
2 Bab Terakhir
Bima mondar-mandir di depan Leo yang sedang bersiap-siap. Bima tak habis pikir apa yang ada di dalam kepala bosnya itu. Bima bingung dengan cara apalagi ia mengatakan agar Leo tidak perlu pergi ke pernikahan Syera dan Fandy.
"Tuan, apa anda yakin akan pergi?"
"Iya, aku akan pergi," jawab Leo tak bersemangat.
"Sebaiknya tidak perlu, itu hanya akan membuat anda terluka, tuan. Apalagi kondisi anda sedang tidak baik saat ini."
Bima begitu khawatir, bukan hanya karena Fandy dan Syera yang akan menikah tapi karena keadaan Leo sendiri. Semalaman Leo tidak bisa tidur hingga akhirnya mengajak Bima minum. Bima sulit menolak ajakan Leo yang sedang hancur hatinya. Bima menyetujuinya dengan syarat mereka akan minum di kamar hotel saja.
Pengaruh alkohol membuat Leo bagaikan anak kecil semalaman. Leo menangisi dirinya sendiri mengeluarkan semua isi hatinya selama ini, termasuk tentang mama Mila yang sangat disayang dan dihormati Leo. Sebisa mungkin Leo selalu berusaha menjadi anak yang baik untuk mamanya apalagi setelah papanya meninggal.
Meski ada Syera di hatinya bukan berarti menomor duakan mamanya, apapun yang terjadi mama Mila tidak akan bisa digeser posisinya dari dalam diri Leo tapi mama Mila sangat sulit mengabulkan satu saja permintaan Leo. Satu keinginan Leo untuk bisa bersama Syera.
Dalam mabuk Leo juga merutuki kebodohan Syera yang begitu memperdulikan perasan orang lain termasuk mamanya. Leo tidak peduli apa yang terjadi dimasa lalu antara orang tuanya dan mama Syera. Semuanya tidak ada hubungannya dengan Leo dan Syera saat ini. Sambil menangis Leo berulang-ulang memanggil nama Syera. Gadis bodoh yang merelakan kebahagiannya demi orang lain.
Hingga akhirnya Leo melihat pada Bima yang sedang meneguk minuman di depannya.
"Apa kau puas? Kau juga sedang tertawa saat ini. Seharusnya kau mengatakannya lebih cepat. Selain mama, kau juga ikut menghancurkan hatiku."
Bima hanya bisa menelan salivanya bersama minuman ditangannya. Ia sadar jika sejak awal ia mencari keberadaan Syera dan memberitahu lebih cepat maka kemungkinan tidak akan semenyedihkan saat ini.
Banyak perkataan, racauan dan keinginan yang dikatakan Leo sepanjang mabuknya malam tadi hingga akhirnya ia lelah dan tertidur dilantai.
Saat bangun ia langsung berlari ke kamar mandi dan bersiap seperti sekarang ini untuk menghadiri pernikahan Syera dan Fandy.
__ADS_1
"Saya akan ikut menemani anda."
"Tidak perlu, aku akan pergi sendiri. Ada kau juga tidak akan ada bedanya. Kau bisa berjalan-jalan menikmati harimu disini. Aku tahu selama bekerja denganku kau cukup stress dan ini saatnya untukmu. Tidak selalu ada kesempatan kedua untuk kita dapat dalam hidup ini."
Leo meraih mantel yang menggantung dan memakainya.
"Aku pergi."
Bima membalas tatapan Leo padanya. Ada sesuatu yang aneh dirasa Bima saat Leo menatapanya tapi tak bisa diartikan oleh Bima.
Leo meninggalkan Bima dan menghentikan taksi untuk ditumpanginya.
Bima kembali naik ke atas ranjang, jujur dia masih sangat mengantuk karena menunggui Leo semalaman mabuk dengan segala racauannya. Ia masih ingin berbaring tapi mengingat bagaimana keadaan Leo membuatnya mengacak rambut Khawatir.
Bima membersihkan tubuhnya, ia akan segera menyusul Leo. Untung saja semalam Bima sempat membaca undangan di atas meja jadi dia tahu tempat pernikahan itu berlangsung.
..........
Leo berjalan melewati orang-orang yang tak satupun dikenalnya dengan berbagai bahasa. Selain bahas Inggris, Leo tidak mengerti bahasa yang di dengarnya. Jika pun ada mendengar bahasa Perancis, ia hanya bisa menyimpulkan tanpa bisa mengartikan setiap kata yang didengarnya.
