
Hampir 1 minggu Nevan mencari Aera dan anak-anaknya, namun tidak juga menemukannya, bahkan Nevan hampir frustasi karena sudah memutari dan berkeliling kota, Nevan kembali memutuskan untuk mencari Aera dan anak-anaknya lagi, sebelum mencari mantan istrinya, Nevan pergi menuju ke kantor Aksa terlebih dahulu untuk meminta menemani mencari Aera, Nevan sudah melajukan mobil sport berwarna merah, sudah memasuki halaman perkantoran Aksa, mobil pun sudah terparkir dengan sempurna di besmen kantor, Nevan segera turun dari mobil, melangkahkan kakinya lebar-lebar, dengan beberapa kali menelfon Aksa namun juga belum di angkat, namun saat Nevan berjalan akan masuk lift, Nevan melihat ada perempuan yang berdiri sedang berbicara serius di suatu ruangan dengan seseorang, wanita yang tinggi, putih dan sexsi dengan rambut terurai berwarna hitam, Nevan pun berhenti sejenak.
"Kenapa wanita itu seperti Aera, bahkan lekuk tubuhnya begitu sama, tapi tidak mungkin juga Aera bekerja di kantor Aksa". grutu Nevan pelan.
Nevan masih berdiri masih menatap pada wanita yang hanya terlihat punggungnya saja, Nevan mencoba menatap lebih fokus, karena ia begitu merasa sangat penasaran dengan wajah perempuan itu.
"Woy!". Aksa yang tiba-tiba datang menepuk pundak Nevan dari belakang.
Nevan yang mendapat kehadiran Aksa pun sontak terkejut dan menoleh kebelakang. "Kau mengagetkanku brengsek, dan kenapa kau tidak mengangkat telfonku, sudah berapa kali aku menelfonmu?". ucap Nevan di depan Aksa.
"Apa kau menelfonku? ponselnya aku tinggal di ruangan, tadi aku ada meeting". jawab Aksa.
"Baiklah, apa kau sibuk, aku ingin meminta bantuan mu lagi untuk mencari Aera dan anak-anakku". ucap Nevan.
"Aku tidak sibuk, aku akan membantumu, kita masuk dulu keruangan ku". ucap Aksa lalu di beri anggukan pelan oleh Nevan.
Namun saat Nevan akan jalan, Nevan kembali menoleh pada wanita yang tadi berdiri di dalam ruangan kaca, tetapi wanita itu sudah tidak ada di dalam ruangan.
"Woy kau melihat apa, dari tadi ku lihat kau sedang menatap sesuatu". ucap Aksa lagi.
"Ahh tidak, ayo cepat masuk ke runganmu". Nevan yang mendorong Aksa untuk berjalan lebih dulu.
"Oh aku tau kau sedang menatap staf-staf ku yang cantik dan sexsi bukan, staf yang aku pilih memang harus bagus dari otak bahkan badannya".
"Hentikan ucapanmu yang tidak jelas itu brengsek, ayo jalan!". Nevan yang memukul kepala Aksa
Aksa dan Nevan pun sudah masuk ke dalam lift untuk menuju ke ruang kebesaran Aksa, Aksa sudah mempersilahkan temannya untuk masuk dan duduk di sofa, mereka sedikit berbincang-bincang di dalam ruangan sebelum kembali keluar untuk mencari Aera.
__ADS_1
"Sudah hampir 2 tahun aku tidak masuk ke dalam ruanganmu ini man sudah banyak yang berubah, setelah aku menikah dan kamu juga menetap di Singapure untuk menemani ayahmu menjalani perawatan di sana". ucap Nevan yang berdiri menatap pada isi ruangan.
"Iya kamu benar, bahkan aku juga jarang masuk ke dalam ruangan ini semenjak Ayahku sakit". jawab Aksa.
Saat Nevan masih berjalan menatap pada lukisan-lukisan di dinding, Nevan melihat ada satu ruangan yang cukup besar di sebelah ruangan Aksa, Nevan pun sedikit mendekat.
