
Pagi hari yang mendung di hari minggu Nevan sudah bersiap-siap untuk pergi kerumah orang tua Aera, untuk menemui Aera dan menjelaskan semuanya, Nevan sudah memastikan Aera akan pergi ke tempat orang tuanya, bahkan bik ina dan pak bejo juga mengatakan bahwa Aera pergi ke rumah ibu Rosita, Nevan sudah keluar dari rumah menggunakan baju kaos polos yang pas menempel pada badan atletisnya dan di padukan dengan celana jins warna hitam, tidak lupa Nevan membawa kaca mata hitam andalannya, Nevan sudah masuk ke dalam mobil segera melajukan mobil sport berwarna merah, untuk keluar dari halaman rumah besarnya.
Di perjalanan Nevan masih bergelut dengan fikiran nya, takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan nya, Nevan merasa hidupnya sekarang kelu, melihat istri yang di cintainya dan buah hatinya pergi meninggalkan rumah, apa lagi kemarin Aera mengatakan akan berjumpa lagi di persidangan, itu membuat Nevan benar-benar merasa tidak mampu lagi menginjakkan kakinya di atas tanah.
"Bagaimana kalau Aera tidak mau memafkanku, dan bagaimana kalo dia benar-benar akan mengakhiri rumah tangga kita, aku tidak bisa membayangkan itu, kalau itu memang terjadi aku tidak akan memaafkan diriku sendiri". Ucap Nevan pelan masih melajukan mobilnya sangat kencang.
Setelah melewati beberapa rumah-rumah penduduk perdesaan dan beberapa sawah Nevan pun sudah sampai di halaman rumah ibu Rosita, Nevan melihat Abi dan Ara yang berlari-larian di halaman rumah, Nevan pun memutuskan untuk segera turun dari mobil.
"Daddy, Daddy". Panggil Abi dengan ucapan masih pelo tidak jelas yang melihat Nevan datang.
"Daddy Atang". Ara yang juga mendekat kepada daady nya, bahkan berkali-kali jatuh karena masih belum sepenuhnya bisa berjalan.
"Ahh sayangnya Daddy, daddy kangen kalian, kangen suara brisik kalian sayang". ucap Nevan sambil mencium pipi anak-anaknya.
Ibu Rosita yang baru saja dari dalam untuk membuat kan Abi dan Ara susu, melihat Nevan datang sangat bahagia.
"Ehh nak Nevan kesini, ayo nak masuk dulu". ucap ibu Rosita yang berjalan mendekat pada Nevan.
"Iya buk, maaf saya datang secara tiba-tiba". ucap Nevan yang sudah menyalami ibu Mertua nya.
"Ah tidak apa-apa ini kan juga rumah kamu, ayo masuk nak Nevan". ucap ibu Rosita yang mempersilahkan Nevan masuk.
Nevan dan ibu Rosita pun masuk ke dalam rumah dengan membawa Abi dan Ara, namun Nevan masih mengedarkan pandangannya, mencari Aera, namun juga tidak melihatnya.
"Apa nak Nevan sedang mencari Aera?". tanya ibu Rosita sambil menyuguhkan minuman di depan Nevan.
"Iya buk, apa Aera masih tidur?".
__ADS_1
"Tidak, tadi pagi-pagi sekali Aera sudah berangkat ke pasar untuk belanja, mungkin sebentar lagi akan pulang". jawab ibu Rosita.
"Baiklah buk". ucap Nevan.
Setelah menunggu 10 menitan, Aera pun sudah pulang menggunakan motor becak, Nevan yang mendengar ada suara motor berisik, Nevan pun keluar dari rumah.
Aera sudah menduga pasti Nevan akan datang untuk menemuinya, Aera sudah melihat mobil Nevan yang terparkir di depan halaman rumah, membuat Aera malas untuk masuk ke dalam, namun saat Aera akan masuk, Nevan labih dulu keluar dan sudah berdiri di depan pintu.
"Aera?". panggil Nevan pada istrinya.
Namun Aera tidak menjawab panggilan dari Nevan, Aera masih fokus berjalan dan mulai mendekat pada pintu tepat berdirinya Nevan.
"Sayang sini aku bantu bawa belanjaannya, pasti berat kan". Nevan yang mulai mengambil beberapa belanjaan di tangan Aera namun di tepis oleh Aera.
