalah orang tua reynard. "Ucap daren bohong.
" Kami lebih terkejut lagi tuan, hahaha... Sangat tidak menyangka kalau zee adalah putri anda. "Balas erik. 'Ayah kau sudah membuat masalah besar atas keputusan mu. ' gumam erik dalam hati.
"Ini salah saya, karena putri kami terlalu berharga, jadi kami tidak mempublis identitasnya. " Ucap daren tersenyum kecut.
"Benar sekali, seorang putri dari keluarga ternama tentu harus dijaga dengan baik. "
Beberapa menit saling berbasa basi bahkan sampai membicarakan soal pekerjaan.
"Ekhem... . Pa, papa tidak lupa kan kalau ini dirumah bukan kantor. " Zee menghentikan obrolan serius daren dan erik. Saat-saat seperti ini mereka malah membahas pekerjaan. Yang benar saja.
"Iya mas, sebaiknya kita makan malam dulu. " risa menatap sesil dengan senyum ramah, sesil membalas tak kaah ramahnya.
"Ya sudah, ayo kita makan dulu tuan erik. "Ajak daren.
Hidangan mewah dengan berbagai macam menu sudah tersaji dimeja makan, semua orang sudah duduk dikursinya.
__ADS_1
Reynard mendengus kesal, karena saat dia akan duduk disamping zee, daniel dan abi lebih dulu menyeret kekasihnya itu untuk duduk bersama mereka. Reynard sadar dengan aura permusuhan dari kedua orang itu. 'Awas aja saat aku menikahi adik kalian, jangan harap kalian bisa menghalangi ku lagi, aku akan mengurungnya untuk diri ku sendiri. '