Azeeyra

Azeeyra
MONSTER YANG MENAKUTKAN


__ADS_3

Satu jam setelah pesta.


Seluruh keluarga daren dan keluarga mendiang istrinya berkumpul di ruang keluarga. Semua orang duduk disofa dengan wajah tegang.


"Bisa kamu jelaskan diana? " Daren membuka suara setelah beberapa menit terdiam.


Atensi semua orang tertuju pada wanita itu, mereka melihat diana dengan tatapan geram, bagaimana tidak, mereka merasa lelah setelah pesta dan ingin segera beristirahat, namun diana membuat ulah, yang mengakibatkan mereka harus ikut berada di ruangan yang sesak ini.


Diana tidak mengindahkan tatapan maut mereka, justru dia tetap bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa.


Sebelah alis daren terangkat. "Kau ingin cara yang lebih kasar? "


Diana yang mulai jengah menoleh ke arah daren. "Mas kenapa sih, apa yang salah dengan mua itu.? " Diana memasang wajah sedih. " Aku memang mengenalnya, tapi apa hubungannya sikap kurang ajar dia dengan aku yang meminta dia datang kesini? "


Rahang daren mengetat melihat tingkah diana yang membuatnya muak. Sudah salah masih tidak mau mengaku.


Hebat.


Sungguh tangan daren sangat gatal, ingin segera mengeksekusi wanita ini sekarang juga.


Haris kakek zee, menghela nafas dan berkata dengan pelan. "Daren, apapun kesalahan yang dibuat diana, diskusikanlah dengan baik, bagaimanapun juga kita semua adalah keluarga. "


Sejak riana putri kandung nya meninggal, diana lah yang sering menemani haris, jadi ia merasa tidak tega jika daren sampai bersikap kasar pada keponakannya itu.


Semua orang yang mendengar ucapan haris memutar matanya dengan malas.


Keluarga?


Keluarga mana yang menyakiti keluarga nya sendiri, bahkan cucu kandung.


Daren yang sudah emosi tidak peduli dengan apa yang mantan mertuanya itu katakan.


"Leo." Daren memanggil leo dengan suara yang cukup keras.


Sreeet. . .


terdengar suara langkah kaki yang diseret, semua mata fokus menatap kearah pintu, seolah menantikan sesuatu yang menarik akan muncul dari sana.


Dan yah, sesuatu yang menarik itu masuk dan membuat mulut mereka ternganga, leo pengawal azeeyra menyeret seorang wanita seperti hewan.


Bukan kah ini terlalu kejam.


Dia seorang wanita. Dan laki-laki ini menarik kedua tangannya menggunakan tali.


Sungguh mengerikan.!


Wanita yang diseret adalah dewi wanita kurang ajar yang sudah membuat zee menyentuh pisau dan memicu trauma gadis itu.


"Katakan siapa yang menyuruh mu, dan apa tujuan mu sebenarnya? " Daren menatap tajam ke arah dewi yang berlutut dilantai. Kedua tangannya di ikat dengan tali, leher dewi yang terluka akibat pisau yang digoreskan zee tadi dibiarkan terbuka, terlihat darah yang sudah mengering disana, tampaknya leo tidak berniat untuk mengobati luka wanita itu.


Ia mendongak menatap sekilas ke arah diana, kemudian diam tidak menjawab dengan kepala tertunduk.


Daniel yang sejak tadi diam menyaksikan drama singkat itu tertawa dengan keras, ia menatap papanya dengan pandangan mengejek.


"Sepertinya pesona papa sudah menurun, wanita itu bahkan tidak takut dengan tekanan yang papa berikan. " Daniel berdiri dan mendekati dewi yang masih terdiam. Namun raut wajah daren tetap sama datar dan dingin.


Daniel menarik rambut belakang dewi dengan kuat, sehingga wanita itu mendongak ke arahnya.


"Argh... Sakit, sakit, tuan muda sakit saya mohon lepaskan saya, saya hanya menjalan kan perintah. " Dewi meringgis kesakitan, kulit kepala nya terasa mau lepas.


"Katakan." Wajah daniel sangat dingin, membuat orang yang berada disana merasa merinding.


"Diana, diana tuan muda, dia yang menyuruh ku datang. " Dewi melihat diana yang melotot kearahnya, kemudian melanjutkan ucapannya. "Maaf nona diana, akan lebih baik saya di penjara dari pada disini. "

__ADS_1


Diana bangkit dari duduknya dan menghampiri dewi. "Aku memang menyuruhnya datang kesini, itu karena hasil make up nya bagus, lalu apa masalahnya? "


Benarkan, apa masaahnya dengan itu, diana melihat semua orang dan memperhatikan ekspresi wajah mereka yang tampak mulai bingung, seringai miring terbit di bibirnya.


