
Seharian sudah Bima mengambil cuti. Sesuai janjinya ia kembali bekerja seperti biasanya. Hanya saja sejak tiba di kantor ada sesuatu yang aneh dengan Bima. Sejak pagi entah sudah berapa kali Bima bolak-balik ke ruangan Leo.
Sebagai seorang sekretaris yang mengatur setiap kegiatan Leo tentunya Bima punya akses lebih ke ruangan Leo dan menemui Leo langsung jika ada hal penting. Akan tetapi dari pagi hingga siang dan hampir menjelang sore dengan alasan dan keperluan sepele Bima terus menerus masuk keluar ruangan direktur utama.
Fokus Leo yang sedang bekerja menjadi terganggu setiap kali pintu dibuka-tutup.
Tak!
Leo melempar bolpoin ke arah Bima yang membuka pintu ruangannya untuk kesekian kalinya.
"Kalau ada hal penting langsung katakan saja. Mata, leher dan kepalaku sakit setiap kali kau masuk-keluar ruangan ini."
Menyadari kesalahannya Bima memungut bolpoin yang tadi dilempar kearahnya namun tidak sampai mengenainya.
"Apalagi sekarang?" tanya Leo kesal. Ia merampas bolpoin dari tangan Bima.
"Tidak, tuan. Maaf sudah menggangu anda."
"Jangan bilang tidak ada, kau sudah melebihi setrika seharian ini. Apa ada masalah saat kau cuti kemarin?"
"Tidak ada, tuan. Anda kembalilah bekerja."
"Apa? Kenapa kau malah menyuruhku untuk kerja? Aku pimpinan di perusahaan ini. Tanpa kau suruh aku tahu waktuku bekerja," geram Leo membuatnya semakin kesal pada Bima
"Dokumen-dokumen yang bisa kau bawa sekaligus untuk aku tanda tangani justru kau bawa satu per satu. Makanan dan minuman untuk makan siang kau antar satu persatu juga. Bahkan kau bolak-balik menanyakan dan berkata ini-itu. Ada telepon di ruanganmu tapi kau harus mendatangiku terus menerus untuk hal-hal sepele. Apa kau kurang kerjaan?" gertak Leo.
"Iya, tuan. Saya minta maaf, saya akan lebih profesional lagi."
"Aku tidak pernah bilang kalau kau tidak profesional selama ini tapi untuk hari ini kau memang sangat aneh dan menjengkelkan."
"Maaf, tuan. Saya salah, saya akan lebih bijak lagi."
"Hahhh... Sudahlah, lebih baik kau keluar."
"Baik, tuan. Saya permisi."
"Menjengkelkan," gerutu Leo. Ia teringat sesuatu dan ingin memastikannya. "Tunggu," panggil Leo.
"Iya, tuan?"
"Apa kau sudah memesan meja di restoran yang aku minta?"
Bima yang sudah memegang handle pintu berbalik dan menghampiri Leo yang duduk di kursi kebesarannya sebagai direktur utama, pimpinan Suntama Group yang bergerak di bidang tekstil, advertising, konsultan kontraktor dan kosmetik.
"Ada apa lagi kau mendekat?" sarkas Leo menatap tajam Bima.
"Maaf, tuan. Kalau saya boleh bertanya, apa anda yakin akan melakukannya?" tanya Bima hati-hati.
"Maksudmu apa?" berbalik tanya pada Bima.
"Maksud saya," Bima menelan salivanya mendapat tatapan horor dari Leo. "Apa anda yakin akan menemui nona Naomi?"
"Hah! Aku pikir kau mau tanya apa. Iya, aku akan menemuinya malam ini."
"Apa anda yakin, tuan? Apa anda menyukainya? Apa tuan sudah tidak mengingat Syera lagi dan melupakannya?"
Leo menunduk dan meminta Bima mendekat padanya seolah ingin berbisik mengatakan sesuatu.
"Sini, kemarilah," menuntun Bima menggunakan jari telunjuk dan tengahnya.
Tak!
Akhirnya kepala Bima merasakan bolpoin mendarat di kepalanya.
"Selama setahun ini kau tidak pernah menyebut namanya di hadapanku tapi kenapa hari ini kau mengungkitnya?"
__ADS_1
"Maaf, taun. Saya hanya ingin memastikan," jawab Bima. "Apa anda sudah melupakannya? Apa sudah tidak mencintainya lagi? Apa tidak ingin bertemu dengannya lagi?"
