
Pagi-pagi yang cerah, Nevan masih ber olahraga di depan halaman rumahnya, devan sudah berlari-lari kecil dan push up, untuk tetap menjaga tubuh atletisnya, dengan Aera yang masih sibuk di kamar untuk membersihkan mainan-mainan anaknya, namun berkali-kali di bersihkan juga berkali-kali di berantaki oleh Abi dan Ara, Aera sudah menarik nafasnya dalam-dalam melihat anak-anaknya yang berlari kesana-kemari, membuat Aera merasa begitu sangat lelah, Aera pun sudah duduk di atas ranjang karena dari kemarin perutnya merasa tidak enak, Aera terus mengusap-usap perut buncitnya.
"Pagi sayangnya mommy, tumbuhlah dengan sehat ya nak, mommy sama daddy sudah menunggu kalian". Aera yang menatap perut besarnya dan sudah mengusapnya.
Aera pun kembali membersihkan mainan Abi dan Ara, sambil memegangi perut yang begitu terlihat besar, membuat Aera susah untuk berjongkok, namun saat Aera akan kembali beranjak berdiri, tiba-tiba perut Aera merasa sakit, Aera kembali duduk di sofa, rasa sakit pun semakin terasa Aera sudah tidak bisa menahannya.
"Abi.. Ara..". Aera yang memanggil anaknya yang masih sibuk bermain di atas ranjang.
"Iya mommy". jawab Abi.
"Sayang tolong panggilkan daddy dong, bilang perut mommy sakit gitu". ucap Aera pada anaknya.
"Baiklah mommy". Abi yang sudah turun dari ranjang, dan segera keluar dari kamar untuk memanggil daddynya, Aera masih menahan sakitnya sambil memegang sofa dengan sangat erat.
Abi masih berlari-lari kecil menuju ke halaman rumah, langkah kecil itu pun sudah mulai mendekat pada pintu. "Daddy.. Daddy..". panggil Abi yang sudah memberhentikan langkahnya.
Nevan yang mendengar panggilan dari anaknya langsung menoleh. "Iya sayang ada apa?". tanya Nevan.
"Kata mommy, perut mommy sakit daddy, mommy udah mau menangis". ucap Abi di depan pintu.
Nevan yang mendengar ucapan anaknya seketika jantungnya berdebuk kencang, Nevan kembali panik, segera berlari untuk menghampiri Aera. "Ayo daddy gendong". Nevan yang sudah menggendong Abi terus berlari menuju kamar.
Nevan pun sudah membuka pintu kamar begitu saja, dan segera masuk, Nevan sudah menurun kan Abi dan mendekat pada Aera. "Sayang kamu kenapa, apa kamu jatuh lagi?". Nevan yang melihat istrinya merintih kesakitan duduk di sofa.
"Tidak sayang, sepertinya aku sudah mau lahiran". ucap Aera terus meringis kesakitan.
"Apa! bukannya kamu belum waktunya untuk melahirkan ya?". tanya Nevan lagi.
"Iya sayang, tapi perutku sudah sakit, sepertinya mereka akan keluar sebelum waktunya". ucap Aera yang terus memegangi perutnya.
__ADS_1
"Baiklah ayo kita kerumah sakit sekarang". Nevan yang sudah terburu-buru, hanya memakai celana panjang dan memakai jaket begitu saja, sudah membopong tubuh Aera untuk keluar dari kamar menuju ke mobil.
"Bik ina.. Bik ina..". panggil Nevan pada pembantunya.
"Iya tuan". bik ina yang sudah berlari dari arah dapur.
"Tolong jaga Abi dan Ara dulu ya, sebentar lagi mama Serli akan ke sini, sepertinya istri saya akan melahirkan". ucap Nevan.
"Baik tuan, memang sepertinya nyonya sudah mau melahirkan itu ketubannya sudah pecah". bik ina yang melihat ada air yang mengalir di kaki Aera.
"Iya bik saya titip Abi dan Ara dulu". Nevan yang sudah kembali berjalan untuk masuk ke dalam mobil, dan pak bejo pun sudah menyiapkan mobil di depan rumah, Nevan segera membawa masuk Aera, dan mobil pun sudah melaju sangat kencang, jalanan pagi yang tidak terlalu rame, pak bejo semakin menambah laju kecepatannya.
"Sayang sakit". Aera yang terus menggenggam tangan suaminya.
