
Sebuah mobil hitam mewah memasuki gerbang Sma aksara. Seperti biasa kehebohan dan kericuhan akan terjadi jika mereka melihat sesuatu yang menarik bagi mereka.
Ketika Leo keluar dari mobil dengan wajah datarnya, suara teriakan para siswi menggema di area parkir.
Zee yang menyadari sumber kehebohan itu tersenyum tipis melihat ke arah leo yang tampak cuek dan tidak terpengaruh sedikit pun.
"Leo."
Leo menoleh . "Ya nona muda. "
"Kamu sudah membuat kehebohan pagi-pagi gini. "
Leo mengerinyit tak paham dengan apa yang dimaksud oleh nona mudanya. Ia melihat ke arah zee.
Zee menaik kan satu alis. "Jangan hanya menunduk, lihat sekitar mu. "
Leo akhirnya paham apa maksud kehebohan dari nona mudanya itu, sudah banyak murid perempuan yang berdiri berkerumun di area parkir memperhatikan mereka, ralat memperhatikan leo maksudnya.
"aku kalau punya pengawal tampan gitu, langsung gue pacarin sih. "
"Beruntung banget jadi azeeyra, dia di kelilingi cowo-cowok tampan. Gue iri deh. "
"aku pengen elus rahangnya boleh nggak sih. "
"Hahaha... Belum juga kau elus tangan kau udah patah. Hahaa. "
"badan nya kekar jadi pengen meluk nggak sih, pengen lihat perut kotak-kotaknya. "
" lihat jari nya yang gede itu, bikin aku basah. "Celetukan yang satu ini sukses membuat leo mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk. Bukannya takut ditatap tajam leo, mereka malah semakin histeris. Anak cewek jaman sekarang emang anti mainstream, yang jadi incerannya bukan cowok baik-baik lagi, tapi yang dingin dan datar, sebelum kenal cuek pas dekat bucin. Makin nakal, makin di gilai. Haha.
"Pftttt... Hahaaha. " Zee tertawa sambil menutup mulut melihat wajah masam leo.
"Kamu idola anak Sma leo. " Ledek zee masih cekikan.
"Maaf kan saya nona. "
Zee hanya tersenyum melihat leo yang kembali menunduk.
Tak berselang lama siska juga sudah datang, ia segera menghampiri zee begitu turun dari mobil.
"Tumben lo masih disini, nungguin siapa? " Tanya siska yang sudah berdiri disamping zee.
"Nggak nungguin siapa-siapa. Gue juga baru datang kok. Yuk. " Zee mengandeng tangan siska mengajak nya masuk kelas bersama.
Baru dua langkah, kaki siska berhenti berjalan matanya membulat menatap keberadaan leo.
"Wait... Oh my good. " Siska menatap leo dari atas sampai bawah dengan mulut ternganga.
"Mingkem." Zee mencubit lengan siska yang terpana seperti orang bodoh.
"Ssttt... " Siska mengkode zee dengan matanya.
"Bodyguard gue. "Jawab zee yang paham dengan lirikan mata siska, namanya juga besty kan, bisa bicara hanya dengan tatapan mata.
"Wow." Siska memandang leo dengan mata berbinar.
Zee tergelak melihat wajah leo, terlihat sekali pria itu tak nyaman ditatap se intens itu oleh siska.
"Berapa? "
"Ha? Apanya yang berapa? "
"Nilai, bukannya lo lagi menilai penampilan bodyguar gue" Zee melirik siska dengan senyum miring.
"Bintang 5, kalau angka 10, fix suami idaman gue. " Ucap siska malu-malu.
"Ish... Ngak cocok lo jadi cewek genit. " Zee menarik lengan siska menjauh dari parkiran.
Leo kembali kedalam mobil dengan menghela nafas berat, bisa-bisa nya seorang bodyguard seperti leo jadi idola anak Sma, kalau sampai sepupunya gerald tau, sudah pasti dia akan mengejek leo habis-habisan.
Sampai didepan kelas siska dan zee sudah ditunggu karen.
"Loh, kok bisa barengan. "Tanya karen.
" Yah bisa dong alen. "Jawab siska.
" Curang ih, kok kalian ngak ngajak gue . "Kata karen cemberut.
"Curang apa sih, kita ketemunya diparkiran, bukan berangkat barengan. " Kali ini zee yang menjawab sambil mencubit pipi karen, gadis itu cengegesan dengan senyum pepsodent.
__ADS_1
Zee duduk di kursinya, saat akan merebahkan kepalanya dimeja ponselnya berbunyi.
Triing... Tring...
["Kenapa? ]
["Nona muda..... "]
[" Hmm, nanti saja saat dirumah, jangan sampai ada yang tau. "]
Zee mematikan ponselnya dan menyimpan kedalam saku rok nya.
" Ada apa?"tanya karen saat melihat raut muka zee yang langsung berubah setelah menerima telpon tadi.
