Azeeyra

Azeeyra
KEDATANGAN PELAKOR


__ADS_3

Pagi ini erik sudah ada dirumah besar jordhan, lebih tepatnya. Rumah orang tua erik.


"ada apa kamu pagi-pagi sudah kesini? "tanya agam ayah erik.


" ini masalah perjodohan rey dan anak keluarga alexander itu."jawab erik.


"apa masalahnya, biar ayah yang mengurus semuanya. Kau dan sesil hanya perlu hadir di pesta pertunangan mereka nanti. "kata agam santai sambil menyesap secangkir teh hangat.


" ayah...reynard sudah dewasa, dia bisa memilih pendamping nya sendiri. "ucap erik lagi.


Agam menyeringai dan berkata."aku tau dia punya pacar, ambar sudah menceritakan pada ayah, seorang gadis yang tidak jelas asal usulnya, sikapnya juga tidak sopan." sarkas agam, membuat erik terdiam.


Erik mengerutkan keningnya. Tidak jelas asal usulnya? Bagaimana mungkin! Jelas-jelas erik melihat sendiri gadis itu dirawat di kamar presidentsuit dirumah sakit besar dijakarta. Sewaktu dirumah sakit memang erik dan sesil tidak bertemu dengan daren atau pun daniel, dia hanya melihat risa sebagai bundanya gadis itu.


"apa ayah menyelidiki gadis itu? "


"tidak perlu, buang-buang waktu saja. "


"ayah, mereka saling mencintai, biarlah reynard memilih kehidupannya sendiri. "ucap erik kembali meyakinkan agam.


Brak...


Agam mengebrak meja dengan kuat. Agam pria yang tidak suka dibantah. " kau berani menentang ayah!, kau sudah merasa berkuasa? Keputusan ayah sudah bulat, jika reynard memaksa, ayah akan menyingkirkan gadis itu. "tegas agam dengan marah.


Erik terkekeh tak percaya. "ayah, dulu ayah memaksa keinginan ayah terhadap ku, tidak masalah karena aku adalah putra ayah. Tapi kali ini tidak ayah, aku juga sama seperti ayah. aku daddy nya, aku ingin kebahagian untuk putraku. jika dia menemukan orang yang tepat untuknya maka aku akan mendukungnya. Itu keputusan ku sebagai seorang ayah. "ucap erik tegas, masih terbayang di matanya bagaimana putus asanya reynard melihat gadis itu terbaring dirumah sakit. Sebagai ayah dia sangat sedih dan terpukul. Dia tidak akan membiarkan puteranya menangis seperti itu lagi.


Ptak...


Agam memukul lengan erik kuat dengan tongkat kayu miliknya. Pria itu tidak menghindar. dia tahu sudah membuat ayahnya marah.


" beraninya kau anak kurang ajar. Bisa apa kau tanpa nama jordhan? Kau pikir orang-orang akan melihatmu jika berpijak di kaki mu sendiri? "ucap agam merendahkan.


erik bangkit dari duduk nya, dia menatap ayahnya dengan mantap dan berkata. " aku tidak akan tinggal diam jika ayah menyakiti gadis itu. "


Setelah mengatakan itu erik meninggalkan agam yang ternganga tak percaya dengan sikap erik yang bisanya patuh itu. Pria tua itu menepuk dadanya yang terasa sesak.


.


.


.


.


Di rumah sakit zee sedang menjalani terapi pada kakinya, zee mencoba berjalan, peluh sudah membasahi keningnya, namun zee tetap masih semangat, dengan tertatih-tatih dia berjalan bolak balik, tidak terdengar suara merengek, atau meringgis kesakitan, namun wajah zee yang memucat bisa menjelaskan rasa sakit yang dia tahan.


"sudah sayang, jangan terlalu di paksakan. Ini juga tidak baik, takutnya malah tambah parah. " daren menghentikan langkah zee, kemudian mengendongnya ke atas kursi roda.


risa yang selalu mendampingi zee dirumah sakit memberikan sebotol minuman pada gadis itu. Zee menerimanya dan meminum hingga tandas.


"pah, kapan adek bisa pulang, udah ngak betah di rumah sakit. Kangen tidur dikamar. " zee merengek manja pada daren. Daren dan risa terkekeh melihat bibir zee mengerucut, terlihat sangat menggemaskan.


"nanti papa tanya dokter dulu, kalau dokter sudah mengizin kan adek pulang, kalau belum terpaksa harus menginap lagi disini. "daren berkata sambil tersenyum.


