
Nevan yang baru saja selesai membersihkan diri dan bersiap-siap untuk berangkat bekerja, tiba-tiba bel rumah berbunyi berkali-kali, Nevan begitu sangat berantusias untuk membukanya, Nevan pun sudah berlari-lari untuk segera keluar fikirnya siapa tau yang datang adalah Aera istrinya.
"Bik ina, biar saya saja yang buka pintunya?". ucap Nevan yang melihat pembantunya juga lari untuk segera membuka pintu.
"Ehh baik tuan". seketika bik ina pun memberhentikan langkahnya, dan kembali berjalan menuju ke belakang.
Nevan sudah mulai mendekat pada pintu, dan ia pun sudah membuka pintu, namun saat pintu di buka Nevan sangat terkejut ternyata yang datang bukan istrinya Aera melainkan Clarisa mantan kekasihnya.
"Clarisa, kamu ngapain pagi-pagi kesini?". tanya Nevan yang masih berdiri di depan Clarisa.
"Perutku sakit lagi van, dan badanku sangat lemas". jawab Clarisa.
"Kalau kamu sakit seharusnya langsung saja ke rumah sakit bukan ke sini, aku bukan dokter". ucap Nevan yang sudah memalingkan wajahnya.
"Aku ingin di antar olehmu van, sudah beberapa hari aku menjalani kemo tanpa kamu antar, bukannya kamu sudah berjanji akan menemaniku sampai aku sembuh". ucap Clarisa pura-pura memasang muka memelas.
"Iya, tapi aku sedang sibuk, dan mulai sekarang kamu akan di antar oleh supir pribadi ku pak bejo untuk kerumah sakit, kalau kamu gak mau kamu bisa naik taksi nanti biar aku saja yang bayar". jelas Nevan.
"Tapi aku ingin kamu yang mengantar ku van, apa kamu tega aku kerumah sakit dengan orang lain?".
"Clarisa hidupku bukan hanya untuk membantumu saja, aku juga punya istri dan anak, bahkan anakku sudah 2, kenapa kamu sekarang menjadi manja dan berlebihan sekali!". ucap Nevan dengan nada tinggi.
__ADS_1
Namun saat Nevan sedang berbicara dengan Clarisa tiba-tiba Aera datang kerumah lamanya menggunakan taxsi, dengan membawa selembar kertas di tangannya, ya Aera sudah membawa surat perceraiannya dengan Nevan, bahkan ibu Rosita yang berkali-kali memberitahunya untuk mempertahankan rumah tangganya, Aera tetap saja tidak mendengarkan ucapan ibunya, karena keputusan Aera sudah bulat, dan tidak bisa di ganggu gugat.
Nevan yang melihat ada taxsi berhenti di depan rumahnya dan sudah turun wanita cantik mengenakan dres berwarna merah polos, dengan tubuh ramping dan kaki jenjangnya yang tidak terlihat seperti ibu memiliki dua anak, Aera sudah berjalan mendekat pada Nevan dan Clarisa.
"Aera, kamu datang kesini?". Nevan yang sedikit berjalan mendekat pada Aera.
"Wahh belum bercerai saja kalian sudah berdua-duaan di pagi hari". ucap Aera dengan senyum sinis.
"Bukan begitu Aera, Clarisa hanya_?". sebelum Nevan selesai bicara sudah di sahut oleh Aera.
"Aku datang kesini tidak mememinta penjelasan darimu, ini surat perceraian kita, dan segera tandatangani lah!". Aera yang memberikan surat perceraian dengan kasar.
"Terserah, keputusanku sudah bulat!". ucap Aera pada Nevan lalu Aera mendekat pada Clarisa. "Dan kau wanita perebut laki-laki orang, dan merebut kebahagian orang lain, apa anda sudah puas, apa anda bahagia, saya doakan hidup anda lebih bahagia dari hidup saya!". ucap Aera lalu pergi begitu saja dari hadapan Nevan dan Clarisa.
Nevan yang melihat Aera sudah berlari pergi, Nevan pun segera mengejar Aera.
"Aera, Aera tunggu jangan pergi". Nevan yang mulai berlari untuk mengejar Aera namun di cegah oleh Clarisa.
"Nevan, sudah lah Aera sudah tidak mencintaimu lagi, dan dia juga sudah tidak membutuhkan mu lagi".
"Diam kamu Clarisa, dan pergi menyingkirlah!". Nevan yang menerobos badan Clarisa begitu saja untuk mengejar Aera.
__ADS_1
Nevan terus berlari mengejar Aera, dan Nevan pun sudah mendekat pada Aera dan menarik tangan Aera. "Aera bukan kah aku sudah berkali-kali bilang kepadamu kita tidak akan bercerai!".
Wekkkkkkss. kertas perceraian yang sudah di robek menjadi dua oleh Nevan.
"Hahaha apa dengan kamu merobek kertas perceraian itu, aku akan menarik lagi ucapan ku, tidak van, aku sudah berkali-kali bilang kepadamu ini adalah keputusanku". ucap Aera di depan Nevan.
"Aera ini bisa di selesaikan secara baik-baik, tidak dengan perpisahan". jelas Nevan.
"Bukankah itu keputusan yang kamu ambil untuk membantu Clarisa tanpa sepengetahuan ku, apa yang kamu tanam, itu yang kamu tuai sekarang Van".
"Kamu sangat egois Aera, kamu mengambil kepusan hanya 1 belah pihak".
"Apa kamu fikir kamu tidak egois, dari dulu kamu selalu mengambil keputusan sesuai jidatmu sendiri, kau ingat waktu dulu kamu meniduriku, bahkan saat itu kau sangat egois van, ahh sudahlah keputusan ku tetap sama, aku minta bercerai darimu!". Ucap Aera lalu pergi begitu saja meninggalkan Nevan.
"Aera jangan pergi!". teriak Nevan begitu keras.
Clarisa yang dari jauh menyaksikan perkelahian yang hebat antara Nevan dan Aera, Clarisa begitu sangat bahagia. "Akhirnya Nevan dan Aera akan bercerai juga, ternyata tidak susah ya membuat mereka bercerai hanya hitungan hari saja, dan saatnya aku akan memiliki Nevan sepenuhnya, dan harta Nevan semua, juga akn menjadi hartaku". ucap Clarisa lirih sambil tersenyum kemenangan.
Nevan pun kembali masuk ke dalam rumahnya setelah Aera pergi, dan sudah menyuruh Clarisa untuk pergi juga dari rumahnya, Nevan benar-benar merasa frustasi, hampir sudah tidak bisa berfikir lagi harus berbuat apa untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Aera yang sudah di dalam taxsi terus menitihkan air matanya. "Bahkan aku berat van mengambil keputusan ini, tapi aku tidak bisa menerima mu lagi karena kau sudah membohongiku, begitu berat hatiku menerima semua ini, semoga keputusan yang aku pilih ini adalah yang terbaik". ucap Aera di dalam batinnya.
__ADS_1