"Tahan ya sayang, sabar". Nevan yang mencoba menenangkan istrinya.
Mobil terus melaju, melewati jalan raya yang tidak terlalu padat, dengan Nevan yang begitu sangat cemas, karena mengingat Aera belum waktunya untuk melahirkan, Nevan takut kenapa-kenapa dengan anaknya, dan akhirnya mobil pun sudah sampai di depan rumah sakit, beberapa tenaga medis pun sudah mendekat untuk membawa Aera ke ruang persalinan, Nevan masih berjalan di samping Aera, terus menggenggam erat-erat tangan istrinya.
"Ibu Aera akan segera melahirkan pak, dan sudah pembukaan 5". ucap Dokter febby pada Nevan yang berdiri di sebelah istrinya.
"Bukannya istri saya belum waktunya melahirkan ya dok?". tanya Nevan.
"Iya pak benar, tapi bayinya sudah ingin keluar di usia 8 bulan lebih sedikit, bahkan semua sehat dan baik-baik saja tidak ada kendala, jadi tidak ada masalah kalau melahirkan sekarang". jelas dokter Febby lagi.
"Baiklah dok, berikan penanganan yang terbaik untuk isti dan anak saya". ucap Nevan lagi.
"Baik pak". jawab Dokter Febby.
Peralatan semua pun sudah di siapkan, dokter Febby pun juga sudah siap, dengan Aera yang terus menggeram karena kesakitan, Nevan terus menguatkan dan memberi semangat di samping istrinya.
__ADS_1
"Apa ibu Aera sudah siap, tunggu aba-aba dari saja dulu ya buk". ucap dokter Febby.
Dan Aera pun hanya mengangguk pelan, dokter Febby pun sudah siap akan membantu persalinan Aera. "Baik tari nafas ya buk, lalu hembuskan, ayo mulai, satu.., dua.. tiga..". Dokter Febby yang memberi aba-aba.
"Aghhhttt.. Aghtttt..". Aera yang terus mengejan.
"Ayo buk terus, sedikit lagi". ucap dokter Febby masih fokus menatap pada rahim Aera.
"Aghhhttt...". sekali mengejan saja bayi pertama pun sudah lahir.
"Oekkkk.. Oekkkkkk..". bayi putih bersih berwajah tampan dengan bibir yang mungil, masih berbalut dengan darah sudah keluar.
"Alhamdulilah, babynya cowok pak, buk yang pertama". ucap Dokter Febby yang sudah memberikan baby kepada suster untuk di bersihkan.
Nevan dan Aera yang mendengar tangisan anaknya sudah keluar dengan selamat begitu sangat bahagia, Nevan sudah melihat anaknya yang sedang di bersihkan oleh suster, setelah selesai di bersihkan Nevan di suruh untuk menggendong babynya, bukan hal susah untuk Nevan, karena dulu juga pernah menggendong Abi dan Ara waktu lahir.
Setelah hampir setengah jam Aera merasa perutnya kembali sakit, suster yang masih di ruangan Aera kembali untuk memanggil dokter Febby, tidak lama dokter Fabby pun sudah datang.
"Bagaimana buk apa sudah merasa sakit lagi?". tanya dokter Febby pada Aera.
"Iya dok sepertinya baby kedua akan keluar". jawab Aera.
Dokter Febby pun kembali memberi Aba-aba kepada Aera. "Baiklah lakukan seperti tadi ya buk, anda siap, satu.., dua.., tiga.. tarik nafas lalu hembuskan". ucap Dokter Febby.
"Ayo sayang semangat, kamu pasti bisa". Nevan yang terus menggenggam tangan istrinya.
"Aghhhhtttt.. sakit..!". Aera yang kembali mengejan, dan tiba-tiba bayi kedua pun langsung lahir.
"Oekkkkk.. Oekkkkk....". Bayi berparas cantik, memiliki bulu mata lentik seperti Aera juga sudah lahir dengan selamat lengkap.
__ADS_1
"Wahh yang ke dua cewek pak, buk, mereka kembar seperti yang kembar pertama". ucap Dokter Febby begitu sangat kagum.
Nevan dan Aera semakin bertambah bahagia mendengar tangisan ke dua anaknya, mereka tidak menyangka akan memiliki 2 anak perempuan, dan 2 anak laki-laki, Aera yang sangat bahagia menjadi terharu, Aera pun sudah menitihkan air Matanya.