
Sudah 6 bulan berlalu, baby AA pun semakin besar, cinta dan kasih sayang dari Nevan dan Aera selalu di berikan kepada mereka, hingga Ara dan Abi tumbuh semakin besar dengan baik tanpa kekurangan 1 apapun.
"Sayang sudah mau berangkat bekerja?". tanya Aera pada Nevan di meja makan.
"Iya sayang?". jawab Nevan sambil mengecup kening istrinya.
"Hay anak daddy yang tampan dan cantik?". Nevan yang mulai melihat anak-anaknya sudah mulai berjalan dengan pelan.
"Sayang aku bosen di rumah?". rengek Aera.
"Keluarlah sayang, dan ajaklah mama Serli untuk jalan-jalan ke mall biar tidak kesusahan bila membawa Abi dan Ara". ucap Nevan yang sudah duduk di kursi makan.
"Bukan itu sayang?".
"Lalu apa?". tanya Nevan yang mulai menyantap makanannya.
"Abi dan Ara kan sudah berusia 10 bulan, mau mendekati 11 bulan, dan mereka juga sudah sedikit bisa berjalan, apakah aku boleh bekerja menjadi sekretarismu lagi sayang?".
"No! tidak sayang, aku tidak mengizinkan mu bekerja lagi, jagalah mereka dengan baik, lagi pula aku masih bisa menafkahi kalian dengan sangat cukup". jelas Nevan.
"Tapi kan sayang_?". Sebelum Aera selesai bicara sudah di potong lagi dengan Nevan.
"Tidak ya tetap tidak, aku ingin kamu menjaga anak-anakku dengan baik, dan fokus membesarkan mereka tidak bergantung dengan orang lain, agar mereka juga semakin dekat dengan mommynya!". ucap Tegas Nevan.
Aera yang mendengar ucapan suaminya hanya bisa pasrah, karena Aera sudah hafal setiap Nevan berbicara tidak bisa di ganggu gugat.
Nevan sudah berpamitan kepada Aera untuk berangkat bekerja, dan sedikit menggendong anak-anaknya terlebih dahulu. "Daddy berangkat bekerja dulu ya sayang, kalian jangan nakal ya, nurut sama perkataan mommy?". ucap Nevan kepada anak-anaknya lalu mengecup pipi gembul mereka ber dua.
"Iya daddy, daddy semangat ya?". Aera yang membasakan anaknya.
"Ya sudah aku berangkat dulu ya sayang?". Nevan yang pamit lagi kepada Aera dan sudah berjalan keluar menuju ke mobil.
"Iya sayang". jawab Aera.
"Dada dady". Aera yang menyentuh tangan anak-anaknya, dan Nevan pun melambaikan tangan kembali di dalam mobil untuk segera pergi.
__ADS_1
Nevan yang sudah keluar dari halaman rumahnya, melajukan mobilnya masih menatap pada jalanan yang begitu sangat rame, hampir 1 jam kurang Nevan pun sudah sampai di parkiran kantor, mobil sport pun sudah terparkir dengan sempurna, Nevan segera turun dengan beberapa orang memberi hormat kepadanya, laki-laki tampan bertubuh tegap bersetelan jas berwarna hitam dengan rambut klimis, berkaca mata hitam, dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celanannya berjalan melewati koridor-koridor kantor, dan sudah masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruangannya.
Namun saat Nevan akan sampai di ruangannya, Nevan mengedarkan pandangannya melihat beberapa orang dan security sedang ribut di depan ruangannya.
"Ada apa ini?". Nevan yang sudah mulai mendekat.
"Ini pak ada wanita yang memaksa ingin bertemu dengan bapak, saya sudah menyuruhnya untuk pergi tapi tidak mau pak". jawab Sesil sekretaris baru Nevan.
Nevan yang melihat wanita putih, namun sedikit pucat tidak terlihat sehat, masih di pegangi oleh 2 security, membuat Nevan sontak terkejut.
"Clarisa?". ucap Nevan sambil melepaskan kacamata hitamnya.
"Nevan aku ingin bertemu denganmu". ucap Clarisa yang masih memberontak di pegangi oleh 2 security.
"Mau apa kamu kesini, dan membuat keributan di kantorku?". tanya Nevan.
"Aku ingin bicara suatu hal kepadamu Nevan?".
"Saya sedang sibuk, bawa dia pergi pak, dan kalian semua bubarlah dari ruangan saya!". ucap Nevan yang berjalan segera masuk.
Lalu 2 security kantor pun membawa paksa Clarisa dan menyeretnya untuk keluar dari ruangan.
