
Setelah kamarin Verel mengikuti mobil Aera bersama Ayahnya, Verel hari ini memutuskan untuk kembali lagi ke kediaman Aera dan Nevan namun Verel datang sendiri, entah kenapa Verel merasa penasaran dengan suami Aera yaitu Nevan, Verel masih di dalam mobil yang berbeda dari kemarin, belum ada 10 menit Verel sudah di tegur oleh penjaga gerbang rumah Nevan, namun Verel hanya menjawab kalau dia sedang menunggu seseorang, bodigat yang menjaga rumah Nevan mendapat jawaban dari Verel juga percaya saja dengan ucapan Verel.
Setelah hampir setengah jam Verel menunggu di dekat rumah Aera, dan waktu sudah menunjukan pukul 9 pagi, Verel berfikir pasti Nevan di rumah tidak bekerja, karena ini adalah hari minggu, dan benar saja tidak lama Nevan bersama anak-anaknya baru saja keluar dari rumah, dengan bercanda tawa bersama, Verel yang melihat Nevan bersama 2 anak kecil, Verel pun semakin menajamkan matanya.
"Siapa anak kecil itu, apa mereka ber 2 sudah mempunyai anak?". Verel yang bertanya pada dirinya sendiri.
Verel masih fokus menatap pada mereka ber 3 dari dalam mobil yang tidak jauh dari halaman rumah mereka, tidak lama Verel juga melihat Aera baru saja keluar dari dalam rumah dengan membawa beberapa makanan dan minuman di tangannya.
"Mommy cepat sini, main sama kita dan daddy". ucap Abi yang berteriak pada Aera.
"Mommy bawa apa?". Ara yang mendekat pada mommynya.
Verel yang mendengar ucapan 2 anak kecil itu pun sontak langsung terkejut, Verel mencoba semakin mendengarkannya secara jelas. "Apa mommy dan daddy, benar anak kecil 2 itu anak Nevan dan Aera, apa mereka kembar?". ucap Verel pelan di dalam mobil.
Verel terus menatap gerak-gerik mereka ber 4, yang terlihat dari gerbang depan rumah, Verel melihat mereka bercanda tawa bersama, saling bahagia dan saling menguatkan, bahkan Verel melihat senyum Aera yang begitu terlihat bahagia bersama Nevan, dengan Nevan yang terus memeluk badan istrinya dan sesekali mengecup kening Aera.
"Apa aku tega akan merusak keluarga kecil itu, mereka benar-benar terlihat bahagia, ini salah rel, kamu tidak pantas merebut kebahagian orang lain, bahkan anak-anak kecil itu masih kecil, aku yakin mereka masih membutuhkan kasih sayang Aera dan Nevan, aku pernah merasakan di posisi tanpa seorang ibu". ucap Verel pelan yang tiba-tiba teringat dulu waktu kecil kedua orang tuanya bercerai.
Verel yang merasa hatinya tersentuh melihat keluarga kecil Nevan, Verel pun memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah Nevan dan Aera, Verel sudah melajukan mobilnya lumayan kencang untuk segera pulang, di perjalanan Verel terus fokus melajukan mobilnya.
__ADS_1
"Ku iklaskan kau bersama dengannya Aera, walaupun 3 tahun aku mencarimu, tapi aku akan mencoba melupakanmu, aku tidak pantas bersanding denganmu, ku harap kalian selalu bahagia". ucap Verel yang terus melajukan mobilnya.
Tidak membutuhkan waktu yang lama, Verel pun sudah tiba di rumahnya, dan sudah berhenti di depan rumah, Verel segera turun dari mobil, dan melihat Ayahnya sedang duduk santai di depan rumah sedang membaca koran.
Tuan Abraham yang melihat anaknya dari luar, tuan Abraham pun sudah berdiri. "Dari mana kamu boy?". tanya tuan Abraham.
"Dari rumah Aera". jawab Verel singkat.
"Wahh belum apa-apa kamu sudah kesana saja, kita kan belum menyusun rencana". ucap tuan Abraham.
"Yah Verel tidan mau mengganggu keluarga Nevan lagi, dan Verel harap Ayah juga tidak mengganggu mereka". ucap Verel di depan Ayahnya.
"Mereka ber 2 sudah mempunyai anak yah, aku tidak ingin mengganggu mereka lagi". jelas Verel.
"Apa masalahnya kalau sudah punya anak, anak itu bisa di fikir belakangan".
"Fikiran ayah selalu saja seperti itu dari dulu". ucap Verel yang akan masuk ke dalam rumah namun di cegah oleh Ayahnya.
"Verel, kamu bisa mendapatkan wanita itu lagi dengan mudah". Tuan Abraham yang sudah menarik tangan Verel.
__ADS_1
"Tidak yah, Verel sudah tidak menginginkan Aera lagi!". Verel yang semakin kesal.
"Tapi kenapa?". tanya tuan Abraham.
"Mereka mempunyai anak kembar yah, aku tidak bisa membayangkan kalau anak itu ber pisah dengan ke dua orang tuannya, aku sudah merasakan betapa menyakitkan tumbuh besar tanpa seorang ibu, tanpa pelukan ibu, tanpa kasih sayang ibu, karena dulu Ayah dan ibu berpisah karena kalian saling berselingkuh". ucap Verel dengan nada tinggi.
"Verel, tapi kan itu_". ucap Abraham yang belum selesai bicara sudah di potong oleh Verel.
"Sudah lah yah, Verel akan melupakan Aera, biarkan mereka hidup dengan bahagia, dengan jalan mereka masing-masing, aku berhak bahagia, begitu pun dengan Aera juga berhak bahagia". ucap Verel.
"Apa kamu yakin dengan perkataanmu boy?". tanya Abraham.
"Yakin, Verel seratus persen yakin yah, kalau dulu Ayah dan ibu rusak bahkan bejat, setidaknya Verel lebih baik dari kalian". ucap Verel yang sudah meninggalkan Ayahnya begitu saja masuk ke dalam rumah.
Abraham yang melihat anaknya pergi begitu saja, dan mendengar ucapan anaknya barusan Abraham pun merasa tersentuh. "Anakku benar-benar sudah dewasa, bahkan dia tumbuh lebih baik dari kedua orang tuanya, walaupun dia tidak pernah mendapat didikan dari seorang ibu, tapi dia tetap tumbuh besar dengan baik tidak sepertiku". ucap Abraham lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Verel yang sudah masuk ke dalam kamar tiba-tiba sudah menitihkan air matanya, ia teringat dulu waktu masih umur 7 tahun, Verel di tinggal pergi oleh sang ibu, karena ibunya berselingkuh dengan seorang laki-laki lain, dan begitu pun dengan Ayahnya yang menjalin asmara dengan wanita lain, hati Verel benar-benar hancur bila mengingat kejadian dulu.
"Aku tidak mungkin merusak rumah tangga orang lain, karena aku pernah merasakan bagaimana keluarga ku di rusak oleh kehadiran orang lain". ucap Verel yang sudah merebahkan tubuhnya ke ranjang.
__ADS_1