
Prang. . .
Prang. . .
Prang. . .
"Hosh... Hosh.. Bangs**t." Reynard berteriak dengan keras. Kamar nya yang tadi rapi sudah berubah seperti gudang.
Semua benda yang dilihat dilemparnya, bahkan kasurnya sudah berpindah tempat. Reynard mengamuk seperti orang stres.
jari-jari tangan reynard terluka penuh darah karena meninju dinding berulang kali, guna melampiaskan amarahnya.
Diluar kamar reynard sesil menangis dalam pelukan suaminya. Erik mengepalkan tinjunya, ini salahnya, andai dia memberitahu siapa azeeyra pada ayahnya, semua ini tidak akan terjadi. Erik pun tidak menyangka, ayahnya akan melakukan hal serendah itu.
Merasa lelah reynard duduk dilantai kamar dan membenamkan kepala dikedua lututnya.
Sejujurnya semalam setelah mendapat kabar dari abi, reynard langsung berlari kerumah sakit. Namun daniel dan leo menghalangi nya habis-habisan, bahkan sekedar melihat dari luar saja dia tidak di izinkan. Dan pagi ini dia datang lagi kerumah sakit, namun hanya pengusiran yang dia dapatkan. Apalagi pengawal yang berjaga di pintu kamar zee sudah bertambah, karena banyak nya wartawan yang datang mencari berita.
***
"Ada apa lagi kakek menyuruh ku datang kesini. " Tanya reynard, dia baru saja datang bersama erik dan sesil atas panggilan agam.
"Begitu cara mu bicara dengan kakek. " Kata agam bersuara lirih. Pria tua itu menatap jari tangan cucunya yang penuh plester.
"Rey, biarkan kakek bicara dulu, jangan pakai emosi. " Bara mencoba menenangkan keponakannya itu.
Reynard terkekeh kecil. "Apa pun yang kalian bicara kan tidak akan mengubah apa pun. " Reynard menatap dingin kakeknya. "Perasaan ku tidak akan membaik hanya karena mendengar kata maaf kakek. "
"Kakek tau kesalahan kakek, tapi itu tidak akan terjadi jika kalian tidak menyembunyikan identitas nya dari kakek. " Agam masih mencoba membela diri. Reynard semakin geram mendengarnya.
"Kakek punya kuasa untuk menyelidikinya, tapi tidak kakek lakukan karena apa? Karena kakek kaya dan berkuasa sehingga kakek merendahkan semua orang. "Suara reynard terdengar serak, tidak lagi ada bentakan atau teriakan. Dia merasa lelah, dan frustasi.
Erik membiarkan reynard melampiaskan kemarahannya, selama ini dia selalu mengajari putranya untuk bicara sopan pada orang tua, namun kali ini, perbuatan ayahnya memang sudah keterlaluan.
"Lalu kakek harus bagaimana lagi? Kakek bahkan sudah minta maaf dimedia, semua orang memaki dan menghina kakek, nama jordhan sudah hancur. "Helaan nafas berat agam hembuskan. " Kakek tau penyesalan kakek tidak berguna, namun semuanya sudah terjadi, sekarang kamu saja yang bisa membujuk anak itu, kalau tidak keluarga kita akan hancur. "Agam terus bicara tanpa menyadari mata reynard sudah menggelap menahan amarah.
Prang....
Sebuah vas bunga terbang dan hancur membentur dinding. Semua orang yang ada disana terkejut bukan main. Ini pertama kali nya mereka melihat kemarahan reynard.
" Disaat seperti ini, kakek masih memikirkan nama baik keluarga? Kakek meminta aku datang hanya untuk mengatakan ini.? "Reynard meremas rambut nya dengan kuat, mukanya merah padam karena marah. Luka dijarinya kembali berdarah.
" Aku tidak butuh nama jordhan, nama itu terlalu berat untuk aku sandang. Sekarang terserah kakek, urus sendiri perusahaan, itu bukan urusan ku. Besok aku akan berganti nama belakang. "Reynard melangkah keluar dengan perasaan kalut. Membantu perusahaan? Apanya yang mau dibantu, dia saja tidak tau bagaimana nasibnya. Entah dia masih bisa bertemu dengan kekasih nya atau tidak.
Sesil menangis sesegukkan melihat wajah putus asa putranya, sebagai seorang ibu, hatinya benar-benar hancur dan terluka. Dia tahu reynard jatuh cinta pada azeeyra. Namun dia tidak menyangka rasa itu akan sebesar dan setulus ini. Dia bahkan tidak menyadari bahwa gadis itu sudah menjadi kelemahannya.