"Ngak ada apa-apa kok. " Jawab zee.
***
Bel istirahat sudah berbunyi. Seperti biasa, kantin akan dipadati oleh para siswa siswi yang seperti zombi kelaparan. Begitu juga zee dan kedua temannya, saat ini sedang menikmati makan siangnya.
"Eh... Itu para cowok pada kemana tumben banget bolos, barengan lagi. " Celetuk siska pelan sambil mengaduk-aduk kuah bakso.
"Nggak tau. " Jawab zee cuek.
"Lo gimana sih, masa reynard nggak ngabarin lo. "Kali ini karen yang bicara setelah meletak kan ponselnya di atas meja.
"Kita itu masih ditahap pacaran, nggak semua kegiatan harus dilapor, gue juga nggak nyaman kalau terlalu di posesifin dengan hal-hal seperti itu. "Ujar zee yang baru saja menghabiskan sepiring nasi goreng.
" Wah, hebat juga lo ya, jarang banget loh jaman sekarang pacaran yang nggak nuntut ini itu. "Puji karen .
Triiing... Tring..
Ponsel zee kembali berbunyi, kali ini dari bunda risa.
" ["Halo bun. "]
" [Sayang, abang kamu masuk sekolah nggak? bunda telpon dari tadi nggak di angkat-angkat, kata satpam semalam abang nggak pulang. "]
Suara risa terdengar khawatir, zee terdiam sejenak, tidak biasanya abi seperti ini, tidak pulang kerumah juga tidak ngasih kabar. Apa terjadi sesuatu, bahkan reynard juga tidak ada kabar dan mereka berlima kompak nggak sekolah. Zee mulai merasa khawatir.
["Dek... Adek dengar bunda nggak. "] Bunda risa memanggil zee beberapa kali.
Zee menghela nafas semoga saja memang benar mereka ada dimarkas.
[" Ya udah sayang, hati-hati ya, jangan lupa kabarin bunda. "]
[" Iya bun. "]
Setelahnya sambungan telepon terputus. Karen dan siska memandangnya dengan tatapan bertanya.
" Abang gue nggak pulang dari semalam, terus bunda telponin nggak dianggkat, nggak tau dia dimana sekarang. "Gerutu zee sedikit kesal.
Karen meletakkan sendoknya, tidak berniat lagi memakan nasi gorengnya, ia mendadak merasa kenyang mendengar kabar abi tidak pulang kerumah. Eh? Apa karen khawatir? .
Zee mengetik kan sesuatu diponsel, kemudian menyimpan didalam saku roknya.
" Nanti gue ke markas dragon, mau cek mungkin mereka ada disana. "Ujar zee kemudian berdiri dari duduknya.
" Gue ikut. "Timpal karen dan siska, mereka bertiga berjalan keluar kantin.
****
Sepulang sekolah, seperti rencananya tadi, tiga orang gadis itu saat ini berada dalam mobil zee menuju ke markas dragon.
" Leo, kamu udah tau dimana markas dragon? "Tanya zee pada leo, karena zee belum pernah pergi kesana jadilah ia menyuruh leo untuk mencari tau.
" Sudah nona. "Jawab leo yang masih fokus menyetir mobil.
Selama perjalanan menuju markas dragon mereka lebih banyak diam, sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
Begitu sampai di markas dragon, leo dengan cepat turun dan membukakan pintu mobil nona mudanya.
"Gue juga mau dibukain pintunya dong. " Pinta siska pada leo dengan senyum manis.
Leo hanya diam tidak menanggapi.
Siska mendengus melihat zee dan karen menahan tawa.
Zee dan kedua teman nya berjalan masuk kedalam markas, tempat itu tampak sepi seperti tidak ada penghuni. Leo menunggu dipintu luar markas.
__ADS_1
Begitu masuk zee melihat ruangan itu sedikit berantakan, oh tidak, bukan sedikit berantakan, tapi benar-benar berantakan.
"Waduh, apa tempat ini habis kemalingan? Kenapa berantakan gini? "Tanya siska melongok melihat kondisi markas yang berantakan. Botol minuman, bungkus rokok, kulit kacang berserakan dimana-mana. Juga ada beberapa dus kotak pizza yang sudah kosong.
Apa mungkin mereka habis berpesta? Jangan-jangan mereka salah tempat. Masa cowok-cowok tampan kayak mereka markas nya kotor gini.
Zee berdiri dengan santai sambil terus memperhatikan sekitar ruangan itu.
"Halooo... Apa ada orang. " Teriak siska. "Semoga saja ada yang dengar, mereka juga bingung karena markas ini tampak sepi, mau masuk lagi agak takut juga, mana tau ada apa didalam sana.
Brak...
Terdengar bunyi suara jatuh yang cukup keras dari dalam ruangan yang sepertinya sebuah kamar.
