Azeeyra

Azeeyra
TIDAK SUKA SUARA NYA


__ADS_3

Mobil yang dikendarai leo memasuki halaman rumah, kening zee berkerut melihat pemandangan tak biasa yang ada didepannya.


Halaman samping rumah yang penuh dekorasi bunga, dan banyaknya maid berlalu lalang membawa banyak makanan.


Banyak mobil mewah terparkir dihalaman rumah. Beberapa mobil itu ada yang zee kenali, tiga mobil mewah itu, milik kakeknya antonio, dan rafael serta mobil om setya kakak laki-laki papa daren.


Dengan tatapan bingung zee berkata pada leo. "Ada acara apa leo? "


Leo melirik sekilas nona mudanya, kemudian berkata dengan pelan. "Acara perkenalan. "


"Siapa? "


"Putri aksara. "


Leo, mendapat kan berita ini dari gerald, jadi dia tidak akan terlihat seperti orang yang tidak berguna jika zee bertanya.


Putri aksara?


Kening zee tampak semakin berkerut, acara serius seperti ini, kenapa papa dan kakaknya tidak memberitahu nya.


Kabar tentang daren dan daniel yang sudah berbaikan dengan putri bungsunya itu memang sudah tersebar di keluarga aksara, dan sebagai keluarga yang saling mendukung, antonio dan anak cucunya ikut hadir dan menerima keputusan daren dengan membiarkan khalayak umum mengetahui tentang azeeyra sebagai putri kandungnya.


Saat tiba, mereka langsung berkumpul di ruang keluarga, para pria membahas hal yang menimpa zee belakangan ini. Sementara yang wanita ada yang membantu bunda risa menyiap kan pesta dadakan itu.


Zee turun dari mobil, ia berjalan dengan diam, sesekali ia memperhatikan setiap sudut rumah yang sudah dihiasi.


Begitu sampai di ruang tamu, tempat itu sudah ramai oleh para sepupu dan keponakannya.


Zee menarik nafas dalam. "Leo, aku benar-benar tidak suka pesta. "


Leo menoleh keseliling yang sudah dipenuhi dekorasi, "nona bisa istirahat sebentar, acaranya dimulai pukul 8 malam. "


Leo paham karakter nona mudanya yang tidak suka keramaian, zee tidak suka pesta, sebagai seseorang yang pernah menjadi introvert, acara seperti ini seperti sebuah penyikasan untuknya.


"Ya kamu benar, aku akan istirahat, dan jangan biarkan siapa pun mengganggu ku. "


Leo menatap punggung zee, kemudian mengangguk. "Baik nona saya akan berjaga di pintu. "


Zee tidak bicara lagi, perasaan tak nyaman membuat nya malas untuk bicara.


***


Saat waktu menunjuk kan pukul 8 malam, risa mendatangi kamar zee dengan sebuah paper bag ditangannya, dibelakang risa seorang wanita cantik berdiri sambil membawa sebuah koper kecil.


Leo yang duduk sambil berjaga di pintu kamar zee langsung berdiri. "Ada apa nyonya? "


"Panggilkan zee, acaranya akan dimulai. " Ucap risa yang terlihat cantik dengan balutan gaun ditubuhnya.


Leo mengangguk, kemudian mengetuk pintu beberapa kali.


"Nona muda, sudah waktunya anda turun. " Leo sedikit berteriak.


Zee yang masih berbring dikamarnya berdiri dengan malas.


Suara kenop pintu diputar mengalihkan atensi orang yang berada diluar.


Ceklek. . .


Risa menoleh dan mendapati zee baru bangun tidur dengan wajah kusut.


"Ya ampun sayang, kamu belum mandi. " Risa menarik tangan zee masuk kedalam kamar.


"Emang nya kenapa bun.? "Zee mencoba pura-pura tidak tahu, ia masih merasa jengkel, padahal pesta ini dibuat untuknya, tapi dia malah tidak tau apa-apa.


" Loh, kok masih nanya sih sayang, kamu lupa ya, ini kan acara pengenalan kamu sebagai putri keluarga aksara. "


Zee mendengus, kemudian kembali berbaring dikasur. "Lupa apanya, aku bahkan tidak tau apapun. "

__ADS_1


Wajah risa tampak terkejut. "Ha, yang benar? Masa papa lupa kasih tau kamu sih. "


Zee tidak menghiraukan ucapan bunda risa, ia menarik selimut sampai kepala kemudian memejamkan mata berniat kembali tidur, bodoh amat dengan pesta itu, biarkan saja mereka berpesta sendiri.


