
Hujan lebat di sore hari, di sertai petir yang menyambar-nyambar Aera baru saja selesai mandi, Aera sudah berjalan keluar menuju lemari untuk mengenakan baju, Nevan yang melihat bahu mulus Aera langsung beranjak dari tempat tidur mendekat pada Aera.
"Sayang kenapa kau mandi tidak bilang kepadaku?". Nevan yang memeluk Aera dari belakang.
"Terus kalau aku bilang kamu mau apa?". tanya Aera.
"Ya mau mandi bersama lah?". Nevan yang terus memeluk Aera.
"Kamu kan sudah mandi sayang?".
"Aku ingin mandi bersamamu lagi sayang?". Nevan yang mulai mencium tengkuk leher Aera.
"Minggir sayang, kamu menghalangi ku jalan?". Aera yang membalik tubuhnya menatap pada Nevan.
Nevan tidak mengindahkan perkataan Aera Nevan mulai melesat bibir Aera dan memagutnya, tetapi Nevan terlihat begitu kesusahan karena terhalang oleh perut buncit Aera.
"Sayang ayo di kasur, aku susah kalau seperti ini, terhalang oleh twins?".
"Tidak mau!". Aera yang berjalan sudah menyalakan Televisi.
"Sayang, adik kecil mau menjenguk baby Twins bentar lagi kan mereka lahir".
"Tidak ya tidak!". ucap Aera lagi.
"Sayang, ayo". Nevan yang mendekat lalu menarik piyama satin di badan Aera.
Namun saat Nevan sedang memagut bibir Aera dan meremasi aset kembarnya, tiba-tiba pintu pun terbuka.
Ceklakk
Sontak membuat Nevan dan Aera terkejut, Nevan pun segera berdiri dan Aera juga masih merapikan piyama satinnya.
"Auuu mama masuk di waktu yang tidak tepat ya?". Mama Serli yang sudah menutup wajahnya.
__ADS_1
"Kenapa mama masuk begitu saja?". Nevan yang merasa kesal atas perilaku mamanya.
"Maaf kan mama sayang, mama kan tau sandi pintu Apartemenmu, jadi langsung masuk saja?". ucap mama sambil menaroh beberapa makanan di meja.
"Tapi kan aku sekarang punya istri ma?".
"Iya-iya maaf, lain kali mama tekan belnya". ucap mama.
"Mama kenapa hujan-hujan kesini?". Tanya Aera pada calon mama mertuannya.
"Iya tadi hanya mampir cantik, ya sudah mama pulang dulu ya, cucu mama sehat terus ya?". Mama serli yang mengusap perut Aera lalu pergi begitu saja.
"Hiiss mama, seperti jalangkung!". Tatap sengit Nevan pada mamanya.
"Hus sayang, mamanya sendiri di katain jalangkung". Aera yang memukul pelan tubuh Nevan.
"Adik kecilku sudah gagah perkasa sayang, gara-gara mama jadi letoi lagi". Nevan yang kesal beranjak tidur ke ranjang.
Hari sudah semakin malam, dengan hujan yang rintik-rintik terlihat awet belum berhenti dari tadi sore, setelah makan malam Nevan dan Aera segera beranjak tidur, Nevan sudah meringkukkan tubuhnya menghadap pada Aera, Namun Aera yang memejamkan matanya tidak juga bisa tidur.
"Sayang?". Panggil Aera namun Nevan tidak bangun.
"Daddy?". panggil Aera lagi.
"Iya sayang, ada apa". Nevan yang mulai membuka matanya.
"Baby twins laper sayang". Rengek Aera pada Nevan.
"Tadi kan sudah makan sayang?".
"Tapi mereka ingin pecel lele sayang?".
"Pecel lele?" Nevan yang melihat pada Jam dinding di kamarnya. "Ini tu jam 11 malam sayang mana ada yang jual pecel lele, apa lagi hujan?". ucap Nevan.
__ADS_1
"Tapi twins ingin pecel lele?". Aera dengan wajah yang memelas.
"Bukan twins yang pingin, tapi simboknya!". Nevan yang sedikit kesal karena masih mengantuk.
"Ya sudah, Twins sayang, daddy gak mau nurutin kita, dia bukan daddy kalian!". Aera yang kembali tidur membungkungi Nevan.
"Loh kok bisa itu, terus telur siapa yang ada di dalam sana?".
"Telurnya ayam!". jawab Aera ketus.
"Iya-iya daddy akan carikan pecel lele?". Nevan yang sudah beranjak dari ranjang dan mengambil kunci mobil di meja dan berjalan keluar.
Nevan sudah turun dari Apartemen, dan melajukan mobilnya, masih menatap pada jalanan, berputar-putar untuk mencari warung pecel lele, dan Nevan pun akhirnya melihat tempat makan pecel lele yang masih buka di pinggir jalan, Nevan memarkirkan mobilnya dan segera untuk turun membawa payung.
"Astaga, bahkan aku masih memakai celana Boxser, Aera sungguh mengerjai suaminya, awas saja nanti dia harus bertanggung jawab!". grutu Nevan lalu berjalan untuk memesan pecel lele.
Hanya 15 menit Nevan sudah mendapatkan pecel lele, Nevan kembali melajukan mobilnya untuk pulang, Sudah sampai di Apartemen, dan segera masuk ke atas.
"Ini sayang". Nevan yang memberikan sebungkus pecel lele kepada Aera yang sedang memainkan ponselnya.
"Terimakasih Daddy?". ucap Aera yang mulai turun dari ranjang dan menikmati pecel lele nya.
"Dari tadi pagi minta ini, minta itu". ucap Nevan.
"Daddy gak iklas ni?". Aera yang menatap pada Nevan.
"Iklas sayang, tapi habis ini kamu harus menyenangkan adik kecilku". ucap Nevan sambil tersenyum tipis.
"Hiss sudah ku duga!". Aera yang melirik pada Nevan.
Setelah selesai makan, seperti yang di katakan Nevan, Aera segera menuruti kemauan calon suaminya, mereka berdua sangat menikmati hasrat di malam hari dengan hujan yang kembali lebat, Nevan dan Aera semakin menggebu-gebu, di kehamilan tuannya Aera masih saja tetap semangat untuk melayani tanggung jawabnya sebagai isti walaupun belum ada ikatan pernihan, namun Aera sudah menganggap Nevan adalah suaminya.
Nevan pun sudah menuntaskan keinginannya, Nevan mulai lelah, tidak sadar waktu sudah menunjukan pukul 2 pagi, Nevan dan Aera segera memejamkan matanya untuk tidur.
__ADS_1