
Setelah Nevan menghantarkan Clarisa pagi-pagi kerumah sakit untuk periksa dan kembali menghantarkankan Clarisa untuk pulang, Nevan pun segera kembali ke kantor, waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi, Nevan sudah sampai di depan kantor untuk segera melaksanakan rapat bersama direksi perusahaan besar di kota jakarta, Nevan sudah menyibukkan diri di ruangan bersama klien-klien nya.
Aera yang baru saja sampai di perusahaan suaminya melangkahkan kakinya dengan lebar-lebar, sudah melewati koridor-koridor kantor dengan langkah cepatnya, tatapan Aera nyalang sampai beberapa orang yang memberi hormat kepadanya tidak di respon, Aera sudah masuk kedalam lift, tidak lama pintu lift pun sudah terbuka, Aera segera berjalan menuju ke ruangan Nevan, namun saat ingin masuk Aera melihat lagi sekretaris Nevan yaitu sesil.
"Sesil". panggil Aera dengan wajah yang sangat datar.
"Ehh ibu Aera, selamat pagi buk?". sapa sesil pada istri Nevan.
"Apa suami saya tidak masuk kerja lagi, kemana dia?". tanya Aera.
"Owh pak Nevan? pak Nevan sedang ada rapat buk di sana". Sesil yang menunjuk pada ruangan dengan pintu kaca yang sangat besar, memperlihatkan wajah Nevan dengan beberapa laki-laki sedang mengobrol kan suatu yang serius.
Aera yang langsung menoleh pada suatu ruangan dan melihat suaminya ada di kantor merasa sangat lega, ternyata fikiran jelek yang ada di dalam fikiran Aera salah.
"Buk Aera kalau mau bertemu dengan pak Nevan, ibu bisa menunggu di dalam ruangan pak Nevan saja buk". ucap Sesil.
Aera yang mendengar ucapan sesil sontak langsung menoleh pada Sesil." Ahh tidak sesil, kalau begitu saya langsung pamit saja, karena suami saya sedang sibuk, saya permisi dulu ya". Aera yaang sudah melangkahkan kakinya.
"Iya buk, Hati-hati". jawab Sesil sambil menggaruk rambutnya karena merasa bingung oleh sikap Aera.
Aera sudah kembali keluar dari kantor Nevan, sudah masuk ke dalam mobil, dan sudah menyenderkan badannya pada kursi mobil yang masih terparkir.
"Astaga Aera, apa yang kamu lakukan, kenapa kamu mencurigai suami sendiri, tidak mungkin Nevan berbuat yang tidak-tidak, kau sangat memalukan". grutu Aera yang masih di dalam mobil.
Aera sudah kembali melajukan mobilnya untuk menjemput anak-anaknya dan kembali untuk pulang, karena melihat langit yang begitu gelap, takut akan segera turun hujan, setelah hampir 1 jam Aera sudah sampai di rumahnya sendiri dengan membawa Abi dan Ara, yang di antar oleh sopir pribadi mama Serli, Aera sudah masuk ke dalam rumah dengan di bantu oleh bik ina karena Abi dan Ara sudah tertidur dengan pulas.
Hari yang semakin sore, Aera yang masih sibuk di dapur sedang memotong cumi-cumi untuk hidangan makan malam.
"Nona Aera?". panggil bik ina pada majikannya.
"Iya bik ina, apa Abi dan Ara bangun?". ucap Aera yang menoleh pada ARTnya.
"Tidak nona, itu kenapa nona yang memasak, biar saya saja nona".
"Tidak apa-apa bik, saya sudah lama tidak memasakkan suami saya semenjak ada bik ina". jelas Aera sambil tersenyum tipis.
"Apa nona Aera tidak apa-apa ?". Tanya bik ina.
"Tidak apa-apa bik, lebih baik bibik jaga Abi dan Ara saja, biarkan saya yang menyelesaikan masakan ini". ucap Aera lagi.
"Baiklah nona". Bik ina pun berjalan pergi meninggalkan Aera di dapur.
Waktu semakin berjalan maju, hari yang terang sudah berganti menjadi gelap, setelah Area memasak dan membersihkan diri, Aera sudah menunggu Nevan di kamar, dan tidak lama pintu kamar pun terbuka.
Ceklak
"Hay sayang, hay anak-anak daddy". sapa Nevan dengan nada yang sangat tinggi.
"Sutttttt". Aera yang berjalan mendekat dan sudah menutup mulut Nevan. "Pelan kan suaramu sayang nanti Abi dan Ara bangun, mereka sudah tidur dengan pulas". ucap Aera.
__ADS_1
"Ehh iya sayang, maaf ke ceplosan". ucap Nevan sambil tersenyum.
"Sayang apa kamu sudah makan?". Tanya Aera yang masih menatap pada suaminya.
"Sudah sayang, tadi sebelum pulang aku makan dulu bersama klien ku". jawab Nevan.
"Aaaa, tadi aku sudah memasakkan cumi-cumi pedas kesukaanmu, tapi kamu sudah makan ya sudahlah". ucap Aera yang sedikit kecewa.
"Apa kamu yang memasak sayang?". Tanya Nevan.
"He'em". Aera yang menggelengkan kepalannya pelan.
"Wah istriku yang memasak, baiklah nanti aku akan makan habis selesai mandi".