Berkali-kali Leo menarik panjang nafasnya dan melepaskannya tapi dadanya tetap sesak. Sesuatu sangat memenuhi tempat itu tapi sulit untuk Leo keluarkan.
Kaki Leo terus berayun ke tempat tujuannya. Leo terus berjalan dengan kedua tangannya di dalam saku mantel.
Untuk kedua kalinya, apa memang Tuhan menakdirkanku hanya untuk menyaksikan pernikahan dari orang yang aku cinta? Tuhan, dulu Kau membuatku mencintai seorang gadis dengan begitu mudah. Aku melepasnya karena gadis itu mencintai pria lain dan mereka juga saling mencintai. Aku menyaksikan pernikahan mereka dan itu sangat menyakitkan. Gadis pertama yang aku cinta namun bukan gadis terakhir untukku. Aku pikir tidak akan ada lagi gadis yang bisa aku cinta tapi nyatanya aku salah. Tuhan, Kau mempertemukanku dengan satu nama yang bisa membuatku lupa pada nama yang sebelumnya. Awalnya tidak terpikir olehku untuk ada kata cinta di antara kami tapi nyatanya aku juga salah. Dia yang aku benci ternyata menarik hatiku hingga tertuju padanya. Aku mencintainya bahkan terlalu dalam mencintainya. Aku mencintainya dan sama sepertiku, dia juga mencintaiku. Tidak seperti cinta pertamaku yang bertepuk sebelah tangan, cintaku kali ini bersambut dengan manis. Kau menggariskan takdir yang begitu kejam padaku. Saat ini aku menuju sebuah gereja untuk kembali menyaksikan pernikahan gadis yang kucinta. Dengan kami yang saling mencintai Kau juga tidak berpihak padaku. Apa aku masih bisa berharap ada sebuah keajaiban? Sebuah keajaiban yang membawaku bisa bersama kasihku lagi, Syera.
Klakson mobil yang cukup keras menyadarkan lamunan Leo yang tak henti mengayunkan langkah lambatnya. Leo menarik panjang nafasnya lagi.
__ADS_1
..........
"Hanya akan ada kita berdua, seorang pendeta dan satu tamu undangan. Kamu tidak perlu khawatir, semuanya akan berlangsung dengan cepat."
Syera menunduk melihat dirinya. Untuk apa dia memakai gaun pengantin yang indah dan mahal jika hanya untuk sekejap mata. Syera menoleh pada Fandy yang duduk di kursi pengemudi mobil.
"Kak?" panggil Syera begitu lirih. "Apa benar kita akan nikah?"
"Syera, kita-"
"Kak?" menyela ucapan Fandy. "Apa kita tidak bisa membatalkannya? Apa kita tidak bisa hidup hanya sebagai kakak-adik saja seperti semula? Bukan kak Fandy yang aku cinta tapi pria lain. Aku hanya cinta sama kak Leo. Aku nggak akan bersama kak Leo tapi tolong lepaskan aku juga. Aku janji tidak akan memperlihatakan wajahku lagi pada kak Leo," pinta Syera mengiba.
Syera tidak dapat menahan lagi tangisnya. Tangisnya begitu pilu dan menyayat namun Fandy mengabaikannya, tidak mau terpengaruh oleh tangis Syera di sampingnya.
"Aku tidak mau wajah pengantinku jelek karena air mata yang merusak make up-nya. Sabarlah, sebentar lagi kita akan sampai. Kamu bisa menangis sepuasnya setelah pernikahan nanti tapi mulai besok kamu tidak aku izinkan untuk menangis, aku tidak mau mendengarmu menangis apalagi karena pria lain."
"Tapi aku aku mencintainya, kak."
Chittt...
Fandy tiba-tiba menginjak rem dan memukul setir mobil.
"Aku tidak ingin mendengar itu lagi, kata cintamu untuk dia sangat melukai perasaanku. Tak bisakah kamu hanya mencintaiku dan hanya aku seorang?"
Syera menatap iba pada Fandy dan menggelengkan kepalanya dengan mata sembabnya.
"Syera?"
__ADS_1
"Kak..?" lirihnya tak melepas tatapannya dari Fandy.