
Setengah berlari reynard mendekati abi dan zee.
"Minggir kau. "Ucap reynard. Sambil memejamkan matanya sesaat agar emosinya tidak meledak.
Terlalu sulit bagi reynard menerima kenyataan bahwa zee memiliki dua kakak laki-laki, hatinya benar-benar tidak bisa mengakui kenyataan itu.
Abi yang diteriaki reynard mengeraskan rahangnya. Dia merasa geram melihat kelakuan reynard yang tidak tau situasi.
"Jangan berteriak, adik ku sedang tidur bangsaat. " Ucap abi tak kalah kesalnya.
Belum lagi menikah, beraninya reynard memonopoli adiknya. Abi tidak akan mengalah selagi status mereka masih pacaran. Sebagai kakak tentu saja dia lebih berhak, tidak sanggup rasanya abi membayangkan jika nanti zee jadi istri reynard, entah dia masih bisa melihat adiknya ini atau tidak.
Perlahan, reynard membuka matanya yang terpejam. Hatinya mulai tenang melihat zee tidur dengan pulas.
"Kau itu bisa nggak jangan berlebihan kayak gini. "Ujar abi lagi. Perkataan abi barusan, kembali menyulut amarah reynard.
"Kenapa zee tidur di paha kau brengseek. "Gumam reynard pelan. Agar zee tidak terbangun. Padahal meski mereka paduan suara pun zee tidak akan terbangun, karena memang jika gadis itu sudah tertidur , seberisik apa pun dia tidak akan terbangun, karena memang dia punya alarm nya sendiri.
"Justru kau yang brengseek, belum apa-apa kau sudah membawa adik ku tidur dikamar mu. "Abi tampak sangat kesal. Ia siap bertarung kalau diperlukan. Abi tidak peduli dan tidak takut dengan keganasan reynard.
Suara abi yang cukup keras menghentikan aksi jambak-jambakan saka dan denis. Mereka berdua menghampiri abi. Seno juga sudah siap siaga jika terjadi pertarungan diantara dua laki-laki kulkas itu.
"Kau belum punya hak apa pun atas adik ku. " Ucap abi kemudian dengan suara tegas.
Reaksi reynard tampak linglung, seolah terpukul keras akan kenyataan bahwa dia hanyalah kekasih zee bukan suaminya. Benar kata abi hak apa yang dia punya? Tapi bukan reynard namanya kalau peduli akan hal itu.
Lebih dari lima menit suasana diruang tamu masih hening dan mencekam. Hingga suara seorang pria berperawakan besar terdengar di luar pintu.
"Permisi tuan muda, pesanan gofood nya sudah sampai. "Ucap pria itu. "Ini mau ditaruh dimana tuan. " Tambahnya lagi ketika tidak mendapat jawaban.
Siska dan karen yang dari tadi terdiam akhirnya membuka suara. " Bawa kesini pak. "Sahut karen. Ia mendekati pria berseragam hitam yang ditaksir karen adalah pengawal dirumah reynard.
Pria itu menyerahkan bungkusan yang lumayan berat pada karen. " Ini nona muda. "Ia menyerahkan pada karen. " Kalau begitu saya permisi. "Sahutnya kemudian berpamitan dengan sopan.
Karen berblik melihat semua orang diruang tamu satu persatu, tidakada yang bersuara. Sementara reynard mata lelaki itu masih memandangi zee yang tidur dipaha abi.
Seno berdehem mencoba memecah keheningan. " Ekhem. . . guys gimana kalau kita makan dulu . "Ucap seno kemudian beralih pada abi. " Bangunin nona azeey bro, waktu makan siang udah lewat banget ini. "Sambung nya lagi.
Reynard yang tidak setuju untuk membangunkan zee hendak melayangkan protes. Tepat saat reynard akan berbicara, zee terbangun dari tidurnya. Alis gadis itu berkerut saat melihat reynard berdiri dengan wajah yang tidak ramah.
