Baby Twins Ku

Baby Twins Ku
Hamil


__ADS_3

Pagi yang begitu cerah sebelum Aera sampai ke kantor, Aksa lebih dulu sampai dan sudah duduk di kursi kebesaran Nevan untuk mengerjakan beberapa berkas, Aera pun membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.


"Pagi tuan Aksa?". sapa Aera kepada Aksa lalu berjalan menuju ke mejanya.


"Iya pagi nona cantik". Aksa yang kembali menyapa Aera.


Aera sudah duduk di kursi, sudah menatap pada komputer mulai mengerjakan pekerjaannya, namun saat Aera mengetik komputer, Aksa sedikit melirik pada wajah cantik Aera yang terlihat pucat, dan tidak bersemangat.


"Nona cantik apakah anda sudah sarapan, kenapa wajahmu pucat sekali?". tanya Aksa pada Aera.


"Sudah tuan, saya hanya kurang tidur saja". jawab Aera yang melihat Aksa.


"Jangan terlalu memikirkan Nevan, 2 hari lagi Nevan akan pulang". ucap Nevan yang mengejek Aera.


"Ahh tidak tuan, saya tidak memikirkan pak Nevan". Aera yang tersenyum tipis.


"Minta lah teh hangat kepada putri nona, biar badanmu terasa hangat". Aksa yang kuwatir kepada Aera.


"Iya tuan". jawab Aera.


Aera pun menelfon salah satu karyawan untuk meminta teh hangat, dan tidak lama teh hangat pun sudah datang, Aera sedikit demi sedikit menyerutup teh hangat di depannya.


Aera melanjutkan mengerjakan pekerjaannya, namun saat membaca beberapa laporan dari Aksa yang dikirim dari komputer, Aera merasa mual dan pusing, dari pagi Aera sudah merasakan tidak enak badan dan ingin muntah, lalu Aera pun berlari menuju toilet di dalam ruangan, dan tiba-tiba


Hoekk.. Hoekk.. Hoekk..


Aera yang sudah memuntahkan semua isi perutnya.


Aksa yang melihat Aera berlari menuju toilet dan mendengar Aera muntah-muntah sontak Aksa pun berlari mendekat masuk ke dalam toilet.


"Nona cantik apa anda baik-baik saja, sepertinya anda sakit, biar ku antar ke rumah sakit?". ucap Nevan yang takut melihat keadaan Aera.


"Tidak tuan saya baik-baik saja, ini hanya masuk angin biasa". Aera yang sudah berjalan akan keluar dari toilet, namun saat jalan beberapa langkah Aera pun pingsan, Aksa yang melihat Aera akan jatuh, langsung menangkap badan Aera dengan cepat.


"Nona, bangun nona!". Aksa yang menepuk pelan pada pipi Aera.


"Nona bangunlah!". ucap Aksa lagi yang semakin khawatir dengan kondisi Aera segera mengkat tubuh mungilnya untuk membawa ke rumah sakit.


Aksa yang sudah membawa Aera ke rumah sakit dengan mobilnya sudah sampai di depan rumah sakit, Aera belum juga sadarkan diri, tenaga medis sudah membawa Aera masuk ke suatu ruangan, dan Aksa duduk menunggu di depan ruangan.

__ADS_1


"Ada apa dengan nona cantik, kenapa dia tiba-tiba sakit dan pingsan". ucap Aksa pelan pada dirinya sendiri.


Filipina


Nevan yang baru saja sampai di hotel,


baru pulang dari pertemuan dengan om burhan, dan beberapa orang penting dari teman papanya, Nevan pun merebahkan dirinya nya ke ranjang, menatap pada langit-langit kamarnya.


"Kenapa aku sangat merindukan Aera ya, apa dia sedang bekerja, apa Aksa masih menggodanya, coba aku telfon saja si pria tua brengsek itu".


Nevan pun mengambil ponselnya di atas meja untuk menghubungi Aksa.


Tut.. Tut.. Tut.. telfon pun sudah tersambung.


