
Pagi-pagi Aera sudah rapi seperti biasa menggunakan kemeja dan rok span seksi yang di kenakan untuk bekerja, namun Aera tidak untuk bekerja, Aera sudah membawa surat pengunduran diri di tas nya, Aera keluar dari kamar segera berpamitan kepada ibunya.
"Ibu Aera berangkat dulu ya?". Aera yang pamit kepada ibunya.
"Sudah mau berangkat bekerja?". tanya Ibu Aera.
"Iya bu, tapi kenapa wajah ibu begitu pucat, apa ibu sakit?". Aera yang mendekat pada ibunya.
"Ah tidak nak, tadi malam ibu hanya kurang tidur saja". jawab ibu.
"Ya sudah Aera berangkat dulu ya bu, ibu banyak-banyak istirahat". Aera yang bersalaman pada ibunya.
"Iya, kamu hati-hati ya?".
Aera sudah di dalam angkot untuk menuju ke kantor, lagi-lagi angkot masih sepi, Aera masih memandang pada jalanan yang tidak rame karena masih pagi.
"Mbk bagaimana kerjanya?". tanya sopir angkot yang ada di depan.
Aera yang mendengar suara itu pun sontak melihat kedepan. "Eh bapak angkot yang kemarin itu ya, baik pak betah kok?". Jawab Aera.
"Syukurlah mbak, mbaknya kerja di bagian apa?". tanya abang angkot.
"Saya sebagai sekretaris Direktur utama pak". jawab Aera.
"Wahh bagus berarti ya, jabatan yang cukup tinggi, tapi syukur kalau betah mbk".
Aera yang mendengar perkataan abang angkot pun agak bingung. "Emang kenapa kok gak betah pak?". tanya Aera.
"Masak mbk gak tau, katanya Direktur utama di perusahaan itu sangat galak, hampir sudah berapa puluh orang mengundurkan diri menjadi sekretarisnya". ucap abang angkot yang masih melajukan angkotnya.
"Apa iya pak, saya malah gak tau". Aera yang sedikit tersenyum.
"Dia bukan galak lagi, tapi dia seperti iblis merenggut masa depan seseorang wanita, apa dia juga memperlakukan sekretaris-sekretarisnya yang dulu sepertiku?". ucap Aera di dalam batinnya.
__ADS_1
Tidak lama angkot pun sudah tiba di depan perusahaan Nevan, Aera segera turun dan melangkah ke ruangan personalia, Aera tidak mau bertemu dengan Nevan lagi, surat pengunduran diri pun Aera titipkan ke personalia, setelah menitipkan surat pengunduran diri Aera segera pergi untuk pulang.
Nevan yang berdiri melamun menatap kaca luar di ruangannya, masih menunggu Aera untuk masuk kerja, tiba-tiba pintu ruangan Neva pun terbuka, membuat Nevan menoleh pada pintu.
"Selamat pagi pak?". Sapa selis yang sudah masuk.
"Apa kamu tidak bisa ketok pintu dulu!".
"Maaf pak, ini saya mau memberikan surat pengunduran diri dari nona Aera".
Nevan yang mendengar perkataan selis pun seketika terkejut. "Apa surat pengunduran diri! apa Aera mengundurkan diri dari perusahaan ini?". Nevan yang sudah mengambil kertas di tangan Selis.
"Iya pak benar". jawab Selis.
"Apa tadi Aera ke kantor?". tanya Nevan lagi.
"Iya pak nona Aera ke sini 1 jam yang lalu, namun Nona Aera menitipkan surat ini di personalia, katanya sedang buru-buru". jawab selis.
"Ya sudah keluarlah". Nevan yang menyuruh Selis keluar dari ruangannya, dan selis pun meninggalkan ruangan Nevan.
"Aku harus menemuinya, dan aku harus bicara kepadanya". ucap Nevan yang sudah berjalan keluar.
Nevan memutuskan untuk menuju ke rumah Aera lagi, segera melajukan mobilnya dengan kencang, melewati beberapa kendaraan.
Aera yang baru saja sampai di rumah karena jalanan yang macet, melihat ibunya sudah jatuh tertidur di lantai, Aera pun berlari mendekati ibunya.