"hmm." jawab zee dengan cemberut.


"adek mau ketaman, biar bunda temani. " usul risa yang sudah mendorong kursi roda zee. Zee menggangguk pelan.

__ADS_1


"ya sudah adek sama bunda dulu, papa mau ketemu klien sebentar. " daren mengecup kening risa dan zee bergantian, kemudian meninggalkan dua wanita kesayangannya itu.


*****


Ditaman zee dan risa duduk menatap orang-orang yang berlalu lalang. Beberapa menit mereka hanya diam menikmati ketenangan.


Zee memejamkan mata menghirup udara segar dari bunga yang bermekaran. "bun... " panggil zee dengan mata yang masih tertutup.


risa menoleh kearah zee. "hmm, ada apa sayang! Kamu butuh sesuatu? Kamu lapar? Atau ada yang sakit?. " tanya risa tidak sabar.


Zee terkekeh mendengar banyaknya pertanyaan risa. "aku jawab yang mana dulu ini! " tanya zee dengan senyum mengembang dibibirnya.


Risa tersenyum kikuk. "maafin bunda ya sayang, sepertinya bunda terlalu cerewet. " ucap risa dengan wajah sedih.


"kenapa bunda minta maaf, sudah seharusnya seorang ibu cerewet pada anak gadisnya. Apalagi gadis nakal seperti aku. " ucap zee tertawa kecil.


Risa ikut tertawa bukan mendengar ucapan dari putrinya itu, tapi karena melihat tawanya yang tulus tanpa beban.


"makasih ya anak gadis bunda! Jadi adek siap-siap aja kena omelan bunda setiap hari. " risa mencubit pipi zee gemes. Kemudian menciumnya bertubi-tubi. Zee terkikik merasa geli.


"hem.. Hemm. " suara deheman sesorang menghentikan tawa mereka, zee menoleh kearah sumber suara, wajahnya yang tadi tersenyum langsung berubah datar.


"kok berhenti ketawanya? Ketawa lagi dong, bahagia banget ya jadi cacat. " kata seorang perempuan didepan zee dan risa.


zee menghela nafas pelan. "tante ada apa kesini? " tanya zee malas, wanita yang di depan zee adalah diana.


diana melirik risa sekilas, lalu kembali menatap ke arah zee. "mas daren mana? " tanya nya dengan dagu terangkat.


Zee dan risa mengerutkan kening mereka, melihat wajah sombong diana.


"tuh... Istri papa, tanya istrinya dong. " zee menunjuk kearah risa.


"ya ampun tante, yang sopan dong sama bunda aku, tante panggil papa dengan sebutan mas, jadi panggil bunda itu mbak, dong. " protes zee sengaja sekali memancing kemarahan diana.


"kamu itu kenapa sih, ngak suka sekali sama tante. Tinggal jawab aja pakai drama segala. " sewot diana, emosinya selalu meledak melihat wajah zee yang begitu mirip dengan riana.


"loh tante ini aneh banget, dari awal juga tante yang judes duluan, lagian sejak kapan aku suka sama tante. " ujar zee masih santai.


Diana tampak semakin kesal mendengar ucapan zee. " kenapa ngak mati aja sih! Hidup juga nyusahin aja! " ucap diana kesal dengan mata memerah.


"kenapa anda menyumpahi putri saya. menyusahkan dari mana, memangnya anda yang mengurus nya?" teriak Risa yang turut emosi mendengar ucapan diana yang menurutnya sudah sangat keterlaluan.


" siapa putri anda, dia cuma anak tiri anda kalau anda lupa. Dia ini anak pembawa sial. Mungkin anda tidak tau, tapi saya pernah mengendong nya waktu kecil. "jelas diana dengan sinis.


Zee tertawa sinis dan berkata." jadi sebenarnya apa tujuan tante yang pernah mengendong ku waktu kecil ini kesini. "sindir zee dengan menekan sedikit kalimat akhirnya dengan wajah meremehkan.


Diana mendengus kesal. " aku mau ketemu mas daren. "ucap nya masih dengan wajah sombong.


zee menoleh ke arah risa. " bunda papa kemana? "tanya zee pelan.


" papa kamu tadi katanya pergi ketemu klien. "jawab risa tersenyum, ia mengelus rambut zee dengan sayang. Zee menatap diana dengan satu alis terangkat keatas.


" cih... Menjij****."diana melengos pergi dengan wajah kesal.


Zee dan risa menatap kepergian diana dengan perasaan yang sulit diartikan.