"Eungh. . . aku ketiduran. " Ucap zee seraya mengucek mata berkali-kali.
"Ada apa ini, kenapa suasananya terasa agak. . . " Zee tidak melanjutkan kalimatnya, ia memperhatikan reynard dan abi bergantian. Terlihat dua lelaki tampan itu saling melayangkan tatapan sengit.
__ADS_1
"Wait. . . apa aku sudah melewat kan sesuatu. " Tanya zee. "Oh, makanannya sudah datang? " Tanya zee kemudian saat ia mengalihkan pandangan kearah siska dan karen, ia melihat tangan karen memeganggi kantong besar dengan merek rumah makan padang.
Zee bangkit dari duduknya dan menghampiri karen, ia bahkan melupakan apa yang dia katakan sebelumnya.
"Kok aku nggak dibangunin sih, ini udah lewat jam makan siang loh. " Protes zee pada siska dan karen.
"Baru juga mau dibangunin, lagian makanan nya juga baru nyampe. " Jelas siska yang sudah mulai merasa aman lagi karena zee sudah terbangun.
"Ya udah makan yuk laper nih. "Ajak zee sambil menarik tangan karen. Baru tiga langkah, zee berhenti berjalan kemudian menoleh kebelakang.
Zee melihat lima lelaki dibelangnya satu-satu. " Kalian nggak laper?nggak ikut makan? Kita habis makan langsung cabut, kalau lambat, kalian bakal kita tinggal. "Ucap zee kemudian berbalik badan dan kembali menarik tangan karen.
Tinggal lah lima remaja laki-laki itu diruang tamu.
Seno yang sejak tadi menyaksikan keributan non faedah dua orang itu menghela nafas panjang. " Kalian ini sebenarnya ngeributin apaan sih? "Tanya reno yang bersiap menyusul anak-anak cewek. " Orang yang kalian ributin santai aja, malah cuek banget, sementara kalian udah kayak kebakaran jenggot. Bukannya dapat perhatian yang ada kalian dapat omelan nanti. "Lanjut seno kemudian beranjak dan berlalu pergi.
" Tungguin ege. "Teriak saka dan denis kompak. Mereka berlari mengejar seno, mana mau mereka berada satu ruangan dengan dua kulkas itu, bisa-bisa mereka mati membeku.
Di gazebo samping mansion reynard.
Zee dan siska juga karen membuka bungkusan nasi. Dan bersiap menikmati makan siangnya.
" Btw, itu dua kulkas ngapain sih tadi? "Tanya zee seraya menuang kuah gulai kedalam nasi.
" Biasa adu bacot. "Jawab siska cepat.
" Elah, cowok kalau udah bucin plus cemburu buta, kosa kata apa sih yang dia nggak tau. "Cetus siska lagi, sambik memasukan sepotong ayam kecap kedalam nasinya.
Karen, gadis itu hanya diam menikmati makan siang yang sudah tidak siang, karena memang sekarang sudah pukul tiga itu dengan lahap.
" Cemburu sama siapa?"tanya zee sambil mengunyah makanan. "Jangan bilang sama abi? " Zee menjawab pertanyaan nya sendiri karena sudah bisa ditebak juga, lagi pula siapa lagi yang di cemburui reynard karena memang tadi dia tidur dipaha abi.
"Tuc kau jaw-ab sendili. " Ucap siska dengan mulut penuh nasi.
Zee geleng-geleng kepala mengingat kelakuan reynard yang terkadang bikin naik darah.
"Hei. . . enak banget makan sendiri. " Teriak saka. Suaranya yang besar tepat di belakang siska, mengangetkan tiga gadis yang sedang menikmati makan siang mereka, siska sampai tersedak saking kagetnya.
"Uhuuk. . uhuk. . uhuk. . . " Siska terbatuk sampai matanya memerah, hidunya bahkan sampai berair.
