Bella Sang Penakluk

Bella Sang Penakluk
kepulangan Bella


__ADS_3

Saddam seharian menemani Bella di kamar inapnya. Dia bahkan tak keluar sama sekali dari kamar itu. Keesokan harinya, Bella yang selalu bersikeras untuk pulang diijinkan pulang oleh dokter yang menanganinya.


Saddam mengantarnya pulang ke apartemen. Seperti biasa Bella selalu digendong menuju suatu tempat oleh Saddam. Bukannya tak bisa berjalan tapi luka itu membuat pergerakan Bella terbatas


"Saddam terimakasih sudah mengantarku pulang, dan terimakasih sudah menemaniku," ucap Bella. Melihat kondisi Bella Saddam meragukan apakah Bella bisa sendirian di apartemennya, "Kau yakin bisa sendiri?".


Bella tersenyum lalu mengangguk. Saddam meninggalkan apartemen Bella. Bella merasa lega bisa meninggalkan rumah sakit dan kembali berada di apartemennya.


Posisi Bella masih ada di sofa dan dia memutuskan untuk rebahan disana.


Selang beberapa menit bel apartemen Bella terdengar. Bella bangun dan berusaha jalan menuju pintu dengan pelan. Bella membuka pintu dan mendapati Ridwan ada disana.


Ridwan melihat beberapa luka ditubuh Bella. "Kenapa dengan tubuhmu?", Tanya Ridwan.


Bella tersenyum.."kurang hati-hati saat menyeberang. Ada apa kemari?".

__ADS_1


Ridwan sibuk memgamati Bella beberapa luka lecet dan lebam ada dikaki, tangan bahkan dibahunya yang terbuka. Bella menggunakan dress pendek tanpa lengan yang dibelikan Saddam untuk mempercepat penyembuhan luka dan mempermudah pergerakan Bella.


"Kau sudah kedokter?", Tanya Ridwan. Bella menganggukkan kepalanya. "Mau masuk atau mau disini, kurasa kakiku agak nggak tahan untuk berdiri, Ucap Bella.


Bella sudah menahannya tapi dia rasa Dia harus segera duduk. Bella lalu masuk meninggalkan Ridwan. Ridwan melihat Bella agak kesulitan untuk berjalan lalu Dia segera menggendong Bella ke Sofa.


"Apa kau yakin sudah ke dokter?", Tanya Ridwan yang mengetahui Bella sama sekali tidak suka ke dokter dan susah sekali untuk minum obat.


Bella lalu menunjukkan sejumlah obatnya yang diperoleh dari Rumah Sakit ternama itu. "Jadi ada apa kemari?".


"Apa kau sendirian?", Bella menganggukkan kepalanya. "Kapan kejadiannya?". Bella mengerutkan dahinya. "Apa kau kesini mau menginterogasiku. Katakan padaku ada keperluan apa.


"Kau sudah minum obatmu?, Bella mengangguk, kemudian Bella mengamati Ridwan dan menunggu pertanyaan berikutnya. Tapi Ridwan hanya diam.


"Kenapa hanya diam, apa sudah selesai, kalau sudah kau boleh pulang. "Baby, Apa kau keberatan kalau aku menikah dengan orang lain?", Tanya Ridwan. Bella menatap Ridwan lalu tersenyum. "Punya hak apa aku melarangmu?... Menikahlah".

__ADS_1


"Apa kau kesini karena ingin bilang hal itu, jadi kau akan segera menikah, Selamat...", Ucap Bella. Bella menyadari bahwa lingkungan Ridwan biasannya akan terjadi perjodohan antar anak ulama, mungkin sekarang waktunya bagi Ridwan.


"Jadi aku benar-benar tak berarti untukmu", tanya Ridwan. Lagi-lagi Bella menghela nafasnya, "tentu saja kau berarti untukku malaikatku kalau bisa kuikat kau agar terus bersamaku", ucap Bella sambil tersenyum.


Ridwan lalu berkata sambil menatap Bella, "Hmm...kau suka mengikat orang tapi kau tidak suka diikat". Bella lagi-lagi tersenyum,


"Beri aku undangan kalau kau menikah oke"!.


Ridwan pasrah, "apa perlu kutemani?".


Bella menggelengkan kepalanya, "tidak terimakasih, pulanglah. Ridwanpun akhirnya memutuskan untuk pulang.


"telfon aku kalau ada apa-apa", ucap Ridwan sebelum pulang. Ridwan pulang dengan perasaan sedih karena tidak bisa bersama dengan Gadis yang sangat dicintainya. Dia pasrah dan menyerah


#Full Kisah Saddam dan Bella bisa kalian tunggu di novel berikutnya#

__ADS_1


__ADS_2