"Tidak usah! kamu ngapain ke sini, lebih baik pulang lah". ucap Aera.
"Minggir lah, dan aku tidak mau tinggal bersamamu lagi!". Aera yang sudah menerobos badan Nevan begitu saja untuk masuk kedalam rumah.
"Aera tolong dengarkan sekali saja penjelaskanku?". Nevan yang terus mengikuti langkah kaki Aera.
Ibu Rosita yang mendengar pembicaraan Aera dan Nevan dari kamar setelah menidurkan Abi dan Ara, ibu Rosita pun segera turun keluar dari kamar.
"Aera, ibu mungkin tidak tau apa permasalahan kalian berdua hingga sampai bertengkar, tapi Nevan adalah suamimu dan Nevan adalah kepala keluarga kalian, setidaknya kamu mendengarkan dulu ucapan suamimu". ucap ibu Rosita yang sudah turun dari tangga.
"Bu, apa yang harus ku dengar dari ucapan dia, aku sudah melihatnya sendiri dia berselingkuh dengan mantan kekasihnya di aparteman wanita itu, bukankah semua itu sudah jelas!". jelas Aera pada ibunya.
"Bukan begitu bu, memang Clarisa adalah mantan kekasih saya, namun saya tidak ada hubungan apa-apa dengannya, saya hanya membantu dia menjalani pengobatannya karena dia mengidap kangker servik sudah stadium lanjut, tapi di sisi itu dia juga hamil dan bayi itu tidak mempunyai ayah". Nevan yang mulai menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Lalu apakah kamu percaya dengan kekasihmu itu begitu saja, lalu apakah kamu yang akan bertanggung jawab juga atas anak itu tuan Nevan yang terhormat". ucap Aera.
"Bukan begitu Aera, aku hanya membantunya saja, setelah dia sembuh, kita tidak akan berhungan apa-apa lagi". jawab Nevan lagi.
"Omong kosong". Aera yang memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Aera kata nak Nevan benar, suami mu hanya membantu mantannya saja, seperti dulu nak Nevan yang membantu mu waktu ibu sedang mengidap kangker leukimia stadium 3, bukankah membantu orang itu adalah tindakan yang mulia". ucap ibu Rosita.
"Lalu aku di anggap sebagai apa bu di matanya, kalau memang aku ini istrinya kenapa mas Nevan tidak meminta izin kepadaku, tidak ada kebenarannya suami membantu wanita lain tanpa izin seorang istri, apa lagi dia mampu datang ke apartemen wanita itu!". Ucap Aera yang sangat tegas.
"Aera aku tau aku salah tidak meminta izin kepadamu terlebih dahulu, karena aku takut kamu akan marah kepadaku". ucap Nevan.
"Anda bisa menjelaskan ini semua besuk di pengadilan tuan Nevan yang terhormat". ucap Aera lalu pergi untuk naik ke atas tangga namun kembali di cegah oleh Nevan.
"Aera kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik, apa kau lupa kita itu sudah mempunyai anak, Abi dan Ara masih membutuhkan sosok ayah dan ibu Aera".
"Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan kepadaku kemarin sungguh melukai perasaanku Nevan, dan aku akan segera mengirim surat perceraian kita berdua kepadamu mu, dan tolong segera tanda tangani lah". Ucap Aera berlalu pergi naik ke atas meninggalkan Nevan dan ibunya.
"Aera aku tidak mau bercerai". Teriak Nevan.
"Sudah nak Nevan, mungkin Aera masih sakit hati dan marah, maklum dia seorang istri dan ibu, biar nanti ibu yang bicara kepadanya". ibu Rosita yang menenangkan Nevan.
"Mohon bantu saya buk, saya tidak mau keluarga kecil saya hancur". ucap Nevan yang memohon kepada mertuanya.
"Iya nanti ibu coba berbicara kepada Aera, mendingan sekarang nak Nevan pulang dulu, istirahatlah agar fikiran nya kembali jernih".
"Iya buk, kalau begitu saya pamit pulang dulu, dan saya titip Aera dan anak-anak saya". Nevan yang sudah pamit kepada ibu Rosita dan ibu Rosita pun memberi Anggukan pelan.
__ADS_1