Baby Twins Ku

Baby Twins Ku
Kecurigaan


__ADS_3

Drettt.. Drett.. Drett.. Aera yang mendengar ponsel Nevan ber kali-kali berbunyi di atas meja kamar, Aera pun mendekat pada meja melihat pada ponsel suami nya, hanya tertera nomer ponsel saja tidak ada namanya, Aera yang penasaran namun takut juga akan mengangkat nya, Aera masih berdiri di sebelah meja, tidak lama pintu kamar mandi pun terbuka.


Ceklakk


Sontak membuat Aera langsung menoleh melihat pada Nevan yang baru saja keluar dari kamar mandi habis selesai mandi.


"Sayang aku lihat ponsel mu berkali-kali berdering, mau ku angkat tapi aku takut". ucap Aera yang memberikan ponsel pada Nevan.


"Mungkin rekan Bisnisku sayang?". jawab Nevan yang menerima ponselnya.


"Tapi di situ hanya tertera nomor saja tanpa nama sayang". ucap Aera yang duduk di ujung ranjang.


"Mungkin orang salah sambung, atau orang iseng saja sayang". jawab Nevan bohong.


"Baiklah, tapi kenapa kamu hari ini pulang begitu sangat larut sayang, apa ada meeting di luar kantor?". Aera yang masih menatap pada suami nya.


Nevan yang mendengar pertanyaan dari Aera merasa bingung harus menjawab apa. "Itu sayang tadi pagi ada meeting mendadak, jadi aku tidak langsung menuju ke kantor". jawab Nevan.


"Apa papa Erlik mendadak menelfon mu lagi sayang?".


"Iya sayang, papa Erlik selalu menelfon ku secara tiba-tiba". jawab Nevan yang sudah kehabisan kata-kata.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu, ya sudah ayo tidur sayang, kamu pasti capek bekerja seharian". Ucap Aera di samping Nevan.


"Iya sayang". jawab Nevan lalu mencium kening istrinya.


Nevan dan Aera pun sudah merebahkan tubuhnya bersama di atas ranjang, Abi dan Ara yang juga sudah tidur pulas di tengah mereka berdua.


"Maaf kan aku istriku, yang sudah berbohong kepadamu, sebenarnya aku tidak ada niatan untuk membohongi mu, tapi kalau aku bilang kepadamu, kamu pasti akan marah kepadaku dan tidak akan mengizinkanku untuk membantu Clarisa, aku hanya membantu Clarisa saja untuk menjalani pengobatannya, itu juga tidak akan lama". ucap Nevan di dalam batinnya yang melihat Aera sudah memeluk anak-anaknya di atas ranjang.


Hari sudah semakin malam, waktu sudah menunjukan pukul setengah 12 malam, Aera yang terjaga dari tidurnya sudah membuka mata nya melihat Nevan yang masih tertidur pulas begitu juga anak-anaknya, namun saat Aera bangun ia mendengar ponsel Nevan yang kembali berbunyi berkali-kali di atas meja di sebelah tempat tidur Nevan, Aera pun memutuskan beranjak untuk bangun, lalu berjalan untuk melihat ponsel Nevan siapa tau ada yang penting fikirnya, karena tidak biasanya ada yang menelfon suaminya selarut ini.


"Lagi-lagi yang menelfon hanya nomer saja, tidak ada namanya, kenapa nomer ini terus menerus menelfon suamiku, apa mungkin hanya salah sambung, apa benar Nevan tidak mengenal Nomer ini". ucap Aera lirih yang masing menatap pada ponsel Nevan.


Namun saat Aera ingin mengangkat telfon, tiba-tiba telfon pun sudah mati, tertera 6 panggilan tak terjawab dan 4 pesan dari nomor yang tidak di kenal, Aera pun mengambil ponsel Nevan untuk melihat pesannya, namun lagi-lagi Aera tidak bisa membuka pesan itu karena terdapat sandi di ponsel Nevan.


Aera yang merasa bingung dan merasa ada yang aneh dari suaminya, Aera memutuskan untuk kembali tidur, dan akan menanyakan ini semua besuk pagi pada Nevan.


****


Malam pun sudah berganti dengan pagi, Nevan yang sudah bangun lebih dulu dari pada Aera dan anak-anaknya Nevan sudah rapi dan sudah siap untuk segera pergi menuju ke apartemen Clarisa, karena Nevan mendapat pesan dari Clarisa, kalau penyakit kangkernya kumat lagi, Nevan sudah keluar dari kamar, dan memanggil bi ina.


"Bik, bik ina?". panggil Nevan pada asisten rumah tangganya.

__ADS_1


"Iya tuan muda". jawab bi ina sambil berjalan mendekat pada Nevan.


"Bik nanti kalau Aera sudah bangun dan tanya soal saya, jawab saja kalau saya sudah berangkat bekerja, karena ada meeting pagi ya?". jelas Nevan pada ARTnya.


"Baik tuan?". jawab bik ina sambil menundukkan kepalannya.


Nevan pun sudah keluar dari rumah, segera malajukan mobilnya sangat kencang untuk menemui Clarisa di apartemennya, karena Nevan tidak ingin Clarisa kenapa-kenapa, karna bagaimana pun Clarisa juga pernah mengisi dan menemani hidupnya sampai sukses, walaupun Clarisa akhirnya juga menyakiti hati Nevan.


Aera yang baru saja bangun karena mendengar tangisan dari Abi, Aera pun sudah beranjang untuk bangun, dan mengedarkan pandangannya mencari Nevan yang sudah tidak ada di kamar, bahkan kamar mandi pun juga kosong, Aera pun keluar dari kamar sambil menggendong Abi untuk mencari suaminya.


"Bik, bik ina?". Aera yang terus memanggil ARTnya.


"Iya nona Aera, maaf saya baru masak di belakang". jawab bik ina sambil berlari mendekat pada Aera.


"Apa mas Nevan sudah pergi berangkat bekerja bik?". tanya Aera pada bik ina.


"Iya nona tadi pagi setengah 6 tuan muda sudah berangkat, katanya ada meeting pagi di kantor". jelas bik ina.


"Ya sudah bik, kalau begitu". Aera yang kembali berjalan masuk ke dalam kamar.


"Tidak seperti biasanya mas Nevan sudah berangkat bekerja pagi-pagi sekali, walaupun ada meeting pagi mas Nevan tidak akan berangkat sepagi ini, bahkan dia pun tidak membanggunkanku dan tidak pamit kepadaku". grutu Aera pada suaminya.

__ADS_1


Aera yang merasa aneh pada suaminya dari kemarin, Aera pun memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap, untuk pergi menuju ke kantor Nevan, memastikan apa Nevan benar-benar masuk bekerja hari ini.


Aera sudah pergi menitipkan kembali Abi dan Ara kepada mama Serli, setelah dari rumah mertua nya Aera kembali melajukan mobilnya lagi, Aera memutuskan untuk mengemudikan mobilnya sendiri tanpa di antar oleh sopir pribadinya, Aera yang masih fokus menatap pada jalanan, di dalam mobil Aera sudah berfikir macam-macam tentang suaminya, Aera semakin melajukan mobilnya dengan kencang, dan sedikit menoleh pada spion mobilnya, kelakson pun terus berbunyi untuk mandahului mobil-mobil di jalanan, Aera terus saja melajukan mobilnya dan tidak lama Aera pun sudah sampai di depan perusahaan Nevan.


__ADS_2