"Mas, katakan apa yang salah dengan itu, bagaimana pun juga azeeyra adalah keponakan ku. Aku hanya ingin dia tampil cantik di pestanya? "


"Dimana barangnya? " Daren tidak memedulikan ucapan diana. Dalam pikiran nya saat ini hanya ingin segera menyingkirkan diana dalam hidupnya.


Dua pengawal berpakaian hitam masuk dengan menyeret sebuah koper kecil.


"Barangnya ada disini tuan. " Pengawal itu meletak kan koper di depan daren.


"Buka dan perlihatkan isinya. " Perintah daren, pengawal itu melakukan apa yang disuruh daren.


Setelah koper dibuka, isi dalamnya tidak ada yang mencurigakan, make up, dan beberapa alat pendukung lainnya.


Diana tersenyum dan mendekati daren. "Sebenarnya apa yang kamu cari mas? Kamu ingin pakai make up? "


Daren mendongak menatap geram kearah diana, rahangnya mengeras, sehingga terdengar bunyi gemelatuk dari gigi-giginya.


"Pftt... Aku bercanda mas, lagian kamu ini terlalu berlebihan, memangnya apa yang bisa aku lakukan. Kamu terlalu curigaan padaku. " Diana terkekeh, meski sebenarnya jantung diana berdebar karena takut, dia masih mencoba bersikap tenang.


Dalam hati, diana sangat bersyukur, untung saja dia datang terlambat tadi, jadi belum sempat memasukan bubuk gatal yang sudah ia siapkan.


Rencananya, diana ingin mempermalukan zee didepan banyak orang dengan merusak wajahnya. Bubuk obat yang dibawanya akan dicampur dengan bedak zee, obat itu akan membuat kulit gatal dan menjadi kemerahan. Tapi untunglah, meski rencana nya gagal, dia juga selamat dari amukan daren.


Smith pria paruh bayah yang tak lain adalah ayah diana, pria itu berdiri dari duduknya, "daren, entah kesalahan apa yang sudah paman buat padamu, sampai kamu mempermalukan putri ku di hadapan semua orang. "


Haris menghela nafas dan ikut berdiri, ia menepuk bahu lebar daren. "Sudah ayah katakan, bicarakan dengan baik-baik, tapi sepertinya perkataan ayah sudah tidak berguna untuk mu, yah, putri ku bukan lagi nyonya dirumah ini. "


Perkataan haris yang membuat semua orang yang ada disana menatap pria tua itu. Antonio ayah daren yang merasa tidak nyaman dengan ucapan haris ikut angkat bicara.


"Tuan haris, tidak kah perkataan anda itu menyulitkan putraku. Meski daren sudah menikah lagi, aku juga tau, dia masih menghormati kamu sebagai mertuanya. "


Haris melirik daren yang masih menatap tajam kearah dewi. "Yah, aku tau dan aku juga sangat berterimakasih, setidaknya daren ingat bahwa putriku pernah jadi istrinya, dan juga meninggalkan anak untuk nya. "


Haris kembali menepuk-nepuk bahu daren, "ayah sepertinya tidak jadi menginap disini, jangan khawatir, ayah tidak marah, justru keluarga mu yang marah pada ayah, lihat.. " Haris menunjuk kearah sofa yang diduduki, antonio, rafael juga setya bersama istri juga dua orang adik peremuan daren, marcela dan rianti.


Mereka jelas tidak suka dengan haris, sangat kentara sekali pria tua itu memojok kan saudara mereka, dan juga haris selalu memakai nama daren setiap kali ada masalah dalam urusan bisnisnya.


"Paman, ini sudah larut malam, jika paman pulang sekarang tidak kah orang-orang akan berfikiran buruk tentang kakak ku. " Rianti yang bermulut tajam tidak bisa menahan diri.


Haris terkekeh pelan dan berkata. "Tidak masalah, seperti yang kamu katakan, sekarang hari sudah larut, jadi tidak akan ada yang melihat saya keluar dari rumah ini. "


Rianti bangkit dari duduknya dan menarik tangan marcela. "Oh, benar juga, kalau begitu cepat lah pulang, sebelum hari semakin malam, angin malam tidak baik untuk kesehatan paman. "Marcela mencubit lengan adiknya itu, meski terdengar seperti perhatian tapi sebenarnya, itu adalah kalimat pengusiran secara halus.


Haris mengepalkan tinjunya mendengar ucapan adik daren kemudian tersenyum. " Baiklah, baiklah, kau memang sangat perhatian pada pria tua sepertiku. Kalau begitu, tuan antonio, saya permisi dulu. "


Antonio hanya mengangguk, daren menghela nafas berat, entah dia merasa bersalah atau sedang marah, tidak ada yang bisa menebaknya, karena raut wajah daren masih sama dingin dan datar.


Di pintu utama saat haris dan smith beserta diana akan keluar rumah, mereka bertiga berpapasan dengan zee dan abi yang baru datang dari luar.


Tatapan tidak suka yang penuh kebencian dari diana dan smith ditanggapi dengan senyuman miring oleh gadis itu.


