
Setelah kejadian tadi malam Nevan tidur di sofa ruang tamu sampai pagi hari, karena sudah beberapa kali Nevan mengetuk pintu kamar namun Aera tidak juga membukakannya, pagi ini Aera sudah keluar dari kamar dengan membawa beberapa koper besar dan beberapa tas, Nevan yang melihat Aera sudah rapi dan membawa beberapa barang Nevan pun mendekat.
"Sayang kamu mau kemana?". tanya Nevan yang sudah mendekat pada Aera.
"Bik ina tolong suruh pak bejo untuk memasukkan koper-koper ini ke dalam mobil ya". ucap Aera yang tidak mengindahkan Nevan berbicara.
"Baik nona". jawab Bik ina sambil mendorong koper besar majikannya..
Aera yang sudah menggendong Abi dan Ara kembali keluar dari kamar, dan melangkahkan kakinya segera pergi, namun di cegah oleh Nevan.
"Aera, aera kamu mau kemana sayang?". Nevan yang terus menghalangi langkah Aera.
"Minggir aku mau pulang". Jawab Aera ketus dengan susah payah menggendong anak-anaknya.
"Bik ina, bik ina?". Aera yang memanggil pembantunya lagi.
"Iya nona". jawab bik ina sambil berlari menuju ke dalam rumah.
"Tolong bantu saya untuk membawa Abi dan Ara masuk ke dalam mobil". ucap Aera lagi.
Abi dan Ara pun sudah di bawa oleh bik ina untuk keluar, Nevan yang melihat anak-anaknya akan di bawa pergi dengan Aera merasa sangat terpukul.
"Tunggu Aera, kamu mau bawa kemana mereka, tolong dengarkan penjelasan ku dulu!".
"Apa yang harus ku dengar Nevan, tidak ada yang perlu kamu jelaskan, semua sudah jelas!".
"Apa kita tidak bisa menyelesaikan ini dengan kepala dingin, kita sudah menjadi orang tua, lihatlah anak kita sudah 2 Aera". ucap Nevan.
"Kau menyuruhku untuk melihat anak kita, kau memberi tahu ku bahwa kita adalah orang tua mereka, kau sangat lucu Nevan, bahkan kau lupa sudah mempunyai istri dan anak, tapi kau malah selingkuh dengan mantan kekasihmu itu!". Aera yang sudah menerka-nerka.
"Aera aku tidak selingkuh, ini hanya salah faham, aku hanya membantu Clarisa". Nevan yang mulai menjelaskan.
__ADS_1
Namun Aera tidak mengindahkan lagi ucapan Nevan, Aera kembali mealngkahkan kakinya untuk keluar.
"Aera jangan pergi, jangan bawa Abi dan Ara, mereka juga anak-anakku, aku adalah ayahnya Aera?". Nevan yang terus mengejar Aera keluar dari rumah.
Abi dan Ara sudah masuk ke dalam mobil bersam bik ina yang akan di antarkan oleh pak bejo sopir pribadi Aera, namun saat Aera membuka pintu akan masuk ke dalam mobil lagi-lagi di halangi oleh Nevan.
Brukkkk!. Aera yang sudah di tarik Nevan dan pintu mobil pun di tutup kembali secara kasar oleh Nevan.
"Tidak akan ada yang pergi dari sini, termasuk kamu Aera, aku suami mu, aku tidak mengizinkan mu untuk keluar dari rumah ini selangkah pun". ucap tegas Nevan di depan Aera.
"Mungkin sekarang aku masih istri mu tuan Nevan yang terhormat, namun sebentar lagi tidak!". ucap Aera dengan tatapan sengit.
"Apa maksutmu Aera, jangan bilang kamu ingin_". Nevan yang sudah merasa badannya melemas.
"Saya pergi tuan Nevan, dan sampai jumpa di pengadilan". Ucap Aera lalu masuk ke dalam mobil.
"Aera, jangan pergi Aera, aku bisa menjelaskan semuanya dan jangan bawa Abi dan Ara". Teriak Nevan yang terus mengetok kaca mobil, tidak lama mobil pun sudah berjalan pergi meninggalkan kediaman Nevan.