Saka menepuk punggung siska pelan. "Sorry, sorry, gue nggak sengaja. "
"Gila lo sak, ini bisa bahaya loh, kalau sampai anak gadis orang pingsan gimana? " Ujar seno seraya memberikan minum pada siska.
__ADS_1
Siska bangkit dari duduknya ia memencet hidungnya, matanya berair mungkin ada nasi yang masuk kedalam hidungnya sehingga jadi perih.
"Nggak ada otaknya kau sak. Kalau sampai siska koid karena tersedak tadi gimana? " Ucap denis yang mulai mengompori.
"Nggak usah ngadi-ngadi kau. " Saka duduk disamping seno namun matanya masih memperhatikan siska .
Keributan itu berhenti sejenak, karena kedatangan abi dan reynard.
Semua yang ada disana tercengang melihat wajah kedua lelaki itu. Bukan terpesona karena ketampanan mereka tapi karena wajah mereka yang lebam seperti habis berkelahi.
"Wow, lukisan yang bagus. " Celetuk denis melihat pipi kiri abi yang merah ke unguan. Sementara reynard sudut bibirnya robek ada bekas darah yang masih basah disana.
Reynard dan abi hanya diam saja. Zee menatap mereka bergantian. Kemudian mengangguk kan kepala.
"Udah puas? Hatinya udah tenang? Bagus!, sekarang makan, kalau nggak mau kasih ke pengawal sana. " Ucap zee dengan ketus.
Pantas aja lama keluarnya, zee nggak kepikiran mereka sampai berkelahi begini. Kalau dipikir-pikir alasan mereka sampai seperti ini karena dia, malah membuat zee merasa kesal.
Tidak memedulikan dua orang itu lagi, zee kembali menikmati makanan nya tanpa menoleh sedikit pun pada abi dan reynard.
Melihat wajah kesal zee abi dan reynard akhirnya mengambil nasi bungkus dan siap memakannya. Saka dan denis juga seno juga mulai memakan nasi mereka.
Saat asik menikmati makan siang yang sudah telat itu. Leo datang dengan wajah datar nya.
Zee melirik sekilas kearah leo yang sudah berdiri tak jauh darinya, kemudian melanjutkan makannya.
"Sis, ini makanan lo nggak jadi dimakan, gue minta maaf sumpah gue nggak bermaksud ngagetin lo tadi. " Lirih saka tulus. Nada suaranya penuh rasa bersalah.
"Nggak usah, udah nggak mood. " Jawab siska yang masih berjongkok di samping gazebo. Gadis itu tidak menyadari kedatangan leo, karena memang posisinya saat ini membelakangi mereka. Leo melirik siska dari sudut matanya, ia dapat melihat hidung siska berair dan mata gadis itu memerah.
"Masih perih? " Tanya zee yang sudah berdiri disamping siska. Ia memberika tisu untuk me-lap hidung siska.
"Thanks, udah mendingan kok. " Jawab siska sambil menyeka hidungnya dengan tisu.
"Ya udah, aku mau pergi, kalian ikut aku atau mau langsung pulang? "
"Ikut, kita rencana nya mau nginap dirumah lo, kalau boleh sih. " Bukan siska yang menjawab melainkan karen.
Siska berdiri dan merengangkan tubuhnya sebentar. Begitu membalik kan tubuhnya mata bertemu dengan mata tajam milik leo, namun hanya sebentar karena leo langsung memalingkan mukanya.
"Sstt. . . " Siska memanggil zee, kemudian berbisik pelan. "Sejak kapan datangnya? " Tanya siska menunjuk kearah leo.
"Lumayan dari tadi sih. " Jawab zee santai.
__ADS_1
Hah. Mata siska membola mendengar ucapan zee. Memalukan, jadi leo dari tadi melihat dia berjongkok dan mendengar siska yang membuang ingus dengan suara yang cukup erotis. Ya ampun mau dibuang kemana ini muka, sumpah siska malu banget, ia bahkan nggak berani menatap leo lagi.
* * *