Sesil melepaskan pelukan erik dengan kasar, ia berdiri dan menatap ayah mertuanya. "Ayah, seperti ayah yang tidak tau kesalahan ayah, hari ini aku juga tidak tau kesalahan ku. Jadi dengarkan ini baik-baik. " Sesil menarik nafas berat. "Dulu aku diam saja saat ayah memaksakan kehendak atas mas erik, tidak masalah karena dia memang putra ayah. " Sesil menggelengkan kepala cepat, air matanya
bercucuran seperti hujan.
"Apa yang ingin kau katakan? " Agam memperlihatkan wibawanya.
__ADS_1
"dia putra ku, Hari ini aku bicara sebagai seorang ibu, yang hati putranya sudah anda sakiti, berhenti mengurusi hidupnya, karena saya tidak akan membiarkan anda mengacaukan kehidupan putra ku. "
Brak...
Agam memukul meja menggunakan tongkat kayunya. "Lancang." Teriak agam dengan suara keras.
Namun sesil tidak akan menyerah. Dia harus mengeluarkan isi hatinya hari ini hingga tuntas.
Sesil menoleh ke arah suaminya. "Aku tidak meminta mas memilih
Antara kami berdua atau keluarga mas, tidak masalah jika mas ingin membantu mereka, tapi kalau mereka masih ikut campur dalam kehidupan putra ku. " Sesil tersenyum sinis. "Maka tinggalkan kami, meski tidak hidup mewah, aku sangat sanggup menghidupi putraku. "
Setelah mengatakan itu sesil menyusul putranya tanpa menoleh lagi kebelakang.
Erik tercengang mendengar ucapan istrinya, ini pertama kalinya dia melihat sesil semarah ini, istrinya adalah wanita yang lembut. Sepertinya kesabaran sesil sudah ada dibatasnya.
Erik menatap ke arah ayahnya. "Ayah, aku pergi. "
"Berhenti atau kau akan kehilangan nama belakang mu. " Agam selalu menggunakan kalimat ini untuk mengancam anak-anaknya.
Agam terkekeh kecil. "Sepertinya ayah memang sudah tua, karena ayah lupa, akan aku ingatkan, terakhir kali aku datang membicarakan perjodohan rey, hari itu juga ayah sudah membuang nama belakang ku, seperti yang istri ku bilang, jangan campuri kehidupan kami lagi. Tidak membalas ayah adalah bentuk hormat ku yang terakhir. " Erik beranjak pergi dari hadapan ayahnya.
Agam melemparkan tongkatnya. Amarahnya benar-benar sudah di puncak. "Anak durhaka, tidak berguna. Hosh... Hosh.. Kau ku besarkan dengan tangan ku sendiri, anak sia***." agam memeganggi dadanya yang terasa sesak.
"Sudah ayah, istirahat lah, kami yang akan cari solusinya. " bara meminta maid membawa ayahnya kedalam kamar.
***
Dirumah sakit, zee sedang disuapi makan oleh daniel. Gadis itu tampak sudah sehat, rona wajahnya sudah kembali cerah.
" Iya, sebentar lagi kita pulang, itu papa sama bunda lagi urus kepulangan kamu. "Daniel meletakan piring kosong di atas meja. Kemudian duduk di tepi ranjang, zee bersandar didada daniel.
" Kak... " Zee memainkan kukunya karena gugup.
"Hmm." Jawab daniel sembari mengelus rambut panjang zee.
"Itu... Hmm, apa yang terjadi dengan tuan agam. " Tanya zee dengan takut, gerakan tangan daniel terhenti. Ia menghela nafas pelan.
"Kamu jangan mikirin hal yang lain. Yang perlu kamu tau, pak tua itu masih bernafas. "Daniel menarik selimut sampai batas perut zee, sambil menepuk-nepuk pelan lengannya.
Sebenarnya zee juga ingin bertanya tentang reynard, tapi dia takut akan memancing kemarahan daniel. Entah bagaimana nasib hubungan mereka, zee takut jika keluarganya sampai memutuskan hubungan zee, tentu saja dia tidak mau. Lalu bagaimana? Dia ingin bertanya, tapi juga takut.
Suara pintu yang perlahan terbuka, mengalihkan fokus zee. Lalu bunda risa dan papa daren masuk dengan wajah full senyum.
Daren mendekati ranjang zee. "Enak banget tidur sambil pelukan dek. " Ujar daren pelan karena daniel sudah tertidur. Semalam daniel bergantian berjaga dengan abi, jadi tentu saja dia mengantuk pagi-pagi ini.