"Ini ruangan apa man, sepertinya dulu tidak ada?". Nevan yang bertanya pada Aksa.
Aksa yang melihat Nevan semakin mendekat pada ruangan pun sontak terkejut, Aksa pun segera berdiri mendekat pada Nevan. "Jangan masuk di dalam ada sekretaris ku". ucap Aksa yang sedikit takut, karena baru teringat ruangan itu adalah ruangan tempat Aera bekerja.
"Hah sejak kapan kamu mempunyai sekretaris, bukannya kamu pernah bilang ke padaku tidak suka mempunyai sekretaris". Nevan yang menoleh pada Aksa.
"Ahh itu, karena aku terpaksa Ayahku menyuruhku untuk mencari sekretaris agar mempermudah pekerjaanku". Aksa yang beralasan.
"Apakah sekretarismu cantik dan sexsi? kau kan suka dengan wanita yang sexsi, coba ku lihat". Nevan yang sedikit berjalan akan membuka pintu ruangan.
"Jangan! dia wanita biasa bahkan pemalu, aku takut dia akan merasa tidak nyaman". Aksa yang berdiri di depan pintu untuk mencegah Nevan.
"Tidak, aku hanya ingin menemui mu dulu". ucap Aksa sedikit tersenyum tipis.
"Halah kau alasan". Nevan yang memalingkan wajahnya.
Setelah berbincang-bincang, dan sedikit beradu mulut, Nevan dan Aksa pun memutuskan untuk keluar dari ruangan untuk segera mencari Aera, Aksa pun sudah masuk ke dalam mobil Nevan, sedikit menoleh pada Nevan di sampingnya yang masih fokus melajukan mobilnya.
"Maaf kan aku man yang berbohong kepadamu, aku tidak ada maksut apa-apa, dan ini adalah permintaan dari Aera, aku berjanji akan segera memberitahu mu kalau waktunya sudah tepat". ucap Aksa di dalam batinnya.
"Kita akan mencari Aera dan anak-anakku kemana lagi ya man, bahkan seluruh penjuru kota sudah kita cari". ucap Nevan yang memecah keheningan.
__ADS_1
"Apa tidak ada tempat yang dulu kalian kunjungi bersama, atau tempat yang di sukai oleh Aera". tanya Aksa kembali yang menoleh pada Nevan.
"Aku dan Aera dulu hanya di mall saja, itu saja waktu Aera masih hamil, rencana mau ke bali bersama anak-anakku namun tidak jadi karena kita sudah bercerai". jawab Nevan.
"Jangan mulai bercerita sedih kepadaku".
"Kau bertanya dan aku menjawabnya brengsek!". Nevan yang melempar botol minuman kosong kepada Aksa, dan Aksa pun langsung menangkap secara cepat.
Nevan terus melajukan mobilnya dengan sedikit menatap pada jalan, tiba-tiba ponsel Nevan pun berdiring cukup keras.
"Hallo?". Nevan yang sudah mengangkat ponsel.
"Apakah ini tuan Nevan?". tanya seorang wanita di telfon.
"Iya benar".
"Maaf tuan, ibu Clarisa mengalami keritis, saya harap tuan segera ke rumah sakit".
"Kenapa harus saya, saya tidak ada urusan lagi, biaya rumah sakit juga sudah saya bayar semua?". ucap Nevan sedikit jengkel.
"Karena hanya tuan Nevan yang satu-satunya keluarga dari ibu Clarisa".
"Baiklah, nanti saya kesana". Nevan lalu mematikan telfon nya.
Aksa yang dari tadi mendengar pembicaraan Nevan, tatapan Aksa pun menjadi sengit. "Apakah itu nenek lampir itu lagi, apa kau akan menemui dia lagi?". tanya Aksa.
"Kondisinya keritis man, lalu aku harus bagaimana?".
__ADS_1
"Baiklah temui saja dia, mungkin ada kata-kata terakhir yang akan dia sampaikan kepadamu". ucap Aksa yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Shit, perkataanmu sangat senonoh sekali man, kepada orang sakit". Nevan yang sedikit terkekeh dengan ucapan Aksa.