Baby Twins Ku

Baby Twins Ku
Kebohongan Clarisa


__ADS_3

Nevan dan Aksa yang masih di depan ruang ICU, untuk menunggu keluarnya dokter yang memeriksa Clarisa, Nevan terus berdiri dan terus menatap pada pintu ruangan ICU.


Ceklak


Nevan yang melihat pintu sudah terbuka pun segera mendekat, namun ternyata suster cantik yang keluar bukan dokter. "Eh bagaimana suster keadaan teman saya?". tanya Nevan pada suster.


"Apa dia sudah mati suster cantik?". tanya Aksa yang menyahut perkataan Nevan.


"Maaf pak atau mas, lebih baik tanyakan saja nanti kepada dokter ya, biar dokter yang menjelaskan". jawab suster Claudia lalu berjalan pergi.


"Wihh cantik banget tu suster, gue sih juga mau punya bini kaya dia". ucap Aksa yang terus memandang suster Claudia pergi.


"Man.. lo bisa serius gak sih, kita itu lagi di rumah sakit". ucap Nevan.


"Dihh, gue ma gak urus tu nenek lampir mau jungkir balik atau isdet". jawab Aksa sambil memalingkan wajahnya ke arah lain.


Namun tidak lama Dokter pun sudah keluar dari Rungan, Nevan yang melihat dokter sudah keluar dan Nevan pun segera mendekat.


"Dok bagaimana ke adaan teman saya, apa dia semakin parah?". tanya Nevan.


"Dihh nih orang perduli amat sama nenek lampir itu?". Aksa yang kembali menyahut ucapan Nevan, namun Nevan hanya meliriknya saja.


"Maaf pak, lebih baik kita bicarakan di ruangan saya saja, karena ini bukan penyakit biasa". ucap Dokter Rangga pada Nevan.


"Baik lah dokter". jawab Nevan.


"Mari?". dokter rangga yang lebih dulu berjalan.


"Lo masuk dulu aja man, tungguin si Clarisa". ucap Nevan pada Aksa.


"Ogah gue masuk nungguin tu lampir sendirian, mending gue pulang buang-buang waktu saja". ucap Aksa sengit.


"Ya sudah ayo ikut ke ruang dokter dulu, lo gak boleh pulang sebelum gue juga pulang". Nevan yang merangkul Aksa untuk jalan menuju ke ruang dokter Rangga.


Nevan dan Aksa pun sudah masuk ke dalam ruang dokter, dan sudah duduk di depan dokter Rangga. "Bagaimana dokter dengan keadaan Clarisa?". tanya Nevan dengan serius.

__ADS_1


"Kangkernya semakin parah pak, bahkan sudah menjalar ke mana-mana karena beberapa hari ibu Clarisa tidak menjalani kemo nya". jelas dokter Rangga.


"Lalu bagaimana dengan keadan bayi di dalam kandungannya dok, apakah baik-baik saja?". tanya Nevan lagi.


Dokter Rangga yang mendengar ucapan Nevan pun sontak terkejut." Bayi?". dokter Rangga dengan raut wajah yang bingung.


"Iya, bukankah Clarisa sedang hamil dok?". tanya Nevan lagi.


"Maaf mungkin bapak salah informasi, mengetahui ibu Clarisa hamil dari mana ya, ibu Clarisa sedang mengidap kangker servik, itu tidak mungkin karena sangat membahayakan janin". jawab dokter Rangga.


"Apa! apakah dia hanya berbohong, astaga!". Nevan yang tidak kalah terkejutnya lalu mengusap wajahnya sendiri.


Setelah hampir 20 menit di dalam ruangan dokter Rangga dan membicaran sesuatu tentang Clarisa, Nevan dan Aksa pun sudah keluar dari ruangan, tiba-tiba tatapan Nevan nyalang, raut wajah yang begitu terlihat marah, terdapat kebencian.


"Man-man, tuh kan gue bilang apa, lampir ya tetap aja lampir sampai kapan pun gak bisa berubah jadi malaikat atau bidadari, lo gampang terkecoh sama tangisan wanita gila itu". ucap Aksa yang berjalan di samping Nevan.


"Bedebah bisa-bisanya ular berbisa itu membohongiku!". ucap Nevan dengan nada yang sangat marah.