Nevan yang mendengar ucapan Clarisa menjadi teringat kembali pada ucapan Aksa dulu, kalau Clarisa mengidap kangker Servik stadium 3, Nevan yang merasa iba, Nevan pun memberhentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya melihat kepada Clarisa.
"Berhenti pak, dan lepaskan dia". perintah Nevan pada 2 Security.
2 Security yang mendengar perintah dari Nevan langsung menoleh pada bosnya."Baik pak" 2 security pun melepaskan Clarisa.
"Nevan, terimakasih Nevan?". Clarisa yang berjalan dan menyentuh tangan Nevan
"Jangan menyentuh ku, dan masuklah". Nevan yang sudah masuk lebih dulu di dalam ruangannya.
Nevan pun sudah masuk dan berdiri di depan kaca kantornya. "Ada perlu apa kamu kesini, cepat katakan?". ucap Nevan tanpa menoleh pada Clarisa.
"Kau pasti tau bukan bahwa aku mengidap kangker servik sudah stadium lanjut". ucap Clarisa.
__ADS_1
"Iya, namun aku tidak perduli semua itu". jawab Nevan ketus.
"Namun saat aku mengidap kangker ini, aku juga sedang hamil van?" Clarisa yang mulai menitihkan Air matanya lagi.
Nevan yang mendengar ucapan Clarisa semakin terkejut.
"Aku selalu mencoba untuk bunuh diri, namun aku tidak bisa, aku selalu teringat pada janinku, aku benci dengan diriku sendiri, kenapa aku menjadi seperti ini, kenapa di saat aku sakit, bahkan ada nyawa yang hidup di dalam rahimku, aku benci semua ini". Clarisa yang menangis sambil memukuli perutnya.
Nevan yang melihat Clarisa semakin tidak terkendali, Nevan pun mendekat.
"Sudah Clarisa apa kau gila jangan seperti itu, bayi yang ada di dalam kandunganmu tidak bersalah". Nevan yang mencoba memberhentikan perlakuan Clarisa dan membawanya untuk duduk di kursi.
"Aku benci semua ini van, bahkan bayi ini tidak mempunyai ayah". ucap Clarisa lagi.
"Lalu apa kau akan minta pertanggung jawaban dariku, jangan gila kau Clarisa!". Nevan yang berjalan mundur menjauh dari Clarisa.
"Tidak van, aku hanya meminta pertolonganmu untuk menemaniku selama beromat, dan melahirkan anak ini?".
"Tidak Clarisa, aku tidak mau, apa yang harus ku katakan kepada Aera istriku". Ucap Nevan.
"Ku mohon Nevan, aku sudah tidak mempunyai siapa-siapa lagi, hanya kau saja, ku mohon bantu lah aku". Aera yang terus menangis menunduk di kaki Nevan.
"Tidak Clarisa, aku tidak bisa!". ucap Nevan lagi.
"Baiklah kalau kau tidak bisa, lebih baik aku mati saja di kantormu ini, bahkan kau tidak ingat 3 tahun yang lalu, aku hampir mati karena menaruh kan nyawaku sendiri karena menolong mama mu dari kecelakaan besar itu, tapi sekarang kau tidak mau menolongku, lebih baik aku mati van". Clarisa yang sudah berdiri dan berlari untuk membuka jendela menuju ke balkon.
"Clarisa!".
"Lebih baik aku mati bersama bayi ini dan jatuh dari lantai 9 ini Nevan". Clarisa yang mulai keluar.
Tatapan Nevan nyalang, Nevan merasa bingung harus berbuat apa dengan situasi ini, Nevan mengusap kepalanya dan menghembuskan nafasnya dengan susah payah. "Baiklah Clarisa aku akan menuruti perkataanmu, tapi hanya sekedar memberi semangat untuk membantu menjalankan bengobatanmu dan bayimu itu". ucap Nevan pasrah.
Clarisa yang mendengar ucapan Nevan seketika menoleh pada Nevan."Benarkah Nevan, terimakasih Nevan". Clarisa yang berlari dan memeluk Nevan.
"Iya". Nevan pun melepaskan badannya dari pelukan Clarisa.
__ADS_1
Setelah Clarisa keluar dari ruangan Nevan, Nevan masih duduk di kursi kebesarannya, Nevan begitu sangat bingung, dan cemas memikirkan keputusannya barusan untuk membantu Clarisa.
"Aku harus bicara apa kepada Aera, kalau Aera tau pasti dia akan marah besar kepada ku, apa aku harus menyembunyikan semua ini darinya, ahh sialan kenapa aku menjadi serumit ini!". grutu Nevan lalu mengusap wajahnya sendiri.