"Ibu.. Ibu.. kenapa ibu di bawah, bangun bu". Aera yang mengusap pipi ibunya.
Hikk.. Hik.. Aera yang menangis. "ibu kenapa? aku harus membawa ibu kerumah sakit". ucap Aera yang mencoba memapah badan ibunya untuk bangun.
Tidak lama Nevan pun tiba di rumah Aera, Nevan sudah memarkirkan mobilnya, lalu turun dari mobil, namun saat turun dari mobil Nevan melihat ibu Aera yang sudah jatuh di bawah lantai dan Aera yang mencoba mengangkatnya, Nevan pun berlari mendekat pada mereka ber dua.
"Aera, apa yang terjadi pada ibumu?". tanya Nevan yang mencoba membatu Aera mengangkat ibunya.
__ADS_1
Aera yang melihat Nevan baru saja datang sontak terkejut. "Jangan menyentuh ibu ku, menjauh dan pergilah dari rumahku!". Aera yang masih menangis menatap sengit pada Nevan.
"Aera aku minta maaf, semua kesalahanku, tapi bisa kah kita membawa dulu ibumu ke rumah sakit, kita akan terlambat". ucap Nevan di depan Aera dan Aera pun memberikan anggukan pelan.
Aera mencoba menetralkan emosinya, karena melihat keadaan ibunya yang sudah tak sadarkan diri, dan merasa sangat panik, Akhirnya Aera pun menerima bantuan dari Nevan, Nevan sudah membopong Ibu Aera untuk masuk ke dalam mobil, mereka ber 3 masuk ke dalam mobil untuk segera menuju ke rumah sakit, Nevan melajukan mobilnya sangat kencang, tidak lama mobil pun sudah sampai di depan rumah sakit, para pekrja medis sudah mendekat segera membawa ibu Aera masuk ke dalam ruangan ICU, Aera dan Nevan masih duduk di depan ruang ICU untuk menunggu hasilnya, Aera yang mondar-mandir terlihat begitu sangat mencemaskan ibunya, hampir Satu setengah jam menunggu, dokter pun keluar dari ruangan.
"Bagaimana keadaan ibu saya dokter". tanya Aera begitu panik.
"Ibu Rosita masih belum sadarkan diri, lebih lanjutnya mari bicara di dalam ruangan saya saja nona". dokter yang berjalan terlebih dahulu dan di ikuti oleh Aera dan Nevan di belakangnya.
Mereka ber tiga pun masuk ke dalam ruangan dokter, Aera dan Nevan yang sudah duduk menatap pada Dokter ilham begitu sangat serius.
"Ibu saya sakit apa dokter?". tanya Aera lagi.
"Ibu Rosita mengidap penyakit Leukimia stadium 3, dan harus segera untuk di oprasi". jawab Dokter ilham.
Aera yang mendengar ucapan Dokter ilham pun sangat terkejut dan kembali menitihkan air matanya.
"Kira-kira berapa biaya untuk operasi ibu saya dokter?". tanya Aera lagi.
"Bisa kisaran seratus juta nona, untuk me lakukan satu pengoperasian penyakit leukimia". jawab dokter Ilham.
"Seratus juta? Tanya Aera yang begitu kaget.
"Iya benar".
"Apa tidak bisa menunggu sampai satu bulan lagi dokter?".
"Ibu Rosita harus segera untuk di oprasi, karena takut akan semakin parah, dan membahayakan nyawanya". jawab dokter ilham.
Aera pun keluar dari ruangan dokter, dan segera masuk untuk menemui ibunya, Aera masih menitihkan air matanya, melihat keadaan ibu yang sakit parah, bahkan ibu Rosita adalah keluarga satu-satunya.
"Aera yakin ibu pasti sembuh, Aera akan mencari uang ya banyak untuk biaya oprasi ibu, Namun Aera bingung harus mencari di mana uang sebanyak itu, tapi Aera akan berusaha bu". Aera yang terus menitihkan air mata di samping ibunya.
__ADS_1
Nevan yang melihat dari pintu di luar ruangan merasa sangat terpukul melihat wanita yang ia cintai terus menangis mengetahui keadaan ibunya.