"Aera, ini hanya salah faham, aku tidak selingkuh darimu, aku mencintaimu dan mencintai anak-anak kita Aera!". Teriak Nevan sangat kencang merasa benar-benar frustasi.
Aera yang di dalam mobil sudah duduk menatap pada kaca di sampingnya melihat pada jalan, sudah menitihkan air matanya, suasana di dalam mobil sangat mencekam, pak bejo sebagai sopir pribadi, dan Bik ina hanya terdiam, tidak berkomentar apapun karena tidak tau persis permasalahan keluarga majikannya seperti apa, begitupun dengan Abi dan Ara yang biasanya cerewet dan rewel, bahkan tidur pulas di pangkuan Aera dan bik ina, seakan tau kalau kedua orang tuannya sedang tidak baik.
"Kenapa kau melakukan ini kepadaku dan anak-anak kita van, bahkan kau dulu yang memintaku untuk menikah dan membesarkan Abi, Ara bersama, hidup bersama sampai kakek dan nenek, apa kau lupa perjuangan kita sampai di titik ini, bahkan mati-matian kita meminta restu menikah kepada ibuku, dan pada akhirnya pernikahan ini akan hancur juga". ucap Aera di dalam batinnya yang terus menitihkan air matanya dan mencium pipi Ara di pangkuannya.
"Maaf nona Aera, tujuan kita akan kemana?". tanya pak bejo sambil melihat sepion mobil untuk melihat Aera duduk di belakang.
"Ke rumah ibu saya pak, dulu bapak juga pernah mengantarkan saya kesana".
"Baik nona". Pak bejo yang menundukkan kepalanya pelan.
Tidak lama hanya setengah jam, Aera, bik ina dan anak-anaknya sudah sampai di rumah orang tua Aera tidak lain adalah ibu Rosita, mereka semua sudah turun dari mobil.
__ADS_1
"Terimakasih ya pak bejo sudah menghantarkan saya, dan terimakasih juga untuk bik ina sudah membantu saya membawa Abi dan Ara". ucap Aera pada sopir dan pembantunya.
"Iya nona, kalau nona mau di antarkan kemana, bisa hubungi saya, saya akan selalu siap". ucap pak bejo.
"Baik pak". Aera yang tersenyum tipis.
"Apa nona tidak apa-apa saya tinggal?". tanya bik ina.
"Tidak apa-apa bik, di sini ada ibu saya yang akan membantu menjaga Abi dan Ara, kalian pulang saja untuk menemani pak Nevan". jawab Aera.
"Baiklah non, nona Aera dan baby AA hati-hati ya, kalau begitu kami ber dua pamit dulu". Ucap Bik ina.
"Iya bik, kalian hati-hati di jalan ya". ucap Aera dan di beri anggukan pelan oleh bik ina dan pak bejo.
Ibu Rosita yang mendengar ada orang berbicara di luar, ibu Rosita pun keluar untuk melihat halaman depan rumahnya.
"Aera, cucu-cucu nenek, kalian ke sini sayang". ibu Rosita yang mendekat untuk menemui Aera dan cucu-cucunya.
"Hay uti". Aera yang berjalan sambil mengendong 2 anaknya.
"Ya ampun lihatlah mommy mu nak, bahkan dia begitu terlihat kesusahan untuk menggendong kalian, karena kalian begitu gembul". ibu Rosita yang mengambil Abi lalu di gendongnya.
"Ibu sehat?". tanya Aera.
"Iya alhamdulilah sehat, eh ngomong-ngomong nak Nevan kok gak ikut?". tanya ibu Rosita balik.
"Owh itu buk, mas Nevan lagi sibuk, banyak pekerjaan". jawab Aera bohong tidak ingin membuat ibu nya khawatir.
"Ya sudah ayo masuk, nanti ibu bantu bawa kopernya ke dalam". ucap ibu Rosita yang membawa Aera dan cucu-cucunya untuk masuk ke dalam rumah.
Mereka ber 4 pun sudah masuk ke dalam rumah, ibu Rosita merasa ada yang aneh pada anaknya, ibu Rosita merasa keluarga anaknya tidak baik-baik saja, walaupun Aera sudah mengatakan tidak apa-apa, tapi hati ibu tidak bisa di bohongi.
__ADS_1