Leo kembali menggunakan dua jarinya memberi kode untuk mendekat.
Tak!
Sekali lagi bolpoin di pukulkan Leo ke kepala Bima.
"Aku bukan pria yang mudah jatuh hati dan melupakan orang yang aku sayang dengan mudah."
"Lalu kenapa ingin bertemu nona Naomi?"
"Menurutmu aku harus apa dan bagaimana? Apa yang bisa aku lakukan, tidak ada. Berdoa saja agar perempuan bernama Naomi itu tidak menyukaiku."
"Kalau dia ternyata menyukai anda dan ingin menikah dengan anda bagaimana?"
"Maka itu petaka untukku!"
"Tuan?"
"Tenanglah, jika memang harus seperti itu maka aku hanya butuh melompat ke sungai atau jurang yang paling dalam. Semuanya akan selesai saat itu juga untukku."
"Tuan?"
"Sudahlah sana, kembali bekerja dan pastikan mejanya sudah di pesan. Jangan membuatku bertambah stress."
Di ruangannya Bima tidak bisa tenang, dia mondar-mandir, memukul-mukul keningnya menggunakan kepalan tangan dan melirik pada jam tangannya. Setengah jam lagi Leo akan meninggalkan kantor, ia akan menemui Naomi.
"Tapi aku masih butuh pekerjaan ini, tapi aku juga tidak tahan melihatnya seperti itu setiap hari. Berbicara seakan ada Syera yang sedang mendengarnya, menganggap Syera ada makan bersamanya dan semangat setiap ada nomor baru yang menghubunginya karena berpikir mungkin itu adalah Syera."
Bima terus bermonolog dikamarnya. Saat ini dia benar-benar dilema. Bima membuka tas kerjanya, mengeluarkan amplop coklat dari dalamnya, meneliti semua dokumen yang ada di dalamnya.
"Bukan hanya kehilangan pekerjaan, ibu Mila bisa saja gelap mata dan membunuhku," memasukkan kembali amplop coklat ke dalam tas kerjanya.
..........
Dari kedua matanya yang terpejam mengalir air mata, Leo tak dapat menahan kesedihannya.
Syera, aku disini sangat merindukanmu. Jika suatu saat kita bertemu, apa hatimu masih sama? Apa saat kita bertemu lagi aku belum terlambat? Apa masih menulis namaku dalam agenda milik mamamu? Syera, aku merindukan.
Sekuat apapun Leo menutupi kesedihannya setahun ini di hadapan mama Mila dan Bima namun saat hanya seorang diri Leo menangisi kesedihannya. Menangisi dirinya yang kebahagiannya hilang saat kebahagiaan itu baru di rasakannya.
Setahun ini diam-diam Leo mencari keberadaan Syera dan Fandy namun tidak satupun orang yang di tugaskannya mengetahui keberadaan mereka. Pencarian Leo terbatas, ada mama Mila dan orang-orang mamanya yang mengawasi pergerakan Leo.
Leo melihat jam di ponselnya, sudah saatnya dia pulang, bersiap menemui Naomi. Ia menghapus air matanya, tangannya bergerak malas merapikan meja kerjanya dan memasukkan apa yang perlu dibawanya pulang ke dalam tas kerjanya.
Sama sekali tidak ada keinginan bagi Leo untuk bertemu perempuan lain. Akan tetapi, ia tidak punya alasan untuk menolak keinginan mamanya. Sudah terlalu banyak alasan yang dibuat Leo setahun ini agar tidak menemui gadis-gadis yang di tunjukkan padanya. Leo menyerah, ia berharap agar gadis bernama Naomi itu tidak menyukainya.
Tidak hanya itu, Leo bahkan berdoa ada sebuah keajaiban yang membuatnya tidak perlu menemui Naomi.
Ptak!
Mata Leo melotot pada Bima yang membuka pintu ruangannya hingga membuat Leo hampir terkena serangan jantung.
Ingin rasanya ia memaki Bima namun ia sudah tidak bersemangat, ia malas karena terlalu lelah akan isi hati dan kepalanya.
Bima berjalan menuju meja kerja Leo, memperhatikan tuannya sedang beres-beres.
"Apa tuan akan pulang?"
"Kenapa kau sangat cerewet sekali? Ini bukanlah dirimu seperti biasa, Bim."
"Anda sudah terlalu banyak bekerja selama ini, tuan. Anda perlu istirahat," ucap Bima.