"Apa kamu mau makan sayang?".
"Tentu saja, aku ingin menikmati masakan dari istri tercintaku?". ucap Nevan sambil mencubit pipi istrinya, dan Aera hanya tersenyum malu.
Setelah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, Nevan sudah duduk bersama Aera di meja makan, mereka berdua masih berbincang-bincang bersama, sambil menyantap masakan Aera, namun saat masih mengobrol ponsel Nevan pun berdering.
Drett.. Drett.. Drett.. Sontak membuat Aera dan Nevan memberhentikan makannya.
"Bentar ya sayang ada telfon, kamu lanjut saja dulu makannya". ucap Nevan yang sudah berdiri dan sedikit menjauh pada Aera.
Nevan pun sudah mengakat telfon nya.
"Van, aku mau minum obat, tapi belum makan, apa kamu bisa datang ke apartemen ku sebentar untuk membelikan ku bubur?". ucap Clarisa di dalam telfon.
"Pesan online saja". ucap Nevan lagi.
"Aku tidak bisa bangun van?". ucap Clarisa yang berpura-pura bernada serak.
"Baiklah aku akan segera kesana, tapi hanya sebentar".
"Iya van, terimakasih". Dan telfon pun sudah terputus.
Aera yang melihat Nevan mengangkat telfon menjauh dan sangat pelan merasa sangat aneh."Siapa yang telfon sayang?". tanya Aera pada Nevan.
"Ini sayang rekan bisnisku yang ada di Filipina katanya pulang ke jakarta, sudah sampai di bandara dan aku di suruh untuk menjemputnya". Ucap Nevan kembali berbohong.
"Owh begitu, apa kamu akan menjemputnya sayang". tanya Aera lagi.
"Iya sayang, kalau begitu aku pamit keluar sebentar ya, takut dia akan menunggu lama di bandara".
"Baik sayang, pergilah". Aera yang memberi izin pada Nevan.
Aera yang kembali merasakan aneh dan curiga kepada suaminya, Aera pun memutuskan untuk mengikuti Nevan dari belakang, Aera sudah menyuruh bik ina untuk menjaga Abi dan Ara yang sedang tidur di kamar, Nevan sudah melajukan mobilnya, dengan Aera yang mengikuti dari belakang menggunakan mobil menjarakkan mobilnya beberapa meter dari mobil Nevan, Aera terus mengedarkan pandangannya masih mengikuti Nevan dari belakang.
"Ini kan bukan jalan menuju ke bandara, dan hanya ada satu jalan menuju ke bandara, lalu Nevan akan kemana?". ucap Aera yang masih melajukan mobilnya mengikuti mobil Nevan.
__ADS_1
Tidak lama Nevan pun sudah berhenti di sebuah parkiran apartemen biasa yang tidak terlalu luas, Aera yang melihat Nevan berhenti di Apartemen semakin bertanya-tanya, Nevan sudah turun dari mobil, dengan membawa beberapa plastik di tangannya, dan mulai masuk menaiki tangga, Aera yang melihat Nevan sudah naik ke atas, Aera pun segera turun dari mobil dan mengikuti Nevan naik ke atas tangga, dari jarak tidak terlalu jauh Aera melihat Nevan berdiri di salah satu ruangan apartemen, tidak lama Aera melihat ada wanita yang keluar dari ruangan tersebut dan sudah memeluk Nevan di depan pintu.
"Bukannya itu wanita yang ada di bali itu, dia mantan kekasih Nevan?". Aera yang sangat terkejut menutup mulutnya, lalu meloloskan air matanya begitu saja.
Aera yang selalu begitu percaya kepada Nevan dan sangat mencintainya, tiba-tiba merasa di hantam oleh beribu-ribu batu besar, badan Aera pun melemas, Aera pun sudah jatuh duduk di bawah lantai dengan kasar.
"Bukkkk!".
Suara yang lumayan keras membuat Nevan dan Clarisa menoleh bersamaan pada Aera, Nevan yang tidak kalah terkejutnya melihat Aera di Apartemen Clarisa, Nevan langsung melepaskan Badannya dari pelukan Clarisa, lalu berlari menghampiri Aera.
"Aera?". Nevan yang sudah mendekat dan membantu Aera untuk berdiri.
"Lepaskan aku". ucap Aera masih menitihkan air matanya.
"Aera, ini tidak seperti yang kamu fikirkan, aku hanya_". ucap Nevan yang belum selesai.
Plakkkkkk! Aera yang sudah menampar pipi Nevan.
"Aku tidak menyangka kau akan menghianatiku van, apa ini cinta dan kasih sayang yang kau berikan kepadaku, kepada Abi dan Ara, aku sangat kecewa dan membencimu!". Aera yang mendorong tubuh Nevan lalu berjalan untuk pergi namun di cegah oleh Nevan.
"Aera dengarkan penjelasan ku dulu". Nevan yang menarik tangan Aera.
"Lepaskan, jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu itu!". Aera yang melepaskan tangannya secara kasar, lalu berjalan pergi meninggalkan Nevan.
"Aera!". panggil Nevan.
"Aera!" teriak Nevan lagi namun tidak di indahkan oleh Aera.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
❤Ku menangis.... mohon like, vote, komment dan tidak lupa dukungannya ya kakak-kakak.
__ADS_1