
Bella hanya menghabiskan waktunya di ruangan Ridwan. Ponsel Bella sedari tadi bergetar menandakan ada yang telepon. Bella lalu mengambilnya, dilihatnya notifikasi yang menunjukkan panggilan Rayyan beberapa kali.
Saat fokus dengan ponselnya, Ridwan keluar dari kamar mandi dan mengamati Bella. Ridwan mengambil dan memakai baju gantinya. Sementara Bella masih tetap fokus dengan ponselnya.
Ridwan duduk di Ranjang sambil mengamati Bella yang masih berdiri dengan memegang ponselnya. "Hmm", Ridwan berdehem untuk mengalihkan fokus Bella.
"Kenapa tidak dijawab panggilan telfonnya, Dia sedari tadi sore menelfonmu, kurasa sekarang sudah kesekian ratus kali".
Ridwan berbicara sambil meredam sakit hatinya, Dia memikirkan mengenai apa hubungan Bella dan Rayyan. Fokus Bella berhasil teralihkan. Bella lalu meninggalkan ponselnya kembali ke meja dan menuju ke Ridwan.
Bella lalu duduk disamping Ridwan "hmm...kurasa ada kebakaran disini".
Ridwan membaui udara dan tak ada bau terbakar, dimana, aku tak mencium bau kebakaran.
Bella tertawa mendengar ucapan Ridwan. Sambil menunjuk ke dada Ridwan, Bella berkata "disini". Ridwan lalu memandang Bella, "apa dia pacarmu?".
Bella menggeleng.
__ADS_1
Pada dasarnya memang diantara Bella dan Rayyan tidak pernah ada komitmen pacaran.
"Kenapa dia menghubungimu terus, sepertinya ada sesuatu yang penting".
"Dan sepertinya ada seseorang yang cemburu karena hal ini", ucap Bella.
"Ayo kita menikah", ajak Ridwan.
Bella mengamati wajah Ridwan lalu dia duduk dipangkuan Ridwan.
"Apa kau tau, aku lebih suka aroma tubumu dibanding dengan parfummu.
"Tapi kita sudah sejauh ini" ,ucap Ridwan. Bella langsung mencium bibir Ridwan, "sejauh apa, sejauh ini?". Bella mendorong tubuh Ridwan sehingga rebahan di ranjang dengan kaki masih menapak di lantai. Bella ******* bibir Ridwan.
Setelah ********** beberapa menit, Bella kemudian turun ke bawah, dimana kaki ridwan masih menginjak lantai. Bella lalu menurunkan celana Ridwan dan mulai memberikan pijatan pada benda di hadapannya menggunakan mulutnya. Ridwan berkali kali mendesah dan menyebut namanya, "baby...ough baby ara..ough"
Setelah dirasa Ridwan cairannya mau keluar. "Ough baby...faster baby...dikit lagi keluar".
__ADS_1
Bellapun mempercepat permainan mulutnya, dan akhirnya Ridwan terpuaskan dengan aksi Bella.
Entah berapa kali aksi panas mereka terulang. Sepertinya mereka berdua memang tak pernah merasa puas hingga ingin mengulangnya berapa kali. Ridwan berusaha menahan mati-matian untuk tidak memasukkan pusaka miliknya.
Malam semakin larut, Ridwan mendekap tubuh Bella, "baby, apa kau pernah melakukannya dengan orang lain?", Tanya Ridwan.
"Apa perlu aku menjawabnya?, Kurasa kau akan terluka mendengar jawabanku".
Ridwan terdiam, fikirannya kacau. Dia membayangkan Bella berada dalam pelukan laki-laki lain. Ridwan lalu melepaskan pelukannya dan Bella hanya tersenyum mengetahu mimik muka kecewa Ridwan.
Bella lalu bangkit dari tidurnya dan memakai pakaiannya yang dia kenakan saat menuju ke ruangan Ridwan. Meski kotor, dia harus mengenakannya, dia tadi belum sempat membeli baju.
Setelah selesai Bella mengambil tas dan ponselnya kemudian kembali mendekati Ridwan yang sedang duduk di ranjang yang nampak terpukul dengan jawaban Bella.
"Maafkan aku, kurasa aku harus pergi".
Ridwan tak tau apa yang harus dilakukannya, Diapun tak mampu melihat Bella karena kecewa padanya. Bella tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan ruangan Ridwan. Selang beberapa menit bisa terdengar Ridwan berteriak dan melempar benda-benda.
__ADS_1
Bella hanya tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju mobil. Dalam perjalanan, Bella memutuskan untuk menuju ke hotel, karena dia yakin Rayyan akan mencarinya ke apartemen.