"Lo tau Deo meninggalkan Clarisa karena deo tau Clarisa itu jalang cap kampak, sampai terkena penyakit mengerikan seperti itu". ucap Aksa lagi.


"Nevan?". panggil Clarisa yang tersenyum tipis melihat Nevan datang.


"Apa kau baik-baik saja?". tanya Nevan di samping Clarisa.


"Iya aku sudah mendingan, melihat kamu datang aku juga lebih semangat". ucap Clarisa.


"Tapi aku harap kau akan tidur di sini untuk selama-lamanya". ucap Nevan yang menatap Clarisa sangat sengit.


"Apa maksutku van?". tanya Clarisa.


"Apa kau puas setelah membuat keluargaku hancur dengan kebohongan mu yang berpura-pura kau hamil, dan tangisan palsumu itu, apa kau sudah puas ular berbisa!". Nevan yang mendekat pada muka Clarisa.


"Bukan begitu van". Clarisa yang mengelak.


"Lalu bagaimana, aku menolongmu dengan lapang dada, hingga mengorbankan keluargaku sendiri, tapi apa kau membohongiku Clarisa, kau berbohong kepadaku!". ucap Nevan dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Maafkan aku van, aku terpaksa melakukan ini, karena aku mencintaimu". Clarisa yang pura-pura menangis.


"Hentikan ucapan kosong dan tangisan bohongmu itu, aku sudah tidak perduli lagi kau mau hidup atau mati!". ucap Nevan yang pergi begitu saja meninggalkan Clarisa.


"Nevan". teriak Clarisa yang melihat Nevan sudah pergi ke luar dari ruangan.


Plok.. Plok.. Plok.. Aksa yang bertepuk tangan berjalan mendekat pada Clarisa.


"Aku bangga kepadamu mak lampir, kau selalu memenangkan pertarungan, namun pada akhirnya kau juga kalah dan mati". ucap Aksa yang mengejek Clarisa.


"Tutup mulutmu!". ucap Clarisa dengan kencang.


"Waooo, bahkan kau sudah sekarat masih saja bisa berteriak dengan kencang, selamat menikmati tidur nyenyak mu ya di sini". Aksa yang melambaikan tangan dengan senyum sinis lalu berjalan pergi menyusul Nevan.


"Aku akan membunuhmuu bila aku sembuh!". teriak Clarisa pada Aksa.


Nevan yang masih menunggu Aksa di dalam mobil, Nevan terus bergelut dengan fikiran nya, tidak lama Aksa pun sudah datang dan masuk ke dalam mobil, Nevan yang melihat temannya sudah masuk ke mobil, Nevan pun sudah siap melajukan mobilnya, Nevan terus menatap pada jalanan yang sudah mulai gelap.


"Kenapa kau keluar lama sekali, kau apakan dia?". tanya Nevan yang masih fokus melajukan mobilnya.


"Aku bunuh dia, ku bungkam mukanya dengan bantal". jawab Aksa.


"Hah yang benar saja kamu?". Nevan yang terkejut menoleh pada Aksa.


"Kenapa kau terkejut, tadi katamu kau tidak perduli dia mau hidup atau mati". ucap Aksa.


"Bukan begitu, kalau tadi kau membunuhnya kenapa tidak mengajakku". ucap Nevan lagi sambil tersenyum sinis.


Aksa yang mendengar ucapan Nevan hanya tersenyum tipis, Aksa pun mulai menyenderkan kepalannya pada kursi mobil, menatap pada kaca mobil di sebelahnya.


"Setelah mengantarmu pulang, aku akan mencari Aera dan anak-anakku". ucap Nevan yang memecah keheningan.


Aksa yang mendengar ucapan Nevan pun menoleh."ini tu sudah malam man, lebih baik pulang lah dulu, kamu pasti juga lelah bukan, aku akan membantumu besuk untuk mencari Aera dan baby AA". ucap Aksa.


"Tapi aku sungguh merasa menyesal man, dan mengkhawatirkan mereka". ucap Nevan.

__ADS_1


"Aku tau, tp percayalah Aera dan anak-anakmu pasti baik-baik saja". Aksa yang menenangkan temannya di dalam mobil.


__ADS_2