Haris yang terlihat akan bicara mengurungkan niatnya, bagaimana ia mengatakan nya, bahkan cucunya itu tidak melihat sedikit pun kearahnya.


Setelah pesta tadi zee memang mengajak abi pergi keluar karena merasa bosan berada ditengah keramaian, ditambah ia juga diwawancarai oleh beberapa wartawan tadi.


"Bang, keluar yuk! " Zee menarik tangan abi, daniel saat itu sedang memperkenalkan abi pada rekan bisnisnya.


"Keluar kemana? " Abi mengelap keringat di kening zee. "Apa yang kamu kerjakan sampai keringatan kayak gini.? " Sambung abi lagi. Mereka saat ini sudah menjauh dari tempat pesta.


"Jangan hirau kan itu, sekarang aku ingin keluar mencari udara segar, ayo temani aku, kita keliling naik motor, pasti seru. " Ucap zee dengan wajah tersenyum penuh semangat.

__ADS_1


Abi memperhatikan penampilan zee dari atas sampai bawah. Zee mengikuti arah pandangan abi, seolah paham zee menyengir seperti kuda dan menggaruk kepalanya.


"Dua menit, tunggu aku diluar. " Zee berlari naik tangga ia akan mengganti pakaian dengan yang lebih nyaman.


"Jangan lari-lari nanti jatuh. " Abi meringgis melihat zee berlari menaiki tangga menggunakan high heels setinggi lima senti itu.


Tidak peduli teriakan abi, justru zee membuka heels nya kemudian menenteng dan kembali berlari.


Dua menit kemudian.


Zee keluar dengan pakaian lebih tertutup dan nyaman, celana Jogger hitam dipadukan kaos putih lengan panjang, rambutnya dikuncir kuda.


"Lets go. " Zee menepuk bahu abi setelah naik keatas motor.


Abi menyerahkan helm pada zee.


Setelah selesai memakai helm, abi menyalakan motornya dan melaju dengan kecepatan sedang.


Dalam perjalanan zee membuka helmnya membiarkan angin menerpa wajah dan rambutnya. Rasa sesak yang tadi dia rasakan terasa lebih ringan.


Abi memperhatikan adiknya dari spion motor, ia menghela nafas dibalik helmnya, ingin sekali ia bertanya pada zee, namun abi menyadari bahwa saat ini gadis itu tidak butuh perhatian seperti ini, dia hanya ingin tenang dan tidak ada yang mengungkit masalah yang terjadi.


Hampir satu jam berkeliling, abi mengajak zee untuk kembali kerumah, zee juga tidak menolak karena perasaan nya saat ini jauh lebih baik.


Kembali ke ruang keluarga daren.


Saat ini diruangan itu hanya tinggal daren, daniel juga leo dan dewi.


"Antarkan wanita itu kembali kerumahnya. " Ucap daren sembari memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Baik tuan. " Jawab leo, namun sebelum leo beranjak ia mengeluar sesuatu dari balik bajunya.


Leo menarik dagu dewi dan menekannya keras sehingga mulut wanita itu terbuka.


"Uhuuuk... Uhuk... " Dewi terbatuk ketika leo memasukan cairan berwarna kuning kedalam mulutnya.


"Telan, kau akan mati jika berani meludahkannya. " Ancam leo, ia semakin mengeratkan cengkramannya di rahang dewi.


Daren yang bersiap meninggalkan ruangan itu jadi terhenti.


"Apa itu.? " Daren berjalan menghampiri leo, dan mengambil alih botol itu.


"Nona muda tidak menyukai suara wanita ini. " Ucap leo singkat.


Daren mengerinyit, masih tidak paham arah bicara leo hingga tiba-tiba, dewi, wanita itu batuk dan mengeluarkan darah segar dari mulutnya.


"Aa.. Huhu... Au..nan... " Dewi mencoba bicara, namun suaranya tidak bisa keluar. Semakin ia mencoba semakin banyak darah yang keluar.


Daniel dan daren saling adu pandang, mereka tidak menyangka, leo akan melakukan hal ini hanya karena zee mengatakan tidak suka suara wanita itu.


ketekejutan daren tidak berhenti disitu saja. Ketika terdengar suara tulang yang patah.


"aaargh... Aa..ti aa.. " dewi berteriak kesakitan. Air mata dan darah mengalir menghiasi wajah gadis itu.


Daren dan daniel melihat ngeri ke arah tangan dewi yang terkulai.


"kenapa lagi? " kali ini danie yang bertanya.


"tangan itu sudah menyentuh barang pribadi nona. saya permisi tuan. " setelah mengatakan itu leo menarik dewi dengan kasar.


Daren menoleh ke arah putranya, kemudian menepuk bahu daniel. "kau menempatkan monster di sisi adikmu. "


daniel terkekeh dan mengangguk kan kepala. "papa benar, tapi monster itu sangat jinak dengan adik ku.

__ADS_1


__ADS_2