
Bella meminta Saddam mendekat ke dirinya, Saddampun mendekat menunggu apa yang akan dilakukan oleh gadis cantik didepannya ini.
"Lebih dekat lagi", pinta Bella. Saddam memicingkan matanya lalu lebih mendekat ke Bella.
Saddam tak tau apa yang akan dilakukan Bella demikian juga dengan Aric, Aric hanya jadi penonton, sementara Saddam memutuskan mengikuti alur yang ada.
Setelah jarak mereka berdua sudah semakin dekat, kedua tangan bella bergerak menuju wajah Saddam dan ditempelkan di kedua pipi Saddam lalu terjadilah kejadian seperti pertemuan pertama mereka.
Bella mencium Saddam..kali ini tak cukup hanya ciuman sekilas tapi Bella mengeksplore bibir dan lidah Saddam. Saddam berusaha diam tak membalas. Ciuman itupun berlangsung lama.
Aric terkejut dengan pemandangan di depannya. Sahabatnya yang susah sekali didekati wanita, sekarang dicium seorang wanita. Tak kalah kaget lagi asisten Saddam yang tiba-tiba datang dan masuk ke ruangan. Mereka berduapun menjadi penonton akan aksi nekad Bella.
Setelah puas Bella melepaskan ciumannya lalu tersenyum penuh kemenangan. "See aku ingat semuanya". Aric dan Asisten Saddam saling lihat dan menahan tawa mereka. Sepertinya sahabatnya sudah punya lawan yang seimbang.
"Dokter, kau tak perlu menyiapkan CT scan untukku, karena aku mengingat semuanya".
__ADS_1
"Hmm baiklah nona, aku takkan membawamu kesana", ucap Aric. Aric lalu beralih ke sahabatnya Saddam. "Emm Saddam...apa kau baik-baik saja?".
Saddam menatap tajam Aric, "apa maksudmu bertanya seperti itu?.
Aric menahan tawanya, "apa jantungmu baik-baik saja, apa perlu kau kubawa ke spesialis penyakit dalam?".
Mendengar perkataan Dokter Aric, Bella tersenyum. "Apa maksudmu, sejak kapan jantungku tak baik?".
Aric, Bella, bahkan asisten Saddam menahan tawa mereka. "Kurasa baru saja, apakah jantungmu berdetak lebih kencang, dan suhu tubuhmu memanas?", Tanya Aric kepada Saddam.
Baik Bella, Aric maupun asisten Saddam tak mampu lagi menahan tawa mereka. Saddam melihat Bella, lalu beralih ke kedua sahabatnya yang sekaligus anak buahnya. "Sepertinya kalian sudah bosan bekerja denganku", ucap Saddam.
Bella mengistirahatkan dirinya, Dia cukup terhibur dengan kejadian yang baru saja di alaminya. Sementara Saddam dan sang asisten membahas tentang pekerjaan mereka.
Tak berselang beberapa menit, perawat rumah sakit membawakan makan siang Bella ke ruangan. Melihat sang pemilik rumah sakit ada di ruangan tersebut, perawat itupun lalu memberi salam pada Saddam. "Selamat siang Tuan, Saya membawakan makan siang untuk nyonya.
__ADS_1
Mendengar kata nyonya, sang asisten pun kaget dan melihat ke arah boss sekaligus sahabatnya itu. Bosnya hanya diam tak mau memberikan klarifikasi.
"Nyonya ini makan siang anda", ucap perawat itu sambil memberikan makanan pada Bella. Bella melihat makanan utamanya adalah bubur dan dia sama sekali tak suka bubur. " Bisakah aku mendapatkan makanan lain, aku tak suka bubur".
Ada ketakutan dari perawat itu, karena dia tak bisa memutuskan, yang bisa memutuskan adalah ahli gizi di rumah sakit tersebut. "Emm baiklah nyonya akan saya tanyakan pada ahli gizi di rumah sakit ini, tapi apakah nyonya mau menunggu?".
"Tentu, aku tidak buru-buru untuk makan siang", ucap Bella. Perawat itupun lalu undur diri dari hadapan Bella. Melihat interaksi Bella dengan perawat, sang asisten yang bernama Reno itu lalu berkomentar kepada Saddam. "Wow dia memang punya karisma sebagai Nyonya Saddam".
"Tutup mulutmu dan segera pesankan aku makanan. Gara-gara kamu aku terjebak disini. Reno'pun tertawa, "tapi bonusnya begitu menyenangkan bukan?". Saddam menatap Reno tajam. "Emm aku akan pesan makanan", ucap Reno ingin mengalihkan pembicaraan.
Beberapa menit kemudian beberapa orang masuk ke kamar Bella, Dia adalah ahli gizi rumah sakit tersebut. Setelah memberi salam pada Saddam, Dia lalu menuju ke Bella, "Nyonya, perkenalkan saya ahli gizi di rumah sakit ini, apakah ada makanan khusus yang nyonya inginkan?".
"Apapun selain bubur dan nasi", jawab Bella. Sang ahli gizi lalu memikirkan tentang beberapa menu, " nyonya bagaimana dengan sup jagung dan roti".
Bella pun menyetujuinya. Ahli gizi itupun segera membuatkannya untuk Bella. Selang beberapa menit makanan sudah siap dan Bella menikmatinya. Tak jauh berbeda dengan Saddam dan asistennya, mereka pun makan siang di ruang tersebut.
__ADS_1
Setelah menyelesaikan makan siangnya, dokter datang mengecek perkembangan kondisi Bella, dan memberikan obat untuk dikonsumsi setelah makan siang. "Dok, bisakah aku pulang hari ini?, Tanya Bella.
"Maafkan saya nyonya, untuk hari ini anda lebih baik istirahat dulu disini, besok akan saya observasi kembali. Raut muka Bella menampakkan kekecewaan. "Nyonya mohon jangan lupa segera minum obatnya". Bella mengangguk. Sang dokter dan beberapa perawat itu lalu meninggalkan ruangan.