"bunda harus hati-hati sama tante diana! " ucap zee menatap risa serius.

__ADS_1


"kenapa? "


"sepertinya tante diana suka sama papa, aura pelakor nya sangat kentara sekali." jawab zee. risa mengangguk pelan dengan terkekeh kecil. Dia pun menyadarinya, sudah beberapa kali risa melihat diana menghubung daren selama mereka di paris. Bahkan wanita itu mengirim foto pap berbaju seksi juga, beruntung daren tidak pernah mengubrisnya.


Risa mendorong kursi roda zee kembali kekamar karena gadis itu sudah mengantuk, terbukti dia sudah menguap beberapa kali.


...****************...


Disebuah restoran mewah bintang lima dijakarta' Niels Resto', daren baru saja masuk kerestoran itu menemui salah satu calon klien nya.


Seorang laki-laki paruh baya seumuran daren langsung berdiri dari duduk nya begitu melihat kedatangan daren. pria itu tersenyum sangat ramah.


"selamat siang tuan daren. " pria itu menyalami daren, daren mengangguk dengan wajah datar khas miliknya.


"maaf saya datang terlambat tuan dimas! " daren menarik kursi dan langsung duduk.


"tidak...tidak masalah tuan, anda orang yang sibuk, bisa meluangkan waktu berharga anda untuk menemui saya adalah sebuah kehormatan bagi saya tuan. "puji dimas tersenyum canggung.


"oh... benarkah? " ujar daren datar.


"benar tuan, mungkin anda sudah sering makan disini, tapi anda sendiri pasti tau kalau restoran milik putra anda adalah yang terbaik di indonesia, jadi anda tidak keberatan kan kalau kita makan disini?" ucap dimas yang masih menyelipkan pujian disetiap kalimatnya.


Daren mengangguk dan tertawa kecil. "sayang sekali anak nakal itu tidak pernah mengundang saya datang ke restorannya, jadi saya sangat senang jika ada klien yang mengajak bertemu disini. " ucap daren masih dengan wajah datarnya.


Dimas tertawa malu dengan sikap sok tau nya. Untung saja pelayan datang mengantar pesanan nya tepat waktu.


"sebaiknya kita menikmati makanan ini dulu tuan. " kata dimas sopan.


"ya, sebaiknya memang begitu. " balas daren.


Bicara dengan daren memang harus bersabar, dia selalu bersikap datar jika bertemu orang lain selain keuarga kecilnya. Setelah beberapa menit, akhirnya mereka selesai menikmati makan siangnya.


" saya ingin lihat proposal yang anda buat tuan dimas? " tanya daren dengan kaki di silang, kedua tangannya terpaut dibawah dagunya .


"hah... I-iya tuan, tentu saja. " dimas terkejut melihat perubahan sikap daren, aura pemimpinnya terasa mendominasi. Dimas mengakui, daren adalah seorang pengusaha yang sangat berwibawa, kharismanya membuat orang yang melihatnya merasa tertekan.


Dimas menyerahkan sebuah map pada daren, jangan tanya bagaimana jantungnya saat ini, jantung nya berdebar dengan sangat kuat.


Daren tampak mengangguk kepala pelan.


"saya akan membawa nya dulu, tidak masalah kan? " ucap daren setelah membacanya sekilas.


"iya silahkan tuan. " ucap dimas tersenyum tipis.


"baik lah, tuan dimas, untuk kabar selanjutnya asisten saya akan menghubungi anda nanti. " daren menyalami dimas. Kemudian daren melanjutkan. "saya harus segera pergi karena ada urusan lain."


"iya-iya, terimakasih tuan daren, saya tunggu kabar baiknya. " ucap dimas.


Daren keluar dari restoran, dimas menarik nafas lega, sesaat dia merasa kehabisan oksigen, meski begitu dia cukup puas dengan pertemuan hari ini, dia sangat optimis, daren pasti akan menerima proposalnya.


"pa....sudah selesai pertemuannya. " suara seorang gadis menyadarkan dimas dari lamunannya.


Dimas mendekati gadis itu dan berkata. "sudah, tante ambarnya mana? "


"gak jadi ketemunya, tante ambr bilang disuruh kerumah kakek agam besok buat makan malam. "


"oh ya sudah, kamu pergilah kesalon, beli baju baru juga, harus tampil cantik besok. "

__ADS_1


Dua orang ayah anak itu berceloteh sambil berjalan keluar restoran. Kemudian masuk kedalam mobil dan melajukan mobil dengan kecepatan sedang.


__ADS_2