
Bella dibawa di kamar rawat inap VVIP di Rumah Sakit tersebut. Sesampainya disana, Saddam menanyakan kondisinya kepada dokter yang tadi menanganinya, "Bagaimana keadaannya?".
Dokter itupun lalu memberikan penjelasan, kondisi pasien sudah kami tangani tuan, hanya ada beberapa lecet dan lebam ditubuh. Kami akan memberikan perawatan dan obat terbaik agar meminimalir rasa nyeri dan juga menghindari bekas luka.
"Bagaimana dengan kepalanya, sepertinya dia sempat terbentur dan tak sadarkan diri.
"Jangan kuatir tuan kami sudah mengobservasinya dan tidak ada hal yang parah dibagian kepala.", Ucap dokter tersebut.
Saddam kembali bertanya pada dokter tersebut. "Apa kau yakin?". Lagi-lagi Aric menengahi, " hey percayalah, dia salah satu dokter ahli disini", ucap Aric.
"Kami sudah selesai tuan, kalau boleh kami mohon undur diri", ucap dokter tersebut diikuti tenaga medis lainnya". Saddam'pun menganggukkan kepalanya.
Mereka lalu meninggalkan kamar rawat inap dan di kamar tersebut hanya tersisa Bella, Saddam dan Aric. Setelah kepergian tenaga medis tersebut Bella yang sudah sadar ingin mendudukkan dirinya, tapi dia sedikit kesulitan. Aric melihat hal tersebut lalu mendekat ke Bella " apa kau mau duduk?". Bella menganggukkan kepalanya. "Sebentar akan kuatur untukmu.
Aric membantu Bella agar ranjang dan posisi duduk Bella nyaman. "Terimakasih", ucap Bella. Aric lalu tersenyum.., "sama-sama nona cantik, ada yang kau butuhkan lagi?", Ucap Aric.
"Emm bisakah kau mengambilkan minum, tanganku agak sedikit sakit". Aric'pun mengambilkan air putih untuk Bella.
"Sekali lagi terimakasih". Dan Aric tersenyum.
__ADS_1
Sebuah ponsel berdering dan ternyata ponsel Aric yang berdering, dia dibutuhkan untuk menangani kasus pasien lain. Akhirnya Aric undur diri dari kamar tersebut dan kini hanya menyisakan Bella dan Saddam saja.
Bella menatap Saddam kemudian bertanya, "siapa kau, apakah kau yang menolongku, atau kau yang menabrakku?".
Saddam mengamati Bella, keduanya namun lebih tepatnya supirku yang menabrakmu.
"Em.. maafkan aku, aku sudah mengingat semuanya, aku yang salah, saat menyebrang aku kurang konsentrasi. Dan terimakasih sudah membawaku kesini. Jangan kuatir kau tak perlu bertanggung jawab atas diriku, aku yang salah.
Melihat dari pakaianmu sepertinya kau orang yang sibuk, maafkan aku sudah menyita waktumu, aku baik-baik saja sekarang, kau bisa melanjutkan urusanmu.
Saddam menatap Bella penuh heran. Gadis ini seperti tak menginginkanya. Berbeda dengan gadis lainnya kalau ada kesempatan maunya menempel terus ke Saddam.
"Apa kau yakin kau baik-baik saja", tanya Saddam dengan tatapannya yang tajam kepada Bella. Bella tersenyum, "tentu saja, aku baik-baik saja jangan kuatir."
Tiba-tiba pintu kamar diketuk dari luar dan masuklah perawat yang mengantarkan makanan. Maaf Tuan dan nyonya saya hanya mengantarkan makanan. Perawat tersebut lalu meletakkan makanan di meja. "Nyonya Saddam apakah ada yang lain yang mungkin anda butuhkan?".
Bella mencerna kata-kata perawat yang ada diruangannya dan menampakkan mimik muka bingung dan penuh tanda tanya. Melihat hal tersebut Saddam menyuruh perawat untuk keluar ruangan. "Kurasa sudah cukup kau boleh kembali".
Perawat itupun mengundurkan diri penuh rasa hormat kepada Bella dan Saddam.
__ADS_1
"Kenapa perawat itu memanggilku dengan sebutan ....". Tiba-tiba pintu diketuk kembali dari luar dan kali ini menampakkan seseorang yang sangat Bella kenal yaitu Rayyan. Mengetahui Bella berada di ranjang pasien hati Rayyan campur aduk diantara senang berhasil menemukan Bella dan kuatir dengan keadaan gadis kesayangannya yang berstatus pasien.
Rayyan lalu mendekat ke arah Bella, Rayyan menatap sekujur tubuh Bella, sambil membelai rambut Bella Rayyan bertanya pada Bella "kau tak apa-apa, mana yang sakit?".
"Ray... Bagaimana kau tau aku disini?", Tanya Bella dengan keheranan. Sementara seseorang yang ada dalam satu ruangan dengan mereka terus memperhatikan interaksi antara Bella dan teman prianya.
"Katakan padaku bagian mana yang sakit?, Tanya Rayyan kembali. Seperti biasa Rayyan menampakkan rasa sayangnya pada Bella. Bella menatap Rayyan dan teringat dengan keadaan mereka sebelum ini.
Bella melihat ke arah Saddam. "Ray, aku baik-baik saja, emm.. Ray perkenalkan, Dia tunanganku (sambil menunjuk ke arah Saddam). Rayyan terpaku lalu mengarahkan pandangannya ke arah Saddam. Rayyan menatap tajam pada Saddam kemudian Rayyan menyadari sesuatu bahwa mereka telah bertemu sebelum ini. Rayyan ingat dia adalah pria yang dicium Bella di sebuah restoran saat Bella bertengkar dengannya.
Saddam memicingkan matanya mendengar ucapan Bella. Sementara Rayyan masih mencerna perkataan Bella, kejadian di restoran kembali teringat oleh Rayyan, dalam hati Rayyan bertanya, apakah benar dia tunangan Bella, jadi karena itu dia mencium pria dihadapannya. Kenapa Bella tak pernah bercerita sebelumnya kalau dia memiliki seorang tunangan. Apakah Bella sudah mempermainkannya sejauh ini. Seluruh tanya ada di benak Rayyan hingga pertanyaan itu terhenti saat Bella memanggil Saddam.
"Sayang kemarilah..perkenalkan ini temanku Rayyan". Tatapan Saddam tajam tertuju ke arah Bella yang mengisyaratkan kepada Saddam untuk mengikuti alur Bella.
Saddam tak menghiraukan ucapan Bella. "Apa kau sudah selesai, kalau sudah kau boleh keluar". Ucap Saddam pada Rayyan. Tatapan keduannya penuh ketidaksukaan.
"Baiklah aku akan keluar, tolong jaga dia, dia tidak tahan sakit. Mungkin dia bilang baik-baik saja tapi setelah kau pergi mungkin dia kesakitan. Rayyan kemudian mendekat ke Bella, "aku pamit, kutunggu penjelasanmu setelah kau sembuh".
Rayyan kemudian berlalu pergi dari ruangan itu.
__ADS_1
Hati Rayyan kembali hancur, dihancurkan oleh orang yang sangat dicintainya, orang yang dia fikir akan menjadi masa depannya.