"Aku tahu, hanya butuh tiga puluh menit bertemu Naomi dan setelahnya aku akan langsung pulang untuk istirahat."
__ADS_1
"Nikmati masa istirahat anda," meletakkan sebuah amplop coklat di atas meja kerja Leo.
Leo mendongak ke atas, melihat pada Bima yang berdiri di hadapannya.
"Apa ini? Ada berkas yang harus aku tanda tangani lagi?"
"Maafkan saya, tuan. Hanya ini yang bisa saya lakukan untuk anda. Saya mempertaruhkan pekerjaan saya pada ibu Mila demi anda."
"Maksudmu?"
Sesaat Leo berpikir sembari menatap wajah serius Bima. Leo membuka amplop yang diberikan Bima dan mengeluarkan semua isinya.
"Bima, ini-"
Leo tidak bisa berkata apa-apa saat melihat isi amplop coklat tersebut. Ada Visa, paspor, tiket pesawat, beberapa foto dan sebuah alamat tertulis dibelakang salah satu foto.
Bima mengirim sesuatu ke ponsel Bima.
"Anda bisa menghubungi nomor itu setiba di sana. Dia akan membantu keperluan anda selama sana. Dia junior saya saat kuliah."
"Bima, kau yakin melakukan ini semua untukku?"
"Seperti yang saya katakan, saya mempertaruhkan pekerjaan saya pada ibu Mila demi anda."
"Kau-"
Tidak ada kata yang bisa dipakai Leo untuk Bima saat ini. Leo berdiri dan memeluk Bima, menggambarkan bagaimana perasaanya saat ini yang sangat berterimakasih pada Bima.
"Tiga jam lagi pesawatnya akan terbang, anda jangan sampai ketinggalan. Diluar sudah ada taksi yang akan membawa anda ke apartemen untuk berkemas dan membawa anda ke Bandara."
"Bima, kau benar-benar-"
"Lebih baik anda segera pergi, tuan."
"Terimakasih, Bim. Terimakasih banyak. Aku pastikan kau akan naik jabatan. Kau tidak perlu lagi bekerja sebagai sekretarisku, tidak perlu melayani dan mengurusku lagi. Kau yang terbaik, Bim."
Bima tidak menanggapi perkataan Leo. Bima tidak memasukkan dalam hati apa yang dikatakan Leo disaat ia sudah melanggar janjinya pada ibu Mila.
Leo sangat terburu-buru sampai tidak memperhatikan jalannya dan terkandung pada kaki meja.
"Amplop coklatnya jangan sampai tinggal, tuan."
"Tidak akan, Bim. Aku akan pergi sekarang, kau juga harus istirahat dan menikmati akhir pekan dengan gadis yang kau sayang," ucap Leo dan berlari meninggalkan ruangan kerjanya.
Baru beberapa detik Leo kembali dan berdiri di ambang pintu.
"Bima?" panggil Leo.
"Anda tenang saja, tuan. Saya mengerti, nona Naomi biar menjadi urusan saya," ucap Bima.
"Bukan itu, Bim. Mama, tolong jaga mama selama aku tidak ada, tolong jaga mama baik-baik. Katakan kalau aku sangat menyayangi mama."
Bima tersenyum menganggukkan kepalanya pada Leo dan tak lupa Leo juga membalas dengan sumringah di wajahnya.
"Aku pergi."
Semoga apa yang saya lakukan ini adalah hal yang benar, tuan.
Bima keluar dan menutup ruangan Leo. Dia pergi menemui Naomi di restoran yang sudah dijanjikan. Jangan tanya bagaimana marahnya Naomi saat pria yang datang menemuinya bukanlah Leo melainkan seorang sekertaris.
Sebuah tamparan keras harus diterima Bima atas pelampiasan kemarahan Naomi. Tentu saja tamparan itu sangat sakit tapi mau bagaimana lagi, itu salah satu konsekuensi dari keputusan yang dipilih Bima saat memberitahu Leo keberadaan Syera dan Fandy saat ini.
Bima berhasil menemukan keberadaan Syera dan Fandy melalui adik tingkat Bima saat kuliah dulu yang kini bekerja di salah satu kantor kedutaan Besar luar negeri. Melalui adik tingkatnya yang memiliki banyak relasi di beberapa kedutaan besar akhirnya Bima bisa menemukan Syera dan Fandy tanpa diketahui oleh mama Mila.
"Huh.. wow!"
__ADS_1
Bima mengelus-elus pipinya yang sakit setelah ditampar.