Lagi pula, suasana hatinya tidak begitu baik setelah pulang dari rumah reynard tadi.


"sayang kok tidur lagi, ini mua nya udah nunggu buat dandani kamu loh. "


"Aku ngantuk dan mau tidur bun, bunda pergi aja dulu, nanti aku.... " Ucapan zee terpotong karena suara wanita disamping risa .


"Biar saya yang membantu nona muda bersiap. " Sela seorang wanita dengan suara lembut.


Risa terdiam sejenak, beraninya wanita muda ini memotong kalimat zee.


Risa semakin dibuat bungkam ketika dengan lancangnya, wanita muda itu menarik selimut zee.


"Ayo nona, jangan sampai terlambat dan mempermalukan tuan daren dihadapan koleganya. " Sambungnya dengan suara yang sangat ramah.


Zee mendongak dan menoleh ke arah mua yang dibawa risa.


"Dari mana bunda memungut wanita ini? " Zee bertanya pada risa, namun matanya menatap tajam ke arah wanita yang masih memenganggi selimutnya.


"Dewi, kamu keluar lah dulu. " Risa menarik tangan dewi, agar wanita itu tersadar dengan apa yang sudah dia lakukan.


Dewi tertawa kecil kemudian berkata. "Ya ampun, nona ternyata suka bercanda ya. Saya tidak di pungut nona, tapi nyonya risa sendiri yang menyewa saya untuk mendandani nona. "


Tidak memedulikan tatapan maut zee, dia terus menarik selimut kemudian melipatnya.


Setelah selesai ia menepuk-nepuk kedua tangannya, ia menatap zee dengan senyum mengembang di bibirnya. "Sekarang ayo bangun nona muda. Apa saya perlu memandikan nona muda juga? "


Risa yang mulai geram dengan sikap lancang dewi langsung menarik kasar tangannya.


"Apa yang kau lakukan, tugas mu hanya mendandani nya saja, jangan melewati batas. "Ucap risa tangannya mencengkram lengan dewi dengan kuat.


" Maafkan kelancangan saya nyonya, tapi saya tidak masalah kalau harus membantu nona muda azeeyra berkemas, bukannya pesta sudah dimulai. "Ujar dewi meringgis karena lengannya terasa sakit.


Risa menatap bingung ke arah zee, sedetik kemudian wajahnya berubah pucat pasi, saat mendengar zee menyebut nama leo.


Laki-laki berbadan kekar itu masuk dengan wajah dingin. Risa meneguk ludahnya susah payah, tubuhnya sedikit gemetar, ingatannya kembali mengingat percakapan daniel dan leo di rumah sakit tempo hari.


Zee yang melihat ketakutan bunda risa mengelus lengannya dengan pelan. "Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa, bunda keluarlah.


Risa mengangguk dengan tubuh kaku ia berjalan keluar seperti robot. Ia melirik dewi sekilas, wanita itu tersenyum manis ke arahnya.


Kau masih tertawa disaat jalan menuju neraka ada didepan mu.


Sungguh wanita pemberani.


Risa bergumam sendiri didalam hati kemudian menghilang dibalik pintu.


Zee bangkit dari duduknya, matanya fokus menatap kearah dewi. "Leo, buang selimut diatas ranjang dan ganti dengan yang baru. "


"Selimutnya bisa dicuci jika kotor, tidak perlu sampai dibuang. " dewi kembali menyela ucapan zee, sembari mengambil selimut diatas ranjang.


Suara tawa zee menggema diruang kamar, terdengar sedikit mengerikan, seperti tawa bahagia seorang psikopat yang menemukan mangsanya.


Dewi bergidik ngeri, wajah sumrigah tadi menghilang dan berubah jadi kaku.


"Leo, aku benci sekali mendengar suara lembut dan ramah wanita ini. Tidak cocok dengan wajah penjilat sepertinya. "


Wajah dewi berubah jadi masam, ia tidak terima dengan apa yang di ucapkan gadis muda didepannya ini.


"Nona, jika nona berfikir saya menjilat nona, agar mendapat perhatian dari tuan daren itu salah besar, saya bekerja dengan profesional. "


Zee meraih i pad yang disodorkan leo, ia duduk dengan sebelah kaki ditekuk.


"Dewi anggraini, saat ini berusia 34 tahun, seorang yatim piatu, yang di besar kan di panti asuhan karena di usir dari rumah oleh bibi kandungnya sebab ketahuan menjadi simpanan suaminya. Di pecat dari perusahaan dengan tidak hormat, karena mencoba menggoda atasan nya. " Zee berhenti sejenak, kemudian melirik wajah dewi yang sudah memucat.

