
Setelah kepergian Rayyan, ruangan itu tampak sunyi dan hanya memperlihatkan mereka berdua. Tatapan tajam Saddam bagaikan pedang yang akan menghunus Bella. "Jelaskan sejak kapan aku jadi tunanganmu?", ucap Saddam.
Bella sekilas tersenyum, sejak hari ini dan berakhir pula di detik ini. Maafkan aku melibatkanmu, sekali lagi terimakasih atas pertolonganmu.
"Apa kau suka semaumu seperti ini?", Ucap Saddam yang membuat Bella mulai jengah.
Bukankah aku sudah bilang bahwa pertunangannya sudah berakhir detik ini juga, jadi kau tak perlu kuatir.
Saddam masih menunjukkan tatapan tajamnya. "Oh ayolah kau mau perhitungan denganku, lalu tuan Saddam sejak kapan aku menjadi nyonya Saddam?".
Sadam mengamati gadis dihadapannya, cantik, seksi, pintar dan keras kepala.
"Tuan Saddam bisa kau jelaskan, bukankah ini pertemuan pertama kita, bagaimana bisa dalam sedetik aku jadi nyonya Saddam?".
Saddam memicingkan matanya, dia lalu mendekat kearah Bella. Saddam mengamati kepala Bella. "Apa kau yakin kepalamu baik-baik saja", ucap Saddam.
"Tentu saja aku yakin, tadi hanya benturan kecil", ucap Bella.
"Hmm dokter sejak awal sudah kusuruh untuk melakukan CT scan tapi mereka sama sepertimu bilang kalau kepalamu baik-baik saja".
Bella sekarang yang gantian memicingkan matanya, "memang ada apa dengan kepalaku?".
Saddam lalu memberikan penjelasan, "Nona...kurasa kau sudah kehilangan ingatanmu".
Bella mengamati sekitar dan mengingat kejadian hari ini dan beberapa hari yang lalu. "Tidak ingatanku baik-baik saja, aku masih ingat kejadian hari ini dan masa lampau".
Apa kau yakin... Kau melewatkan satu kesalahan terbesar dihidupmu, ucap Saddam. Bella tak bisa menangkap maksud Saddam, "kurasa kepalaku mulai pusing. Berhentilah bermain teka teki, apa yang kulewatkan?, Tidak mungkinkan kalau aku benar-benar sudah menjadi nyonya Saddam?.
__ADS_1
"Hmm kau percaya diri sekali", ucap Saddam. Bella mulai kehabisan kesabaran, "sudahlah katakan apa yang kulewatkan?".
Saddam tersenyum licik, baiklah akan kukatakan. kau lupa bahwa ini bukanlah pertemuan pertama kita.
Bella mencoba mengingat ingat, Bella menggali memorinya tapi tidak ditemukan sosok Saddam disitu selain pada hari ini. "Apa kau yakin, lalu ini pertemuan kita yang keberapa?
"Kedua", jawab Saddam.
Bella lalu bermonolog sambil memegangi kepalanya, benarkah tapi kenapa aku tidak ingat sesuatu.
Saddam lebih mendekat lagi kearah Bella, kurasa kau harus kuingatkan. Wajah Saddam mendekat kearah Bella, wajah mereka berhadapan dengan jarak beberapa inci saja. Bella menatap Saddam, dia mengamati wajah tampan dan tegas saddam, lalu menelusuri setiap bagian wajah Saddam untuk menggali memori Bella.
Tiba-tiba Bella tersadar bahwa wajah itu, bibir itu yang sudah diciumnya asal saat Bella dan Rayyan bertengkar. "Apa kau sudah ingat, apa perlu kuingatkan kejadian itu kembali?, Ucap Saddam mengintimidasi gadis didepannya.
Saddam semakin mendekat hingga tak ada ruang bagi Bella untuk menghindar, bahkan hidung mereka bersentuhan, Baik Saddam maupun Bella mampu merasakan hembusan nafas satu sama lain.
Saat suasana tegang diantara mereka tiba-tiba Aric masuk dan melihat apa yang terjadi, dari posisi Aric nampak bahwa Saddam seakan hendak atau sedang mencium Bella "oh maafkan aku sobat, aku lupa mengetuk pintu, silahkan lanjutkan".
"Aku benar-benar minta maaf, haruskah aku keluar?", Tanya Aric pada Saddam.
"Apa yang kau lakukan disini?, Saddam bertanya dengan tatapan intimidasinya.
"Emm, aku... (Aric memegang tengkuknya merasa canggung karena menganggu aktivitas mereka) aku ingin menghampiri kalian karena sekarang jam istirahatku, "apa nona ini.... emm atau aku harus memanggilnya nyonya saddam, apakah dia baik-baik saja.
"Kurasa kau harus memindahkannya untuk CT scan", ucap Saddam sambil menatap ke arah Bella
"Oh ya ...kenapa, apa ada keluhan lanjutan?, Tanya Aric.
__ADS_1
" Tidak, tidak ada, tak ada keluhan", ucap Bella.
Saddam duduk santai si sofa Rumah Sakit sambil terus menatap Bella penuh kemenangan. "Tapi terbukti kau hilang ingatan", ucap Saddam.
Aric mendekati Bella, "Benarkah?", Nona apa kau tak ingat siapa dirimu?"
Bella mengerucutkan bibirnya menatap Saddam penuh ketidaksukaan. Saddam juga menatapnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
"Yang dikatakannya tidak benar Dok, aku ingat siapa diriku", ucap Bella. Aric jadi bingung, kemudian Dia melihat ke arah Saddam. "Kurasa dia hilang ingatan partial", ucap Saddam.
Aric mengkonfirmasi ke Bella, "benarkah nona?". Lagi-lagi Bella menatap Saddam dengan cemberut, karena sadar laki-laki itu sedang mengerjainya.
"Tidak dok aku ingat semuanya", ucap Bella.
Saddam langsung menanggapi perkataan Bella, "benarkah, kau sudah ingat semuanya, coba kau ingat lagi kapan kita pertama kali bertemu?".
Bella kembali cemberut, sementara Aric menanti jawaban dari Bella, "nona apa kau tak ingat?", Tanya Aric. Lagi-lagi Sadam duduk angkuh dengan senyum smirk diwajahnya. "Aku ingat dok", jawab Bella.
"Lalu dimana pertama kali kalian bertemu?", Tanya Aric. Bella menatap tajam Saddam penuh permusuhan, "di sebuah restoran".
Saddam tersenyum puas, "lalu apa yang kau lakukan direstoran itu?, tanya Saddam.
Bella benar-benar jengah dengan pria yang baru ditemuinya ini, "tentu saja makan", jawab Bella.
"See kepalamu harus di CT scan", ucap Saddam. Aric lalu melihat ke arah Saddam, "apa dia melupakan sesuatu?", Tanya Aric. Saddam lalu mengangguk mengiyakan, kau sebaiknya lekas mengobsevasi kepalanya, mungkin benturan tadi terlalu kuat.
Bella melotot pada Saddam, dan Saddam tersenyum melihat reaksi Bella. "Nona katakan padaku apa kau tak ingat"?, Tanya Aric.
__ADS_1
"Kurasa aku butuh bantuan tuan Saddam untuk mengingatnya, Tuan Saddam bisakah kau kemari?", Pinta Bella. Saddam memandang Bella penuh kecurigaan. "Saddam kemarilah", ucap Aric.
Saddampun memilih mengikuti Alur yang dibuat Bella.