" Hallo, ada orang tidak. "Siska kembali berteriak, kali ini suaranya cukup keras.
Tak lama sesorang keluar dari sebuah ruangan, dia menatap tajam kearah zee dan kedua temannya. Laki-laki itu berjalan mendekati mereka.
Laki-laki itu memperhatikan zee dari atas sampai bawah.
" Turun kan pandangan lo, atau gue congkel mata lo yang kurang ajar itu. "Ujar zee dingin dan datar.
Laki-laki itu terkesiap mendengar suara zee. Sedetik kemudian dia mengumpat dalam hati, baru teringat dengan gadis yang ada didepannya itu, dia adalah kekasih bosnya. Ia pernah bertemu zee sekali dalam acara balapan waktu itu. Jadi tidak begitu ingat.
Laki-laki itu menunduk kan kepalanya. "Maaf maaf maaf, gue nggak bermaksud kurang ajar. "
Zee tidak menanggapi permintaan maaf laki-laki yang sepertinya salah satu anggota dragon itu.
"Dimana abi. " Tanya zee masih dengan wajah dingin.
Laki-laki itu menunjuk ke atas tangga. "Abi dilantai atas, ada lima kamar disana, pintu warna coklat kamar abi, yang putih kamar bos. " Laki-laki itu juga memberitahu kamar reynard tanpa zee minta, siapa tau zee juga mencari reynard, laki-laki itu juga sedikit bingung setaunya gadis itu kekasih bosnya kenapa malah mencari abi. Tidak mau ambil pusing dia kembali kedalam ruangan tadi.
"Kita tunggu diluar aja ya, nggak apa-apa kan lo naik sendiri? " Tanya siska yang merasa nggak enak kalau ikut masuk kedalam.
"Hmmm."
Perlahan zee naik tangga berjalan dengan pelan.
Begitu sampai dilantai dua, zee melihat ada lima kamar, seperti yang dikatakan laki-laki tadi zee melangkah ke pintu berwarna coklat.
Ceklek....
"Ckckck... Sepertinya dia bersenang -senang semalam, ha... Nikmat banget hidup lo ya. "Ucap zee menyeringai.
Bau alkohol yang cukup menyengat memenuhi ruangan itu, zee mendekat keranjang dimana abi tertidur seperti orang pingsan.
Zee mengambil baju abi yang tergeletak dilantai dan melemparnya tepat diwajah abangnya itu.
Yah seperti orang pingsan, abi tidak terusik sama sekali. Zee mendorong abi dengan kaki hingga laki-laki itu terjatuh dari ranjang.
Braakk...
" Bangs**."umpat abi meringis mengelus pantatnya yang mungkin terasa sakit. Zee menatap abi tanpa rasa bersalah gadis itu malah tersenyum puas, adik lacknat.
Abi yang masih belum menyadari keberadaan zee, ingin kembali naik keranjang, hingga suara dingin seorang gadis menyadarkannya.
"Minumannya masih ada nggak?
" Oh sh**"umpat abi lagi, sedetik kemudian matanya melotot menatap zee yang berdiri dengan tangan berlipat didada.
"Dek... " Abi berdiri ingin menghampiri zee.
"Stop, jangan mendekat. " Zee memasang wajah kesal.
"Udah dewasa ya, umur berapa? Abis berapa botol? Hebat banget sampai nggak pulang, bolos sekolah, nggak kasih kabar! Berbuat sesuka hati kayak nggak punya keluarga. " Zee mengomeli abi yang terdiam dengan kepala menunduk.
"Cepat pakai baju dan pulang. " Titah zee seperti emak-emak yang memarahi anaknya. Dengan patuh abi mengambil baju dan memakainya.
"Abang mandi dulu boleh nggak dek, badan abang lengket dan gerah. " Pinta abi memelas.
"Nggak usah banyak drama, mandi dirumah aja. "Balas zee berdecak malas.
Abi berjalan ke arah zee. " Dek kepala abang pusing. "Keluh abi memengangi kepalanya.
"Nggak usah ngeluh, siapa yang suruh minum, kemauan sendiri kan, jadi jangan banyak alasan ayok pulang, kita lanjutkan dirumah. "Ketus zee sembari berjalan keluar kamar diikuti abi.
Abi melirik kamar reynard, senyum jahat terukir di bibirnya. " Dek, rey minum lebih banyak dari abang. "Adu abi yang ingin menghasut adiknya agar memarahi reynard.
Zee menatap nyalang ke arah abi, ia sudah menduganya, tapi zee tidak mau menemui reynard, ia takut tidak bisa menahan amarahnya.
__ADS_1
" Abang mau pulang nggak sih, perut aku sakit dan masih maksain diri buat datang kesini, tau nggak bunda khawatir dari semalam. Abang masih aja banyak alasan. "Kali ini zee sudah menangis, dia sendiri juga bingung kenapa sampai sedih begini, mungkin karena hormon datang bulannya.