__ADS_1


Bibir dewi bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu, namun ia tercekat dan tidak bisa bersuara.


"Tertangkap basah sedang berduaan dengan seorang pria beristri di sebuah hotel. Dan terancam di laporkan istri sah. Lalu kenapa kau, bisa ada disini? Bukankah harusnya di penjara? " Zee menyerahkan kembali i pad ditangannya pada leo.


"Nona, i-i itu masalah pribadi saya, tidak ada hubungannya dengan pekerjaan saya hari ini. " Dewi berusaha untuk tetap tenang, walau tidak di pungkiri tangannya sedikit gemetar.


"Siapa bilang tidak ada hubungannya, apa kakek smith orang yang baik? "


Pertanyaan zee yang ini membuat mata dewi membulat, tubuhnya membeku, hanya bola matanya yang bergerak kesana kemari.


Smith adalah ayahnya diana, dan pria beristri yang tertangkap basah dengan dewi itu adalah tuan smith. Dari kabarnya istri kakek smith melaporkan dewi kepolisi, tapi sekarang dewi ada didepan zee saat ini.


Zee berdiri dari duduknya dan menghampiri dewi, saat tangan nya menegadah, leo meletak kan pisau kecil di telapak tangannya.


Zee menganggkat dagu dewi dengan sebilah pisau tajam. "Katakan, siapa yang menyuruh mu? "


Dewi meneguk ludah kasar, jantungnya kembang kempis karena takut. "Tidak ada, maksudku, nyonya risa yang mengundang ku nona. "


Zee mengorek kupingnya dengan jari kelingking. "Aku benar -benar tidak suka suaramu. "


"Katakan atau pisau ini akan menancap dileher mu? " Tatapan zee berubah semakin menakutkan. Leo memasangkan sebuah masker putih menutupi hidung dan mulut zee.


Tubuh dewi bergetar saat merasakan goresan pisau menyayat leher nya. Darah kental mengalir membasahi kulitnya.


"Di-dia diana nona, dia yang menyuruh ku. "


Bruk. . .


Tubuh dewi terbentur ke tembok ketika zee mendorongnya dengan kuat.


Nafas zee mulai tersengal begitu melihat tetesan darah dileher dewi.


Leo yang melihat gelagat nona mudanya yang tidak baik, segera membawa dewi keluar dari kamar.


***


Tubuh zee bergetar ia menatap tangannya yang baru saja melukai dewi, pertama kali dalam hidup nya dia melukai orang lain.


Dalam mimpinya pun ia tidak pernah berharap menggunakan benda tajam untuk menyakiti seseorang.


Zee menghela nafas panjang, tidak, dia harus melawan rasa takut ini kalau tidak, trauma ini akan jadi kelemahannya. Dan akan merepotkan kalau ada pihak musuh yang mengetahuinya.


Suara kenop pintu diputar dan dibuka dari luar, zee tidak mengalihkan pandangannya, matanya terus menatap tangannya yang bergetar.


Langkah kaki seseorang mendekat dan memeluk tubuh zee yang bergetar.


"Maaf, maafkan papa sayang, maaf. "Daren terus mengatakan hal itu.


Daren langsung bergegas ke kamar zee saat leo memberitahunya tentang apa yang terjadi kamar putrinya.


"Pa... Ak-aku, pisau...baru saja melukai, ak.. "Tubuh zee kembali bergetar hebat, air matanya mengucur deras. Bicara pun tidak jelas.


Daren mengeratkan pelukannya pada zee. " Tidak apa sayang tenang lah, dia pantas mendapatkannya, dan dia masih hidup, kamu tidak membunuh, jangan takut, ada papa disini. "


Daren melepaskan pelukannya saat risa datang. "Jaga zee sebentar, aku akan meminta daren membubarkan pestanya. "


Sebelum daren beranjak, tangan zee lebih dulu menahannya.


"Jangan, tidak pa, aku... Aku akan segera bersiap. "


Daren menatap wajah zee kemudian berjongkok didepan nya.


"Tidak apa-apa sayang, tidak ada kerugian apa pun jika pesta ini dibatalkan, jangan memaksakan diri. "


Zee menggeleng, semua orang sudah bersusah payah menyiapkan pesta ini, dan juga orang-orang yang hadir atas undangn papanya, zee tidak mau mengecewakan mereka.


***

__ADS_1


__ADS_2