
Hari pun sudah Sore Nevan dan Aera sudah keluar dari rumah sakit, dan sopir Nevan Sundah menjemput mereka ber dua untuk pergi menuju ke tempat rumah Aera, Aera yang di jalan masih terlihat takut dan was-was untuk pulang bertemu dan berbicara kepada ibunya.
"Kamu sedang memikirkan apa sayang". tanya Nevan yang duduk di samping Aera.
"Apa ibu akan marah kepadaku?". ucap Aera dengan raut wajah yang takut.
"Kita akan berbicara baik-baik kepada ibu, semoga ibu memahami kondisi ini". Nevan yang mencoba menenangkan Aera.
"Semoga saja". ucap Aera yang kembali melihat pemandangan di luar.
Mobil Sport berwarna merah sudah masuk ke dalam perdesaan, melewati beberapa rumah penduduk, dan tidak lama mobil sport pun sudah berhenti di depan rumah Aera, Aera segera turun dari mobil yang sudah di bukakan oleh supir Nevan, dan melihat ibunya yang berlari-lari kecil melihat Aera sudah pulang.
"Aeraa anak ibu". teriak ibu Rosita mendekat pada anaknya.
"Ibu jangan lari-lari, ibu belum pulih total". ucap Aera yang berjalan pelan mendekat pada ibunya.
"Kamu tidak apa-apa nak, kamu sakit apa?". tanya ibu Rosita kepada anaknya.
"Mari kita masuk dulu bu, dan bicara di dalam rumah". ucap Aera dan di sahuti anggukan kecil oleh ibunya.
Ibu Rosita, Nevan dan Aera pun sudah masuk ke dalam rumah, mereka ber 3 duduk di ruang tamu, dan ibu Rosita tidak lupa menyuguhkan minuman untuk Nevan dan Aera.
"Silahkan di minum tuan, maaf cuman ada teh hangat di sini". ibu Rosita yang sudah menaro teh hangat di meja.
"Iya buk, terimakasih".
"Bukannya ini bos Aera yang dulu pernah kesini ya untuk mencari Aera?".
"Iya buk benar". jawab Nevan sambil melesat tehnya.
"Terimakasih ya tuan, sudah menghantar anak saya dan menjaga anak saya". ucap Ibu Rosita yang berterimakasih pada Nevan.
__ADS_1
"Iya buk sama-sama, tapi bagaimana ke adaan ibu apa sudah membaik?". tanya Nevan.
"Sudah tuan, sekarang sudah cukup baik". jawab Ibu Rosita.
"Tapi ngomong-ngomong kamu sakit apa Aera, tidak seperti biasanya kamu sakit sampai pingsan dan di bawa kerumah sakit?". ibu Rosita yang menatap pada.anak nya.
"Buk, Aera ingin berbicara sesuatu kepada ibu". ucap Aera yang sudah mulai merasa takut untuk berbicara, namun Nevan mengusap punggung Aera mengisyaratkan tidak akan terjadi apa-apa.
"Bicara lah nak, ibu akan mendengarkannya". ibu Rosita yang masih menatap pada wajah Aera.
"Apa ibu janji tidak akan marah kepada Aera?". tanya Aera
"Katakan saja dulu apa yang ingin kau bicarakan kepada ibu".
"Sebelumnya maafkan Aera bu, Aera sedang mengandung 3 minggu". Ucap Aera sudah menitihkan air matanya.
Ibu Rosita yang mendengar perkataan anaknya tidak percaya. "jangan bercanda Aera, tidak baik bercanda seperti itu, ucapan itu adalah doa".
Ibu Rosita yang kembali mendengar ucapan anaknya sontak terkejut dan berkaca-kaca, merasa di hantam oleh beribu-ribu batu besar yang jatuh dari langit, melihat gadis satu-satunya yang di besarkan dan di banggakannya sekarang sudah berbeda, ada nyawa yang tumbuh di dalam rahimnya, Ibu Rosita tidak bisa membendung air matanya lagi, seketika air mata pun jatuh membasahi pipinya.
"Kenapa kau berbuat seperti itu Aera, apa ibu membesarkan mu sampai sekarang hanya menjadikan mu menjadi wanita jalang! jawab ibu Aera!". ibu Rosita yang merasa kecewa.
"Maaf kan Aera bu". Aera yang sudah turun ke lantai untuk meminta maaf kepada ibunya.
"Ibu sangat kecewa padamu Aera, tidak di sangka anak ibu sudah berzina dengan laki-laki ini, tidak lain adalah bosmu sendiri!". ucap ibu Rosita yang menunjuk pada Nevan.
"Bu, tapi Nevan yang sudah membiyai operasi ibu, hingga ibu bisa sembuh". Ucap Aera masih menangis.
"Lalu apakah kamu menjual badan mu kepada laki-laki ini? apa kamu menjual badan mu karena ibu? kenapa waktu itu kau tidak biarkan saja ibu mati!".
"Tidak bu, bukan seperti itu".
__ADS_1
"Minggir, lepaskan ibu!". ibu Rosita yang sudah pergi meninggalkan Aera dan Nevan untuk masuk kamar.
Nevan yang melihat Aera dan ibunya bertengkar merasa sangat bersalah, dan bingung harus berbuat apa, bahkan ingin bicara tidak ada celah untuk Nevan.
Tidak lama ibu Rosita pun keluar dari kamar membawa tas besar yang berisi pakaian Aera, dan di lemparkan begitu saja di depan pintu.
"Keluarlah dari rumahku, Kau bukan anakku lagi". ucap ibu Rosita.
"Apakah ibu mengusir Aera?". tanya Aera yang mendekat pada ibunya.
"Jangan menyentuh ku, kau bukan anakku lagi, dan pergilah dari sini secepatnya!". ibu Rosita yang sudah berjalan akan pergi namun di cegah oleh Aera.
"Ibu bagaimana Aera bisa pergi melihat keadaan ibu belum sembuh total". ucap Aera yang memegang tangan ibunya.
"Lepaskan! masih ada Rio yang menjaga ku, keluarlah dari sini!". ibu Rosita yang melepaskan tangannya dari genggaman Aera.
Aera merasa pasrah atas ucapan ibunya, Aera pun berjalan keluar dan pergi dari rumahnya yang sudah di ikuti Nevan di belakangnya sambil membawa tas Aera, Aera dan Nevan pun sudah masuk ke dalam mobil, dan mobil pun sudah berjalan pergi meninggalkan kediaman Aera.
"Maaf kan ibu nak, kau adalah harta satu-satunya yang ibu punya, tapi kenapa kau sudah membuat ibu kecewa". ucap ibu Rosita yang melihat anaknya sudah pergi bersama Nevan.
Di perjalanan Aera masih menangis se kencang-kencangnya, menyenderkan kepalanya ke pundak Nevan.
"Sudah jangan menangis sayang, mungkin ibu butuh waktu untuk menerima semuanya". Nevan yang mengusap rambut Aera.
"Tapi ibu sudah mengusirku, pasti ibu sangat membenciku".
"Tidak, tidak ada seorang ibu yang membenci anaknya sendiri, ibu hanya membutuhkan waktu, dan besuk aku akan menemui ibu lagi untuk berbicara kepada ibu yang sebenarnya". ucap Nevan yang menenangkan Aera.
"Terimakasih Nevan". ucap Aera yang memeluk Nevan, tidak lama Aera pun sudah tertidur pulas di pelukan Nevan.
Nevan pun memutuskan untuk membawa Aera ke apartemannya, mengingat Aera sedang mengandung tidak mungkin mecari rumah baru dan meninggalkan Aera sendiri.
__ADS_1