"Hallo, ada apa". ucap Aksa di dalam telfon.


"Kau sedang apa?". tanya Nevan pada Aksa.


"Aku sedang di rumah sakit". jawab Aksa.


"Siapa yang sakit, apakah Ayahmu?". Tanya Nevan lagi.


"Apa Aera sakit! bagaimana keadaannya?".


"Dia belum juga sadarkan diri, ya sudah ku matikan dulu sepertinya dokter akan keluar".


Tut.. Tut.. telfon pun sudah di matikan oleh Aksa.


Nevan yang mendengar perkataan Aksa pun ikut kuwatir terhadap kondisi Aera. "Dia muntah-muntah, dan ini sudah 1 bulan lebih setelah kejadian malam itu, apa Aera hamil, ah tidak mungkin, paling hanya masuk angin biasa". ucap Nevan pada dirinya sendiri.


Lalu Nevan pun mengerjakan beberapa tugasnya di Filipina secara cepat, karena Nevan memutuskan untuk pulang ke jakarta besuk pagi.


Jakarta


Dokter dan beberapa suster yang memeriksa Aera sudah keluar dari ruangan Aera di rawat.


"Dok bagaimana ke adaan nona Aera?". tanya Aksa pada dokter Febby.


"Mari ikut saya pak, kita bisa bicarakan di ruangan saya". dokter febby yang sudah berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Aksa.

__ADS_1


Aksa yang sudah masuk ke dalam ruangan dokter Febby, dan duduk di depan dokter yang terlihat masih muda dan cantik.


"Bapak tidak perlu kuwatir atas kondisi ibu Aera, dan sebelumnya selamat pak, Ibu Aera sedang mengandung". ucap dokter febby yang menjelaskan pada Aksa.


Aksa yang mendengar perkataan dokter febby pun sontak terkejut. "Apa Hamil?". tanya aksa yang masih tidak percaya.


"Iya, selamat ya pak, kandungan ibu Aera masih berumur 3 minggu". ucap dokter febby lagi.


Aksa yang sudah keluar dari ruangan dokter febby dan masih duduk di depan ruangan Aera bergelut dengan fikirannya sendiri.


"Bukanya Aera belum menikah, bahkan setau aku dia masih gadis, tapi kenapa sudah hamil". ucap Aksa pelan.


Aksa pun memutuskan untuk masuk menemui Aera yang sudah siuman di dalam ruangan, dan mendekat pada Aera.


"Bagaimana kondisimu nona, apa sudah membaik?". tanya Aksa yang masih berdiri di samping Aera.


"Iya tuan sudah lumayan, tapi saya sakit apa ya, hanya masuk angin biasa bukan?". tanya Aera pada Aksa yang sudah membawa kertas di tangannya.


"Saya akan memberikan kertas ini, tapi janji nona jangan terkejut"


"Iya tuan". jawab Aera.


Aksa pun memberikan kertas kepada Aera, dan Aera sudah membuka kertas tersebut.


"Apa aku benar-benar hamil". Aera yang sudah menitihkan air matanya.


"Siapa yang telah melakukan ini kepadamu nona, aku akan menghajarnya hingga gepeng seperti ikan asin".Ucap aksa yang tidak luput dari bercanda nya.


"Saya tidak akan memberitahu tuan, saya takut".


"Kamu tidak perlu takut, katakan saja padaku nona siapa yang melakukan ini kepadamu, katakan laki-laki mana yang menghamilimu!". Aksa yang entah merasa sangat marah.


"Pak Nevan". ucap Aera pelan dan kembali menitihkan air matanya.


"Nevan? si tua berengsek itu!". tanya Aksa.


"Iya tuan". Aera yang semakin menangis harus menerima situasi seperti ini.


Aksa yang mengetahui Nevan yang menghamili Aera sontak terkejut, dan semakin tidak percaya.

__ADS_1


"Bedabah, apa yang dia lakukan sungguh memalukan sekali pria itu!". Aksa yang sudah memeluk tubuh mungil Aera.


__ADS_2