Zee menoleh dengan pelan ke arah daniel. "Kakak tidur? Pantes diam aja dari tadi. " daren dan risa terkekeh mendengarnya.
Risa sudah selesai berkemas, zee juga sudah menganti baju pasien dengan baju biasa, dengan pelan zee membangun kan daniel agar laki-laki itu tidak kaget.
"Kak, ayo bangun, kakak betah dirumah sakit, mau aku panggilkan dokter biar dipasangkan infus? " Zee menepuk pelan pipi daniel.
__ADS_1
Risa terkekeh kecil melihat cara zee membangun kan daniel.
"Sampai malam juga nggak akan bangun dek. " Ujar daren kemudian mendekati ranjang. Daren berbisik ditelinga daniel, beberapa detik mata daniel langsung terbuka lebar.
"Mana cewek seksinya? " Daniel melihat sekeliling, zee dan risa melotot mendegar ucapan daniel. Sementara daren sudah terkekeh menahan tawa.
"Hmm, bagus... Bagus ya, giliran cewek seksi langsung melek tu mata. " Ujar zee berkacak pinggang menatap daniel kesal.
Daniel menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa sih dek, tadi kakak merasa dapat bisikan kalbu dari surga. Bukan cewek seksi. "
Zee mencibir kemudian menarik tangan risa keluar kamar.
"Dek, kok kakak ditinggal sih. " Daniel turun dari ranjang dengan tergesa-gesa, kemudian berlari kecil menyusul adiknya.
****
Hari berlalu begitu cepat sudah satu minggu zee tidak datang kesekolah, dan selama itu pula dia tidak bertemu reynard juga tidak berkomunikasi sama sekali, karena ponselnya disita oleh daren. Rasa rindu sudah menumpuk dihati zee, rasa-rasanya ia ingin menangis, ingin tau kabar laki-laki itu, apa dia baik-baik saja? Apa dia makan dengan teratur? Dada zee rasanya sakit, bersusah payah ia menarik nafas agar sesak itu sedikit hilang.
Zee masuk kamar mandi dan menguyur kepalanya dengan air dingin, berharap bisa meredakan sedikit sakit kepalanya, dan benar saja begitu air membasahi rambutnya, kepalanya terasa lebih ringan dan juga segar.
Sepuluh menit zee sudah selesai mandi dan berpakaian, ia duduk bersandar di kepala tempat tidur.
Bunyi pintu diketuk dari luar, kemudian kenop pintu diputar.
Ceklek....
Karen muncul bersama siska dengan mata berkaca-kaca. Zee melihat mereka dengan senyum manisnya.
Kedua gadis itu berlari dan menghambur kedalam pelukan zee. mereka menangis seseguk kan. "Ada apa? Kenapa menangis? " Tanya zee dengan lembut.
Mendengar pertanyaan itu bukannya berhenti tangis mereka malah semakin keras.
Selang beberapa menit, akhirnya siska dan karen sudah lebih tenang. Mereka sudah pindah duduk di area balkon.
"Kamu sudah baikan? " Tanya karen setelah lama terdiam.
Zee mengangguk. "Mm.. Sudah. "
"Kita kangen banget sama kamu. " Ujar siska dengan suara pelan karena satu tetes air mata sudah lolos dipipinya.
Zee menatap kedua temannya itu, bukan teman lagi rupanya, tapi sahabat nya itu dengan tatapan lembut. "Terimakasih, aku beruntung punya sahabat kayak kalian. " Zee menyentuh kedua tangan sahabatnya. Mereka sama-sama tersenyum dengan tulus.
Setelah banyak bercerita dengan kedua sahabatnya zee menatap lurus ke arah kebun belakang rumahnya, sorot matanya yang penuh luka membuat karen dan siska menjadi tidak tega.
Karen menyodorkan kan ponselnya. "Ambil ini. Dan hubungi dia! "
Zee terdiam, ia menatap ponsel karen dengan ragu, mendengar cerita mereka yang mengatakan reynard tidak datang kesekolah semenjak kejadian itu, zee benar-benar merasa khawatir. Dengan ragu zee mengambil ponsel di tangan karen.
Dengan tangan gemetar zee mendial nomor ponsel reynard. Baru saja nada nya tersambung, suara berat daniel membuat zee terkejut hingga ponsel ditangannya terlepas, untung saja siska dengan cepat menangkapnya.
"Ngapain dek?. " Daniel menghampiri adiknya. "Ayo ajak teman mu makan siang dulu. "
__ADS_1
Zee mengangguk pelan dan mengajak siska juga karen makan siang bersama.
***